
Virginia duduk dengan tidak nyamannya di salah satu kursi bioskop. Duduk di kursi VIP tak lantas membuat sang Nona muda Brown merasa istimewa. Ia justru merasa ingin kabur saja saat ini.
Bagaimana tidak, pemuda di sampingnya yang tak lain adalah Alex itu sangat menyebalkan. Sedari tadi Alex terus saja mencuri kesempatan pada Nona muda Brown. Entah itu memeluk atau mencium pipi Virginia.
Alex seolah sengaja memesan tiket film horor untuk menaklukkan Virginia di ruang bioskop. Meski sebenarnya ia takut dengan film horor, sekuat hati ia mencoba untuk tidak takut. Toh ia pernah mengalami kejadian lwbih horor dari ini.
Ya, saat di dalam penjara Lusssio beberapa waktu lalu. Dimana semua penjaga berwajah seperti hantu.
"Stop it!" seru Nona muda Brown mendorong tubuh Alex menjauh.
"Why?" tanya Alex sedikit menghentak.
Karena merasa tidak terima dengan perlakuan Virginia yang di anggap mempermalukan dirinya di depan banyak orang. Dimana banyak penonton lain yang akhinya menoleh pada tempat duduk mereka.
"Jangan bersikap tidak sopan padaku, Alex!" jawab Virginia dengan wajh bete nya.
"Tidak sopan bagimana?" tanya Alex, "bermesraan di ruang bioskop adalah hal biasa untuk para anak muda seperti kita!"
"Tapi aku bukan kekasihmu yang pantas untuk kamu ajak bermesraan di dalam ruangan terkutuk ini!" seru Virginia lebih keras.
Hal itu tentu semakin mengundang sorot mata dari penonton yang lainnya. Semua menatap heran pada dua anak muda yang sedang bertnegkar di ruang bioskop. Yang mana di antara mereka justru banyak yang sedang berpelukan, berciuman bahkan mencuri kesempatan untuk meraba - meraba pasangan mereka.
Merasa diri menjadi pusat perhatian, tentulah Alex akhirnya murka, "kamu benar - benar membuat ku malu!" desis Alex dengan kilatan emosi di wajah tampannya.
Virginia yang merasakan Alex mulai terbakar emosi, berfikir untuk lebih baik pergi sekarang juga. Sebelum semua semakin kacau dan Alex bertindak lebih nekat pada dirinya.
Cepat - cepat ia bergegas untuk berdiri dan berlari keluar gedung bioskop. Langkah kecil sang Nona Muda Brown melesat, melewati penonton yang masih duduk untuk menyaksikan film hingga usai.
Alex tak lantas mau kalah begitu saja. Ia pun ikut melesat dari kursinya. Mengejar Virginia yang kini sudah di ambang pintu keluar bioskop.
"Kamu harus membayar rasa maluku!" ujar Alex lirih dengan gigi yang mengerat kuat.
***
Jika di mall ada Virginia yang sedang di kejar oleh Alex, maka di ruang kerja Michael ada keluarga inti Xavier yang sedang berkumpul. Apalagi yang mereka lakukan selain membahas masalah yang baru saja di buat oleh satu - satunya anak perempuan di keluarga Xavier.
Jia duduk di sofa bersama Gerald, sedang Jio tetap berada di balik meja kerjanya. Dan kedua orang tua mereka duduk berdua di sofa tepat di depan Jia dan Gerald.
"Jia, kenapa kamu sampai melakukan hal semacam itu?" tanya Chania yang tak menyangka sang putri berani memasuki wilayah yang hanya di huni oleh laki - laki.
"Maafkan, Mommy," jawab Jia lirih dan menunduk, "Jia hanya berfikir, meskipun mess hanya di huni oleh para lelaki, mereka semua tidak akan ada yang berani menyakiti Jia. Jadi Jia nekat mendatangi Xiaoli."
"Mommy juga tau, kalau mereka tidak akan menyakiti Mommy. Tapi tak sedikit pun Mommy berani masuk ke dalam sana." jawab Chania.
"Kita harus menjaga harga diri kita, Jia. Jangan hanya karena kamu anak Daddy yang merupakan bos mereka, lantas kamu bisa kemanapun, keluar masuk mess bodyguard seenaknya!" omel Chania. "Selain itu, mereka juga tidak akan nyaman dengan kedatangan kita. Para wanita Xavier!"
Jia mendengar dengan baik penjelasan sang Ibunda. Rasa menyesal kembali datang. Mengingat kembali bagaimana Xiaoli seketika bangkit dari tempat tidurnya saat tau dirinyalah yang datang. Lalu bagaimana lelaki itu tidak mau kembali duduk, padahal tubuh sedang tidak baik - baik saja.
Belum lagi bodyguard yang sebelumnya sedang duduk santai di kursi depan pintu. Mereka jadi harus terpaksa masuk kamar karena kedatangannya yang tiba - tiba.
Lagi - lagi Nona muda Xavier di landa perasaan bersalah dan menyesal sudah bersikap seperti anak 10 tahun yang belum tau adab dan sopan santun.
"Lebih tepatnya ada jarak yang harus kita jaga, Jia!" sahut Michael. "Kita memang harus akrab dan baik dengan mereka, tapi bukan berarti wanita Xavier bisa mendatangi mess bodyguard! Daddy saja kalau tidak penting tidak akan mendatangi mereka!" lanjut sang Tuan besar Mafia. "Kalau kamu terlalu berlebihan dalam mengakrabkan diri, mereka tidak akan 100% menghormatimu!"
