
Sepakat untuk menyerang Hummer hitam yang berada di barisan cukup belakang, membuat posisi ketiganya terpantau oleh anak buah musuh yang menyebar di beberapa titik. Termasuk pria yang ada di dalam Hummer sendiri juga menyadari jika ia sedang dalam incaran Sang Mafia.
"Michael tau di mana aku berada!" gumamnya melalui saluran telepon. "Biar aku yang menghadapi Michael. Bunuh yang mengikutinya untuk menghampiriku!" desisnya dengan seulas senyum sinis.
"Siap, Tuan!" sahut para anak buahnya yang bersembunyi di dalam pekatnya malam, yang tak terjangkau oleh kaca mata night vision pasukan Black Hold.
Sama seperti yang di pakai Michael dan pasukannya. Ternyata anak buah musuh juga memakai kaca mata night vision untuk bisa melihat gerak gerik lawan di tengah malam gelap.
"Hemmm... aku melihat ada pergerakan di dalam hutan di sebrang sana! Dia mulai merayap mengarah untuk keluar mendekati mobil Tuan besar!" ujar seorang anak buah musuh yang membawa panah.
"F*ck!" umpat pemimpin pasukan yang ada di dalam Hummer. Ia mengeluarkan sebuah pedang, dan satu lagi sebuah senjata api di tangan kirinya.
Pemanah jitu itu langsung mengeluarkan dua anak panah sekaligus. Satu panah di arahkan pada seorang anak muda yang berlari dari kubu lawan, dialah Jio sang putra mahkota. Dan satu lagi ia arahkan pada seseorang yang ada di dalam hutan dan bersiap menyerang Hummer, dia adalah Xiaoli Chen.
Anak panah melesat dengan sangat cepat dan presisi. Anak panah pertama, tiga meter lagi akan sampai di tubuh Jio. Ingat! kecepatan anak panah jauh lebih cepat dari pada kita berlari sejauh tiga meter.
Dan saat anak panah berada setengah meter dari tubuh Jio, dengan cepat pemuda itu menangkisnya menggunakan pedang andalannya. Firasat jika ada sesuatu yang mengarah pada dirinya, benar - benar sangat tepat. Telat satu detik saja, sudah pasti anak panah itu akan bersarang di dadanya yang bidang.
Lemparan anak panah yang di tangkis menggunakan pedang itupun menimbulkan suara yang khas saat jatuh menghantam aspal.
"Ada pemanah di dalam kegelapan!" ucap Jio melalui saluran telepon.
Sedangkan anak panah yang menghampiri Xiaoli juga berhasil di tangkap oleh Xiaoli tepat saat Jio berucap, ada pemanah di dalam kegelapan. Dan jika saja Xiaoli terlambat menangkap anak panah itu, sudah pasti anak panah itu akan sampai di wajahnya. Karena jarak lancip anak panah dengan rahangnya hanya tak lebih dari 10 cm saja.
"Pemanah itu benar - benar jitu, Tuan! dia sudah mengetahui keberadaan saya!" ujar Xiaoli sembari menebar tatapan ke seluruh penjuru hutan. Dan mata elangnya berhasil menemukan keberadaan orang yang baru saja melesatkan panah ke arah dirinya.
'Keluar saja, Xiaoli! kita hadapi sekarang!" perintah Michael.
"Siap, Tuan!" jawab Xiaoli tanpa menunggu aba - aba lagi.
"Saya akan mengejar pemanah saja, Tuan! dia bisa mengancam kita semua jika tidak di habisi lebih dulu!"
"Terserah kau saja!" jawab Michael sambil menebas kepala anak buah musuh yang menghalangi langkahnya.
"Biar aku tembak dari sini saja, Xiaoli!! aku sudah menemukan pemanah itu!" sahut sniper yang di perintahkan Xiaoli untuk mengawasi dari titik tertentu.
"Baiklah, aku akan membantu Tuan besar menangkap pemimpin musuh dan para punggawanya!"
Maka tiga orang mulai merayap semakin dekat dengan Hummer. Bersamaan dengan pria di dalam Hummer membuka pintunya, terdengar pula suara lolongan dua orang dari dalam hutan. Mereka pasti tewas karena aksi sang sniper yang bersembunyi di atas pohon.
Tau jika suara kematian terdengar dari kubunya yang bersembunyi di dalam hutan, dengan sigap pria itu menodongkan senjata ke arah Michael yang masih menghabisi anak buah nya. Tangan kiri sudah mengongkang senjata ke arah Michael. Siap untuk melesatkan peluru pada Michael namun yang terjadi adalah...
Michael tau jika ada senjata yang mengarah padanya. Sehingga saat pria itu hampir menarik pelatuknya, Michael melakukan hal yang sama. Setelah menebas satu anak buah musuh di depannya.
Aksi saling todong antar pemimpin pun terjadi. Dan dengan sigap Xiaoli sudah menodongkan senjata pula ke arah Pemimpin musuh dari tepian hutan.
