SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 252


Satu istana Xavier sudah tau, jika Virginia akan melakukan operasi sore nanti. Sehingga semua tidak heran jika sang Tuan Muda sudah tidak ada di rumah dan bahkan tidak ikut sarapan bersama di meja makan keluarga.


Pagi itu Jia berniat untuk kuliah, dan setelah kuliah nanti ia akan menjenguk Virginia ke Rumah Sakit. Tentu saja setelah mendapat ijin dari sang Daddy.


Demi menemani sang saudara kembar yang pasti membutuhkan dukungan darinya juga sebagai saudara.


Jia sudah mendengar banyak tentang resiko apa yang akan di hadapi Virginia pasca operasi. Yang sedikit banyak akan berimbas pada hubungan Virginia dan Jio. Sebagai saudara, tentu Jia ikut bersedih ketika Jio menceritakan semuanya.


Namun rasa sedih dan kasian yang ia rasakan semalam itu, akhirnya berpadu dengan rasa bahagia yang membuatnya tak ingin mengakhiri hari itu. Hari panjang yang terasa singat bagi dara muda yang sedang jatuh cinta.


"Xiaoli sudah Daddy perintahkan untuk mengantar dan menunggumu sampai kuliah mu selesai. Lalu mengantarkan kamu ke Rumah Sakit. Dan memastikan kamu selamat sampai rumah! Tanpa mampir kemanapun!"


Satu kalimat tanpa jeda dari sang Daddy, yang membuat mata Jia membulat sempurna, dan bibir sontak melukis senyum samar. Hingga ekspresi di wajahnya berubah begitu saja.


"Ok, Daddy!" sahut Virginia tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.


Dan yang ada di dalam pikiran Jia saat ini adalah, kenapa Xiaoli tidak bilang jika dia tugaskan untuk mengantarnya selama satu hari penuh?


Dan bagaimana kira  kira ekspresi Xiaoli ketika menerima perintah itu?


Senang kah? Datar kah?


Kan pemuda itu sangat pintar menyembunyikan ekspresi aslinya.


Cepat - cepat Jia menghabiskan sarapannya, dan langsung beranjak untuk berpamitan pada Daddy dan Mommy nya. Dengan mencium pipi dua orang tuanya itu, sambil berucap Bye...


"Kenapa Kak Jia terlihat buru - buru?" tanya Gerald yang masih menghabiskan sandwich di piringnya.


"Entahlah... Mungkin dia ada tugas yang belum terselesaikan." jawab sang Mommy.


"Gerald pikir Kak Jia akan pergi bersama Kak Jellow."


"Dia bahkan belum bangun..."


Berbeda dari sang Mommy, maka sang Daddy justru berfikir tentang sesuatu yang lain...


Apakah itu?


***


Jam berangkat kuliah sebenarnya belum tiba. Tapi Jia sudah duduk di kursi yang ada di area depan istana Michael. Hingga membuat beberapa pelayan keheranan dengan apa yang di lakukan Jia.


Jika biasanya supir atau bodyguard yang menunggu majikannya, maka kali ini justru Jia yang menunggu bodyguard datang untuk mengantarkannya pergi, yang tak lain adalah kekasihnya sendiri.


Jia duduk di salah satu kursi yang ada di depan istana Xavier, sembari memainkan ponselnya. Ia mengecek sisa pesan chat nya bersama Xiaoli tadi pagi. Tidak ada satu katapun kode yang di kirimkan sang bodyguard, jika pemuda itu akan mengantarnya. Padahal terkahir berkirim pesan sebelum ia mandi.


"Dasar kamu, ya..." gumam Jia tersenyum gemas, sampai senyum - senyum sendiri menatap ponselnya. Ia sudah tidak sabar untuk bisa pergi berdua bersama sang bodyguard.


Sementara yang di tunggu sedang berjalan tegap keluar dari area mess bodyguard. Bibir tipis nan merah muda alami tersenyum samar. Menghiasi wajah tampan khas keturunan China.


Semalam ia mendapat mandat dari Jack sang kepala bodyguard, jika ia yang akan mengantarkan sang kekasih untuk kuliah dan lanjut ke Rumah Sakit.


Dari dua tujuan itu saja, ia sudah bisa memperkirakan jika mereka akan bersama selama satu hari penuh.


Langkah tegap sudah sampai di area parkir istana Michael. Kunci mobil milik Jia yang di berikan Jack, sudah ada di tangannya. Dan dengan percaya diri, ia mengeluarkan mobil bernilai lebih dari 1 Milyar itu keluar dari tempat parkirnya.


Melintasi area samping rumah, Xiaoli siap menunggu sang kekasih keluar dai istana. Tanpa ia ketahui jika sang kekasih sudah menunggu di depan istana itu sendiri.


