
Nona Muda dari keluarga Xavier tengah sibuk di depan sebuah laptop di meja belajarnya. Ia tengah belajar mendesain tokoh kartun. Tak pernah sekolah formal, membuat ia sedikit tertinggal dengan teman - temannya. Namun sebisa mungkin ia terus belajar.
"Aaaahhhh!! sussaahh sekaliiii...." gerutunya dengan sangat malas.
Ia letakkan satu tangan untuk menyangga rahang kirinya. Sedang tangan kanannya memutar - mutar mouse tanpa arah. Sehingga anak panah bergerak tak beraturan di layar monitor.
Dan di saat kemalasannya itu semakin parah, tiba - tiba layar ponsel yang ia letakkan di sisi kiri laptop menyala. Dengan sebuah notifikasi yang sangat khas. Yaitu tanda sebuah pesan masuk ke aplikasi chat yang ada di ponselnya.
Dengan malas Jia melirik layar ponsel yang menyala itu, sebuah pesan dari nomor yang tak ia kenal membuatnya mengerutkan kening. Ia belum menyentuh ponsel sama sekali. Tapi layar sudah memunculkan isi pesan di bawah barisan nomor.
Siapa gerangan?
Namun dahi yang mengerut dan wajah yang cemberut, segera berubah menjadi sumringah. Mana kala saat ia membaca pesan yang ada di bawah nomor itu.
✉️ "Dear, Nona Cantik..."
Tentu ia ingat siapa yang memanggilnya demikian untuk pertama kali. Belum lama, baru beberapa jam lalu ada yang memanggilnya seperti itu.
Cepat - cepat ia meraih ponsel, membawanya tepat di depan wajah cantiknya. Dan senyum ceria seketika terukir di wajah cantik yang baru saja di buat badmood oleh desain cartoon yang menurutnya sangat rumit.
"Xiaoli!" pekiknya hingga hampir melompat dari kursi putarnya. Namun ia kembali duduk di kursi, dan hanya kedua kakinya saja yang bergantian menghentak lantai saking senangnya.
Pesan belum di buka, tapi jantung sudah hampir melompat dari sarangnya. Ia pejamkan matanya dalam. Ia tarik nafas panjang, dan ia hela dengan sangat pelan. Susah payah ia mengatur nafas serta getaran di dalam dada.
Dengan jemari lentik yang sudah tujuh tahun di gunakan untuk meninju, memukul ataupun mematahkan apapun yang sanggup ia patahkan, Jia menaikkan layar, kemudian dengan sangat hati - hati menekan gambar yang menunjukkan aplikasi chatting.
Sebuah nomor asing muncul di barisan teratas, dengan satu pesan yang dapat ia baca meski pesan belum ia buka. Untuk kedua kali ia membaca sapaan sang bodyguard tampan. Ia melirik lingkaran yang ada di samping nomor yang tertera. Tidak ada foto, hanya logo Klan Black Hold yang di pajang pemuda itu. Sebagai tanda kesetiaannya pada Klan.
Ibu jari tangan kanan mulai merayap seiring dengan debaran di dada yang semakin bertalu. Dan saat ia menekan nomor tanpa nama itu, bibir mulai mengurai senyuman lebih lebar, tanpa bisa di tahan lagi.
Pikiran mulai melayang, merangkai jawaban yang tepat namun tidak terkesan murahan. Setidaknya untuk saat ini, ia harus menjaga wibawanya sebagai Nona Muda Xavier yang di hormati penuh oleh para bodyguard.
Tapi apa yang terjadi, Nona Muda seperti kehabisan ide dan kata - kata. Dan akhirnya hanya satu kata ambigu yang ia ketikkan.
✉️ "Ya?"
Jawaban itu terkirim begitu saja. Namun kemudian Jia menggerutu kesal.
"Ya Tuhan... kenapa tidak ada kata - kata lain yang muncul di kepalaku?" gerutunya gemas pada diri sendiri.
Ingin ia hapus, namun centang hitam ternyata dengan cepat sudah berubah menjadi biru. Cepat - cepat Jia keluar dari aplikasi chattingnya. Menghilangkan jejaknya yang sebenarnya membiarkan aplikasi tetap online untuk bisa tau pesannya akan cepat di baca atau tidak.
"No..no..no..no..no! ini sangat memalukan..." gerutunya dengan dada yang kembang kempis. Ia letakkan ponsel di atas meja, namun matanya tak henti menatap layar yang terus ia biarkan menyala. Untuk menunggu balasan apa yang akan di kirimkan Xiaoli setelah ini.
