
Jia melangkah, menaiki anak tangga selebar satu meter itu satu persatu. Semakin naik, maka semakin dekat dengan kamar Xiaoli berada. Jantung Nona muda Xavier seperti sedang di pompa, ketika ia menginjak anak tangga terakhir. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan.
Rupanya, meski mess bodyguard hanya di huni oleh para bodyguard laki - laki, nyatanya bagian luar cukup rapi dan bersih. Setiap kamar memiliki rak sepatu dan tong sampah sendiri - sendiri. Juga sebuah kursi kecil, yang mungkin di gunakan untuk duduk saat hendak memakai sepatu. Atau hanya untuk bersantai bersama bodyguard lainnya.
"Nona muda!" pekik seorang bodyguard yang tengah duduk di salah satu kursi kecil. Betapa ia sangat terkejut saat melihat Jia celingak celinguk di dekat tangga. Segera ia berdiri, dan menunduk hormat.
"Sst!" ucap Jia meminta bodyguard yang tak ia kenal namanya itu untuk tidak bersuara.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanyanya lebih pelan namun panik.
Bagaimana tidak panik, yang ada dalam benak bodyguard itu adalah Jia tengah melakukan sidak atas perintah Tuan besar. Tapi selama sepuluh tahun ia mengabdi di Klan Black Hold, tak pernah sekalipun sidak di lakukan oleh keluarga Istana. Hanya Jack dan Dimitri yang sering melakukan hal itu. Guna menjauhkan para pasukan Klan dari obat - obatan terlarang.
"Em... Dimana kamar Xiaoli?" tanya Jia setengah berbisik.
Sontak bodyguard berusia sekitar 28 tahun itu mengerutkan keningnya. Untuk apa Nona muda mencari Xiaoli yang baru pulang dari rumah sakit? Meski semua tau kecelakaan yang menimpa Xiaoli, adalah karena Nona muda yang keras kepala.
"Di sebelah sana, Nona!" jawabnya kemudian menunjuk kamar paling ujung di sisi kiri Jia. "Paling ujung, sebelah kiri.
"Oh!" Jia mengangguk paham.
"Akan saya panggilkan, Nona!" ucapnya bergegas hendak menuju kamar Xiaoli.
"Tidak perlu!" cegah Jia cepat. Tentu saja ia ingin menemui Xiaoli di kamarnya. Sekaligus ingin melihat, seperti apa kamar bodyguard tampan itu.
Ah, rupanya Nona muda mulai banyak kepo tentang bodyguard tampannya!
"Tapi, Nona! Tuan besar bisa marah kalau sampai tau Nona muda mendatangi seorang bodyguard!" jawab bodyguard itu. "Sudah kewajiban kami yang menghadap keluarga Tuan Michael!" lanjut bodyguard itu dengan nada sangat takut.
"Daddy tidak ada di rumah! Kalian tidak perlu takut!" jawab Jia dengan santainya. "Kamu di situ saja! Aku akan mendatangi Xiaoli sendiri!" ujar Jia segera melangkah.
"Ta..tapi.."
"Diam!" potong Jia tegas, dengan kembali menoleh ke belakang.
"Baiklah, Nona!" mau tidak mau, hanya itu yang bisa di jawab oleh sang bodyguard.
Gadis 19 tahun itu benar - benar masih labil. Menganggap semua yang di anggap serius oleh bodyguard, adalah hal yang mudah untuk di selesaikan. Bermodal Daddy yang tak ada di rumah, Jia bisa kemanapun yang ia mau, pikirnya.
Namun... Kita semua tidak tau apa yang akan terjadi di depan, bukan?
Langkah Jia semakin dekat dengan pintu kamar Xiaoli, bodyguard tampan yang selalu mencuri perhatian mata siapa saja yang melihat. Teruma remaja belasan tahun. Atau bahkan mungkin, mereka yang lebih tua dari Xiaoli.
Dan salah satunya adalah, Nona mudanya sendiri. Yang sejak pertama bertemu sudah tertarik untuk sekedar melihat ketampanannya. Hingga berlanjut dengan rasa bersalah.
By the way... Rasa bersalah?
Sepertinya itu hanya alasan Nona Jia untuk bisa bertemu dengan bodyguard paling tampan dan muda di Klan Black Hold itu.
Langkah Jia sudah sampai di depan sebuah pintu bercat hitam. Jantung berusia 19 tahun itu seperti di pompa. Untuk pertama kalinya, ia mendatangi kamar laki - laki seorang diri.
Tangan terangkat ke atas, berayun untuk mengetuk. Namun, saat dua senti meter lagi akan menyentuh pintu, tangan Nona muda justru berhenti. Ragu tapi malu, mungkin itu yang di rasakan Jia.
