
"Hai!" sebuah tepukan mendarat di pundak Michael yang berjalan di lorong ke arah toilet.
Michael menoleh, mendengar suara yang cukup familiar. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Hah!" menghela nafas kasar setengah kesal. "Untuk apa lagi, jika bukan karena kau!" dengkus pria tampan dan gagah yang tak lain adalah Darrel Harcourt.
"Hahaha!" seketika Michael terkekeh. "Jangan khawatir, Aku akan membalas jasamu!"
"Haaah.." menghela nafas, "jangan di pikirkan!" Darrel menepuk pundak Michael. "Apa ada tanda - tanda kau akan berhasil membawa Sania?"
"Entahlah!" jawab Michael membuka pintu utama toilet pria. "Gadis itu tidak memberi kepastian."
Dua pria tampan itu berdiri bersebelahan untuk menuntaskan niat mereka mendatangi toilet, yakni membuang air kecil masing - masing.
"Kau harus cepat, Michael!" ucap Darrel. "Margareth benar - benar menyebalkan. Pikirannya hanya belanja dan bersenang - senang saja. Meminta ku ikut kesana - kemari!" dengkus Darrel. "Untung dia pintar di ranjang!"
Terkekeh kecil, "Besok aku dan istriku akan menemui Sania lagi." jawab Michael. "Aku yakin dia akan mau ikut!"
"Ah.. aku hampir lupa kau sudah mempunyai istri!" Darrel terkekeh geli. "Seorang Michael Xavier, Tuan Mafia kelas dunia yang terkenal dengan keiblisannya pada akhirnya bisa jatuh cinta! Hahaha!" tak henti pria 4 tahun lebih tua dari Michael itu terkekeh.
Michael tersenyum miring, "Belajarlah jatuh cinta!" ucap Michael sembari menarik resleting celananya. "Kau belum tau dahsyatnya rasa cinta!"
"Seumur hidup aku belum pernah jatuh cinta, Michael!" jawab Darrel melakukan hal yang sama. "Mungkin hatiku ini sudah menjadi batu! Hahaha!" menertawai dirinya sendiri.
"Inilah saatnya!" sahut Michael sembari mencuci tangannya. "Apa kau tidak ingin ada yang memanggilmu dengan sebutan yang belum pernah kau dapatkan? Daddy Darrel!" ucap Michael mengingat betapa bangganya ia akan ada yang memanggilnya Daddy Michael.
"Daddy?" gumam Darrel lirih. "Hahaha! lucu sekali!" terkekeh. "Sampai detik ini belum ada gadis yang bisa menarik perhatianku sepenuhnya. Kebanyakan mereka hanya pandai menarik ku untuk bermain di ranjang. Setelah itu mereka tak menarik lagi. Bahkan untuk sekedar di lihat!"
"Kenapa kau tidak mencoba untuk melihat Sania." ucap Michael. "Seperti aku, pada akhirnya justru jatuh cinta pada gadis lugu dan polos. Dimana akulah laki - laki pertama untuknya! Mungkin saja Sania tidak jauh berbeda dengan istriku!"
"Maksudmu Sania Arlington? gadis yang kalian cari itu?" Darrel tersenyum miring. "Apa kau tidak pernah berpikir, kalau seandainya istri kita kembar, bagaimana jika pada suatu ketika mereka berdua tertukar?" Darrel tersenyum membayangkan hal konyol seperti itu.
"Aku hafal suara istriku!" desis Michael. "Aku hafal setiap inchi dari tubuhnya! Dan hanya aku yang tau. Bahkan Sania pun tak akan bisa mengecoh ku!"
"Hahaha! Yayaya! aku percaya! Lagi pula dia terlalu sederhana untukku, Michael!"
"Margareth katamu kelewat batas menjengkelkan. Sania katamu terlalu sederhana. Bilang saja kalau kau itu tidak normal!" ucap Michael menyipratkan air sisa cuci tangan ke arah wajah Darrel. "Dasar Homo!" seru Michael bercanda, yang disertai mengulum tawa.
"Heh! kurang ajar kau!" caci Darrel reflek mengusap wajahnya yang terkena titik - titik air.
Yang di caci justru berjalan dengan santainya meninggalkan toilet. Seolah tak ada kesalahan ataupun tindakan tidak sopan yang baru saja dia lakukan.
***
Sore berubah menjadi malam, Michael mengajak istrinya untuk makan malam di salah satu restauran terkenal di Paris. Nuansa rose gold yang menjadi konsep warna restauran, menambah suasana damai bagi setiap pasangan yang datang.
Duduk berhadapan, saling menatap dan berbincang ringan membuat keduanya terlihat begitu romantis di banyak pasang mata. Meskipun keduanya tampak cuek, tetap saja banyak yang menatap cemburu pada sepasang suami istri itu.
"Mi..Michael!" pekik seorang wanita seksi nan anggun di samping meja Michael dan Chania.
Michael yang merasa di sebut pun mendongakkan kepala sedikit. Namun seketika membuang muka. Sama sekali tak mengindahkan kehadiran wanita itu.
"Michael?" panggilnya ulang.
Namun Michael hanya bergeming. Menganggap suara itu hanyalah angin lalu. Chania yang tak tau apa - apa menatap Michael dan perempuan itu secara bergantian.
"Kamu menikah, Michael?" tanya Margareth tak percaya.
"Apa urusanmu?" acuh Michael.
"Maafkan aku Michael!"
"Aku sudah tidak peduli!" jawab Michael tanpa melihat sedikitpun.
Chania semakin bingung dengan interaksi kedua orang di depannya. Namun ia dapat menyimpulkan jika suami dan perempuan seksi itu pernah ada hubungan di masa lalu.
"Sebaiknya kita pulang, Baby. Ini sudah malam!" ucap Michael menarik lembut tangan Chania. Membawa istri tercinta dalam dekapan sembari berjalan menjauhi meja. Meninggalkan seorang perempuan yang masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Michael!" seru Margareth kembali.
Namun Michael tak menggubris, justru Chania yang menoleh sedikit ke belakang. Ia masih penasaran hubungan suami dan perempuan asing itu.
' Apa mungkin Michael menikah? '
' Bukankah Reno bilang jika Michael tidak akan pernah mau menikah seumur hidupnya? '
' Sekian lama aku melupakannya, tapi saat bertemu dalam keadaan seperti ini hatiku sakit. '
Batin Margareth mendadak tidak karuan. Rasa menyesal, cemburu dan sebagainya bercampur menjadi satu.
***
"Honey? sebenarnya siapa wanita tadi?" tanya Chania.
"Siapa?"
"Yang tadi di restauran!"
"Oh!" jawab Michael sembari merebahkan punggungnya di samping Chania.
"Siapa!" hardik Chania.
"Cemburu?" senyum menggoda terbit dari bibir tipis.
Chania melirik Michael tak percaya.
"Bilang dulu, cemburu atau tidak?"
"Ya! tentu aku tidak suka!" jawab Chania cemberut. "Siapa dia?"
"Namanya Margareth!"
"Pacar kamu?"
"A...." Michael tampak berfikir.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