SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 184


Jia dan kawan - kawan telah pergi meninggalkan ruang kelas mereka, dna menuju mobil masing - masing.


Jia berjalan mendekati Lexus LM miliknya. Dimana ada Xiaoli yang berdiri di samping mobil, untuk menyambut Nona Muda Xavier.


"Selamat siang, Nona!" sapa Xiaoli.


Ekspresi Xiaoli nyaris sangat datar. Tentu membuat Nona Muda Xavier mengangkat kedua alisnya.


"Dimana Paman Dimitri?" tanyanya sebelum masuk ke dalam pintu penumpang bagian belakang.


"Mengantarkan pulang mobil Nona Virginia, Nona!"


"Virginia!" pekik Jia tak percaya.


"Ya, Nona.. Memangnya kenapa?"


"Kamu yakin yang di bawa Paman Dimitri mobil Virginia?" tanya Jia seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Ya, Nona! Tuan Jio sendiri yang mengatakan itu mobil Nona Virginia, dan meminta Tuan Dimitri untuk mengantarnya pulang ke rumah Tuan Michael menggunakan mobil derek.


Jia mendengarkan dengan seksama, "jadi mereka sudah bertemu?" gumamnya berfikir. "Apa mungkin yang di maksud Mahasiswi kemarin adalah Kak Jio pergi bersama Virginia?" gumamnya lagi. "Mahasiswi Kedokteran.."


"Ada pertanyaan lagi, Nona?" tanya Xiaoli.


"Apa Kak Jio pergi bersama Virginia?" tanya Jia penuh rasa penasaran.


"Saya tidak melihat Nona Virginia di dalam mobil Tuan Jio..."


"Jadi mereka tidak pergi bersama?"


"Tidak, Nona!" jawab Xiaoli. "Tuan Jio juga tidak bicara apapun, selain meminta Tuan Dimitri membawa mobil Nona Virginia!"


"Lalu kemana Virginia?" gumamnya.


"Saya dan Tuan Dimitri juga tidak tau, Nona!" sahut Xiaoli.


Jia mengangguk paham, "Baiklah, ayo pergi! Kita ke Mall bersama mereka!" ucap Jia menunjuk BMW X5 berwarna putih, dan Aston Martin berwarna hijau tua yang berbaris di pintu keluar area parkir.


"Baiklah, Nona!"


Xiaoli segera menutup dan memutari mobil. Kembali duduk di balik kemudi bundar mobil Jia yang bisa di katakan mewah itu.


"Ikuti saja mereka, ya?"


"Baik, Nona!" jawab Xiaoli.


Jia mengamati wajah Xiaoli. Sesekali ujung bibirnya menahan senyuman. Baru kali ini ada bodyguard tampan, pikirnya.


"Xiaoli?" panggil Jia saat mobil mulai melaju melewati gerbang kampus.


"Ya, Nona?" jawab Xiaoli melirik spion mobil bagian tengah, hanya sekilas. Tentu saja bodyguard muda dan baru sepertinya, di larang menatap wajah Nona Muda Xavier lebih dari 3 detik. Dan Xiaoli tidak ingin melawan hukum itu.


"Aku dengar kamu juga sempat menjadi guru bantu, ya?"


"Ya, benar, Nona." jawab Xiaoli dengan hormat. "Ilmu bela diri sangat saya kagumi. Dan semua itu adalah hasil dari apa yang di tanamkan oleh Ayah saya!" jawab Xiaoli tegas.


Jia mengangguk, "aku harap kamu selalu setia dengan Klan Balck Hold seperti Ayahmu, Xiaoli!" ucap Jia tiba - tiba. "Daddy, Kak Jio, dan aku sangat membenci pengkhianat!" lanjutnya seolah mengancam Xiaoli.


"Saya sudah bersumpah akan selalu setia pada Klan Black Hold!" jawab Xiaoli tegas. "Sungguh suatu kehormatan bisa melanjutkan pengabdian Ayah saya di Klan Black Hold! Klan yang selalu di banggakan Ayah saya dengan dada membusung!" lanjutnya mengingat ketika sang Ayah menceritakan tentang sepak terjang Klan Black Hold secara turun temurun.


"Bagus!" sahut Jia. "Dimana Ayahmu sekarang?"


"Beliau di desa, sedang sakit," jawab Xiaoli, "setiap telepon, beliau mengingatkan agar saya selalu menjaga keluarga Xavier dengan nyawa saya!"


Jia tersenyum samar. Ia menyukai cara Xiaoli menjawab pertanyaannya. Lalu ia membiarkan Xiaoli kembali fokus pada kemudi mobilnya. Jia beralih untuk mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dan fokus pada apa yang muncul di layar sana.


***


"Dimana dia?" tanya Jio mengulang dengan nada yang sangat dingin.


Jio bukanlah pemuda yang dengan gampang akan mengulang pertanyaannya. Namun demi... Ya begitulah. Dia pasti rela melakukan apa saja.