"Dan itu akan membuat kita tidak ada bedanya dengan posisi mereka. Kamu adalah bagian dari seorang pemimpin, jangan buat dirimu sama seperti dengan mereka! Biar bagaimanapun kita harus memiliki batasan, Jia! Dan itu bukan berarti merendahkan mereka!"
"Maafkan Jia, Daddy..." jawab Jia, "Jia akan kembali belajar menepatkan diri."
Michael menatap datar putrinya. Ada kesal, tapi ada juga rasa menyesal tidak memberika bimbingan yang lebih intens. Karena Jia memang baru saja keluar dari kuil yang berada di pedalaman.
Michael mengedarkan pandangannya pada Jio dan Gerald. Menatap lekat dua putranya yang diharapkan bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi. Namun Gerald hanya terlihat fokus pada ponselnya sambil sesekali senyum tak jelas. Sedangkan Jio justru terlihat resah menatap layar laptop canggih miliknya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Dan Tuan muda Xavier masih dalam diskusi keluarga inti. Pikirannya sudah resah, apalagi ponsel Nia terdeteksi masih berada di mall. Namun berubah - ubah titik. Semakin detik berlalu, maka semakin buruk pula firasat Jio.
Jio ingat, mall yang di maksud Nia tak terlalu jauh dari kampus, yang artinya tak terlalu jauh pula dari tempat kost Nikki. Akhirnya Jio menghubungi sahabat barunya itu untuk membantu menmukan Jia. TOH Kendaraan roda dua di keramaian Friday Night sangat cocok untuk bisa melesat cepat sampai di mall.
"Ok!"
Sebuah pesan balasan dari Nikki, tak lantas membuat hati Tuan muda Xavier lebih tenang. Ia memang tak akan bisa tenang sebelum dia sendiri yang menemukan keberadaan Virginia.
"Ada apa dengan mu, Jio?" tanya Chania mendekati sang putra mahkota. Setelah melihat keresahan di wajah putranya.
"Jio merasa ada yang sedang tidak beres dengan Virginia, Mom!" jawab Jio lesu.
Sang Mommy tau, mengenai kisah putranya dengan sang gadis. Sehingga Tuan muda tak perlu sungkan untuk bercerita apa adanya.
Mendengar jawaban Jio, sontak semua mendekat dan berkumpul di meja kerja Jio. Mengingat Virginia yang pernah terseret masalah yang berhubungan dengan dunia Mafia nya, tentu kali ini Michael tak ingin diam saja.
"Katakan, apa yang terjadi, Jio?"
Jio pun menceritakan apa yang membuat hati dan pikirannya tidak tenang sejak tadi. Beberapa tanggapan pun muncul dari para anggota keluarga.
"Kakak itu terlalu lelet dalam urusan cinta!" ujar Gerald.
"Cari dia, Kak!" sahut Jia.
"Pergilah, Jio!
Tanggapan terakhirlah yang kini membuatnya sudah berada di jalan raya. Berbaur dengan para penikmat Friday Night lainnya. Berusaha menemukan sosok Virginia di antara keramaian Mall.
Diri tentu sudah siap menghabisi Alex jjika sampai lelaki itu menyakiti Virginia walau hanya secuil. Sudah pernah membunuh Lussio untuk menyelamatkan Virgini, kali ini tidak akan ragu jika hanya sekedar Alex Miguel.
"Mati kau, kalau sampai Nia lecet sedikit saja!" gumamnya dengan mencengkeram erat kemudi bundar di tangannya.
Dalam angan, Virginia tengah berlari dari lantai ke lantai yang ada di dalam mall. Tanpa arah dan tujuan.
***
Sedangkan Nikki yang di mintai bantuan Jio untuk mencari Virginia, kini juga sudah berada di Mall. Mall mewah yang belum pernah ia masuki itu membuat dirinya pusing dan hampir gila.
Bagimana tidak, ia menyadari diri tak akan mampu membeli apapun di dalam sana, sehingga membuatnya ogah memasuki mall itu meski jarak sangat dekat. Dan kini ia harus berputar - putar di Mall sebesar itu untuk menemukan gadis pujaannya saat belum mengetahui hubungan Jio dan Nia.
"Dimana Virginia?" gumamnya berlari sembari mengedaran pandangannya ke area mall.
"Bagaimana kalau sampai aku tidak bisa keluar dari tempat ini" gerutunya setengah meratapi nasib.
Sorot mata yang terus beredar, membuat dirinya bisa melihat penampilan setiap orang yang ada di sana. Semua orang jelas terlihat elegan dan mewah meski berpakaian sederhana. Wajah cantik para gadis pun tentu tak luput dari sorot matanya.
Sedangkan dirinya, ia sudah mengeluarkan baju terbagus miliknya. Namun tetap saja diri terlihat tak punya uang.
Bahkan mungkin seperti supir yang sedang mencari majikannya.
"Jio benar - benar harus membayar kegilaan ku malam ini!" gerutunya.
...🪴 Happy Reading 🪴...
✍️ Kemarin Author up, tapi baru lulus pagi ini. Jadi sekalian saja Chapter 205 ini Author up 😉
Boleh absen dong, dari daerah mana aja yang setia baca SANG MAFIA! Sampai episode ini 🥳🥳🥳🥳