SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 245


Memasuki ruang utama istana bersamaan, Jia dan Xiaoli harus berpisah saat sudah sampai di ruang tengah. Di mana Jia harus naik ke lantai dua, sedangkan Xiaoli akan keluar melalui pintu belakang untuk kembali ke mess bodyguard stelah memastikan sang Nona Muda selamat sampai di lantai yang sangat jarang bisa ia injak.


Mengira seisi rumah sudah tidur, Jia justru di kagetkan dengan kehadiran sang Kakak yang tak lain adalah saudara kembarnya sendiri.


Jio hendak ke kamarnya setelah keluar dari kamar sang adik laki - laki. Saat baru beberapa langkah kakinya melangkah untuk mendekati pintu kamarnya, Jio justru mendengar suara yang tak asing di lantai bawah.


Merasa curiga, ia segera mendekati tangga. Dan saat mata kucingnya melihat sang adik perempuan berhadapan dengan Xiaoli, Jio tertarik untuk menyapa sang adik yang tak biasa pulang jam tengah malam semacam ini. Namun sapaan pertamanya benar - benar membuat Jia terlonjak kaget.


"Kenapa kamu memakai jaket Xiaoli?"


Pertanyaan Jio yang sebenarnya sangat enteng itu terdengar sangat berat untuk di dengar telinga Jia.


Tak pernah berbohong di dalam keluarganya, sekalinya menyembunyikan rahasia, Jia cukup gugup ketika hampir saja kepergok sang Kakak jika ia tengah memberikan senyum tak biasa pada sang bodyguard.


"A..a..aku tadi..."


Seketika otak Jia nge - blank. Tidak tau harus menjawab apa.


"Tadi Nona Jia tidak membawa jaket, Tuan Muda. Sementara perjalanan pulang cukup dingin, jadi saya berikan jaket saya untuk Nona..." sahut Xiaoli dengan wajah datar dan tetap tenang.


"Hah! Benar!" seru Jia mendapatkan angin segar. Ia langsung tersenyum kaku.


Tidak salah ia mencintai bodyguard cekatan seperti Xiaoli. Namun satu yang sejak tadi membuat Jia berpikir.


Bagaimana bisa Xiaoli terlihat biasa saja di saat dirinya gugup setengah mati?


Bahkan tidak ada sorot mata yang tadi ia lihat sepanjang waktu ketika hanya berdua.


Apa Xiaoli hanya pura - pura mencintainya?


' NO NO NO!!! '


Teriak Jia dalam hati.


"Kembalikan!" ujar Jio terdengar seperti sebuah titah yang tidak bisa di bantah.


"Iya, Kak..." jawab Jia pasrah.


Ia lepas jaket hitam dengan kehangatan maksimal itu.Bagi Jia tentu tidak ada jaket yang lebih hangat dari jaket sang bodyguard kecintaannya itu. Selain hangat, keharumannya juga membuatnya sedari tadi serasa di peluk oleh sang pemuda.


Begitu jaket itu terlepas dari tubuhnya, maka hangat dan harum itu pun ikut terlepas dan menguar di udara. Membalikkan badan, mata menyempatkan diri untuk melihat wajah tampan sang bodyguard yang terlihat datar dan biasa saja.


"Ini!" Jia menyodorkan jaket hitam itu pada Xiaoli. "Thanks, Xiaoli!" ucap Jia tersenyum tipis, kemudian langsung menunduk dan kembali menghadap sang Kakak laki - laki yang masih berada di tangga teratas.


"Sama - sama, Nona..." jawab Xiaoli Chen dengan nada penuh hormat, menatap punggung yang tadi sempat ia peluk di atas bukit Fields of Pealand.


"Masuk kamarmu, sudah malam!" dengkus Jio.


"Ya, Kak!" jawab Jia sembari melangkah menaiki tangga tanpa menoleh lagi pada Xiaoli yang pasti masih melihat nya melalui ekor mata pemuda itu.


Melangkahkan kakinya menaiki tangga, Jia melewati sang Kakak yang masih berdiri dengan mengikuti pergerakan dirinya. Kemudian ia menghilang di balik dinding.


Satu langkah melewati dinding, Jia berhenti dan langsung menempel pada dinding. Lebih tepatnya Jia bersembunyi di balik dinding, untuk mendengarkan apa yang akan di bicarakan Jio pada bodyguard paling muda yang kini menjadi kekasihnya itu. Karena Jio tak kunjung kembali naik ke atas, atau pun terdengar hendak bicara.


Meski Jia tidak melihat secara langsung, tapi ia yakin kalau Xiaoli masih ada di bawah sana menghadap sang Kakak laki - laki. Alias kembaran nya sendiri yang di nobatkan sebagai Kakaknya. Di mana ia harus menghormati Jio selayaknya adik pada Kakaknya.