Ketika Jia mendengar suara mobil, maka ia segera mendongak dan menoleh ke sisi kanan istana. Dari sanalah suara mobil yang sangat ia kenali berasal. Dan saat bagian depan mobil sudah mulai terlihat, seiring dengan senyum Jia mulai terlihat semakin lebar.


Semakin dekat jarak mobil maka senyum semakin sulit ia sembunyikan. Ia pun segera berdiri dan mendekati mobil yang kini bannya berdecit karena sebuah tekanan rem.


Xiaoli cukup terhentak ketika melihat Jia ternyata sudah menunggu dengan senyum tipis di bibir manis. Ia sangat merindukan bibir itu. Bibir yang terakhir kali ia kecup ketika mereka berada di restauran yang ada di bukit Fields of Pealand.


Sejak malam mereka resmi menjadi sepasang kekasih, keduanya belum pernah memiliki kesempatan untuk bisa berduaan. Semua karena Jia di antar oleh bodyguard yang berganti - ganti setiap hari.


Maka tak butuh berpikir dua kali untuk XIaoli segera membuka pintu otomatis, dan terlihat seorang pelayan membantu mengarahkan Jia.


"Hap!" ucap Jia dengan penuh suka cita.


Sedangkan pelayan tadi sigap menutup pintu mobil.


Dan dua sorot mata langsung bertemu di spion tengah, yang seketika itu terbit pula senyum merekah di bibir masing - masing.


Untuk sesaat keduanya hanya diam. Namun yang terjadi berikutnya adalah protes dari Jia.


"Ayo cepat jalan, wahai Paman sopir yang tampan!" ujar Jia seperti saat ia biasa memanggil bodyguard senior yang ia panggil dengan menyematkan sebutan Paman.


Tersenyum dengan menggigit bibirnya bagian dalam, "Siap, Nona Muda yang paling cantik di negeri ini!" ujar Xiaoli mengakui apa yang memang ada di dalam hatinya.


Xiaoli kembali menekan pedal gas, setelah melihat senyum Jia yang merupakan imun booster tersendiri bagi sang bodyguard.


"Wahai Paman sopir yang tampan, siapkan satu kursi di depan untuk menyambut Princess Georgia..." ujar Jia dengan sedikit bergurau, namun senyum manis sama sekali tidka lepas dari bibirnya.


Tanpa menjawab, Xiaoli hanya tersenyum dan menekan pedal gas lebih dalam untuk bisa sampai pada titik yang pernah ia gunakan untuk berhenti demi menghindari CCTV keluarga Xavier.


"Sudah siap, Nona!" ucap Xiaoli menatap kaca bagian tengah.


Jia segera melesat turun dari pintu belakang, membuka sendiri pintu bagian depan, lalu yang ia lakukan adalah masuk dengan cepat, tapi bukan untuk duduk di kursi penumpang bagian depan.


Jia langsung mengambil posisi untuk merengsek Xiaoli yang masih berada di balik kemudi. Kaki nya sampai naik ke atas jok, untuk bisa mendekati lelaki dengan keharuman woody musk itu. Tangan kiri pemuda itu masih memegang setir bundar, sementara tangan kanan masih berada di tukas rem tangan ketika Jia tiba - tiba menyerangnya.


Lalu yang terjadi adalah ...


Jia menubruk tubuh gagah sang lelaki dengan menyandarkan kedua lengan di dada bidang Xiaoli. Sementara wajah cantiknya langsung merengsek untuk mengikis jarak dengan cepat. Dan langsung memberikan kecupan di setiap inchi dari wajah tampan Xiaoli dengan gemas.


Terakhir yang kecup bertubi - tubi adalah bibi manis sang bodyguard dengan di penuhi rasa gemas dan rindu. Setelah 5 kecupan bertubi di bibir sang bodyguard, Jia mengakhiri dengan sebuah kecupan yang lama dan dalam, hingga tangannya meremas pundak gagah sang bodyguard. Melepas rindu - rindu kecil yang membentuk rindu yang teramat besar.


Mendapat serangan mendadak yang tak ia perkirakan akan terjadi, Xiaoli siga p menarik tukas rem, kemudian tangan meraih pinggan sang kekasih agar tidak sampai mengenai benda - benda yang membatasi jok pengemudi dan jok penumpang.


"i miss you so much!" ujar Jia menatap Xiaoli dengan tatapan yang penuh dengan cinta.


"I jauh lebih merindukanmu, Bao - Bao..." jawab Xiaoli kembali mengikis jarak dan mencium mesra bibir manis sang kekasih.


...🪴 Bersambung... 🪴...