"Kau tembak Tuan ku, maka aku yang akan menembak mu!" desis Xiaoli yang berada di posisi paling dekat dengan keberadaan sang pemimpin pasukan musuh. Tanpa takut dan tanpa ragu.
"Kau tembak Tuan ku, maka aku yang akan menembak mu!" kalimat yang sama terucap dari sisi kanan Xiaoli. Rupanya ada seorang bodyguard yang berpakaian serba hitam mengongkang senjata ke arah Xiaoli Chen.
Namun Xiaoli justru tersenyum smirk, "Aku rela mati, asal pembunuh Tuan ku juga mati di tanganku!" desis Xiaoli dengan senjata yang tak bergeser sedikitpun.
"Bagaimana jika aku juga melakukan ini?" sahut seseorang yang keluar dari dalam mobil, dan mengongkang senjata ke arah Michael. Dari penampilan, terlihat jika orang itu memiliki kedudukan di bawah pemimpin.
"Dan ini!" sahut lainnya juga.
Sehingga 3 pistol mengarah pada Michael, dua pistol mengarah pada pemimpin musuh, dan satu pistol mengarah pada Xiaoli.
"Maka aku akan melakukan hal yang sama!" sahut Jio yang entah sejak kepan berada di sisi kanan mobil Hummer hitam. Sehingga posisinya menjadi paling dekat dengan sang pemimpin musuh bertopi ala detektif itu.
"Impas, bukan?" tanya Jio tersenyum penuh kemenangan.
Tersenyum smirk "Tiga peluru untuk ku dan tiga peluru untukmu!" desis Michael memicingkan matanya tajam pada pria yang kini sudah ia ketahui siapa.
Namun pemimpin musuh sepertinya tidak ada rasa takut sama sekali. Ia hanya tersenyum sinis. Seolah semua ini sudah biasa ia alami dan sudah biasa ia menangkan.
"Bukankah peperangan yang sesungguhnya tanpa menggunakan peluru, Nicholas Roderick!" tanya Michael dengan tatapan merendahkan pada pria yang di panggil Michael dengan sebutan Nicholas itu.
"Baiklah! kau pikir aku takut padamu?" tersenyum sinis. "Never!" jawab Nicholas menyimpan pistolnya kembali di ikat pinggang bagian belakang.
Dan Michael pun melakukan hal yang sama. Kemudian semua mengikuti cara Tuan merkea melakukan pertempuran.
Dan seketika itu keduanya mengambil ancang untuk menyerang maupun menerima serangan.
Saat Michael hendak menyerang, tiba - tiba Nicholas berlari ke arah dalam hutan dan mencoba menghilang di dalam pekat malam. Kelebihan Nicholas memang bertempur dalam gelap malam.
"Kau selalu licik, Nicholas!" gumam Michael dengan gigi yang mengerat. Kemudian ikut berlari ke dalam hutan untuk menemukan bedebah yang ia anggap sebagai biang kerok pengeboman pipa gas miliknya.
"Siap, tuan!" jawab Xiaoli meski tau Jio sudah tidak mungkin mendengar, karena sudah melesat secepat kilat.
Jack mendekati Xiaoli, dengan pedang yang sudah di berlumur darah para punggawa musuh.
"Dimana Tuan Besar dan Tuan Muda?"
"Masuk ke dalam hutan, Tuan!" jawab Xiaoli. "Mari kita selesaikan di sini!"
"Hm!" masih menatap dalam hutan yang gelap gulita.
Dan saat membalikkan badan, ia kaget dengan Xiaoli yang memegang anak panah tepat di depan matanya. Jarak mata dan ujung panah, sungguh hanya satu meter saja. Terlambat sedikit maka anak panah itu akan bercokol di mata sipitnya.
"Brengsek! rupanya masih ada pemana yang tersisa!" umpat Jack menatap ke hutan sebrang jalan.
"Sniper! masih ada pemanah yang tersisa! cepat temukan!" ucap Xiaoli sembari membuang anak panah itu.
"Siap, Xiaoli!" sahut sang sniper yang segera berpindah - pindah pohon sepeti monyet di dalam hutan.
***
Di dalam hutan, seorang pemimpin dan seorang calon pemimpin terus bergerak untuk menemukan Nicholas yang bersembunyi entah di mana. Namun aura keberadaan adanya manusia lain di sekitar mereka, dapat di rasakan oleh bapak dan anak yang sama - sama menempa ilmu di tempat yang sama.
Berpencar dengan mematok jarak sekitar 15 meter, keduanya sama - sama mengendus bau Nicholas di dalam hutan.
"Keluar kau, Pengecut!!" teriak Michael menggelegar di dalam hutan.
