
Waktu masih menunjukkan setengah tujuh malam, saat Xiaoli membawa sang Nona Muda untuk menghadiri pesta ulang tahun Gladys yang di adakan di salah satu Ballroom hotel bintang 5.
Sepanjang jalan keduanya terlibat dalam percakapan yang di dominasi oleh bibir mungil Jia yang mengerucut. Xiaoli benar - benar pintar menggoda hingga membuat sang Nona Muda merasa malu.
Xiaoli terperangah, ketika di katakan sering berubah - ubah sikap.
"Maksud kamu?" tanya Xiaoli.
"Kamu biasanya selalu bersikap manis... kenapa tadi siang jadi jutek?" tanya Jia menatap tajam pada Xiaoli yang sudah kembali melajukan mobilnya ke tengah jalan. Kembali berbaur dengan berbagai jenis mobil lainnya.
Xiaoli mencoba mengingat kejadian tadi siang. Dan seketika itu ia tersenyum smirk. Kembali teringat kejadian apa yang memuatnya tadi merasa kesal hanya dalam hitungan detik saja.
"Itu karena aku...." Xiaoli menghentikan kalimatnya, kemudian menarik nafas dalam untuk menekan rasa sesak di dalam dada.
"Kenapa?" tanya Jia menatap tajam pada Xiaoli yang kembali menghembuskan nafasnya panjang.
"Ayo, jawab!" hardik Jia dengan memukul pelan lengan Xiaoli pelan. Meski begitu pukulan Jia jangan di samakan dengan pukulan gadis manja pada umumnya.
"Jawab Xiaoli Chen!" hentak Jia dengan gemas dan setengah merengek.
Ya, meskipun Jia di didik untuk menjadi seorang petarung yang bisa melindungi diri sendiri, tetap saja ia memiliki sikap dan sifat manja pada lelaki yang ia anggap harus memperlakukan dirinya dengan penuh kasih sayang. Atau pun laki - laki yang ia.... sayangi...
Xiaoli adalah lelaki normal, yang ketika mendapat sentuhan manja dari gadis yang ia sukai, pasti sedikit banyak itu akan menimbulkan reaksi. Dan sentuhan dari Jia berhasil membuat Xiaoli berdebar berkali lipat.
"Xiaoli Chen!" gemas Jia sambil berteriak tepat di telinga Xiaoli, sampai kedua matanya terpejam saking ngototnya menyebut nama sang Bodyguard.
"ITU KARENA AKU CEMBURU!" seru Xiaoli tegas, sampai kedua tangan mencengkeram kemudi dengan sangat erat. Nafas memburu, namun matanya belum berani melihat ke sisi kanan. Ia tak berani melihat ekspresi Jia yang entah seperti apa ketika gadis itu mengetahui jika ia... cemburu.
"Kamu dengar kan? aku cemburu!" ucap Xiaoli penuh penekanan dengan kata cemburu. Tapi ia sama sekali belum berani melihat wajah Jia.
Jia yang mendengar ucapan Xiaoli, ekspresi pertama yang ia perlihatkan adalah, diam kemudian menajamkan pendengaran, dengan ekspresi wajah yang seolah tak percaya jika Xiaoli memiliki perasaan cemburu yang entah pada siapa.
"Cemburu?" gumam Jia. "Pada siapa?"
Xiaoli menoleh ke sisi kanan dan menatap tajam pada Jia. Dan saat itulah ia baru tau, seperti apa ekspresi wajah Jia. Yang ternyata hanya diam, dengan senyum yang seolah di tahan.
"Siapa lagi kalau bukan Tuan Maldini!" dengkus Xiaoli mengingat foto yang tadi siang di kirim oleh Jia padanya.
Jia kembali menghadap ke depan, mengingat kembali. Momen seperti apa yang membuat seorang Xiaoli Chen cemburu berat? Namun seperti itulah wanita. Kadang mereka tidak menyadari jika apa yang dia lakukan bisa menimbulkan rasa cemburu pada seseorang yang tengah dekat dengannya.
"Memangnya apa yang di lakukan Diego, sampai kamu...." Jia menghentikan kalimatnya. Bibirnya tersenyum malu hendak mengucap kata cemburu.
"Eghm!" akhirnya Jia berdehem untuk menekan rasa ingin tersenyum dan perasaan yang membuncah, karena saking senangnya Xiaoli cemburu.