"Hahahaha!" suara tawa yang menunjukkan dirinya berkuasa di sana, keluar dari pintu pabrik. Melewati barisan anak buah yang berjajar rapi. "Ternyata kau bisa mengatasi mereka lebih cepat, rupanya! Hanya demi.... Hahahaha!" gelaknya setelah menggantung kalimatnya.


"Kau memang pantas di sebut sebagai pujangga jatuh cinta, anak muda!" ucap lelaki bertubuh besar yang kini mengambil posisi berdiri tegak di barisan terdepan. "Tidak salah aku memilih gadis itu sebagai tawanan! Padahal cinta hanya akan membuatmu lemah!"


"Sebenarnya siapa kalian!" desis Jio menatap tajam lelaki itu.


"Aku hanyalah seorang Paman! Yang ingi membantu keponakan ku menuntut balas!" desis.


"Siapa keponakan mu?" tanya Jio.


"Dia adalah..." lelaki itu menggantung kalimatnya lagi. "Kalau kau ingin tah siapa dia, langkahi dulu mayatku!" desisnya dengan mata memicing tajam. Ia keluarkan sebuah pedang dari sarung yang bertengger di punggungnya.


Jio pun melakukan hal yang sama. Ia keluarkan pedang pusaka dari sarung yang ia gantung di pundaknya.


"Hiiakk!" seru pria itu menyerang Jio terlebih dahulu.


Jio segera mengambil ancang - ancang. Ia melompat naik ke udara dan berputar cepat. Kemudian ia lesakkan ujuang pedang ke arah lawan.


Clinng!


Suara dua pedang yang bertabrakan terdengar cukup nyaring. Berulang kali saling menghantamkan senjata. Hingga mereka kembali menjejak tanah.


Pertarungan terus berlanjut. Jiwa muda sang Tuan Muda tentu tak membuatnya lengah sama sekali. Justru lawannya yang mulai terengah saat kaki Jio melesak, mendorong perutnya hingga ia mundur ke belakang beberapa langkah.


Saat Jio hendak kembali menyerang, tiba - tiba sesuatu mengalihkan perhatiannya.


"Emmh! Emhh!"


Suara seorang gadis yang mulutnya di bekap, keluar dari dalam kegelapan pintu pabrik. Dengan seseorang yang mengunci tangan Virginia di belakang. Kemudian orang itu mendorong punggung Virginia agar berjalan maju.


"Nia...." gumam Jio, menatap sedih pada sepasang mata Virginia yang menahan air mata. Atau bahkan mungkin gadis itu sudah lelah menangis sedari tadi.


Namun satu yang membuat amarah di dalam diri Jio semakin memuncak. Yakni seseorang yang berjalan dingin di samping Virginia. Tatapan mata keduanya membentuk garis lurus dan sama - sama tajam.


"Hai... Georgio..." sapanya tersenyum culas.


"Kenapa kau menyekapnya?" tanya Jio dingin. "Bukankah dulu kau menyukainya?"


Tersenyum sinis, "Hahaha! Jadi kau pikir dulu aku mengganggunya karena aku menyukainya?" tanyanya sinis. "Dia memang cantik! Bahkan paling cantik di kelasnya! Tapi aku hanya ingin bermain - main dengannya! Tadinya... aku juga tidak menyangka dia akan tumbuh dengan sangat cantik dan seksi seperti ini!" ucapnya melirik nakal pada Virginia.


"Tapi wanita hanya akan membuat kita lemah, Jio! Jangan biarkan dirimu terikat pada wanita yang hanya akan membuatmu repot!"


"Lihat sekarang! Apa yang kau lakukan? Sangat tepat bukan, saat aku memilihnya untuk menjadi umpan?" jawabnya kemudian tertawa mengejek.


"F*ck!" umpat Jio lirih namun sangat tajam. "Lepaskan dia! Kita selesaikan urusan kita berdua! Jangan bawa siapapun di antara aku dan kau!" ucap Jio memandang sinis pada musuhnya.


"Kau pikir aku mau membuat tubuhku harus kelelahan meladeni mu, hah!" tanya nya. "Pasang!" titah lelaki itu pada anak buah yang ada di belakangnya.


Jio terus memperhatikan benda apa yang di perintahkan untuk di pasangkan pada Virginia.


"Hahahaha!" tawa lelaki itu meledak saat melihat Virginia kembali meneteskan air mata.


"Kau benar - benar menantang ku, Lussio!" desis Jio dengan mengeratkan gigi.


Amarah sudah di ubun - ubun. Siap meledak saat itu juga. Melihat sebuah bom di pasangkan di punggung Virginia, sama artinya dengan menancapkan sebilah pisau di jantungnya.


Virginia adalah bagian dari hatinya, meski ia belum sepenuhnya menyadari. Melihat Virginia dalam bahaya, apalagi itu di sebabkan oleh permusuhan masa lalu adalah hal paling menyakitkan yang di rasakan Jio.


...🪴 Happy Reading 🪴...