SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 128


Peluru sudah di masukkan oleh Jack, pistol berjenis revolver itu pun sudah beralih ke tangan Chania. Pelindung telinga dan mata pun sudah bertengger di kepalanya.


Maya mengarahkan tubuhnya menghadap sasaran berupa manekin manusia yang berada beberapa meter di depannya.


Ada banyak manekin seukuran tubuh manusia yang berjajar di sana. Ada beberapa yang sudah berlubang kepalanya. Itu adalah sasaran milik sang Tuan Mafia.


Sudah menjadi ciri khas Michael Xavier, menembak musuh tepat di tengah dahinya, tanpa meleset sedikitpun. Bahkan saat boneka - boneka manusia itu di goyangkan sekalipun.


Chania menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Menepis perasaan tegang yang menyeruak saat untuk pertama kalinya ia akan menghunuskan senjata dan melesatkan peluru di dalamnya. Meski hanya sebuah manekin tentu sesuatu yang menegangkan.


Maya mengarahkan tangan Chania lurus ke depan. Meminta Chania untuk sedikit membuka kakinya, agar lebih kuat saat menopang tubuhnya yang bisa saja akan ikut bergetar saat peluru meluncur dari senjatanya. Apalagi ini kali pertama sang Nyonya muda mencoba meletuskan senjata api.


"Pastikan sasaran anda sudah sesuai, Nyonya" bisik Maya dari belakang punggung Chania setelah menarik pelatuknya.


"Hem.." jawab Chania memicingkan mata. Seolah mengikuti ciri khas suaminya, maka ia mengincar dahi salah satu boneka di sana.


"1...2...!" bisik Maya. "Tiga!"


Dorr!


"Hah!"


Suara letusan terdengar di susul dengan ******* Chania yang tubuhnya sedikit terhentak.


"Meleset!" keluhnya kesal, karena peluru tak menyentuh sasaran sama sekali.


"Ini kali pertama, Nyonya! suatu hal yang wajar." ucap Maya.


"Baiklah, kali ini setidaknya harus mengenai tubuhnya!"


"Ya, Nyonya!" jawab Maya.


Chania kembali mengambil posisi terbaik untuk belajar menembak.


Beberapa meter di belakang Chania, Jack berdiri dengan wajah tegang. Ia takut jika sang Tuan muda marah dengan keinginan Nyonya muda yang tak biasa itu, kemudian dia menjadi pelampiasan kemarahan.


Karena dialah pemimpin seluruh bodyguard. Sebagai tombak utama mengatur para pasukan. Serta menjadi titik pusat jika ada pasukan yang melakukan kesalahan.


Belum juga rasa tegang menghilang dari wajah Jack, dan belum juga peluru kedua melesat, suara bariton terdengar dari arah pintu bersamaan dengan suara hentakan pintu yang di buka dengan tergesa - gesa.


"Apa yang kamu lakukan?"


Satu pertanyaan yang membuat ekspresi tiga orang di dalam gedung berubah dalam hitungan detik. Semua terpaku untuk sesaat. Hingga ketiganya kompak menoleh arah pintu yang berada di sisi kanan mereka.


"Tuan!" pekik Jack dan Maya bersamaan. Mereka menunduk dalam sebagai penghormatan. Dan siap jika akan di amuk malam itu juga.


Chania Xavier, wanita itu terdiam untuk sesaat. Menyadari jika dia melakukan tindakan berani tanpa ijin sang suami. Merasa bersalah, Chania menurunkan senjatanya, meletakkan kembali di atas meja.


Merasa tak mendapatkan jawaban, Michael berjalan mendekati istirnya dengan aura dingin yang menyelimuti. Membuat seisi ruangan ikut dingin dan nyaris beku.


"Apa yang membuat kalian berani mengajari istriku, tanpa izin dariku?" tanya Michael dingin melirik Maya dan Jack bergantian.


"Maafkan kami, Tuan!" jawab mereka bersamaan.


Jack dan Maya menunduk semakin dalam. Tak ada yang berani menatap mata elang sang naga hitam.


Menghela nafas, merasa kecewa dengan bodyguard dan istrinya sendiri. Michael berdiri tepat di depan istrinya yang tengah melepas pelindung telinga dan pelindung mata.


"Jelaskan, apa yang kamu inginkan dengan ini?" Michael mengambil pistol yang tadi di gunakan Chania. Memutar pelan tepat di depan istrinya.


Berusaha menetralkan dirinya, Chania berusaha bisa menjawab dengan baik.


"Aku hanya ingin belajar menembak." jawab Chania menatap manja suaminya. Seolah tak merasa bersalah sedikitpun. "Aku sangat kagum setiap melihat kalian beradu senjata di medan perang. Jadi aku pikir, sebagai istri Mafia aku juga harus bisa untuk melindungi diriku di saat tak ada penjagaan." lanjutnya dengan gaya semakin manja.


"Belajar dengan mereka?"


"Yaa.." jawab Chania mengalihkan pandangan.


"Tengah malam begini?"


"Yaa..."


"Tanpa izin dariku?"


Belum sempat Chania menjelaskan, Michael sudah memborbardir dengan pertanyaan terus menerus.


"Iya! Karena aku pikir kamu sudah tidur, Honey." jawab Chania secepat kilat, sebelum di potong lagi oleh suami tercinta.


"Kamu pikir?" tanya Michael mengerenyitkan dahinya. Bisa - bisanya sang istri hanya berpedoman pada pikirannya sendiri.


