
"Jio!" pekiknya kaget.
Jio berdiri mematung di tepi pantai, di hadapannya ada gadis cantik nan jelita sedang mendongakkan kepalanya, menatap wajah tampan nan rupawan sang putra mahkota dengan mata yang membulat.
Dua pasang mata saling beradu pandang dengan perasaan yang menggebu. Dari dada yang hanya berjarak 20 cm saja.
"Kamu..." lirih Virginia, "bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Virginia tak percaya. Pasalnya ia sama sekali tidak melihat kapan Jio kembali, setelah entah dari mana.
Jio masih diam membeku, menatap dalam sepasang mata lentik yang selalu ia rindukan selama tujuh tahun tinggal di kuil. Kini mata lentik nan menyejukkan itu benar - benar ada di depannya. Tampak nyata dan menghanyutkan.
Tanpa menjawab, Jio justru membalikkan badan, membelakangi Virginia yang masih setia menunggu jawaban darinya. Termasuk pertanyaan sebelum lampu - lampu yang semula mati, tiba - tiba menyala dengan memberi kehangatan.
"Kehidupan ku di kuil tidaklah mudah, Nia..." ucap Jio tiba - tiba. Sembari menatap lautan yang permukaannya memantulkan cahaya rembulan malam. "Setiap hari, setiap saat aku harus berlatih dengan keras... Menyelesaikan setiap misi yang semakin hari akan semakin sulit dari Shifu."
Lanjut Jio menatap lurus ke depan, hingga ujung pantai. Yang mana jika ada kapal sebesar Titanic sekalipun pun akan terlihat kecil dari posisi Jio sekarang. Kaki sang pemuda telah basah oleh ombak pantai yang ujungnya menubruk kedua kaki Jio yang tidak lagi memakai alas.
"Selama tujuh tahun, meski tanpa kabar... rasanya setiap malam, setiap aku sendirian, kamu seolah selalu hadir di sampingku." lirih Jio kembali. Mengungkapkan satu persatu kalimat yang sangat ingin ia ucapkan sejak lama. "Dan itu membuatku ingin agar waktu cepat berlalu. Agar kita cepat kembali bertemu."
Lanjut Jio sembari mengenang momen dimana waktu terasa berjalan begitu lambat dan lama. Sedang waktu membayangkan wajah cantik jelita Nona Brown terasa begitu cepat dan singkat.
"Kuta berpisah saat masih anak - anak. Dan kita kembali bertemu, saat kita di sebut sebagai anak muda. Bukan waktu yang singkat, Nia..."
"Aku tau, Jio..." lirih Virginia membenarkan argumen Jio.
"Kamu tau? apa yang membuatku merasa selalu kuat dan mudah menyelesaikan setiap misi dan mendapatkan hasil yang bagus? Hasil yang sesuai dengan harapan Daddy. Bahkan Daddy bilang, sudah lebih dari yang beliau harapkan."
"Apa?" tanya Virginia lirih dan gugup.
Mendengar jika diri di rasakan selalu hadir padahal jarak terlampau jauh saja sudah membuat jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari sebelumnya. Karena tak pernah terfikir jika hal semacam itu bisa benar terjadi.
Jio menunduk, meraih kalung dengan bandul naga yang tak pernah sekalipun ia lepas dari lehernya.
"Aku menganggap benda ini adalah jimat keberhasilanku!" jawab Jio.
Nafas Virginia semakin tidak karuan. Tentu ia tau apa yang sedang di genggam Jio. Tentu ia dapat merasakan makna genggaman Jio.
Virginia menunduk sembari memejamkan matanya dalam. Merasakan sesuatu yang sedang memeluk batinnya.
Dan saat ia membuka mata, Jio sudah tak ada di hadapan. Padahal ia sama sekali tidak merasakan ada seseorang yang melangkah pergi meninggalkan dirinya.
"Aku yakin tadi bukan halusinasi!" gumamnya tak ingin jika tadi hanyalah khayalan semata.
Mata seketika menyapu area sekitar pantai bersama setetes air mata yang meluncur begitu saja. Ia pasti menemukan Jio, ia yakin dalam hati. Virginia tak ingin apa yang ia dengar dan ia lihat tadi hanyalah halusinasi tingkat tinggi.
