SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 219


Gerald kembali melancarkan aksinya. Ia bertekad untuk tidak mundur mengejar keduanya. Toh keduanya berbeda ruang kelas, ia bisa dengan mudah mendatangi bergantian.


Pikir anak muda yang belum menyelami seluk beluk duniawi.


"Kamu di antar?" tanya Gerald membuka obrolan santai.


"Iya."


"Di jemput atau di tunggu?"


"Di jemput. Memangnya kenapa?" tanya Chloe yang merasa sedang di interogasi.


"Oh, tidak!" jawab Gerald cepat. "Kalau kamu mau, nanti pulang aku antar saja," tawar Gerald. "Bagaimana?"


"Memangnya kamu bawa mobil sendiri?" Chloe menatap tak percaya pada Gerald yang baru 14 tahun, menawarinya untuk di antar pulang.


"Tentu saja tidak. Aku bahkan belum di ajari bawa mobil sendiri. Tunggu 15 tahun kata Daddy." jawab Gerald. "Tapi aku di tunggu oleh supir dan seorang pengawal di tempat parkir. Kalau kamu bersedia, aku akan mengantarmu pulang. Aku ingin tau rumah kamu. Siapa tau kapan - kapan aku perlu menjemputmu."


Lidah calon Casanova memang berbeda dengan lidah petarung seperti Kakak laki - lakinya.


Gerald mengukir senyum menawan yang membuatnya terlihat sangat tampan. Di tambah dengan sorot mata yang bisa menghanyutkan gadis manapun dan usia berapapun. Tentu saja itu membuat lawan bicaranya salah tingkah. Apalagi untuk gadis seusia Chloe.


"Em... boleh..." jawab Chloe dengan mengulas senyuman. Entah reflek atau bagaimana, namun saat melihat mata sang pemuda, rasanya lidah tak bisa untuk menolak.


"Kalau begitu bilang sama keluarga kamu, supaya tidak di jemput!" ucap Gerald dengan menaik turunkan kedua alisnya.


Rupanya darah nakal seorang Michael Xavier turun pada Gerald jauh lebih kental di banding pada sang putra mahkota.


"Baiklah.." jawab Chloe masih dengan senyuman. Namun kali ini memberanikan diri untuk menatap dalam mata Gerald.


"Bagaimana kalau sekarang kita makan siang bersama?" tawar Gerald.


"Kebetulan aku juga belum makan."


"Baguslah!"


Pergilah dua anak remaja itu meninggalkan taman belakang sekolah, untuk kemudian menuju kantin yang pasti dengan menu sehat dan harga yang .... sehat pula.


***


Sedangkan di Universitas Sapienza, ada Jia yang sedang bersama Diego berjalan ke arah parkiran.


Sebenarnya pemuda itu dari segi tampang tak kalah menarik dari seorang Xiaoli Chen. Bahkan Diego sendiri juga merupakan anak orang yang kaya raya. Meski tak sebanding dengan seorang Michael Xavier.


Tapi entah, kenapa sang Nona Muda Xavier sama sekali tidak melirik Diego yang jelas terlihat sangat berharap padanya.


"Em... bagaimana kalau aku jemput?" tawar Diego saat keduanya membicarakan tentang pesta Gladys 3 hari lagi.


"Maaf, Diego. Aku pasti tidak akan mendapatkan ijin untuk pergi dengan seorang teman," jawab Jia datar. "Daddy pasti meminta ku untuk pergi bersama Kak Jio, kalau tidak begitu pasti dengan di ikuti oleh beberapa bodyguard." lanjut Jia tanpa menoleh Diego di sampingnya.


Toh memang ia malas jika sampai harus mendatangi sebuah pesta dengan seorang lelaki. Selain nantinya di kira sebagai sepasang kekasih, ia juga risih berdekatan dengan seorang pemuda yang tak ia sukai.


Mungkin akan beda lagi jika yang menawari itu adalah Xiaoli Chen. Bodyguard tampan yang mencuri perhatiannya. Sayang sekali tadi pagi dai pergi ke kampus tidak di kawal oleh Xiaoli, batin Jia.


"Oh, begitu." Diego mengangguk, tanda tak masalah jika Jia tak mau datang bersamanya. Meski dalam hati tentu ia sangat kecewa.


"Aku pulang dulu ya, Diego! Bye!" pamit Jia tanpa menoleh pada Diego yang juga mengatakan..


"Bye.. Jia!"


Diego menatap punggung Jia yang menghampiri sebuah mobil dimana sudah ada satu orang di balik kemudi, dan satu orang lagi bersiap untuk membuka pintu bagi sang Nona Muda Xavier.


"Jia memang berbeda. Dia sangat susah di di dekati.." gumam Diego sembari berjalan ke arah mobilnya yang berbeda blok dengan lokasi parkir mobil Jia.


