
Malam yang dingin, di antara kerlip bintang dan terang cahaya bulan, akan terasa hangat dan syahdu jika di lalui bersama orang terkasih.
Apalagi jika yang menemani kita adalah orang yang kita cintai dan mencintai kita. Seseorang yang membuat diri kita selalu ingin berdekatan dan membuat kita merasa diri ini lebih di hargai.
Jia, gadis jelita yang selama 7 tahun hidupnya di habiskan di dalam kuil terbaik di negeri sebrang, kini tengah asyik duduk bermanja di pangkuan sang kekasih yang duduk bersila di atas tempat tidurnya.
Menikmati momen romantis dan saling menyalurkan rasa cinta dan sayang melalui sentuhan fisik yang selalu menimbulkan debaran tersendiri.
Selain bibir yang bertaut, lengan yang saling berpelukan juga tangan yang saling mengusap dan meremas manja di beberapa titik tubuh kekasih.
Hanyut sudah dua anak manusia dengan kasta yang berbeda di dalam sebuah alunan cinta menggebu. Hingga mata terpejam dalam aliran darah yang terasa lebih deras dan semakin panas. Menumbuhkan hasrat untuk ingin lebih dari sekedar... apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
"I love you..." bisik Xiaoli di tengah ciuman. Sembari kedua tangan yang memeluk erat, seolah enggan untuk kehilangan.
"Love you too, Amore..."
Kepala Xiaoli bergerak, mengecup kening, hidung, dan kembali ke bibir. ******* sekilas, lalu kepalanya semakin miring dan gerakan bibir semakin merambat turun. Menuruni lereng rahang dengan pipi tirus yang keharumannya tidak perlu di tanyakan lagi.
Bibir Xiaoli terus mengecup setiap inchi dari kulit mutih dan mulus Nona Muda Xavier. Hingga akhirnya sampai di leher jenjang sang kekasih.
Mengecup lembut, menghirup keharuman sang kekasih, hingga ia keluarkan ujung lidah nya untuk menyusuri leher dengan gerakan yang sangat kecil, pelan dan sangat mendalami.
Namun siapa sangka, gerakan kecil itu sudah membuat Jia kesulitan dalam mengatur nafasnya. Terdengar jelas di telinga Xiaoli jika Jia tengah hanyut sedemikian dalam karena merasakan sentuhan yang tak biasa.
Jia sedikit mendongak ke atas dengan mata terpejam, tangan kiri melingkar kuat di pundak sang pemuda. Jemari tangan kanan meremas erat rambut hitam Xiaoli. Menekan kepala itu untuk melakukan apapun yang di inginkan sang pemuda.
Dada membusung menahan nafas hingga menempel lebih kuat pada dada sang kekasih. Membuat gumpalan padat dan kenyal miliknya tanpa di sadari semakin membakar hasrat sang lelaki.
"Mmmhhh..."
Lenguhan kecil meluncur dari bibir Jia tanpa bisa lagi di tahan. Membuat Xiaoli semakin bergairah. Terbukti dengan bagian tubuhnya yang paling dalam semakin terasa menegang dan mengeras. Seolah meminta untuk segera di masukkan ke dalam sangkar yang konon memiliki kehangatan luar biasa.
Xiaoli ingin sekali menyesap leher jenjang itu, meninggalkan tanda kepemilikan yang membuat semua orang tau, jika sang gadis ada yang memiliki.
Namun sayang, kesadaran yang masih tersisa beberapa persen, membuatnya ingat untuk tidak meninggalkan jejak apapun juga. Selain jejak cinta yang dalam di lubuk hati sang kekasih.
Selain bibir dan lidah yang bermain cantik di leher jenjang, tangan Xiaoli juga bergerak aktif dan lembut. Menyusuri punggung dari dalam baju tidur sang kekasih, Xiaoli bergerak merayap dengan penuh penghayatan.
Meraba kulit putih mulus di tubuh seorang Nona Muda tidaklah semua lelaki bisa merasakannya. Namun Xiaoli menjadi lelaki yang sangat beruntung. Karena ia satu-satunya lelaki yang berhasil pertama kali menyentuh setiap inchi dari tubuh Jia.