Jio memejamkan matanya dalam, karena kaca mata night vision seolah tak bisa menemukan sosok yang cari. Mencoba untuk merasakan dan menemukan gerakan apapun yang terjadi di sekitarnya. Pergerakan dedaunan yang di akibatkan oleh angin, sangat mudah di deteksi oleh Jio yang sangat peka.
Sampai akhirnya ia hempaskan pedang ke arah kanan dan berputar kembali ke kiri kemudian berputar dua kali saat merasakan ada pergerakan di sekitarnya.
Dan ujung pedang terasa menggores baju manusia.
"Tunjukkan wujudmu, brengsek!" teriak Jio.
Nicholas Roderick memang sangat lihai mengecoh lawan di dalam kegelapan. Terbukti dengan susahnya Jio dan Michael menemukan manusia itu. Padahal keduanya memiliki insting dan panca indera yang bagus.
Merasakan ada pergerakan angin disisi kiri Jio cepat memutar tubuh dan melakukan gerakan cepat menggunakan pedangnya. Kemudian tanpa ada yang melihat, tangan kirinya sudah memegang pisau kecil, dan ikut menari di antara pedang panjang nan tajam.
Dan saat ada angin terasa sangat dekat, maka Jio seolah berpura mengarahkan pedang, namun sesungguhnya pisaunya lah yang bergerak. Dan berakhir dengan sebuah desisan seseorang yang di sertai dengan suara seperti benda jatuh di atas tanah.
Michael dan Jio menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara. Dan Nicholas terlihat berjongkok beberapa meter di belakang Jio. Menggunkaan satu lututnya sebagai tumpuan tubuhnya yang mana bagian perutnya mengeluarkan darah segar. Meski luka tidak terlalu dalam.
Sepasang mata Nicholas memicing, menatap Jio dan Michael secara bergantian. Kebencian menguar dari sorot mata pria berusia sekitar 50 tahun itu.
"Apa tujuan mu menghancurkan pipa gas milik ku, hah?" tanya Michael dengan gigi yang masih mengerat. Menandakan betapa bencinya ia dengan pria itu.
Meski sudah terluka, tak membuat Nicholas menjadi lemah begitu saja. Ia kembali bangkit dan berdiri tegak menghadap Michael dan sang putra.
"Kau tau, kenapa setelah sekian lama aku baru muncul kembali?" tanya sinis Nicholas pada Michael yang berdiri berdampingan snag putra. "Karena aku masih sangat dendam dengan keluargamu! dan aku membangun pasukan kembali, setelah puluhan tahun lalu kau dan Ayahmu yang brengsek itu menghancurkan Klan yang di bangun Kakekku dengan susah payah!"
Tersenyum culas, "Itu adalah balasan untuk pengkhianat seperti Neo Roderick!" jawab Michael.
"Pengkhianat?" tanya Nicholas tersenyum sinis. "Bukankah itu karena Ayahmu yang brengsek itu yang berbuat tidak adil?"
"Jangan pernah menyebut Kakek ku dengan sebutan brengsek! karena itu lebih pantas untuk manusia licik seperti mu!" sembur Jio yang tidak sabar sang Kakek berulang kali di bilang brengsek.
"Oh, aku lupa bertanya... siapa pemuda ini?" tanyanya bernada culas. "Kenapa dia sangat mirip dengan mu? dan lagi menyebut Ayahmu sebagai Kakeknya! Apa dia anakmu?" tanya nya dengan tawa mengejek.
"Ya! dia putra ku!" jawab Michael dengan gigi yang masih terus menahan geram, dan sorot mata yang sangat memancarkan kebencian. "Melukai anak dan istriku sama artinya kau membangunkan singa tidur!" ancam Michael.
"Hahahaha!" tawa culas menggelegar terdengar nyaring di tengah hutan yang gelap. Yang mana mereka hanya bisa melihat melalui kaca mata night vision. Dan cahaya redup dari bulan yang tak sepenuhnya bisa memasuki hutan, karena terhalang pohon - pohon besar yang menjulang.
"Bukankah dulu bagimu seorang anak hanyalah pengganggu? lalu kenapa kau bisa punya anak sebesar ini?" ejeknya. "Dan lagi wanita bodoh seperti apa yang bersedia kau nikahi, hah? Hahahah!" tawannya terdengar sangat congkak.
"Mommy ku tidak bodoh!" sahut Jio ketus.
"Istri ku adalah segalanya! sekali saja kau menghinanya, jangan salahkan aku jika setelah ini leher mu akan putus oleh pedang ku!" desis Michael memainkan pedang di tangannya. "Tentu kau tidak lupa, pedang ini pula yang di gunakan Ayah ku untuk menyayat leher Ayahmu!" geram Michael tersenyum culas.
"F*ck!" umpat Nicholas dengan sangat jelas mengingat momen di mana Frederick menebas leher sang Ayah.
"Black Hold! you're F*cking ****!" teriak Nicholas dan langsung merengsak maju. Menghiraukan darah yang masih menetes dari perutnya.
...🪴 Bersambung ... 🪴...