Beberapa menit berlalu, tak ada pesan lagi dari Xiaoli. Kecewa mulai menyeruak di dalam dada. Padahal ia tau jika Xiaoli sedang online. Karena pesan balasannya langsung berubah warna yang artinya pesan sudah di baca.
"Aaahh... kenapa aku tadi hanya membalas seperti itu. Harusnya berbasa basilah sedikit!" gerutu Jia dengan wajah yang masam. "Biar ada kesan chatting begitu! Aaaa... Xiaoli...." gemasnya hingga menginjak - injak lantai karena kesal.
Ting!
Sebuah notifikasi membuat kewarasan Jia kembali normal. Wajah masam terlihat begitu cepat berubah menjadi ceria. Bagai ada tombol khusus di belakang kepalanya.
Bibir membulat membentuk huruf O, saat melihat pesan kedua dari sang bodyguard. Sedangkan tangan sudah sigap sejak tadi untuk meraih ponsel di atas meja.
✉️ "Apa Nona Cantik sudah tau siapa saya?"
"Kenapa pertanyaan dia seperti ini...." gerutu Jia, padahal ia belum membuka pesan secara real. Ia hanya melihat melalui laci notifikasi yang berada di atas layar.
"Apa yang harus aku jawab?" tanyanya pada diri sendiri. "Tau? apa tidak terlalu murahan. Tidak tau? ah! terkesan munafik. Xiaoli bukan sembarang pemuda, Jiaaaaa!" gerutunya kesal.
Akhirnya Jia benar - benar membuka pesan. Dan kembali membaca pesan yang sebenarnya sudah ia ketahui isinya.
✉️ "Iya, aku sudah tau.."
Ucap Jia sembari mengetiknya di layar ponsel.
"Sebaiknya aku berterus terang. Xiaoli bukanlah pelayan di rumah ini. Dia sangat peka dan mudah bagi dia mengetahui orang berbohong atau tidak.
✉️ "Bolehkah jika saya yang buruk rupa ini mengirim pesan kepada anda, Nona Cantik?"
Tak di sangka pesan balasan begitu cepat masuk ke dalam ponselnya.
"My God!" pekik Jia menutup mulutnya menggunakan satu tangannya.
"Maksud mu kita bagai beauty and the beast, begitu?" gumam Jia, sembari menggerutu sendiri. "No, Xiaoli! kamu sangat tampan!"
✉️ "Boleh..."
Balas Jia dengan senyum girang yang tiada tara. Namun tidak mungkin ia menyematkan emoticon sebuah senyuman, bukan?
✉️ "Dan kamu bukan si buruk rupa..."
Ketik Jia begitu saja. Entah sadar atau tidak saat mengetiknya. Yang jelas seketika membuat Jia menggebrak meja dengan sedikit tertahan.
"Oh, my God!" lirih Jia lagi, saat lagi - lagi pesan begitu cepat berubah menjadi biru. "Apa itu artinya aku sudah memujinya tampan?"
"Dear God! kenapa Xiaoli begitu pintar merangkai kata?" gerutunya. "Dan lagi.. dia memakai kekuatan apa untuk bisa mengetik secepat kilat?"
✉️ "Baiklah, Xiaoli. Dan selamat bertugas untuk kamu..."
✉️ "Dengan senang hati, Nona.."
Balas Xiaoli dengan di akhiri sebuah emoticon senyum dengan pipi yang merah merona.
"Yah... cuma segini chatting nya?" gumam Jia kecewa dengan singkatnya pesan yang dikirim Xiaoli padanya. Padahal jika bisa, Jia ingin mengobrol dan berbagi cerita padanya.
"Haahh!" Jia menghela nafas sembari melempar ponsel secara asal di atas meja. Kemudian ia letakkan kepalanya di atas meja dengan lesu.
"Masa aku yang harus mengawali obrolan?"
Gumamnya kembali menginjak - injak lantai dengan kesal.
"Memalukan!"
Jia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
***
Jika Nona Muda sedang berdebar karena menerima pesan dari bodyguard yang mencuri hatinya. Maka sang saudara kembar Georgio Xavier, sang putra mahkota tanpa memakai mahkota tengah memamerkan kemesraan pada alam bersama sang kekasih.
Jantung Nona Brown sudah berdebar hebat, saat menyadari kemana arah mata sang kekasih. Ya! bibir merah muda miliknya.
Jio benar - benar mengikis jarak di antara keduanya. Lambat namun pasti, ia berhasil mendaratkan sempurna bibir tipisnya di bibir ranum sang kekasih. Ia menubruk lembut, bahkan sangat lembut. Hingga menghanyutkan perasaan sang kekasih.