***


"Selamat siang, Nona!" sapa Noel yang berdiri di dekat pintu mobil penumpang bagian belakang.


"Siang, Paman Noel!" jawab Jia sembari melangkah masuk ke dalam mobil.


"Nona Jia sudah di tunggu Nyonya besar di butik tempat Nyonya memainkan baju pesta untuk Nona Jia." ucap Noel memberi informasi.


"Baiklah, kita ke sana sekarang!"


"Siap, Nona!" jawab Noel yang langsung menutup pintu, dan kemudian segera masuk ke pintu penumpang bagian depan.


Dan melajulah mobil itu menuju Fendi Rome Boutique. Dimana Nyonya besar sudah ada di sana. Selain untuk melihat pesanan gaun untuk sang anak gadis, tentu saja Nyonya besar Xavier sekaligus berbelanja untuk dirinya sendiri dan sang suami tercinta.


***


Sampailah mobil yang membawa Jia di tempat parkir butik yang di tuju sang Mommy. Jia melangkah cepat untuk memasuki butik.


Dan saat baru saja pintu kaca di buka oleh salah satu penjaga butik, Jia di buat terkejut dengan keberadaan sosok yang selalu menyedot perhatiannya akhir - akhir ini.


Ya! Xiaoli Chen berdiri seperti patung di dekat almari besar, guna memperhatikan Chania yang tampak asyik mengobrol dengan sang manager butik. Dan saat Jia masuk, saat itulah sorot mata mereka bertemu.


Dan seulas senyum langsung terbit dari bibir keduanya tanpa di minta lebih dulu oleh salah satu dari mereka.


"Selamat siang, Nona Muda..." sapa Xiaoli menunduk hormat, saat Jia sudah sampai di depannya.


"Ka..kamu... yang mengantar Mommy?" tanya Jia tanpa menjawab sapaan Xiaoli.


Sepertinya gadis itu terlalu gugup sampai tidak fokus dengan sapaan sang pemuda.


"Iya, Nona! Tuan Michael meminta saya untuk mengikuti Nyonya Besar kemanapun hari ini."


Mendengar jawaban itu, Jia membuang muka ke arah lain. Wajahnya berubah menjadi kecut dan cemberut.


"Kenapa tidak aku tadi yang di kawal?" gumam Jia sangat lirih. "Padahal kami keluar hanya berbeda beberapa menit saja."


"Ada apa, Nona?" tanya Xiaoli yang mendengar jika Jia tengah bergumam.


"Oh? tidak ada Xiaoli.." jawab Jia gugup.


Batin Jia berucap penuh harap. Tentu saja ia akan merasa sangat malu jika Xiaoli tau jika ia berharap di antar oleh pemuda itu, bukan Noel.


"Aku menemui Mommy dulu ya, Xiaoli..." pamit sang Nona Muda dengan menahan debaran di dalam dada yang selalu bertalu setiap bertemu dengan sang bodyguard tampan itu.


"Silahkan, Nona." jawab Xiaoli dengan mengangguk hormat.


Xiaoli terus memandangi punggung Jia yang menjauh dengan seutas senyum tipis dan samar. Tentu ia tau dan dapat mendengar jelas apa yang di gumamkan sang Nona Muda. Telinga sensitifnya cukup mudah bekerja di jarak dekat seperti tadi.


' Siapalah diri ini, Nona! '


Ucap Xiaoli dalam hati. Seolah mengingatkan sang Nona Muda, kalaupun mereka sama - sama menyukai dan mencintai, ada dinding tinggi dan besar yang tak terkalahkan oleh apapun juga.


Akhirnya Xiaoli hanya bisa melihat Jia yang saat ini sedang mengamati gaun yang akan di kenakan gadis itu untuk menghadiri pesta ulang tahun sang sahabat.


' Setidaknya... Nona memiliki perasaan yang sama seperti ku... '


***


' Jia... kenapa kamu begitu bodoh bergumam di hadapan seorang Xiaoli! ' rutuk Jia dalam hati.


"Jia!" suara Chania yang memanggilnya, langsung membuat Jia tersadar dari apa yang baru saja membuatnya malu.


"Mommy!"


Jia menghampiri sang Ibu yang sedang berbincang dengan manager butik. Di depan mereka ada sebuah patung manekin yang mengenakan dress berwarna rose gold, berbahan tile dengan panjang ke bawah sampai lutut. Lengannya juga terbuat dari tile yang membentuk rumbai hingga atas siku.


Di bagian dada membentuk sudut segitiga, namun tak sampai membelah dada bagian tengah. Pinggang membentuk lekukan body goals dengan taburan swarovski hingga ke bagian dada.


"Coba lihat!" ujar Chania pada putrinya. "Ini sangat cocok buat kamu menghadiri pesta topeng nanti!"


