SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 196


Virginia berlari kecil meninggalkan lorong VIP Indra Prasta untuk mencari Jio yang entah ada di mana. Langkah semakin cepat menyusuri lorong - lorong lain. Tangan terus bergerak menekan nekan layar ponsel. Guna menghubungi Jio.


Namun nihil! Tak satupun panggilannya yang dapat tersambung kan. Kalau pun masuk, akan berakhir dengan pemutusan sepihak.


***


Di ujung lorong Rumah Sakit, seorang pemuda berdiri dengan menyandarkan lengan kirinya pada tiang Rumah sakit. Kedua tangan saling melilit di depan dada. Tatapannya datar, dan lurus ke depan. Pohon besar yang berusia puluhan tahun, menjadi titik akhir sorot matanya.


Di bawah pohon, ada beberapa mobil pengunjung yang yang terparkir. Daun - daun kering yang terlepas dari tangkainya, berterbangan tertiup angin kemudian jatuh dan berserakan di atas tanah.


Semua terlihat datar dan biasa saja. Namun tidak dengan sesuatu yang tersimpan di dalam tempat tersembunyi. Yang tak semua orang bisa mengetahuinya. Ada gejolak dan amarah yang memercikkan butiran api.


Jio meninggalkan ruang rawat Xiaoli Chen setelah kepergian Daddy Michael. Tujuannya adalah kembali ke toilet yang dekat dengan ruang Operasi. Dimana sebelumnya Virginia izin ke toilet, namun tak kunjung kembali hingga lebih dari setengah jam.


Sejak Daddy Michael belum datang, sampai Daddy Michael kembali pulang Virginia tak kunjung terlihat. Tentulah hati sang Tuan Muda khawatir.


Langkah lebah pemuda setinggi 187 cm itu berhenti tepat di depan lorong toilet. Seketika mata terbuka lebar saat melihat tubuh Virginia bertubrukan dengan tubuh Alex. Dimana Alex seketika mendekap erat tubuh Virginia.


Jio memalingkan wajahnya. Ia tak ingin bertindak gegabah, juga tak ingin salah pengertian. Ada hubungan apa mereka? Siapa lelaki itu?


Jio melanjutkan langkah, tanpa berniat untuk menanyakan apa hubungan dua anak manusia itu. Kini pemuda itu terdiam di ujung lorong rumah sakit. Dimana tak banyak orang di sana sembari mengambil kesimpulan akan hubungan apa antara Virginia dan pemuda itu.


Jika saudara, tentu ia tak ingin menyakiti saudara Virginia. Jika itu lelaki yang di cintai Virginia, tentu saja Jio pun enggan berurusan dan menyakitinya.


Tapi mana mungkin Virginia punya hubungan dengan lelaki lain? Sementara sebelumnya mereka hampir berciuman di tepi pantai.


Selain semua alasan itu, tentu Jio enggan beradu dengan mereka yang bukan lawannya.


"Kau yang pernah mengikutinya dia pagi hari itu, bukan?" gumam Jio lirih. "Apa tujuan mu mengejar mob Nia?" gumamnya menarik nafas panjang.


Ah! Tuan Muda Klan Black Hold memang tak setangguh saat di medan pertempuran. Terlalu lemah atau terlalu bodoh soal cinta dan perasaan?


Entahlah! Yang jelas selama di kuil memang tak ada pelajaran tentang cinta. Karena sesungguhnya cinta dan perasaan adalah sesuatu yang mengalir dengan sendirinya. Bahkan IQ 160 nya pun saat ini tak bekerja dengan baik untuk mendalami ilmu cinta.


"Jio!" panggil seseorang dari arah belakang dengan nafas terengah.


Jio menoleh ke belakang dengan dingin. Dan melihat Virginia yang tampak terengah.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Virginia begitu sampai di samping Jio.


"Tidak ada.." jawab Jio datar. "Kamu mau pulang?"


"Terserah kamu." jawab Virginia.


"Kita pulang saja!" Jio menarik tangan Virginia lembut untuk jalan bergandengan.


"Tapi Jia?"


"Dia akan pulang bersama bodyguard!" jawab Jio tanpa menoleh Virginia.


"Ok!"


Dua anak muda jalan bergandengan mendekati mobil Jio yang terparkir sedikit jauh.


Tanpa mereka sadari jika ada sepasang mata yang melihat genggaman tangan mereka. Dialah Alex Miguel yang berdiri di lorong lain. Melihat Jio dan Virginia dengan geram. Dada naik turun menahan amarah.