Merasa gugup, Jia menoleh ke sisi kiri, dimana bodyguard yang tadi tampak masih berdiri menghadap dirinya. Dan segera menunduk saat mengetahui Jia menoleh.
"Sst!" panggil Jia.
Bodyguard itu mendongak, merasa di panggil oleh Jia. Ternyata Jia memberinya kode untuk... masuklah ke kamarmu!
Cepat - cepat bodyguard itu melesat ke dalam kamarnya dengan buru - buru. Pelototan mata Nona muda Xavier sudah cukup membuat jantungnya hampir melompat.
Membuang nafas, kini tangan kembali bergerak.
Tok tok tok!
Jia mengetuk pintu bernomor 45 yang saat ini tertutup rapat itu dengan pelan.
"Masuklah, Paman!" seru Xiaoli, yang mengira itu adalah Antonio. Karena sedari tadi hanya Antonio yang merawat dan mengawasi dirinya. Hingga laki - laki yang sudah mengabdi puluhan tahun di klan Black Hold itu harus bolak balik ke kamarnya.
Jia yang mendengar teriakan Xiaoli, segera mengulum senyuman. Dia dikira seorang bodyguard. Kemudian Jia menekan handle pintu secara perlahan dan tanpa suara sedikitpun dari bibirnya.
Sementara Xiaoli yang berada di dalam kamar, mengerutkan keningnya. Biasanya semua bodyguard yang ingin masuk ke kamarnya selalu mengetuk pintu dengan keras atau bahkan tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Kenapa kali ini mengetuk dengan pelan, dan... Menekan handle dengan sangat pelan.
"Seperti perempuan saja.." gumam Xiaoli lirih.
Perlahan, daun pintu itu terbuka sedikit demi sedikit, Xiaoli yang berbaring di atas tempat tidur single bad itu pun menoleh ke arah pintu dan memperhatikan dengan seksama. Siapa gerangan yang bersikap sok lembut.
"Selamat sore, Xiaoli!" sapa Jia menampakkan dirinya.
Sontak Xiaoli terbelalak dan bangkit dari tempat tidurnya.
"Nona Jia!" ucap Xiaoli terperangah.
Cepat - cepat ia berdiri, melupakan semua sisa - sisa rasa sakit di tubuhnya. Meski sebenarnya semua itu tidak terasa sakit bagi seorang petarung, tetap saja Xiaoli di minta untuk tidak terlalu banyak bergerak, demi pemulihan lebih cepat pasca operasi.
"Jangan bangun!" Jia mencoba untuk mencegah
Namun Xiaoli tetap memilih untuk berdiri tegak dengan nafas yang tidak beraturan.
"Em... Aku...." Jia ragu untuk berucap, "aku ingin... Minta maaf sama kamu, Xiaoli!" ucap Jia kemudian. Ekspresi wajahnya benar - benar menunjukkan jika dia benar - benar merasa bersalah.
"Minta maaf untuk apa, Nona?" tanya Xiaoli heran.
"Gara - gara aku, kamu jadi seperti ini..." lirih Jia yang masih berdiri di luar pintu.
"Melindungi keluarga Xavier sudah menjadi kewajiban saya, Nona! Saya sudah bersumpah akan hal itu!" jawab Xiaoli yang merasa bingung dan malu bercampur aduk. Seorang gadis melihat isi kamarnya yang apa adanya.
"Tapi tetap saja aku merasa tidak enak." jawab Jia sedikit menunduk. "Aku dengan gara - gara masalah ini, kamu di hukum dengan tidak boleh cuti pulang kampung selama satu tahun ke depan..." ucap Jia mendongak Xiaoli. Menatap sendu wajah tampan sang bodyguard.
Di tatap seperti itu oleh seorang Nona muda, tentu membuat Xiaoli salah tingkah dan bingung. Apalagi sebelum ini, ia tak pernah bersilang tatap dengan gadis muda dan cantik. Selain murid - murid gurunya yang ia tatap dengan tatapan serius saat melatih di kuil.
"Saya tidak pernah merasa hal itu adalah hukuman yang berat, Nona!" jawab Xiaoli yakin. "Saya sudah terbiasa tidak pulang kampung sebelum ini!" jawab Xiaoli lagi beralasan. Tentu saja ia tak ingin Nona muda Xavier semakin merasa bersalah.
Jia tersenyum kecut, "tetap saja aku merasa bersalah atas luka - luka mu, Xiaoli!"
"Nona muda tidak perlu merasa bersalah. Toh Tuan besar tidak memenggal kepala saya." jawab Xiaoli dengan senyuman tipis, untuk mengurangi ketegangan di antara keduanya.
Melihat senyuman di bibir Xiaoli, membuat sang Nona muda terenyuh. Ada desiran aneh yang sulit di artikan di dalam dada. Ada sesuatu yang tak berani ia artikan sama sekali.
