
Hari terus berlalu seiring detik yang terus berjalan. Meskipun jam dinding mati, itu tidak akan membuat waktu seluruh penghuni rumah berhenti begitu saja. Waktu mereka akan terus berjalan. Dan itu membuat waktu yang di tunggu oleh Jio akhirnya telah tiba.
Mengatur waktu bersama seseorang yang menjadi kepercayaan sang Ayah dan juga bodyguard utama Jack Black. Jio akhirnya bisa meninggalkan kantor dengan tenang. Jika bisa, ia ingin sekali mengatakan jika ia belum siap dengan apa yang sudah di tangguhkan padanya.
Berpakaian ala anak muda. Kaos lengan panjang, celana jeans dan sepatu sport berwarna putih, Jio melajukan mobilnya menuju kampus Sapienza University.
Kampus yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Dan hari ini ia akan kembali menjalani hari sebagai Mahasiswa TI. Ia tidak akan pernah ketinggalan materi walau tidak pernah kuliah sekalipun. Karena tanpa kuliah sekalipun ia sudah akan sangat tau dan paham akan penyelesaian soal-soal yang di berikan oleh Dosen.
Hanya saja ia tak ingin terlihat sehebat itu.
Cit!
Roda mobil Bugatti berhenti tepat di tempat parkir di mana ia sering memarkirkan mobilnya di sana. Jio keluar dari mobil, dan keberadaan sang Tuan Muda selalu berhasil menarik mata kaum hawa yang ada di sekitarnya.
Jio melihat ke kanan dan ke kiri, menelisik dan mencari mobil Mini cooper orange milik sang kekasih, namun tidak ada. Sementara dari hasil perhitungannya harusnya sang kekasih sudah sampai di kampus bersamaan dengan dirinya. Itu berdasarkan waktu keberangkatan Virginia yang di informasikan oleh Nyonya Brown.
Jio bersandar pada body samping mobilnya, dan yang ia dapat hanyalah kasak kusuk para mahasiswi yang sedang melintas.
"Lama tidak melihat dia datang ke kampus..."
"Benar!" sahut yang lain.
"Aku dengar Virginia lupa ingatan..." sahut lainnya lagi. "Mungkin karena itu mereka tidak pernah terlihat ada di kampus..."
"Oh..." semua ikut mengangguk.
"Apa mungkin Virginia melupakan Jio?"
"Mungkin saja."
"Benarkah?"
"Entahlah, aku juga tidak tau..."
"Kalau benar, itu adalah kabar bagus yang pernah ada." jawab yang lain dengan senyuman berbinar.
"Kenapa begitu?'
"Yaa... karena dengan begitu, kita jadi punya kesempatan untuk menjadi kekasih Jio! ya, kan?"
"Ah! iya juga, ya!" sahut yang lain ikut berbinar.
Meskipun keberadaan mereka hampir seratus meter dari Jio, telinga sensitif Jio cukup jernih untuk bisa mendengar obrolan itu. Dan Jio hanya menggelengkan kepalanya pelan. Tidak peduli dan tidak akan pernah masuk dalam rencananya untuk menggubris ocehan mereka.
Melihat jam tangan Rolex di pergelangan tangan kirinya, bersamaan dengan sebuah mobil keluarga memasuki area parkir kampus. Tak jauh dari posisinya sekarang.
Reflek, batinnya seolah meminta dirinya untuk menoleh ke arah kedatangan mobil itu. Dan benar, sosok yang memang sedang ia tunggu keluar dari sana. Dialah Virginia, turun dari mobil bersama seorang perempuan berusia sekitar 23 tahun.
Jio memicingkan matanya, merasa tidak mengenal sosok perempuan yang terlihat begitu perhatian mendampingi Virginia.
"Ayo, Nia!" ajak perempuan itu pada Virginia.
Mereka tampak sangat akrab, meski Jio tidak pernah melihat ada perempuan ini di rumah keluarga Brown.
"Di mana loketnya, Merr? Dan di mana kelasku?" tanya Nia pada perempuan itu.
"Di sana.." jawab perempuan yang di panggil Virginia Merr itu.
"Okay!" sahut Virginia.
Dan kedua gadis itu mulai berjalan ke arah di mana Jio tengah berdiri di samping mobilnya.
Menatap nanar pada Virginia yang melangkah dengan tanpa melihat pada dirinya sedikitpun. Padahal mata sang pemuda hanya terfokus pada gadis cantik yang mengenakan rok jeans ketat setinggi 15 cm di atas lutut itu.
Kemudian di padu dengan atasan loose blouse lengan panjang berwarna pink yang bagian bawahnya di masukkan ke dalam rok. Warna pink adalah warna favorit sang kekasih. Rambut keemasannya di ikat menjadi satu ke belakang. Sebuah tas menggantung di pundak kirinya.