"Eghm!" Michael berdehem keras, membuang pandangan ke arah lain, menggelengkan kepalanya pelan. Sesungguhnya ia tak pernah kuat menatap wajah centil di itu. Sangat menggugah birahinya jika ekspresi nakal terbit dari wajah cantik itu.


Melingkarkan kedua tangan di pinggang istrinya. Menarik tubuh yang perutnya sudah tak lagi buncit untuk semakin dalam ke dalam dekapan. Memberi kesan mengintimidasi sebelum memberikan penuturan.


"Kamu tau, Nyonya Xavier?"


"Apa, Tuan Xavier?" sahut Chania cepat. Ia tau suaminya akan bertutur kata. Sehingga ia mengerling manja, demi mendapatkan penuturan yang halus tanpa emosi.


"Walaupun kamu adalah Nyonya di rumah ini, walau pun semua orang di rumah ini harus tunduk pada perintah mu, tapi kamu harus ingat, Sayang!"


"Ingat apa, Sayang?" balas Chania berpita tak paham. Ia masih terus menebar senyuman manja. Dan semakin mengeratkan kuncian tangannya di balik punggung sang suami


Michael sudah tak tahan untuk ingin tersenyum pada bidadari surganya itu. Namun sekuat hati ia pun harus bersikap tegas.


"Ada aku, suamimu! yang harus kamu patuhi!" mencubit manja hidung sang istri yang spontan memejamkan matanya. "Kalau kamu mau berlatih apapun, kamu harus langsung bicara padaku! minta izin padaku! maka tangan ku sendiri yang akan mengajarimu!" ucap tegas Michael sembari memperat tangannya di pinggang sang istri.


"Maafkan saya, Tuan Xavier... saya mengaku bersalah..." ucap Chania semanis mungkin. Sembilan puluh persen ia yakin suaminya tak akan marah pada Jack dan Maya.


"Kali ini aku memaafkan kamu, tapi jika sekali lagi kamu belajar dengan mereka, maka aku akan menghukum mu! dan memotong setengah gaji mereka yang berani mengajarimu tanpa izin dariku!" ucap tegas Michael melirik Maya dan Jack.


"Jangan, Tuan!" sahut Jack dan Maya bersamaan.


Tentu saja semua takut jika gaji di potong setengah. Sudah bisa di bayangkan, mereka akan kehilangan puluhan dolar bukan? Dunia bisa jungkir balik dengan pemotongan gaji yang mencapai puluhan dolar.


Jika gaji Jack, selaku posisi tertinggi bodyguard di klan Black Hold mencapai 70 ribu dolar, bisa di bayangkan kehilangan 35 ribu dolar. Ia mungkin tak akan bisa bersenang - senang di hari libur.


"Kamu mau mengajari aku sekarang?" tanya Chania penuh harap.


"Besok!" jawab Michael tegas.


Tidak mau merubah suasana, akhirnya Chania memilih untuk menuruti suaminya. Ia khawatir emosi suaminya kembali berubah.


"Baiklah, Honey... kita kembali ke kamar!" ucap Chania melepas pelukannya dan merengkuh lengan suaminya. Mengajak sang Mafia meninggalkan gedung tembak, memastikan keselamatan dua bodyguard dari hukuman suaminya.


"Sebentar!" desis Michael tak bergerak dari posisinya. "Dua orang ini harus mendapat sedikit hukuman dariku..." desis Michael lirih, namun terdengar sangat menusuk untuk Jack dan Maya. Tak dipungkiri Chania pun ikut merasa bersalah.


"Hukuman apa?" tanya Chania.


"Hanya hukuman kecil..." lirih Michael mendekati Jack dan Maya yang berdiri hampir sejajar.


"Tidak ada libur bulan ini!" ucap Michael.


Dua bodyguard itu sedikit terhentak. Namun mereka pikir lebih baik, dari pada harus kehilangan puluhan dolar.


"Siap, Tuan!" jawab keduanya bersamaan.


Michael menarik lembut tangan Chania, membawanya keluar meninggalkan gedung latihan tembak.


***


"Tuan Jack, sepertinya anda harus menahan diri!" ucap Maya saat mereka berjalan ke arah pintu, setelah bos mereka tak lagi terlihat.


"Apa maksudmu?" tanya Jack menoleh sekilas Maya yang masih berada di belakangnya.


"Anda tidak akan bisa ke panti pijat bulan ini! hihihi!" Maya cekikikan sambil menunduk setelah mengucapkan gurauannya.


Jack berhenti mendadak. Membuat gadis 26 tahun di belakangnya menubruk punggungnya.


"Auh!" pekiknya mengusap dahi dengan telapak tangan kanannya.


"Beraninya kau menertawai ku?" desis Jack membalikkan badan.


"Eh, Maaf.. Tuan!" ucap Maya.


"Sepertinya aku juga punya hak untuk menghukum mu!"


"Jangan, Tuan! saya hanya bercanda!" Maya mengatupkan kedua tangan di depan. Seolah memohon ampun pada sang Tuan. Ekspresi wajahnya sudah berubah. "Jangan potong gaji saya, Tuan! ibu saya sedang sakit!"


"Lupakan!"


Ucap Jack tanpa pikir panjang. Berita ibu Maya yang sakit sudah ia terima sejak bulan lalu. Jack kembali melanjutkan langkah. Meninggalkan Maya yang bisa bernafas lega.


"Setidaknya ada biaya untuk Ibu! meskipun aku tak bisa pulang ke kampung!" gumam Maya kemudian.


"Terima kasih, Tuan Jack! anda memang tampan luar dan dalam! hihihi!"


...🪴 Happy reading 🪴...