
Semakin malam waktu yang di tunjukkan oleh jarum jam, maka udara akan semakin dingin. Namun semua itu tidak terasakan di area mess bodyguard. Di halaman mess, di antara pohon-pohon dan tumbuhan penghasil oksigen di kala siang, berkumpul lah segerombol bodyguard dan dua Tuan Muda, serta satu Nona Muda yang baru saja tiba tanpa di undang.
Sang Nona Muda Jia, mendatangi mess bodyguard dengan dalih ingin menemui sang saudara kembar untuk minta di bantu menyelesaikan tugas kuliah. Padahal niat dalam hati adalah untuk melihat acara yang sedang berlangsung. Acara yang di gelar oleh Jellow untuk ulang tahun Xiaoli Chen, salah satu bodyguard utama Klan. Yang tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya sendiri.
Entah, dari mana Tuan Muda Harcourt itu tau, jika Xiaoli sedang berulang tahun. Yang jelas ia menyiapkan semua yang di butuhkan untuk acara malam itu dengan di bantu oleh Bodyguard super senior, Jack Black dan istrinya, Gia Octarin, sahabat Nyonya besar Chania.
Setelah sedikit basa-basi di awal, Jia terus berusaha untuk bisa bergabung dengan pesta kecil-kecilan itu.
"Kak, aku ingin meminta bantuan kamu untuk menyelesaikan ini. Tapi... aku juga ingin ikut menikmati pesta kalian..." mengangkat buku dan pensil di tangannya dengan senyum manis. "Boleh aku bergabung?" tanya Jia pada pada Jio dan Jellow.
Tak kunjung menjawab, Jio mengamati dulu situasi yang ada, bisakah sang saudara kembar bergabung dengan mereka. Ingin menolak, tapi di pojokan sana ada beberapa pelayan wanita yang bertugas, jadi di rasa tempat ini aman untuk Jia ikut bergabung.
"Tidak lebih dari 1 jam!" jawab Jio kemudian.
"Baiklah!" sahut Jia tanpa menawar. Lebih baik menerima dari pada menawar dan berakhir ia di minta untuk kembali ke istana. Karena suasana hati Tuan Muda benar-benar tidak baik-baik saja.
Cepat-cepat Jia mencari kursi dengan posisi terbaik yang bisa ia gunakan untuk melihat atau juga berada dekat dengan sang kekasih.
Tanpa melakukan pergerakan yang mencurigakan, Jia langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi yang di duduki oleh Xiaoli. Hanya kursi itu yang bisa membuatnya lebih dekat dengan sang kekasih. Karena di samping Xiaoli sudah ada Jio dan Andreas yang mengapit kursi Xiaoli.
Sepasang mata Jia kini bisa beradu pandang dengan sepasang mata Xiaoli. Namun sayang, aksi pandang itu hanya bertahan beberapa detik saja. Karena tempat dan situasi yang benar-benar tidak bisa di katakan aman.
"Boleh aku meminta minuman kaleng yang sama dengan mu, Kak?" tanya Jia. "0% alcohol!" lanjut Jia.
"Tidak baik perempuan minum minuman seperti ini." jawab Jio dengan dingin dan datar.
Seketika bibir Jia mengerucut dan mengerut. Ingin sekali merasakan apa yang di rasakan oleh gadis-gadis di luar sana. Karena yang ia tau Gladys dan Reena pernah memposting foto mereka yang tengah meminum minuman itu.
Xiaoli yang duduk di hadapan Jia pun tersenyum gemas melihat wajah cantik Jia yang sedang kecewa berat. Ia sampai harus menggigit bibirnya bagian dalam untuk menghindari suara gelak tawa keluar dari mulutnya.
Jika saja dunia tau hubungan mereka, pasti kini Xiaoli mencubit gemas hidung gadis berambut asli hitam itu.
"Sedikit saja?" tawar Jia lagi.
"Tidak minum atau kembali ke rumah! terserah mau pilih yang mana." jawab Jio dengan entengnya.
"Iya..iyaa.. tidak minum itu!" ketus Jia pada Jio.
Gelak tawa Xiaoli akhirnya terlihat oleh ujung ekor mata Jia. Dan Jia tampak kesal dan gemas di saat yang bersamaan melihat gelak tawa Xiaoli.
' Kamu menertawakan aku? '
Jia menatap Xiaoli dengan tatapan ingin memangsa buruan.
Maka dengan tanpa pikir panjang, Jia sengaja menginjak kaki sang kekasih menggunakan sendal rumahan yang sedang ia kenakan.