"Memangnya apa yang di lakukan Diego, sampai kamu... cemburu?" tanya Jia sambil mengulum senyum malu - malu.
Xiaoli menarik nafas panjang dan kasar. Sudah berterus terang jika ia cemburu, anggap saja ia sudah menceburkan diri ke dalam lautan yang luas. Di mana di dalam sana ada binatang yang lucu, manis dan ada juga bintang buas semacam Megalodon misalnya. Maka ia harus bersiap jika berhadapan dengan semua jenis binatang itu.
Jika bertemu dengan ikan badut, ikan dory, ikan buntal, bintang laut dan ikan kecil - kecil lainnya mungkin ia akan merasa tenang dan damai. Tapi akan berbeda jika i harus bertemu dengan ikan Paus ataupun ikan ikan buas lainnya.
Anggap saja predator laut itu adalah orang tua Jia. Yang mana adalah majikannya sendiri, Michael Xavier. Sang pemimpin klan terbesar di Italia, yang benci akan kebohongan. Yang bisa kapan saja meledakkan kepala seseorang yang ia anggap pengkhianat.
"Kenapa harus duduk di samping Diego itu?" tanya Xiaoli dengan raut wajah yang sulit di artikan. Menatap wajah cantik Jia yang seketika terperangah dengan hal kecil yang ternyata di permasalahkan oleh Xiaoli.
Sontak Jia tergelak, sambil membuang muka. Wajah cantik yang semula cemberut kini cekikikan menahan rasa bahagia yang semakin tidak karuan. Ia sangat senang mendapati sang bodyguard cemburu berat padanya.
"Kami hanya makan sing di kantai, tempat yang ramai. Jadi kami duduk di tempat yang... asal duduk saja. Jadi tidak memilih duduk di samping siapa.." jawab Jia menoleh Xiaoli dengan menyungging senyuman tak bersalah.
Xiaoli membuang nafas kasar, ia belum puas dengan jawaban Jia yang menurutnya jawaban asal dari pihak gadis itu. Sebagai sesama laki - laki sedikit banyak ia tau jika Diego sengaja duduk di samping Jia.
Jia sangat cantik dengan gaya naturalnya. Sudah sangat wajar jika banyak lelaki yang menaruh hati dan mencari kesempatan untuk bisa berdekatan dengan Jia.
"Kenapa diam?" tanya Jia.
"Tidak apa.." jawab Xiaoli datar. Menahan segala sesak di dalam dada mengingat foto tadi siang.
"Eghm!" Jia kembali berdehem dengan mengulum senyuman kembali.
"Kita tidak ada hubungan, kenapa kamu cemburu?" tanya Jia melirik dengan tatapan yang sengaja untuk menggoda Xiaoli Chen.
Seketika wajah Xiaoli bersemu merah. Apa yang di ucapkan Jia memang benar. Mereka tidak ada hubungan yang pasti. Ia tentu tak punya hak untuk cemburu.
Tapi takdir rupanya masih memberinya waktu untuk menunda memberi jawaban pada Jia.
"Kita sudah sampai, Nona!" ucap Xiaoli menghentikan mobil CRV mewah milik Nyonya besar tepat di depan hotel bintang lima.
Namun Jia tak lekas ingin turun, ia masih dengan posisi yang sama, dan justru menatap lekat wajah tampan sang bodyguard.
"Jawab dulu pertanyaan ku.." rengek Jia menahan tangan Xiaoli yang hendak melepas seat belt.
Sentuhan kulit yang belum pernah di rasakan Xiaoli, semakin membuat detak jantung sang bodyguard tidak karuan. Ingin rasanya ia meraih jemari lentik itu dan menggenggam erat untuk tidak akan ia lepaskan lagi.
Reflek Jia pun ikut menoleh ke belakang. Dan apa yang di ucapkan Xiaoli ternyata benar. Banyak sekali mobil yang ternyata memiliki undangan yang sama dengannya. Jia pun dengan terpaksa melepas tangan Xiaoli.
Cepat - cepat Xiaoli melepas seat belt nya. Meski kulit sudah tak bersentuhan, bukan berati debaran di dalam dada ikut berakhir. Semua masih terasa sama. Namun setengah mati Xiaoli mencoba untuk menahan diri sampai di rasa memiliki waktu yang tepat untuk bisa menyatakan perasaan yang sesungguhnya.
