
Pernah merasakan pelatihan yang luar biasa menyiksa. Bahkan turun dalam pertempuran yang mempertaruhkan nyawa, tak lantas membuat sosok muda yang berasal dari China itu menciutkan nyalinya ketika di todong senjata dalam keadaan tidak siap oleh siapapun, sebelum ini.
Tapi kali ini, yang menodongkan senjata adalah putra mahkota penguasa Klan, di mana ia sudah di sumpah untuk setia dan tidak berkhianat dalam apapun kondisi dan situasi yang ada. Dan itu membuat diri merasa sangat buruk dan busuk untuk di sebut bodyguard setia.
Apalagi kalimat yang di ucapkan oleh sang tuan muda membuatnya yakin, jika apa yang selama ini ia sembunyikan bersama sang kekasih yang tak lain saudara kembar sang Tuan Muda telah di ketahui oleh sang putra mahkota, saat dirinya tengah mempersiapkan diri untuk menemui Tuan Besar Michael Xavier.
Lubang yang menjadi meluncurnya timah panas menempel sempurna pada dahinya. Karena udara malam yang dingin, membuat moncong desert eagle itu terasa cukup dingin menyentuh kulit dahinya.
Dan hawa dingin dari ujung senjata itu membuat tubuh Xiaoli Chen ikut membeku tanpa tau harus bergerak seperti apa dan berbuat apa. Bahkan kelopak mata pun seolah enggan untuk sekedar berkedip. Meski begitu tak membuat kornea matanya merasa perih.
Mata Xiaoli lurus menatap sepasang mata putra Mafia yang memiliki tatapan tajam bagai naga yang ingin memangsa musuh-musuhnya.
Lantas ia tak berani sedikitpun untuk membalas tatapan itu dengan tatapan yang sama. Karena ia sudah bersumpah untuk tunduk pada pemimpin Klan dan keluarganya.
Ruangan yang teramat luas itu hanya ada Jio dan Xiaoli, dua pemuda yang jika di lihat dari segi daya tarik fisik, maka keduanya memiliki daya pemikat yang tidak jauh berbeda. Sama-sama berkulit putih, sama-sama tampan dan sama-sama memiliki garis wajah yang tegas.
Namun jika di lihat dari mata para gadis muda dan sosialita, mungkin Jio akan jauh lebih menantang untuk di dekati. Mengingat kuda besi yang mereka tunggangi sangatlah jauh berbeda. Jio dengan Bugatti Divo yang di bandrol dengan harga di kisaran 80 juta dolar. Banyak wanita ingin berada di sampingnya untuk menemani sang pemuda melajukan mobil sport super mewah itu.
Sedang Xiaoli, pemuda itu hanya menjadi sopir dan penjaga bagi para penghuni istana Xavier. Paling jauh, ia hanya bisa menggunakan Hummer atau Jeep yang memang bisa di gunakan oleh para bodyguard utama kemanapun mereka membutuhkan.
Dan tentunya yang membedakan mereka adalah tahta, dimana Jio berkedudukan sebagai putra mahkota yang wajib di hormati oleh seorang Xiaoli Chen.
"Katakan padaku.... Sejauh mana kau mengkhianati kepercayaan keluargaku?" tanya Jio lagi dengan suara yang terdengar sangat angker.
Sedangkan diluar, ada Andreas dan seorang anak buahnya yang berusaha menguping dari luar, ketika merasa tidak lagi mendengar suara tembakan yang biasa terdengar sangat lirih dari luar gedung.
Namun sayang, sedekat apapun mereka menempelkan telinga pada daun pintu, tetap saja tidak akan bisa mendengar apa yang terjadi dan apa yang di bicarakan di dalam sana.
Tentu saja karena dua orang di dalam sana dapat mendengar jika ada yang sedang berusaha menguping di balik pintu.
"Katakan... Xiaoli Chen!" desis Jio berulang.
"Dengan sadar saya mengaku salah karena telah berjuang untuk sesuatu yang seharusnya tidak boleh saya perjuangkan... Tuan muda Jio...." jawab Xiaoli tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Jio. Sang pemuda sudah siap jika memang ia harus tewas malam ini di tangan anak pemimpinnya sendiri.