Ia memutar tubuhnya, menajamkan penglihatan di setiap sudut sunyi yang di terangi lampu - lampu berwarna putih redup. Nafasnya sudah tak beraturan saking khawatirnya apa yang terjadi hanyalah khayalan.
Ia berputar lagi ke kiri, dan saat itulah ia menubruk tubuh gagah sang lelaki.
Pergerakan Jio memang sulit terdeteksi. Apalagi oleh gadis sepolos Virginia. Jio bisa menghilang dan kembali secepat kilat.
Layaknya pergerakan vampir bernama Edward Cullen dalam serial film fantasi romantis, The Twilight Saga.
Nafas di dalam dada semakin kembang kempis, mana kala merasakan tangan kekar seorang Georgio Xavier melingkar erat di pinggangnya. Membuat tubuh keduanya bersentuhan dengan sempurna.
Jantung di dalam dada semakin tak karuan, saat di depan matanya adalah dada bidang sang lelaki.
Kemudian ia melirik ke atas sedikit, dan ia bertemu dengan leher jenjang sang Tuan muda. Dimana sebuah jakun terlihat bergerak naik turun di bagian tengah dengan gagahnya.
Sangat menggiurkan, bukan?
Batin Virginia semakin tak karuan melihat apa yang ada di depan mata. Tentu itu membuatnya ragu untuk semakin mendongak ke atas.
Karena jika ia melakukannya, maka ia akan melihat wajah tampan nan rupawan sang pewaris Sebastian Group, sekaligus Klan Mafia terbesar di Italia.
Bisa - bisa ia akan pingsan jika tidak pintar mengatur detak jantung di dada, juga nafas di dalam paru - parunya.
Dada kembang kempis menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi. Ia tak berani bersuara, bahkan tak berani bergerak sedikitpun. Jangankan bergerak, kelopak mata saja kesulitan untuk berkedip. Hanya deru nafas tegang yang terasa di antara keduanya. Terutama gadis cantik yang sedang meremas jemarinya sendiri.
Semua terjadi bagai sebuah adegan slow motion dalam sebuah film layar lebar. Keromantisan yang tercipta sangat terasa hingga yang melihat akan senyum - senyum sendiri karena... Baper.
Jio mengusap air mata yang tadi sempat jatuh di pipi sang Nona Muda Brown. Mengusapnya dengan lembut, selembut sentuhan sutera di kulit putih nan mulus.
Nafas sang pemuda mulai teratur. Meski debaran di dalam dada masih terasa kencang.
Bukankah sang Tuan Muda pandai menutupi ekspresi sesungguhnya?
"Aku mencintaimu, Nia..."
Kalimat itu, suara itu, caranya mengungkapkan benar - benar terasa nyata oleh Virginia. Namun lagi - lagi ia takut jika semua itu hanyalah mimpi.
Tubuh masih diam membeku di dalam pelukan sang Tuan Muda. Bahkan ia hanya bisa menelan ludahnya demi mengurangi kegugupan.
Ia tak ingin semua hanya khayalan nya saja. Ia tak ingin suara itu hanyalah ilusi yang berlebihan.
Ia ingin mendengar kalimat itu terucap lagi untuk meyakinkan diri. Tapi bagaimana caranya untuk meminta?
Dan saat semua terasa menegangkan bagi Virginia, tangan kiri Jio yang semula mengusap air matanya, kini beralih ke dagu kecil Nia yang mungil.
Jemari kekar itu mengangkat pelan dagu Virginia ke atas. Sedikit demi sedikit. Sangat lembut hingga membuat sang wanita semakin gugup dan tegang. Apalagi ketika pandangan mata sang gadis bertemu dengan manik hitam kecoklatan milik sang lelaki.
Dua sorot mata sendu terpancar dari keduanya. Mata iblis milik Jio yang merupakan keturunan dari sang Ayah, lenyap begitu saja.
Dan jangan di tanya lagi seperti apa kondisi jantung Virginia sekarang. Semua terasa sangat mendebarkan bagi gadis yang menginjak 19 tahun itu.
Setelah berhasil membuat gadis itu melihat wajahnya, kini Jio mengunci tubuh ramping itu agar semakin erat berada dalam dekapannya.
