SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 294


Gedung latihan berukuran seluas lapangan basket indoor, yang mana hanya ada beberapa alat latihan perang, dan juga kursi-kursi yang berada di salah satu sisi ruangan.


Ruangan itu berada tepat di atas gedung latihan tembak, yang juga sering di gunakan oleh pasukan klan Black Hold berkumpul dalam jumlah pasukan besar, alias bukan hanya tim inti saja.


Saat ini, sore ini dan waktu ini seorang bodyguard yang memang baru bergabung di klan itu tengah berdiri di tengah-tengah gedung bagai tawanan yang siap untuk di hakimi.


Bukan tanpa alasan, tapi melakukan segala kesalahan di belakang Tuan besar Xavier memanglah salah satu bentuk pengkhianatan yang nyata.


Sementara seorang pria berjalan lambat memutari pemuda itu dengan aura yang sangat mengintimidasi.


Bagaimana tidak, jika musuh saja banyak yang memilih untuk tidak berurusan dengan nya, ini justru bodyguard nya sendiri yang bahkan sudah di angkatnya sebagai salah satu bodyguard utama di awal karirnya. Mengingat sang pemuda memiliki dedikasi yang bagus, sekaligus putra dari salah satu bodyguard utama mendiang Frederick Sebastian.


"Siapa saja yang tau kalau kau dan Jia putriku menjalin hubungan?" desis sang naga hitam.


Xiaoli terdiam mendengar pertanyaan sang Tuan besar. Dalam hati ia bertanya, kenapa bukan pertanyaan lain saja yang di tanyakan?


Sang pemuda menunduk dengan mata terpejam, tanpa ingin menoleh pada sang Tuan muda. Karena jika ia menoleh Tuan muda, sang Tuan besar pasti bisa membaca gelagatnya dengan sangat mudah.


"JAWAB!" sentak Michael sudah tak sabar. "Siapa di dalam rumah ku yang tau kalian ada hubungan?" ulang Michael berdesis menahan amarah.


"Tidak ada, Tuan!" jawab Xiaoli membuka mata sembari mendongak, menatap lurus ke arah depan. Dengan begitu ia akan terlihat jika ia tengah jujur.


Xiaoli memang pandai menutupi segala ekspresi aslinya.


Tersenyum culas, Tuan besar tidak akan semudah itu percaya dengan apa yang di ucapkan oleh sang bodyguard. Hingga akhirnya keduanya kini berhadapan dengan jarak sekitar tiga meter saja.


Untuk pertama kalinya Xiaoli beradu pandang dengan sang mafia. Untuk pertama kali nya, mau tak mau ia harus menyiapkan tenaga untuk menghadapi Tuan besar yang jam terbangnya dalam dunia pertempuran dua kali lipat dari umurnya.


Michael mengambil semua senjata yang tersisa di dalam saku celananya. Sebuah pisau kecil yang selalu berada di kantong ketika ia berada di luar kamar. Ia ambil dan ia lempar benda itu, dan jatuh tepat di depan kaki sang putra mahkota dengan dentingan yang khas.


Tentu kalian tau kenapa Sang Mafia melempar benda itu tepat di kaki sang putra mahkota, bukan?


Jio memejamkan matanya ketika menyadari sesuatu mengarah pada dirinya dengan gerakan yang sangat cepat. Meski begitu, ia tak sedikitpun menghindar karena ia tau benda itu akan jatuh di sisi mana.


"Lawan aku dengan tangan kosong!" desis sang mafia. "Keluarkan semua kemampuan yang kau kuasai. Kau harus membuatku jatuh tersungkur dan tak bangkit lagi untuk bisa bersama putriku!" lanjutnya.


Tersenyum sinis, "Aku juga ingin tau, sehebat apa dirimu!"


Tak bisa menjawab, Xiaoli hanya menarik nafas panjang dan menghelanya dengan berat.


"HIIAAAAKKKK!!!" teriak Michael mulai mengambil gerakan pertamanya tanpa menunggu Xiaoli siap. Yakni berputar satu kali, dan menendang Xiaoli hingga mengenai rahangnya sebelah kanan.


Xiaoli yang masih ragu untuk melawan, memilih diam saja, meskipun dengan sadar ia tau ada bahaya mendekat. Akibat tendangan itu ia mundur satu langkah, dengan kepala yang berayun ke arah kiri.


Kesal karena sang bodyguard diam saja, Michael melayangkan tinjuan pada rahang kiri sang bodyguard. Namun sayang, itupun tak membuat sang bodyguard ingin melawannya.


"Apa kau sengaja membuat dirimu terluka di tangan ku supaya putri ku mengasihani mu dan kau bisa mendapatkan semua yang kau inginkan dengan mudah?" tanya Michael mengejek, setelah ia kembali pada posisi semula.


"Saya lebih baik mati dari pada melukai Tuan besar seujung kuku!" jawab Xiaoli dengan ujung bibir yang sudah nyaris mengeluarkan darah.


Tendangan dengan kekuatan sedang dari sang Mafia sudah membuatnya merasa tulang rahangnya akan patah. Meski terasa begitu sakit, ia memilih untuk diam saja ketika satu tinjuan kembali mendarat di rahang satunya.