"Beppp!" reflek Xiaoli sampai bisa di dengar banyak orang. Karena kakinya yang hanya berbalut sendal biasa terasa cukup sakit oleh injakan kaki sang kekasih yang di sengaja.
"Kamu kenapa, Xiaoli? mengagetkan aku saja!" tandas Jia berpura-pura tiidak tau apa yang sedang terjadi dengan kekasihnya.
"Kenapa, Chen?" tanya Jellow yang memilih memanggil menggunakan nama belakang Xiaoli.
Xiaoli yang sadar jika tengah di kerjai oleh sang kekasih pun hanya bisa menggigit bibirnya bagian dalam. Bukan karena rasa sakit, tapi karena menahan tawa dan gemas dengan sikap Jia yang menyebalkan tapi ia sangat menyukai hal ini.
"Tidak apa, Tuan..." Xiaoli menoleh Jio dan Jellow yang duduk di sisi kanan.
"Kamu yakin, Xiaoli?" ulang Jia menatap lebih lekat pada Xiaoli.
' Siapa suruh menertawai kekasih sendiri? '
Jia ingin sekali meledakkan tawanya, namun setengah mati ia menahan gelak tawa itu di dalam perut saja.
"Ya, Nona..." jawab Xiaoli mengangguk.
"Kalau tidak apa, kenapa kamu berteriak?" tanya Jia sembari sengaja meletakkan kakinya di atas kaki Xiaoli.
' Awas kau, Bao Bao... '
Lirih Xiaoli Chen dalam hati.
"Karena kaki Nona Muda menginjak kaki saya, Nona..." jawab Xiaoli sengaja menatap sang kekasih yang kini ganti salah tingkah.
Jia tak menyangka jika Xiaoli berani menyebut kesalahannya. Jia pun akhirnya meringis sembari melihat ke arah bawah meja. Dan dengan pelan ia menarik kembali kakinya dari atas kaki Xiaoli.
"Jika yang menginjak bukan kaki Nona Jia, pasti sudah saya singkirkan, Nona..." lanjut Xiaoli tersenyum kaku dan penuh kemenangan.
"Jia! kamu benar-benar kamu punya mata atau tidak sih?" gurau Jellow setengah tertawa di antara kesadaran yang tidak 100% normal.
"Kan kaki ku di bawah! mana tau kalau menginjak kaki seseorang!" jawab JIa melihat satu persatu yang menatapnya dengan gelak tawa.
"Memangnya kaki Nona Muda tidak merasa ada yang mengganjal, begitu?" tanya Noel yang duduk berjarak beberapa kursi darinya.
"Ya, tau! tapi aku kira batu biasa!" jawab Jia menutupi rasa malunya.
Jia menatap sang kekasih di depannya, kemudian matanya membulat seolah mengancam sang kekasih yang justru terkekeh gemas tanpa suara.
"Sudah, kamu minum jus ini saja!" Jio mengarahkan jus jambu yang di bawa oleh pelayan ke meja yang di tempati oleh mereka.
"Jus lagi...jus lagi...." gerutu Jia yang tidak bisa menikmati minuman seperti sang saudara kembar dan kekasihnya.
"Itu demi kebaikan anda, Nona..." sahut Xiaoli yang setuju jika Jia tidak minum minuman semacam merea. Meskipun minuman 0% alcohol sekalipun.
"Kalau tidak mau, kamu balik sana ke rumah! Tunggu aku di sana, nanti aku bantu menyelesaikan tugas ini!" ujar Jio membuat aliran darah di tubuh Jia serasa berhenti begitu saja.
"Tidak! aku mau!"
"Bagus!" sahut Jio mencubit hidung Jia yang masih terjangkau dengan mudah dari posisinya duduk saat ini.
Dan waktu di lalui oleh mereka semua dengan candaan. Seolah tidak ada jarak antara Tuan Muda, Nona Muda, Bodyguard utama, Bodyguard biasa, penjaga keamanan istana dan juga pelayan istana.
Semua berbaur menjadi satu kumpulan canda tawa, tanpa meninggalkan rasa sopan pada posisi teratas di halaman mess.
Jia dan Xiaoli berulang kali mencuri kesempatan untuk saling lirik dan juga sesekali mencuri sentuhan tangan, yang seolah tidak di sengaja.
Dalam hati keduanya berharap akan bisa lebih dari ini di waktu yang entah kapan. Yang jelas, semua pasangan kekasih pasti berharap hubungan merkea berakhir dengan sebuah pernikahan. Meskipun dari segi usia, mereka masih terlalu kecil dan dini.
Sampai akhirnya satu jam telah berlalu.
"Waktumu habis, Jia..." desis Jio melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
...🪴 Bersambung ... 🪴...