"Aku mencintaimu... Nia..." ucap sang putra naga dengan sangat pelan dan nyata.
Mulut Virginia terbuka. Serasa tak percaya dengan apa yang di ucapkan Jio. Pikiran, hati bahkan mungkin nyawanya sendiri seolah terbang bersama kalimat yang di ungkapkan Jio. Pergi jauh menuju taman bunga yang bermekaran.
Tubuh terasa begitu ringan saat bibir lelaki di atasnya itu kembali berucap di barengi dengan sorot mata yang begitu syahdu. Menegaskan bahwa apa yang dia ucapkan adalah nyata.
"Aku sangat mencintaimu, Nia... Maafkan aku yang baru menyadarinya..." ucap Jio lebih panjang sembari menyentuhkan keningnya dengan kening sang gadis jelita.
Terlihat dari sorot matanya ada sedikit penyesalan karena tak mengungkapkan hal itu di hari pertama bertemu.
Namun siapa sangka, kalimat yang lebih panjang itu berhasil mengembalikan jiwa Virginia yang sempat terbang bersama angan. Ia kedipkan matanya beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya penuh.
Virginia tersenyum lirih, bersamaan dengan air mata haru yang kembali meluncur di pipi mulusnya.
Ini sungguh nyata, bukan lagi khayalan ataupun halusinasi. Jio benar - benar mengucapkan satu kalimat yang mengubah dunianya.
"Maafkan aku karena mengkhianati persahabatan kita..." lanjut sang Tuan Muda.
Setiap kalimat yang keluar dari bibir Jio adalah sesuatu yang semakin mendobrak debaran di dadanya.
"Bisakah mulai detik ini, aku memilikimu?" tanya Jio dengan suara yang di sertai getaran penuh makna.
Senyum haru semakin nyata di wajah Virginia. Bibirnya seolah terkunci rapat saking hebatnya debaran di dalam dada.
Akhirnya ia hanya bisa menelan ludahnya, sembari mengangguk kecil beberapa kali.
Anggukan yang berarti sebuah persetujuan akan satu kesepakatan itu membuat keduanya bersamaan memejamkan mata mereka dalam. Saling merasakan bahagia kepemilikan yang baru saja mereka dapatkan.
"Aku juga mengkhianati persahabatan kita sejak kecil dulu, Jio..." lirih Virginia masih dengan mata yang terpejam. "Aku juga mencintaimu..." ucap Virginia dengan penuh perasaan yang mengharu biru di dalam dada.
Merasa sudah berhak untuk saling mengakui kepemilikan, kini Jio merengkuh erat tubuh Virginia. Ia layangkan kecupan pertama di dahi sang gadis. Kecupan lembut dan dalam. Kecupan yang menjadi penyempurnaan ungkapan perasaan yang begitu dalam.
Dan Virginia pun menaikkan tangannya untuk merengkuh leher sang lelaki. Dan memeluk erat. Ia sandarkan kepalanya di dada bidang sang lelaki.
Ingin ia menangis, tapi ia sudah lelah menangis sejak tadi. Karena sesungguhnya air mata yang tadi ia teteskan karena kecewa, tidak seharusnya ia keluarkan.
"I love you, Nia..."
"I love you more, Jio..."
Ungkapan dan balasan terus dan saling bersahutan. Bersamaan dengan debur ombak yang menjadi saksi jalinan cinta yang naru saja di kukuhkan dalam ikatan pasti.
Meleburkan semua ragu yang sering menguasai diri. Menjadikan diri lebih yakin, jika cinta memang benar ada di antara keduanya sejak lama.
Lampu - lampu yang semula hanya berwarna warm white membentuk tulisan I 🤍 U, kini berubah menjadi merah di belakang Virginia, I ❤️ U.
Tentu gadis itu belum tau, jika banyak warna redup yang berubah menjadi cerah. Sungguh kejutan yang entah di dapat dari mana idenya. Jio yang baru turun gunung, pasti tidak tau hal semacam itu.
...🪴 Bersambung... 🪴...
✍️ Selamat dengan status barunya, Jio dan Nia...
Siap - siap untuk hal - hal romantis selanjutnya 🥰🥰