Sederhana, namun di mata Jio tetap terlihat cantik dan seksi.
Melintas di depan mobil Jio, Virginia seolah tak menyadari jika ada Jio yang berdiri di samping mobilnya tengah menatap dirinya. Langkah demi langkah sang gadis di ikuti tanpa henti oleh sepasang mata Jio.
10 meter sudah jarak mereka berdua, ketika tiba-tiba kepala Virginia bergerak ke kanan dan menoleh pada Jio untuk sekilas.
Maka desas desus dari Mahasiswi yang entah kenapa masih ada di area parkir kembali terdengar di telinga Jio.
"Ternyata benar, gadis itu melupakan Jio..." lirih salah satu dari empat Mahasiswi yang berdiri di depan sebuah mobil berwarna merah.
"Yaa Tuhan... benda apa yang tertinggal di kepala Virginia? sampai melupakan pemuda setampan Georgio Xavier!" sahut yang lain menatap Jio dengan tatapan penuh rasa kagum.
"Justru aku rasa... Takdir sedang memberi kita kesempatan untuk berusaha merebut perhatian Jio..." sahut yang lainnya menatap Jio dengan tatapan rasa ingin memiliki.
"Bayangkan saja, kalau seandainya kita bisa memeluk tubuh gagah itu setiap kita ingin...." lanjutnya tersenyum tidak jelas. Membayangkan kepalanya rebah di dada pemuda tampan di sebrang sana.
"Aku rasa mimpimu terlalu jauh!" sahut yang lainnya.
"Kita bebas bermimpi, bukan?" tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari sosok Jio yang masih berdiri di samping mobilnya.
"Yaa.. terserah kamu saja..." gumam salah satu temannya.
***
Virginia memasuki fakultas kedokteran setelah cukup lama ia tidak berkuliah. Beberapa kali ada Mahasiswi yang searah dengannya menyapa, tapi sungguh ia tak ingat. Siapa gerangan yang menyapa.
Teman kah? Atau siapa?
Virginia hanya membalas sapaan mereka semua hanya dengan senyuman ramah, tanpa menyebut nama mereka.
"Di sini ruang kelasmu..." ucap perempuan yang menemani Virginia di hari pertama kuliah.
"Thanks, Merr!"
"Yeah! Dan 10 menit lagi dosen mu akan datang. Jadi masuklah!" ucapnya. "Aku akan menunggu di kantin atau di mobil.. Telpon saja kalau sudah selesai!"
"Iya, aku paham!"
"Bagus!" sahut Merr.
***
"Apa hubungan mu dengan Nia?" suara seseorang membuat Merr yang tengah duduk di kantin sekolah yang biasa di gunakan oleh anak-anak orang kaya mengisi perut mereka.
Merr menoleh ke sisi kanan. Dan seorang pemuda duduk di sebrang meja namun berjarak cukup jauh di sisi kanannya.
"Kamu..." Merr menggantung kalimatnya.
"Aku Jio!"
"ya, aku sekarang ingat!" jawab Merr tersenyum tipis.
"Kamu belum jawab pertanyaan ku. Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan kekasihku?"
"Hemm..." Merr mengakhiri makannya dengan meminum jus jerk miliknya. "Sebelumnya perkenalkan, namaku Merr." jawab Merr.
"Hm.." sahut Jio datar bahkan sediit ketus.
"Aku baru datang semalam dari London!" lanjutnya. "Aku baru saja menyelesaikan kuliahku tahun ini, sebagai Psikolog. Dan aku mendengar kabar jika Nia mengalami amnesia. Dan aku di minta oleh Uncle Brown untuk menjaga mental dan membantunya untuk bisa mengingat segala sesuatu sebelum operasi itu berlangsung. Terutama mengingat tentang kekasihnya." jawab Merr.
"Dan kekasih Nia itu adalah kamu?" tanya Merr.
"Hm.. kamu benar!"
Merr mengangguk. "Aku lihat kamu memiliki perangai yang cukup bagus, Jio." ucap Merr. "Aku tau kamu sedang pusing dan terpukul dengan apa yang menimpa kekasihmu.. Tapi bisa membuat wajahmu sedatar ini..."
"Kamu tidak tau saja siapa aku..." gumam Jio tanpa menoleh pada Merr.
"Ya... aku memang belum tau siapa kamu. Tapi jika aku boleh memberi saran... Demi kebaikan Virginia untuk saat ini, sebaiknya kamu menjauhi Virginia."
Jio terhentak dengan kalimat yang di ucapkan Merr. "Apa maksudmu?" sembur Jio tak menyukai ide yang di berikan oleh Merr.
"Maksud ku adalah ..."
...🪴 Bersambung ... 🪴...