
Cinta, apakah itu cinta?
Tak ada yang bisa mengartikan dengan detail apa arti cinta sesungguhnya. Mereka hanya mampu mengatakan, jika kata cinta adalah perwakilan perasaan yang mendalam.
Perasaan yang membuat kita rela melakukan segalanya tanpa ada kata terpaksa ataupun tekanan.
Sebuah kata yang melambangkan perasan yang suci. Tanpa ada niat buruk di dalamnya.
Di lantai yang sama dengan sang pengantin hari ini, di kamar dengan kelas yang sama, hanya nuansa nya saja yang tidak mengandung unsur kamar pengantin. Dan di malam yang masih sama, ada sepasang kekasih yang juga tengah mereguk nikmat dunia bersama.
Dialah, Darrel Harcourt dan Oliver Arlington. Sepasang kekasih yang di pertemukan dengan cara yang sangat ajaib. Dalam waktu singkat keduanya bisa terlepas dan melupakan kisah kelam masa lalu.
Memasuki kamar hotel presidential suit dengan malu - malu, Oliver di perlakukan dengan sangat nyaman dan lembut oleh pria yang juga seorang Mafia. Sama seperti pengantin pria malam ini.
Menuruti kemauan Oliver, maka mereka mandi bergantian, karena Oliver tentu masih malu untuk mandi bersama. Bergantian melepas keringat. Menghilangkan penat dengan guyuran air hangat di bawah shower.
Oliver keluar dengan menggunakan handuk kimono, karena baju ganti miliknya ada di kamar hotel yang di pesan untuknya. Duduk di depan meja rias, menyisir rambut basah sembari menunggu sang kekasih menyelesaikan mandinya.
Belum terjadi apapun, tapi jantung mantan kepala pelayan istana Michael itu sudah berdegup kencang. Menatap diri dengan sejuta pertanyaan.
Melepas kesucian?
Bagaimana rasanya bercinta untuk pertama kali?
Betapa malunya telanjang di depan seorang pria?
Lalu, bisakah dia memberi yang terbaik untuk seorang Darrel Harcourt di atas ranjang?
Mengingat Darrel adalah seorang Mafia yang suka berganti pasangan. Dan wanita mana saja saja yang ia inginkan, pasti akhirnya tergelepar lemas di ranjang pria itu. Termasuk artis atau model papan atas sekalipun.
Meremas tepian handuk yang menyilang di depan dada, tubuhnya menegang menahan dera rasa gugup. Hingga ia tak menyadari saat tiba - tiba Darrel memeluknya dari belakang. Entah kapan pria itu keluar dari balik pintu kamar mandi. Tiba - tiba saja bibir pria itu sudah menempel di pipinya.
"Kamu terlihat tegang, Sayang..." bisik Darrel memeluk kekasihnya.
"Aa..." gugup Oliver, "Aku hanya takut, kamu..."
"Aku?" tanya Darrel, "Kenapa?"
"Aku takut, aku tidak bisa seperti yang kamu inginkan..." jawab Oliver lirih. Menatap pria tampan dari pantulan cermin di depannya.
"Oh, God..." Darrel terkekeh, dengan kepala mendongak ke atas. "Kenapa kamu memikirkan hal konyol seperti itu, Sayang?"
"Kamu sudah sering bercinta, tapi aku?" ucap Oliver, "Aku tidak pernah bercinta, jadi aku tidak tau harus berbuat seperti apa supaya kamu tidak bosan."
Darrel mendengarkan alasan kekasihnya dengan menatap sendu dari cermin. Ia semakin memeluk erat di depan dada Oliver, sembari mengecup puncak kepalanya.
"Aku justru akan menyukai malam ini, Sayang!"
"Oh ya?" tanya Oliver, "Kenapa?"
Menatap Oliver dengan senyum sejuta arti. Maka Darrel mengangkat tubuh wanita berambut pirang kecoklatan itu. Membawanya di depan dada, menggendong layaknya Michael menggendong pengantinnya meninggalkan ballroom.
🚀 Rate 21+
Darrel meletakkan tubuh ramping berbalut handuk kimono tepat di tengah ranjang berukuran king size.
Jantung bak semakin di pompa menggunakan mesin. Debaran dan wajah tegang semakin jelas terlihat oleh Darrel.
Darrel tersenyum senang, mengajari yang terkasih untuk bercinta. Hah, mimpi apa yang mendatangi pria itu, sampai player seperti dia mendapatkan kekasih suci seperti Oliver?