Ingin rasanya pemuda itu menghajar lelaki yang berani menggenggam tangan Virginia di tempat umum. Meski tak terlalu banyak orang, namun sudah cukup membuatnya tidak terima.


"Siapa kau anak muda?" gumamnya. "Kau ingin bermain api dengan ku, hah?" lanjutnya tersenyum sinis. "Aku jelas lebih tampan darimu!"


Kedua tangan membentuk kepalan. Merasa geram dengan kenyataan yang pasti akan mempersulit langkahnya untuk mendapatkan Virginia.


"Mobil itu!" pekik Alex menatap tak percaya. Tentu ia ingat dimana pertama kali melihat mobil sport mewah yang di masuki Virginia dan Jio.


"Jadi, mobil itu milik pemuda itu?" gumamnya tak percaya saat Bugatti milik Jio melintas di depannya.


"Hemm... Sepertinya rival ku cukup kaya raya. Pantas saja Virginia menolak ku!" dengkus nya kesal.


Senyum mengejeknya berubah menjadi senyum kecut.


***


Sementara Jio mengantar Virginia pulang, di ruang rawat VIP Jia tengah berpamitan pada Xiaoli untuk pulang. Berat memang meninggalkan seseorang yang terluka parah akibat kecerobohannya. Meski dirinya sendiri juga sedikit terluka.


"Maafkan aku, Xiaoli." ucapnya entah yang ke berapa kali. "Jika mendapat izin dari Daddy, besok aku akan datang menjenguk mu."


"Nona muda tidak perlu khawatir, saya akan menjaga Xiaoli dengan baik!" sahut seorang bodyguard yang di tugaskan menjaga Xiaoli.


Jia mengangguk lemah, "baiklah... Aku pergi.." pamitnya pada bodyguard itu.


"Iya, Nona!"


Jia pun berlalu dari ruang rawat VIP yang di huni Xiaoli. Meninggalkan pemuda 21 tahun itu dengan berat hati. Ingin menunggui sampai Xiaoli sadar untuk meminta maaf, tapi Daddy Michael tak henti menghubunginya.


***


Jika para anak muda sedang dalam perjalanan pulang, maka di Istana Michael ada Nyonya besar yang sedang mondar mandir di depan tangga megah yang meliuk ke atas. Menunggu putri satu - satunya yang konon kata Tuan besar sedang terluka.


Dan semakin sedih saat mendengar akibat ulah putrinya, seorang bodyguard harus berakhir di meja operasi.


Sementara Daddy Michael dan Gerald duduk berdampingan di sofa ruang tengah. Dua pasang mata lelaki beda usia itu saling lirik melihat tingkah Chania.


Gerald menatap heran pada sang Bunda yang bersikap berlebihan, juga melirik heran pada sang Daddy tak meminta sang Ibu untuk berhenti mondar mandir, dan bersikap lebih tenang.


"Bukankah Daddy bilang Kak Jia tidak terluka parah?" bisik Gerald pada Daddy nya.


"Memang!" jawab Michael tak kalah lirih.


"Lalu kenapa Mommy sedemikian pusing?" bisiknya lagi. "Seperti Kak Jia sedang sekarat saja." lanjutnya bergumam.


"Entahlah!" jawab Michael dengan volume yang sama seperti sebelumnya.


"Apa memang begitu sikap wanita? Selalu berlebihan akan suatu hal kecil sekalipun?" tanya Gerald pada sang Daddy.


Michael melirik curiga pada pertanyaan anak bungsunya itu.


"Untuk apa kamu bertanya seperti itu?" tanya Michael, "belum saatnya kamu memahami sikap dan sifat wanita." sembur Michael sedikit tertahan pada Gerald yang seketika terkesiap.


Ia tak menyangka pertanyaan santainya di jawab sedemikian serius oleh sang Daddy. Sorot mata Michael jelas mengatakan jangan bertindak aneh - aneh.


"Ingat umur mu!" lanjut Michael sedikit mendelik.


Gerald mendelik, melirik ke kanan dan ke kiri. Lagi - lagi ia seolah sedang berada di dalam ruang sidang. Dimana sang Daddy menjadi hakim paling menyeramkan.


"Please, Daddy... Jangan bahas hal itu sekarang..." bisik Gerald mencari aman. "Kasian Mommy..." lanjutnya tersenyum meringis.


Michael masih menatap tajam sang bungsu, hingga suara langkah lesu terdengar memasuki ruang tengah.


"Jia!" pekik Chania.


...🪴 Happy Reading 🪴...