Atau bahkan mungkin, karena ia belum pernah mengenal sebelum ini?
Entah, yang jelas Nona muda Xavier sedang di landa.... Ya, begitulah.
"Maafkan aku ya, Xiaoli!" ucap Jia lagi.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, Nona!" jawab Xiaoli yakin.
Kini giliran Jia yang tersenyum manis. Dan, ah! waktu berputar, dan membuat hati sang pemudalah yang kini timbul desiran aneh dan sulit di mengerti.
Senyum manis yang memabukkan hati, pikir Xiaoli.
Jia mengedarkan pandangan ke seisi kamar Xiaoli. Tampak rapi meski kecil dan tak mewah. Dari segi ukuran saja, hanya seperempat dari luas kamarnya.
Merasa Nona muda tengah meneliti isi kamarnya, tentu Xiaoli semakin salah tingkah dan malu.
"Maaf, Nona! Kamar saya berantakan!" ucap Xiaoli tersenyum kikuk. Menahan jantung yang masih berdetak kencang di dalam dada.
"Kamar kamu rapi ya, Xiaoli!" namun itulah kalimat yang keluar dari bibir Jia, untuk menanggapi kalimat Xiaoli.
Xiaoli kembali tersenyum kikuk, "ini...sangat berantakan, Nona!"
"Kamu seperti Kak Jio! Kamarnya selalu rapi!" Jia terus membantah kalimat Xiaoli yang merendah. "Berbeda dengan Gerald, yang kamarnya selalu berantakan! Padahal para pelayan setiap hari merapikannya!" lanjut Jia dengan nada bicara lebih santai.
Xiaoli menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Benar - benar ada yang salah sore itu.
"Em... sebelumnya, saya minta maaf, Nona. Saya takut jika Tuan besar akan semakin marah jika tau Nona datang kemari. Jadi lebih baik... Nona meninggalkan tempat kumuh ini." ucap Xiaoli dengan sangat hati - hati.
"Kamu mengusir ku?" tanya Jia dengan ekspresi cemberut. Ia masih berdiri si luar pintu.
Menggeleng cepat, "bukan begitu, Nona! Saya hanya takut, jika Nona akan di berikan hukuman lebih berat dari sekarang!" jawab Xiaoli.
Jia kembali menunduk dalam, kecewa berat rasanya. Ketika mengingat kembali perkataan semua bodyguard sebelum ia sampai di situ. Semua takut jika sang Daddy marah.
Tapi diri rasanya belum ingin mengakhiri obrolan dengan Xiaoli di sore yang cerah itu.
***
Jika di mess bodyguard ada Jia yang berhasil menemukan kamar Xiaoli Chen dan berbincang, maka di depan istana sudah ada mobil Jio. Yang artinya pemuda tampan itu sudah datang. Dan kini sedang berada di kamarnya.
Ia sudah berpakaian rapi ala anak muda jaman now. Barang yang menempel di tubuhnya, semua adalah barang mahal tentu saja. Tapi Jio tampak biasa saja memakainya. Karena memang semua seperi tidak berharga untuk orang kaya macam mereka.
Ia berdiri di depan lemari. Mengambil paper bag pink, yang kemarin ia simpan. Ia buka paper bag itu untuk menengok isinya kembali.
"Baiklah, seperti saran Nikki tadi pagi! Aku harus meyakinkan diri dan menyatakan perasaanku. Jika aku benar mencintai mu, Nia! Aku harap kamu tidak akan menolak cinta ku!" ucapnya di depan kaca almarinya.
Bunga mawar merah asli sudah ia pesan, dan kini sudah berada di kursi penumpang Bugatti nya. Ia hanya tinggal menyiapkan jantung, jika sudah berhadapan dengan Nia nanti. Di waktu yang tepat, setelah ia mengacak - acak kencan Virginia dan Alex.
Kaki mulai melangkah meninggalkan kamar mewah sang Tuan muda. Paper bag berisi hadia kecil, sudah ada di tangan kirinya. Pintu sudah ia buka. Badan tinggi dan tegap sudah keluar dari pintu, dan menutup pintu kembali.
Kini langkah semakin dekat dengan tangga teratas. Ia memutuskan turun menggunakan tangga. Ia bukanlah anak manja yang suka menggunakan lift untuk naik turun.
Namun...saat kaki sudah di pertengah tangga yang meliuk. Suara yang sangat ia kenali terdengar menggema di ruang tengah.
"Jio!" panggilnya.
...🪴 Happy Reading 🪴...
✍️ 1.722 kata untuk malam ini... 🥳🥳🥳
Apakah kurang panjang kakak? 🥰
By the way... Bisa banget loh, mampir di IG Author : @lovallena 🥰
Ada beberapa visual dari SANG MAFIA! yang udah Author up... 🤩