' Jangan sampai Kak Jio menginterogasi Xiaoli! '


' Meski Kak Jio hebat, semoga dia tidak tau kalau tadi aku dan Xiaoli pergi ke bukit! '


Kalimat demi kalimat pengharapan ia ucapkan di dalam hati. Karena jika dia bergumam, pasti Jio akan mendengar suaranya. Telinga pemuda itu bukan sembarang telinga, pikir Jia.


"Selamat malam, Tuan Muda..." sapa Xiaoli menunduk hormat.


"Hemm... " jawab Jio datar.


Sementara Jia langsung mengambil langkah seribu ketika menyadari pintu kamar sang Ayah akan terbuka, untuk kemudian masuk ke pintu kamarnya yang berada di lorong berlawanan dengan kamar utama yang di tempati Michael. Gagal sudah rencananya untuk menguping pembicaraan Jio dan Xiaoli.


"Daddy mau apa lagi keluar kamar!" gerutu Jia dari balik pintu kamarnya. Nafasnya terengah karena hampir saja ketahuan jika ia hendak menguping pembicaraan orang lain.


"Daddy?" sapa Jio pada sang Ayah yang keluar hanya dengan menggunakan celana pendek, tanpa mengenakan baju untuk menutupi tubuh bagian atas. Sehingga tubuh atletis sang Mafia terlihat dengan jelas dan nyata. Jika di ruangan itu ada wanita, jelas mereka akan terpesona dengan pesona lelaki yang seolah sulit untuk menua itu.


"Kenapa kamu belum tidur, Jio?" tanya Michael sembari mendekati putra mahkotanya.


"Jio baru pulang, Daddy!" jawab Jio.


"Xiaoli!" panggil Michael saat melihat sang bodyguard muda masih ada di bawah sana.


"Siap, Tuan!" sigap Xiaoli


"Kalian baru pulang?" tanya Michael melirik jam dinding raksasa yang ada di lantai dua, dimana kini jam sudah menunjukkan 00.05 waktu Italia.


"Benar, Tuan!"


"Kebetulan kamu masih di sini!" ujar sang Mafia dari atas tangga. Ia puas karena sang bodyguard berhasil membawa Jia pulang tepat waktu dan selamat.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Xiaoli mendongakkan kepalanya ke atas.


Dalam hati, Xiaoli bergumam...


' Inilah kita Jia. Kamu di atas sana, sedangkan aku di bawah sini. Untuk melihat mu saja aku harus mendongak. Tapi kenapa kamu juga membalas perasaanku dengan begitu mudah? '


' Padahal seharusnya kamu bisa mendapatkan lelaki yang setara dengan kamu. Yang tak perlu mendongak untuk melihat dirimu yang tersenyum manis di atas sana.... '


"Besok keponakan ku, Jellow akan datang dari Perancis. Aku mau kamu yang menjemputnya di bandara jam 10 pagi bersama Antonio!" ucap Jio tegas pada Xiaoli.


"Siap, Tuan!" jawab Xiaoli mengangguk hormat. "Akan saya laksanakan! dan datang tepat waktu!" jawab Xiaoli bersungguh - sungguh.


"Hemm... pergilah!" titah sang Tuan Mafia taka ingin ada bodyguard lagi yang ada di ruang itu.


"Siap, Tuan... selamat malam, Tuan Besar dan Tuan Muda..." pamit Xiaoli mengangguk hormat, sebelum akhirnya meninggalkan ruang tengah dengan membawa jaket hitam yang baru saja ia gunakan untuk menghangatkan tubuh sang kekasih.


"Hemm... ya!" jawab Jio datar.


Jio dan dan Sang Ayah masih berada di atas sana. Berdiri berdua di antara ruangan yang sudah mulai remang karena memang lampu - lampu banyak yang sudah di padamkan.


"Besok Jellow datang bersama Uncle Darrel dan Aunty Oliver?" tanya Jio.


"Tidak, Darrel bilang Jellow akan datang sendiri, dia merindukan kalian katanya!"


"Oh..." tersenyum lirih. "Aku juga merindukan momen saat kami di kuil!" gumam Jio mengenang kehidupan yang berat dan apa adanya selama di kuil.


Jauh dari hingar bingar Ibukota. Apalagi mengenai uang. Mereka hanya di ajari cara menghitung uang, tanpa di berikan uang sepeserpun. Karena memang tidak ada penjual apapun di sana. Mereka hanya fokus untuk berlatih dan belajar.


"Daddy dengar dia playboy..." sahut Michael.


"Ya, Daddy benar! aku yakin Gerald akan sangat cocok dan suka jika bergaul bersama Jellow. Sama - sama suka menggoda wanita!" gerutunya menghela nafas berat yang bercampur dengan rasa heran pada dua orang itu.


MIchael menggigit bibirnya bagian dalam. Dalam hati ia berharap agar sang putra mahkota tidak akan pernah tau kegilaan dirinya di masa muda.


***


✉️ "Apa yang di bicarakan Daddy padamu, Xiaoli?"


Tanya Jia melalui pesan chat di aplikasi chatting miliknya.


🪴 Bersambung ... 🪴