Tangan kanan merambat ke atas, hingga menyentuh pengait br* yang sedang di gunakan sang kekasih. Ingin melepas pengait itu. Tapi ia tidak pernah mencoba secara langsung membukanya. Yang ada ia takut jika salah dan membuat sang Nona Muda merasa kaget ataupun kesakitan.
Meski dari video yang ia tonton terlihat sangat mudah melepas pengait semacam ini. Tapi untuk praktek pertama kali sang pemuda sungguh belum berani.
Akhirnya tangan hanya merayap di punggung. Saat telapak tangan kanan kembali turun, bergeser ke perut bagian samping dan hendak kembali naik untuk mencoba menyentuh bagian dada sang kekasih, tiba-tiba...
"Jia! Sedang apa?"
Suara yang sangat-sangat tidak asing di telinga keduanya dari luar pintu kamar Jia. Beruntung, Jia tadi mengunci kamarnya. Tapi rata-rata seisi rumah utama sungguh pintar untuk membuka kunci tanpa kunci sekalipun. Termasuk Gerald, dan kecuali sang Mommy.
Dua pasang mata yang tertutup rapat mendadak terbuka lebar dan sulit untuk sekedar berkedip.
"Kak Jio!" pekik Jia lirih melompat dari pangkuan sang kekasih. Melepas semua perasaan yang masih ingin bersama sang kekasih.
"Buka pintunya!" perintah Xiaoli tanpa suara mengakhiri segala momen romantis yang sedang berlangsung.
"Kamu?" tanya Jia tanpa suara pula.
"Keluar!" Lagi Xiaoli berkata tanpa suara dan turun dari tempat tidur Jia tanpa gerakan berlebih. Ia sangat tau pemilik dara di baik pintu memiliki sensitivitas pendengaran yang hampir sama dengan dirinya. Atau bahkan lebih.
Xiaoli bergerak tanpa bayangan meninggalkan kamar Jia. Sedang Jia langsung mengacak-acak rambutnya. Membuat dirinya seolah-olah baru saja bangun tidur.
"Jia!" teriak Jio dari luar kamar.
"Iyaa..." jawab Jia mengeluarkan suara serak ala bangun tidur.
Melangkah dua langkah ke arah pintu, Jia menoleh pada tempat tidur, dan mata yang berpura-pura mengantuk seketika melotot tajam. Ketika melihat atas tempat tidur yang berantakan oleh anak catur.
"F*ck!" umpat Jia melotot tajam.
Dengan gerakan yang sangat pelan... Jia menggeser anak catur dan memasukkan ke dalam tempat dan langsung ia simpan di bawah dipan.
Percuma! Sang saudara kembar memiliki indera pendengar yang luar biasa peka.
"Jia!" teriak Jio. "Dalam hitungan ketiga pintu tidak di buka, aku akan membukanya dengan caraku!"
"Satu! Dua! Ti..."
Braakk!
Belum sempat angka tiga di sebut, Jia sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya dengan wajah malas seolah benar-benar baru bangun tidur.
"Hemm?"
"Ada apa Jio?" suara wanita yang memiliki cinta luar biasa untuk suami dan anak-anaknya tiba-tiba muncul dari salah satu pintu kamar yang ada di lantai dua. Kamar dengan pintu paling spesial karena berlapis emas.
"Jio mendengar suara seseorang dari dalam kamar Jia, Mommy!" jawab Jio ketika sang Ibu sudah sampai di sampingnya.
"Siapa?" tanya sang Mommy langsung penasaran.
"Siapa?" ulang Jio menatap dingin pada Jia yang kini mulai ia curigai hendak berbohong.
"No, Mommy! Jia tidur.." jawab Jia dengan wajah mengantuknya. Dan sangat kebetulan sekali ketika tiba-tiba ia menguap. Bersyukur dalam hati, setidaknya sang Mommy pasti akan percaya untuk kali ini, meski entah dengan sang saudara kembar yang satu ini. Terlalu sulit untuk berbohong pada Jio.