"Jangan tegang, Sayang. Ikuti naluri mu.. Semua yang akan kamu rasakan adalah alami. Kamu akan merasa nikmat, jika kamu bisa rileks dan menikmati setiap sentuhan ku." ucap Darrel yang sudah mengungkung kekasihnya.
Oliver hanya mampu mengangguk pelan, tanpa sanggup berucap. Kedua tangan merayap di lengan kekar Darrel, hingga salah satunya sampai di leher Sang Mafia dari Perancis itu.
Setidaknya itulah yang ia ketahui untuk terlihat romantis. Ilmu yang ia dapat dari berbagai jenis film di luar sana.
Darrel mengecup dahi, kedua mata, dua pipi, hidung dan terakhir menatap dalam kekasihnya. Membiarkan dua pasang manik tatap bersilang tatap. Saling mencari arti dari sorot marat lawannya.
Jelas terlihat dari sorot keduanya, jika ada cinta, ada kekaguman dan ada percaya di dalam mata itu.
Memejamkan matanya, Darrel langsung menurunkan kepalanya, mengikis jarak, dan berakhir dengan penyatuan dua bibir.
Dua bibir saling bertaut, ini bukan kali pertama Oliver berciuman, sehingga dia bisa mengimbangi gerakan bibir dan lidah kekasihnya. Sungguh memabukkan saat ciuman itu di lakukan di atas ranjang. Dengan saling memejamkan mata dan tanpa siapapun yang melihat.
Puas mencium bibir kekasihnya, bibir Darrel turun. Menyusuri ceruk leher. Ia sering mengecup area itu, tapi hanya sekali dua kali. Dan kali ini ia menyapunya menggunakan lidah.
Tubuh Oliver mulai bergerak, ada geli yang sulit ia artikan dari apa yang dilakukan Darrel. Mata masih terpejam, kepala terus bergerak ke kanan ke kiri juga ke atas, mengikuti pergerakan Darrel yang menghujani leher dengan kecupan dan jilatan - jilatan manja.
"Aahm..." ******* bebas meluncur dari bibir Oliver tanpa bisa di tahan lagi. Saat Darrel meninggalkan jejak merah berukuran kecil di leher sebelah kiri. Jejak kepemilikan, yang menandakan malam ini tubuh suci itu akan menjadi miliknya.
******* dan erangan lembut terus meluncur dari bibir Oliver, saat Darrel membuka tali kimono, dan menurunkan bagian pundak. Ada tali br* kecil di sana. Darrel mulai menyusuri pundak.
Darrel tersenyum senang, betapa indah tubuh itu. Tak kalah dengan tubuh model majalah dewasa yang pernah ia bayar untuk memuaskan dirinya semalam penuh.
"You're beautiful..." puji Darrel dengan aura yang semakin bernafsu.
Oliver merasa malu, namun ia tidak berniat untuk menutupi tubuhnya. Ia biarkan mata kekasihnya melihat setiap inci dari tubuhnya.
Darrel kembali menunduk, menyatukan dua bibir lagi, sembari melepas mengait br* di balik punggung kekasihnya. Sekali gerakan kecil, pengait itu sudah saling berjauhan. Maka ia lepas dua tali dan melemparnya ke lantai.
Bibir masih bertaut, dan dua tangan mulai bergerilya. Merabai dan meremas lembut dua gundukan di dada kekasihnya.
"Ahh.." lenguh Oliver dengan dua tangan yang melingkar di leher kekasihnya.
Ciuman semakin dalam dan tubuh semakin panas, saat dua jari mulai beraksi di puncak pink.
Darrel sudah tak tahan, ingin segera tau dan merasai puncak pink yang sedang ia mainkan. Maka segera ia mengakhiri ciuman. Ia angkat kepala dan setengah menunduk. Ia tersenyum melihat ukuran buah dada kekasihnya yang bisa di katakan lumayan besar. Sangat pas di tangan kekarnya.
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera meraih puncak dada dengan bibirnya. Satu lagi ia mainkan menggunakan tangan. Terus bergantian. ******* yang meluncur dari bibir Oliver adalah dobrakan semangat untuk lebih menikmati hisapannya.
Darrel melepas handuk kimono yang ia kenakan, dengan bibir yang masih menghisap salah satu puncak pink. Menyisakan bokser berwarna hitam, Darrel kembali menghujani tubuh istrinya dengan cinta.
Puas dengan bagian, Darrel turun mencium dan menjilat pusar kekasihnya. Ia tau di bawah sana, di lembah bukit senggama sudah basah oleh lelehan pelumas. Ia dapat mengenali dan mencium aroma itu dengan mudah.
