SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 287


Bukit Fields of Pealand adalah saksi bisu terjalinnya hubungan antara Jia dan sang bodyguard.


Di mana, di sana, di atas ketinggian sana, untuk pertama kali sang bodyguard mengutarakan apa yang di rasakan pada sang Nona muda. Siapa sangka, apa yang di utarakan ternyata terbalas dalam satu kali pengungkapan.


Kasta yang berbeda, memang tak mempengaruhi kadar cinta keduanya. Sama-sama saling mencintai, sama-sama saling menggenggam ketika salah satu merasa tengah jatuh.


Tapi bagaimana dengan kehidupan dan lingkungannya?


Apakah semua bisa menerima kenyataan semacam ini?


Di mana Jia berasal dari keluarga yang tidak main-main. Sedangkan Xiaoli memang keturunan bodyguard yang sudah memasuki usia pensiun.


"Hari itu malam Friday night, bukan?" gumam Jia ketika keduanya sudah berada di tepi jalan di atas ketinggian. Menatap jalanan di bawah sana, yang tidak terlalu ramai.


Meski begitu mereka semua yang melintas rata-rata adalah mereka yang ingin menghabiskan hari ini di bukit yang banyak di kunjungi oleh pasangan muda-mudi itu.


"Hemm! Setelah pesta ulang tahun teman kamu..." jawab Xiaoli yang bersandar pada kap mobil.


"Dan kamu menyayat ban mobil Diego!" sahut Jia terkikik mengingat momen yang membuatnya tak menyangka jika Xiaoli berani bertindak semacam itu.


Xiaoli tergelak kecil mengingat kelicikannya kala itu. Ia tatap penuh cinta punggung kekasih hati yang tengah membelakangi dirinya. Jaket tebal yang berada di dalam mobil sudah membalut tubuh ramping itu. Meski begitu hawa dingin tetap merasuk sampai ke tulang.


Kemudian sang bodyguard berdiri, dan berjalan mendekati Jia yang berdiri dengan menumpuk tangannya di depan dada karena hawa dingin yang melampaui rata-rata biasanya. Meski cahaya matahari terlihat dengan jelas, tetap saja hangatnya tak mampu mengalahkan hawa dingin yang menguasai daerah dataran tinggi.


"Itu karena dia berani menyentuhmu..." bisik Xiaoli lembut di telinga sang gadis, seiring dengan tangan yang mulai merambat di pinggang Jia, dan membuat punggung Jia lama kelamaan menempel sempurna pada dada bidang.


Hingga akhirnya Xiaoli mendekap erat tubuh sang kekasih dari belakang. Dan di akhiri dengan sebuah kecupan pada daun telinga sang gadis.


"Aku ingin... selamanya hanya aku yang bisa memeluk tubuh ini." bisik Xiaoli lirih. "Hanya aku yang bisa menyentuhmu dari ujung ke ujung..." lirihnya terdengar sangat syahdu. "Dan tidak ada yang bisa melakukan hal ini pada mu, selain aku..." ucapnya dan di akhiri dengan sebuah kecupan di leher jenjang sang gadis yang tak tertutup jaket.


Jia tersenyum mendengar setiap kata yang keluar dari bibir sang kekasih. Dan ia tergelak ketika merasakan bibir tipis Xiaoli Chen menyentuh lembut lehernya. Di mana rasa geli yang aneh menjalar dari sana.


"Aku juga begitu..." ucap Jia meraba rahang tegas sang lelaki. "Aku tak ingin ada yang menyentuhku seujung kuku pun, selain kamu!" lanjutnya mengusap lembut rahang tegas Xiaoli.


"Dan aku juga tak ingin ada gadis manapun yang berhasil menyentuhmu... Apalagi menggoda mu..." ucap Jia setengah ketus sembari menoleh dan mendongak ke kiri, di mana wajah tampan sang kekasih tengah menatap lembut pada dirinya.


"Aku akan murka jika aku mendapati kamu mengkhianati ku! Dan kamu pasti tau, jika aku murka siapa yang akan turun tangan..." ancam Jia secara tidak langsung.


Xiaoli kembali tersenyum tipis. Ia gerakkan wajahnya ke kiri dan mengecup dalam telapak tangan sang kekasih, dan di sambung dengan pelukan yang lebih erat dari sebelumnya.


"Gadis mana yang berani mencari masalah dengan pendekar cantik seperti ini..." ucap Xiaoli merebahkan pipinya di atas pundak kiri Jia. Sorot matanya masih selalu menatap penuh damba pada sang pujaan hati.


"Kalau dia sama seperti ku, pastilah dia berani!" jawab Jia ketus karena kemungkinan hal itu memang bisa saja terjadi.


"Tapi... bukankah tidak ada yang berani melawan siapa yang selalu berdiri di depanmu?"