"Jia tidur kok, Jio..." ucap Mommy Chania pada sang putra mahkota yang masih menatap dingin pada sang saudara kembar. "Lagi pula ini sudah lewat jam 12 malam, Boy... kenapa kamu tidak tidur?"
"Jio masih ada perlu, Mommy..." jawab Jio menoleh sang Ibu.
"Sebaiknya kamu tidur, Boy... Jangan terlalu larut dengan urusan dunia sampai tidak tidur."
"ini penting, Mommy..." jawab Jio.
"Tidurlah, besok di lanjutkan.."
"Ya, Mommy..." jawab Jio memilih mencoba untuk menurut supaya sang Ibu segera kembali ke kamar. "Sebaiknya Mommy kembali ke kamar, jangan tinggalkan Daddy terlalu lama."
"Ya, kamu memang benar, Boy..." jawab sang Ibu mengusap punggung sang putra yang tingginya 20-25 cm di atasnya.
"Selamat tidur, Jio!" ucap sang Ibu berjinjit dan mencium singkat pipi sang putra. " Selamat malam, Jia!" ucap sang Ibu menghampiri Jia dan mencium keningnya.
"Yes, Mommy..." jawab Jia.
Dan kembalilah sang Ibu masuk ke kamarnya. Sedangkan Jio tanpa permisi justru langsung menggeser tubuh Jia dari pintu dan masuk ke dalam kamar sang saudara kembar.
Dengan mata tajamnya sang putra mahkota menelisik setiap sudut ruang kamar sang adik. Menyibak gorden, membuka almari, hingga membuka gorden yang menutupi pintu menuju balkon.
"Apa sih, Kak?" tanya Jia mengikuti langkah Kakaknya.
"Kenapa tidak di kunci?" tanya Jio.
"Aku jarang menguncinya..." jawab Jia dengan dada yang bergemuruh takut dan ragu. Ia bahkan mengalihkan pandangan untuk menghindari tatapan Jio yang selalu mirip seperti tatapan sang Ayah.
Dan Jio tidak pernah salah dalam membaca gestur seseorang, termasuk sikap Jia kali ini. Jio keluar dari pintu. Mengamati setiap cm yang ada di luar sana. Dan kembali masuk ke kamar sang adik.
"Kamu bisa membohongi Mommy... Tapi kamu tidak bisa membohongi ku, Jia..." desis Jio menatap dingin dan dalam pada sang adik.
"Apa maksud Kakak?"
"Aku tidak akan pernah melarang mu membawa laki-laki ke kamar ini jika memang dia kekasihmu. Karena aku pun sebelum ini keluar masuk kamar Virginia sesuka hati ku dan tidak ada yang pernah melarang." ucap Jio.
"Lalu?" lirih Jia.
"Asal kau jujur pada Daddy, Mommy dan aku!" jawab Jio. "Kalau ada apa-apa dengan mu, kami bisa dengan mudah menemukan dia!"
Jia terdiam, ia tau tidak akan mudah menyembunyikan apapun dari saudara satu ini. Tapi masalahnya sang kekasih adalah Xiaoli Chen, seorang bodyguard Klan yang di pimpin oleh sang Ayah. Yang di rasa akan sangat beresiko dengan restu yang mungkin tidak akan ia dapatkan.
"Bau parfum mu bertabrakan dengan bau parfum orang lain. Siapa yang baru saja pergi dari kamar mu melalui jendela?" tanya Jio dengan intonasi dan tatapan yang sangat mengintimidasi.
Jia membeku, lidahnya tercekat mendengar pertanyaan Jio. Sungguh sulit memang membohongi Xavier dan anak-anaknya. Karena ia sendiri cukup pintar untuk membaca ekspresi seseorang.
"Cepat katakan!" desis Jio tak ingin lagi di bantah ataupun di bohongi.
' Haruskah aku jujur pada Kak Jio? Siapa tau dia bisa membantu ku dan Xiaoli untuk menghadap Daddy? '
Batin Jia dalam hati.
...🪴 Bersambung ... 🪴...