"Seperti apa kau memanggilnya?" tanya Jio dengan tangan yang menggenggam senjata dengan semakin kuat dari sebelumnya. Jawaban Xiaoli bagai petir yang memancing hujan untuk turun ke BUmi. "Apakah masih Nona Muda?" tanya Jio dengan nada mencibir dan seulas senyum mengejek.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Jika memang Tuan muda ingin menghukum saya, saya akan terima apapun itu..." jawab Xiaoli tak gentar tanpa menjawab pertanyaan Jio. Karena sang pemuda yakin, jika Jio sudah pasti mengetahui semuanya. Termasuk segala pesan chat dan sisa-sisa dari obrolan melalui telepon sekalipun.
"Apapun hukuman yang saya terima, tidak akan membuat saya mengurangi apa yang ada di dalam hati saya."
Tersenyum miring, "Bagaimana jika aku ingin melubangi kepalamu sekarang juga?"
"Silahkan, Tuan. Saya tidak akan bergeser walau hanya satu jengkal!" yakin sang bodyguard menatap mata Jio.
Suasana hening untuk sesaat. Xiaoli tentu tau, Klan Black Hold sangat membenci yang namanya penghianat. Dunia pengkhianat selalu di pastikan tidak akan baik-baik saja. Sampai kapan pun juga.
"KATAKAN, BRENGSEK!!!" teriak Jio dengan sangat kencang, hingga tubuh dan tangannya yang mengongkang senjata bergetar. Saking geramnya menahan emosi yang sudah terlanjur meledak di dalam dada.
"Saya tidak bisa menjawab, Tuan muda. Yang jelas saya yakin, jika Tuan muda sudah mengetahui segala sesuatu yang tidak di ketahui orang lain." jawab Xiaoli. "Dan apa yang Tuan muda baca dan dengar, itu adalah murni ketulusan yang saya miliki untuknya."
Jio tersenyum miring setengah mencibir. Mendengar Xiaoli menyebut Jia dengan kata ganti nya, benar-benar terasa sangat miris. Karena selama ini terasa sangat tidak sopan ketika bodyguard menyebut penghuni istana menggunakan kata nya.
Betapa merasa diri sangat bodoh, selama ini ia tidak mencurigai sama sekali tentang semua ini.
"Ketulusan..." gumam Jio menyebut kata tulus dengan sebuah anggukan yang terlihat sangat dingin.
"Saya memang telah melakukan kesalahan dengan menyembunyikan semua ini terlalu lama, Tuan muda." ucap Xiaoli. "Tapi keinginan saya untuk menghadap Tuan besar, itu juga memang benar adanya, Tuan. Dan saya akan bertanggung jawab dengan semua resiko yang akan saya dapatkan."
"Apa yang kau pertaruhkan untuk menghadap Daddy?"
"Saya tidak punya apapun untuk menghadap Tuan besar. Saya hanya punya nyawa, Tuan!" ucap Xiaoli dengan yakin dan tegas. "Saya hanya bisa memberikan nyawa saya, jika memang Tuan menginginkan. Setidaknya saya akan tewas dalam keadaan setia mencintai gadis yang Tuan muda dan Tuan besar sayangi."
"Katakan, kapan kau ingin menghadap Daddy?" tanya Jio. "Kau bilang satu minggu, bukan? Dan hari pertama mu telah lewat dengan dirimu yang masih berdiri di sini."
"Lima hari lagi, Tuan!"
"Satu hari!" tegas Jio dengan tatapan yang tajam, seolah tak ingin di bantah lagi.
"Tapi, Tuan!" reflek Xiaoli. "Saya harus merangkai kata sebelum menghadap Tuan besar."
Jio menatap Xiaoli dengan mata yang memicing sipit. Seolah tengah memilih bagian tubuh yang mana yang ingin ia santap terlebih dahulu.
"10 jurus! Kalau kau bisa mengalahkan aku setidaknya 5 jurus, aku akan memberi mu waktu 2 hari!"
"Siap, Tuan!" jawab Xiaoli.
Bersamaan dengan Xiaoli menjawab siap, maka satu hentakan ringan dari kaki Jio menghantam perut Xiaoli Chen. Hingga sang bodyguard mundur dua langkah.
Ya, hanya dua langkah. Sesungguhnya Xiaoli tau jika Jio akan bertindak demikian. Tapi karena Jio yang ingin menendang, maka ia memilih untuk diam di tempat tanpa perlawanan dan pertahanan.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
✍️ Duh... kira-kira Xiaoli akan memenangkan berapa jurus, ya?