"Daddy?" tanya Jia sekaligus menjawab. "Kalau tidak ada yang berani dengan Daddy, tidak mungkin Daddy punya musuh." analisa Jia.


"Bahkan setiap detik kita harus selalu waspada karena musuh bisa datang kapan saja." lanjutnya terdengar pilu dan tidak bisa tenang dengan kehidupan yang mentakdirkan dirinya untuk lahir di keluarga terkaya di Italia. Yang mana hartanya tersebar di Italia dan juga di Amerika Serikat.


"Kamu tidak mempercayai aku?" tanya Xiaoli. "Apapun yang terjadi, siapapun mereka yang menggodaku tidak akan bisa mengubah apa yang sekarang ada di hatiku! Tidak akan bisa mengubah apapun yang ada saat ini. Aku hanya mencintaimu... Sampai kapanpun..." ucap Xiaoli dengan sangat serius.


"Kamu akan menemui Daddy?" tanya Jia dengan dada yang berdebar setiap mengingat hal ini.


"Hmm.... tentu saja!"


Dengan sangat lembut, keduanya sama-sama mengarahkan bibir masing-masing untuk bertemu satu sama lain dan memberikan sebuah kecupan dan ciuman yang lembut.


Hanya sesaat, karena tidak mungkin mereka melakukan semua itu selama saat mereka hanya berdua di dalam kamar Jia seperti biasanya. Karena mereka berdua tengah berada di tepi jalan meski agak jauh. Dan di jalanan sana banyak kendaraan yang berseliweran.


Walaupun 85% penduduk di sana tidak akan peduli walau ada yang berciuman di tepi jalan sekalipun. Karena hal semacam itu memang sudah sangat lumrah terjadi di sana.


Mengakhiri ciuman, keduanya memilih untuk berbagi kehangatan dengan tetap berpelukan dan menatap keramaian di bawah sana. Jia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kekasih. Tepat di bawah leher Xiaoli. Dengan tangan mereka yang bertemu di perutnya.


Sedangkan Xiaoli, pemuda yang pandai menyembunyikan ekspresi asli itu sesungguhnya tidak setenang apa yang terlihat saat ini.


meski tubuhnya tengah memberi kehangatan pada sang kekasih, nyatanya pikirannya tidak sehangat yang terlihat.


Ingatannya kembali pada apa yang sesungguhnya sedang ia pikirkan di mobil saat menunggu Jia di kampus tadi. Sebuah pesan masuk ke ponselnya, beberapa saat setelah Jia turun dari mobil dan meninggalkan dirinya di tempat parkir.


Obrolan dalam pesan chat...


"Kau bebas membawanya kemanapun hari ini semau yang dia inginkan... Tapi jika besok kau tidak menemui Daddy, tangan ku sendiri yang akan memotong lehermu!"


"Saya tau, Tuan!"


"Jika kau tidak berani menghadap Daddy, lebih baik malam ini kau menghilang, dan jangan pernah muncul di hadapan ku! Karena jika itu terjadi, kau pasti akan habis di tanganku!"


"Siap, Tuan!"


Tidak ada jawaban lagi. Pesan yang di terima dari sang putra mahkota itu benar-benar membuat Xiaoli berpikir keras. Ancaman Tuan muda pastilah bukan sembarang ancaman.


Begitu juga dengan cintanya pada Nona muda bukanlah sembarang cinta.


***


Langit mulai memperlihatkan waktu sore yang menjadi tolak ukur bagi siapa saja untuk mengakhiri aktivitas mereka, dan pulang untuk kembali berkumpul dengan keluarga.


Dan seperti itu juga yang di lakukan oleh keluarga Xavier. Semua sudah kembali di rumah. Jio dan Gerald bahkan sudah tiba sejak satu jam yang lalu.


Dan sang putra mahkota tengah bertemu dengan sang Daddy di ruang tengah untuk membahas satu hal yang penting sejak satu jam yang lalu.


Ketika itu terjadi, mobil Jia memasuki area depan istana, dan Jia turun melalui pintu belakang seperti biasa.


Begitu Jia turun dan sampai di ambang pintu, seorang bodyguard bersisipan dengan Jia. Setelah menyapa dengan hormat sang Nona Muda, bodyguard itu langsung menghampiri Xiaoli yang masih berdiri di samping mobil Jia.


"Xiaoli?" panggil bodyguard itu pada Xiaoli.


Dan itu membuat Jia langsung berbelok menghampiri kucing yang tengah rebahan santai di kursi. Berpura menyapa, padahal ia tengah berusaha menguping apa yang akan di sampaikan oleh bodyguard itu kepada sang kekasih.


"Miaww...."


Karena panggilan yang di layangkan pertama kali terdengar sangat serius.


"Tuan besar memanggilmu untuk menghadap beliau dan Tuan muda di ruang tengah sekarang!" ucap nya.


...🪴 Bersambung ... 🪴...