Jia yang tak memiliki jiwa girly seperti sang Ibu, tentu saja hanya menatap sambil mengangguk. Ia hanya akan selalu percaya pada ucapan sang Mommy. Meski begitu, ia tak memungkiri jika dress itu memang cantik.


"Bagus..." jawab Jia.


"Mau coba sekarang?" tawar Manager butik. "Kalau ada yang kurang pas, kami bisa memperbaiki."


"Emm... bolehlah kalau begitu."


Jia pun masuk ke dalam sebuah ruangan dengan di temani oleh seorang pramuniaga. Mengganti baju kuliahnya yang casual dengan dress mewah yang di bawa oleh pramuniaga di belakangnya.


Dengan sedikit perbaikan di bagian rambut, maka Nona Muda yang cantik alami kini semakin cantik dan terlihat anggun. Sangat anggun!


Keluarlah Jia dari balik pintu ruang ganti. Menghadap sang Mommy yang setia menunggu anak gadisnya. Begitu Jia keluar dari balik pintu, bukan hanya sang Mommy yang tertegun menatap cantiknya Jia memakai dress itu.


Melainkan ada sepasang mata yang seolah tak mampu berkedip melihat makhluk cantik ciptaan Tuhan yang belum menyadari jika ia menatap tertegun karena mengagumi kecantikan natural sang gadis.


Kalau tampil polos begitu saja sudah membuat mata sang pemuda tak berkedip, lalu bagaimana jika wajah cantik serta rambutnya itu sudah di rias?


' Perfect! '


' Kamu selalu cantik, Jia... Siapa diriku berani mengagumi mu... '


Batin Xiaoli dari jarak sekitar 10 meter.


Andai ia adalah anak seorang raja, atau pengusaha sekelas Michael Xavier ataupun di bawahnya, sudah pasti ia akan menghampiri Jia dan mewujudkan semua mimpi yang saat ini hanya bisa ia pendam seorang diri.


"Anak Mommy semakin cantik dengan gaun ini!" ujar Chania.


"Wow! pasti banyak pemuda yang melirik putri anda Nyonya Xavier!" sahut sang manager butik dengan senyum manis dan ramah.


"Hmm... sayangnya putri ku tidak terlalu suka di dekati laki - laki!" jawab Chania. "Dia terlalu menutup diri!" imbuhnya lagi


"Bukan tidak suka, Mommy! tapi Jia tidak nyaman berada di dekat laki - laki yang tak terbiasa bersama kita!"


"Semua juga tidak akan terbiasa kalau tidak di awali dengan pendekatan, Jia!" sahut Chania. "Kakakmu sudah punya kekasih, kamu kapan?" tanya Chania.


Jia hanya memasang wajah malas sekaligus mengangkat kedua pundaknya sebagai tanda tidak tau.


"Rasanya tidak mungkin ya, kalau Nona Xavier belum mempunyai kekasih? melihat betapa cantiknya anda, Nona." ucap manager butik.


"Tapi itu kenyataan Aunty! aku tidak pernah mempunyai kekasih." jawab Jia jujur.


Kini Jia berputar kecil di hadapan Mommy dan manager butik. Tanpa ia sadari, ia juga tengah berputar di hadapan Xiaoli. Pemuda yang sedari tak menemukan objek lain, yang pantas untuk mengalihkan perhatiannya dari Nona Muda Xavier.


"Sempurna, girl!" seru Chania.


"Thanks, Mommy!" jawab Jia.


***


Di sisi lain, Jio melajukan Bugatti nya dengan membawa seorang gadis di sampingnya. Mereka adalah sepasang kekasih, tapi keduanya seolah kompak untuk tidak terlalu formal dalam menjalin hubungan.


Jio membawa Virginia untuk menuju restoran yang konon katanya ada di atas bukit. Restoran di bukit yang katanya di sana suasananya selalu dingin. Bahkan cuaca terasa selalu mendung. Nyaris seperti akan turun hujan.


Mobil berhenti di lampu merah, tepat di barisan paling depan. Jalan lurus ke depan, mengarah ke atas bukit bernama Fields of Pealand.


Jio melirik ke sisi kanan, dimana Virginia tampak menikmati perjalanan mereka. Meski terlihat jika gadis itu tampak masih bertanya - tanya tujuan mereka siang itu.


"Bukankah ini mengarah ke bukit Fields of Pealand?" tanya Virginia.


"Yes!" jawab Jio.


"Jio!" seru Virginia tiba - tiba.


"Kenapa?" tanya Jio bingung.


"Bukankah di sana sangat dingin?" tanya Nia. "Aku cuma pakai beginian! Tidak bawa jaket!" protes Virginia.


Namun Jio hanya tersenyum tipis...


...🪴 See you next episode... 🪴...