Keduanya sama - sama memejamkan mata masing - masing. Merasai pengalaman pertama kali bagi mereka bibir menyentuh bibir.
Namun dua detik kemudian, Jio menarik kepalanya kembali. Dan jarak kembali tercipta walau kurang dari 5 cm. Ia tatap wajah cantik sang gadis. Ia sangat penasaran ekspresi wajah kekasihnya yang debaran jantungnya dapat ia rasakan.
Virginia sendiri segera membuka matanya, saat merasa Jio menjauhkan bibirnya. Dan dua sorot mata kembali beradu. Nafas sama - sama menggebu, hingga dapat di rasakan oleh satu sam lain.
Tatap mata Jio begitu lekat mendarat di mata bulat sang kekasih. Menghanyutkan hingga membuat sang gadis pasrah akan apapun yang akan di lakukan Jio setelah ini.
Dan detik berikutnya Jio kembali bergerak pelan dan menyentuhkan bibirnya di bibir ranum Virginia yang berhasil membuatnya ketagihan di sentuhan pertama.
Sadar jika Jio akan menciumnya dengan ciuman yang lebih dalam, reflek tangan Virginia terangkat dan melingkar di leher sang pemuda.
Jio memagut dengan lembut bibir sang kekasih. Begitu juga Virginia, membalas dengan kelembutan yang sama. Semua terjadi secara naluri normal yang ada di dalam jiwa muda keduanya. Tanpa ada yang mengajari, juga tanpa perlu tutorial dari siapapun.
Sesekali tangan kekar Jio membelai rambut keemasan milik sang gadis. Dan sesekali pula tangan kokohnya merambat dari rahang sang kekasih, kemudian turun ke leher dengan sangat pelan, kemudian menyibak helaian rambut ke belakang. Memperlihatkan leher jenjang sang kekasih.
Jio memutar kepalannya, jika tadi ada di kiri sang gadis, kini ada di sisi kanan sang gadis. Sesekali ia membuka matanya sedikit, untuk melihat wajah cantik sang kekasih, yang semakin membuatnya ingin menyesap lebih dalam lagi.
Virginia hampir kehabisan nafas, namun ia tak tau harus bagaimana mengakhiri nya. Ciuman pertama membuatnya belum lihai untuk mengatur nafas dan temponya. Ia hanya menekan pelan pundak Jio sebagai kode.
Dan Jio pun segera melepas pagutannya begitu paham maksud sang gadis. Kemudian membiarkan gadisnya menarik nafas sebanyak yang ia butuhkan. Dia sendiri juga melakukan hal yang sama. Karena ia sendiri juga hampir kehabisan nafas.
Namun karena sang pemuda hanya memberi jarak yang sangat dekat, tak lebih dari 10 cm, membuat keduanya kini seolah saling berebut oksigen.
Kendati di bilang rebutan, tak lantas membuat keduanya bertengkar. Mereka justru tersenyum lirih dan saling mengeratkan tangan yang bertaut.
Bukankah cinta memang selalu teras luar biasa?
"I love you ..." bisik Jio terdengar sangat syahdu.
Virginia menatap lekat sepasang mata sang kekasih yang baru saja mengucapkan kata cinta padanya. Dimana kalimat singkat itu membuat dirinya rela jika harus tenggelam di lautan cinta bersama Jio, sahabat masa kecilnya.
"I love you too ..." balas Virginia dengan sangat syahdu.
Jio kembali mendaratkan kecupan di dahi Virginia dengan jauh lebih khidmat dari saat berada di dalam mobil. Apalagi kali di barengi dengan sebuah pelukan yang sangat erat dan posesif.
Tak ada siapapun yang melihat. Tak ada siapapun yang tau jika ciuman pertama mereka sudah terjadi. Hanya alam yang menjadi saksi bisu bersatunya bibir dua anak muda dengan jiwa yang berapi - api.
"Kita masuk sekarang?" tawar Jio.
"Hm..." Nia mengangguk dengan seulas senyum manis.
Dan bersamaan dengan, bel tanda pelayan akan memasuki private room berbunyi.
***
Sementara Xiaoli tersenyum di bawah pohon besar yang ada di taman belakang istana. Menikmati foto yang ada di pajang Jia di foto profil.
Cantik natural, di bumbui senyum manis yang mempesona membuat bodyguard muda itu senyum - senyum sendiri.
"Mungkin kamu adalah satu - satunya mimpi yang sulit untuk ku gapai, beautiful..."
...🪴 Bersambung ... 🪴...