Ia segera melepas boxer nya, membuat Oliver segera menutup mata. Tak mampu rasanya melihat benda itu secara langsung dalam posisi setegak itu.
Darrel juga menurunkan kain segitiga tipis yang menutupi lubang surga dunia yang akan ia jamah. Hingga dua penutup tergelepar di atas lantai.
Ia buka dua paha kekasihnya, dan terpampanglah pangkal paha yang belum pernah di lihat oleh pria manapun. Darrel tersenyum, ia sudah tak tahan untuk segera menyatu.
"Aku malu!" seru Oliver sembari menutup *********** dengan satu tangan.
"Kamu sangat mengagumkan, Sayang..." desis Darrel menyingkirkan tangan kekasihnya dan membawanya ke samping kepala untuk saling bertaut.
Maka ia kembali mencium bibir istrinya. memberi sensasi rileks, agar Oliver tidak lebih sakit saat ia menyatukan tubuh mereka.
Pucuk kejantanan menempel pada bagian luar lubang. Pucuk itu kesulitan untuk memasuki lubang. Satu hentakan, dua hentakan tak membuatnya berhasil masuk. Butuh usaha lebih untuk memecah selaput suci kekasihnya. Kemudian ia membantu dengan satu tangan, sampai akhirnya berhasil masuk dua senti dalamnya.
Ekspresi wajah Oliver semakin tak karuan. Lenguhan pun semakin tak terbendung. Membuat Darrel tersenyum samar dan semakin bergairah.
Beberapa detik kemudian, dua tubuh berhasil menyatu dengan susah payah. Lenguhan panjang terdengar dari dua bibir yang sudah sama - sama terbakar hasrat. Mereka biarkan kenikmatan pertama itu untuk beberapa saat.
Darrel mulai bergerak, menggerakkan maju munduk pinggangnya, dengan tempo pelan, lembut dan teratur. Rasa goa yang ia masuki tanpa pengaman itu sungguh lembut, sempit dan sangat menjepit senjatanya.
Ini kali pertama untuk kekasihnya. Ia tak mau memberi kesan sakit dan trauma untuk Oliver. Ia tak ingin bermain kasar, dan banyak gaya. Cukup gaya normal asal durasinya panjang.
Waktu terus berputar, tiga puluh menit sudah dua inti tubuh menyatu. Oliver merasakan sensasi nikmat tapi belum terasa akan ada yang meledak.
Hubungan pertama kali bagi wanita, sudah wajar jika tak mendapat pelepasan, bukan?
"Sayang, aku sudah tidak tahan. Dia terus mendesak ingin keluar!" suara berat Darrel sampai di telinga Oliver.
"Kalau begitu... Aahh!" Oliver tak sanggup melanjutkan ucapannya. Karena Darrel mendadak memompa tubuhnya semakin cepat dan dalam.
Semakin cepat Darrel memompa, maka satu tangan yang bertaut mencengkeram semakin kuat. Satu tangan lagi, mencengkeram tepian bantal dengan kuat.
Hingga lenguhan panjang terdengar dari bibir Darrel. Mengaum saking nikmatnya pelepasan kali ini. Karena untuk pertama kali ia berhubungan tanpa pengaman dan juga melepasnya di dalam, menyembur rahim kekasihnya dengan dahsyat.
Terengah setelah mendapat pelepasan, Darrel memberi kecupan di seluruh wajah Oliver. Mengucap terima kasih untuk pengalaman terindah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kembali tegak, menarik senjatanya keluar dari inti kekasihnya. Terlihat di bawah sana ada noda merah. Darah suci meninggalkan jejak di sprei putih. Tersenyum puas lalu berbaring di samping Oliver yang masih menahan perih.
"Terima kasih, Sayang!"
Oliver tak mampu menjawab, ia terlihat begitu lemas. Kemudian menoleh sang kekasih di sampingnya.
"Bagaimana jika aku hamil, Sayang?" tanya Oliver kemudian.
"Baguslah... aku akan punya Darrel kecil, seperti Michael!" jawab Darrel tersenyum.
"Kamu tidak akan pergi meninggalkan kami, kan?" tanya Oliver khawatir.
"Tentu saja tidak, Sayang! aku akan membawamu ke Perancis setelah kita menikah!" jawab Darrel yakin. "Tidak perlu pertunangan. Kita akan langsung mengikat janji suci di depan pendeta!"
Kalimat yang begitu menjanjikan dan meyakinkan. Oliver tersenyum senang. Berharap momen ini adalah awal dari kebahagiaan mereka.
Darrel beringsut, menarik tubuh ramping yang berdarah itu ke dalam pelukan.
...🪴 Happy reading 🪴...