"Kau pikir aku suka dengan jawabanmu, hah?" desis Michael dengan kilatan mata yang semakin menunjukkan emosi.


"AKU SANGAT TIDAK SUKA!" seru Michael sembari melesakan satu tendangan yang tepat mengenai dada sang bodyguard, hingga Xiaoli mundur beberapa langkah.


"Uhukk!" Xiaoli sedikit terbatuk akibat nafas yang tiba-tiba harus berhenti karena sebuah tendangan. Ia memegangi dadanya yang terasa cukup sakit, karena ia memang membiarkan dirinya untuk di hajar sang mafia.


"Lawan aku, brengsek! Jangan hanya membuat aku malu dengan menjadikan aku seperti badut yang tidak tau apa-apa tentang putri ku sendiri!" ujar Michael menatap tajam sang bodyguard.


"Hah..hah...hah" nafas ang Mafia memburu. "Serang aku dengan segala kemampuan dan kekuatanmu, Xiaoli Chen!" ujar Michael kembali maju dan kali ini dua tendangan beruntun dari kaki kanan dan kiri mengenai perut dan pelipis Xiaoli.


"LAWAN AKU, BRENGSEK!!!" teriak Michael karena Xiaoli masih tidak berniat untuk melawannya.


Xiaoli menghela nafas berat. Tubuhnya berulang kali di gempur tendangan dari sang mafia. Tapi ia tetap tidak ingin melawan.


Jika di tanya sakit? Maka jawabannya tentu saja badan sudah terasa sakit sejak tadi. Tapi Xiaoli bukanlah lelaki lemah yang akan tumbang hanya dengan lima atau bahkan sepuluh tendangan.


"Maju!"


"Tuan meminta saya untuk melawan Tuan dengan semua kekuatan yang saya bisa... Tapi Tuan sendiri tidak mau menggunakan kekuatan penuh untuk bertempur dengan saya..."


Kalimat Xiaoli menghentak relung hati sang mafia yang terdalam. Ia memang tidak menggunakan kekuatan penuh kali ini. Itu karena bagi sang Tuan besar, tidak seharusnya Xiaoli berbuat demikian.


Ia bukan tipe orang tua yang akan pilih-pilih siapa dan seperti apa menantunya kelak. Tapi yang menjadi masalah adalah Xiaoli mengencani putrinya secara diam-diam. Dan ia di anggap seolah tidak ada di muka bumi ini.


"Lawan aku, atau aku akan bersumpah untuk membuat mu tidak bisa melihat dunia, dan aku tidak akan menjamin kesejahteraan keluarga mu!" ancam sang mafia. "Tentu kau tau apa yang bisa aku lakukan untuk membuat kehidupan kalian terasa sulit?"


Sontak Xiaoli menarik nafas panjang bimbang. Ia berada pada situasi yang sangat sulit. Antara tidak berani melawan sang tuan besar, juga khawatir keluarganya akan mati kelaparan setelah tidak lagi mendapat jaminan ekonomi dan keselamatan dari sang tuan besar Michael Xavier.


***


Sementara itu, di luar sana Jia berlari kencang bahkan meninggalkan sang Ibu yang tidak bisa berlari secepat dirinya.


Melewati mess bodyguard, keduanya di buat semakin khawatir karena barisan bodyguard tengah ber kasak-kusuk di depan mess bodyguard. Seolah suasana di lantai dua gedung sana memang tengah dalam situasi yang mencekam.


Meskipun mereka semua menunduk hormat ketika Nyonya besar dan Nona muda melewati tubuh tegap mereka. Tetap saja, Jia bisa mendengar gumaman dari beberapa bodyguard di sana.


"Jia! Tunggu Mommy!" seru Chania yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di area itu.


"Cepat, Mommy!" sahut Jia tanpa berniat mengurangi kecepatannya.


Karena yang di inginkan oleh sang gadis adalah segera menyelamatkan Xiaoli yang entah sekarang jadi seperti apa.


Masih bernafas 'kah?


Atau sudah...


"NO NO NO NO!!! Itu tidak boleh terjadi!" gumam Jia yang kini sudah mulai menaiki tangga menuju gedung lantai dua.


Di depan pintu berukuran cukup besar yang berjajar dua, Dimitri berdiri dengan tegap tetap di depan pintu. Begitu melihat dua wanita Xavier datang, di mana salah satunya di ketahui sang bodyguard sebagai satu dari dua orang yang sedang terlibat dalam pertempuran di dalam sana.


"Selamat sore, Nona muda Xavier!" sambut Dimitri menunduk hormat.


"Minggir!" seru Jia sudah tidak sabar untuk bisa masuk ke dalam sana.


"Maaf, Nona... Tuan besar tidak ingin di ganggu..." ucap suami Maya itu menunduk dalam. Ia tetap mencoba untuk mencegah Nona Muda masuk ke dalam san, meski ia tau ini akan jadi bumerang untuk dirinya.


Karena ...


"Aku akan menembak kepala Paman kalau Paman melarang ku untuk masuk!" desis sang Nona muda tak ingin di bantah lagi.


"Tapi, Nona..."


"MINGGIR!!" teriak Jia ingin sekali mencekik salah satu bodyguard utama di klan Black Hold itu.


...🪴 Bersambung .... 🪴...