Xiaoli segera keluar dari mobil, dan membukakan pintu untuk sang Nona Muda. Jia pun turun dari pintu penumpang bagian depan setelah memakai topeng miliknya. Dan itu membuat beberapa penerima tamu bertanya - tanya, apakah mereka sepasang kekasih?
Kalau kekasih, kenapa Xiaoli tidak memakai baju untuk menghadiri pesta?
Dan juga tidak memakai topeng khas yang di berikan oleh sang pengirim undangan.
Kalau supir, kenapa majikannya duduk di bagian depan?
Dan semua penerima tamu hanya bisa saling melirik satu sama lain.
"Ambilkan kadonya.." perintah Jia pada Xiaoli.
"Baik, Nona.." jawab Xiaoli sembari membuka pintu belakang.
Sebuah paper bag berwarna orange dengan tulisan Herm*s, berukuran sedang sudah ada di sana, di sertai sebuah kartu ucapan yang menggantung di bagian talinya.
Ya, hadiah yang berupa sling bag dari brand ternama yang berasal dari Paris itu menjadi hadiah ulang tahun untuk Gladys. Hadiah dari orang kaya memang tidak kaleng - kaleng.
"Silahkan, Nona.." ucap Xiaoli menyerahkan paper bag itu.
"Kamu tunggu di mana?" tanya Jia.
"Saya akan menunggu di kursi tunggu..." jawab Xiaoli menunjuk kursi yang tertata rapi di lobby, untuk para penghuni hotel menerima tamu mereka.Ataupun bersantai.
"Okay!" jawab Jia. "Ingat! kamu punya hutang satu penjelasan padaku!" bisik Jia. "Aku akan menagihnya setelah acara ku selesai!" lanjut Jia tersenyum dingin penuh ancaman. Hanya saja kali in bukan ancaman permusuhan. Lebih tepatnya menagih satu kejelasan.
Xiaoli tersenyum tipis, dan aura ketampanannya membuat Jia salah tingkah.
"Baiklah, Nona..." jawab Xiaoli sekenanya, meskipun ia belum tau nanti harus berkata apa.
"Jia!" sapa seseorang yang baru saja keluar dari beberapa mobil di belakang mobil Jia.
Jia menoleh, dan siapa yang menyapanya benar - benar membuat darah di dalam tubuh Xiaoli terasa mendidih. Rona merah geram mulai terlukis di wajah sang Bodyguard. Dan tentu saja, Jia paham akan hal itu.
"Ya, Diego!" jawab Jia sengaja menabur garam di dalam luka Xiaoli. Ia ingin tau sejauh apa rasa cemburu yang di miliki Xiaoli untuknya.
"Masuk bersama?" tawar Diego yang juga sudah memakai topeng.
Jia melirik Xiaoli sekilas, kemudian senyum kecil terbit dari bibirnya. Karena sorot mata Xiaoli cukup tegas mengatakan..
Aku tidak suka kamu masuk bersamanya!
"Kamu duluan saja, Diego!" jawab Xiaoli.
"Memangnya kenapa?"
"Aku masih ada urusan.." jawab Jia sekenanya.
"Tidak masalah kok kalau aku harus menunggu.."
' FCK! pergi sana, Brengsek*!!! '
Umpat Xiaoli di dalam hati.
"Jangan, ini urusan pribadi.." jawab Jia.
"Baiklah, aku tunggu di dalam, yaa?" pamit pemuda yang membawa sebuah paper bag berwarna putih, dengan tulisan Louis Vuitton.
"Okay!" jawab Jia.
Dan Diego pun meninggalkan Jia bersama sang bodyguard.
"Cemburu yaa..." goda Jia dengan senyuman mengejek.
"Silahkan masuk, Nona. Sepertinya pesta akan segera di mulai!" tanggap Xiaoli tak ingin berlama - lama di goda. Ia takut kebablasan dan Diego yang menjadi sasaran.
"Baiklah, tunggu aku!" ucap Jia segera melangkah memasuki lobby yang mengarah pada beberapa ballroom hotel.
Xiaoli menatap punggung Jia dengan berbagai pikiran yang ada.
' Mencintaimu adalah kesalahan besar, Nona. Tapi aku terlanjur masuk ke dalam sana... '
Batin Xiaoli, yang kembali melihat betapa ia dan Jia bagai langit dan Bumi.
...🪴 Bersambung ... 🪴...