SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 207


Jika Jio sedang mengatur untuk bisa mengembalikan Nikki ke Mall, maka di istana Michael ada Jia yang terbaring merenung di dalam kamar mewah miliknya.


Lebih tepatnya bukan merenung, melainkan melamun atau berkhayal.


Kamar seluas ruang kelas di sekolah itu di dominasi dengan warna rose gold yang menawan. Tempat tidur empuk berukuran king size di desain atas permintaan Chania sang Ibunda khusus untuk satu - satunya putri di istana Michael.


Sepasang mata sang Nona muda menatap langit - langit kamar yang juga di dominasi warna rose gold di beberapa titik. Bibir tipis tersenyum samar menatap lampu utama kamar yang yang bersinar terang. Seperti hati Nona muda yang sedang terang benderang.


Tubuh kecil itu boleh berada di kamarnya. Tapi hati dan pikirannya tentu bisa terbang kemanapun yang ia mau, bukan?


Karena kenyataannya pikiran Nona muda memang sedang berada di salah satu kamar yang berada di gedung mess bodyguard. Sebuah kamar yang paling ujung sebelah kiri di lantai dua, yang di huni oleh seorang pemuda, yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua darinya.


Bibir tipis tersenyum lebih lebar, begitu mengingat saat pertama kali membuka pintu kamar sang bodyguard tampan bernama Xiaoli Chen.


Titik pertama kali yang menjadi tujuan sorot matanya adalah tempat tidur sang bodyguard. Karena di sanalah sang bodyguard tampan ia yakini sedang terbaring lemah pasca operasi yang dijalaninya.


Dan benar saja, pemuda tampan itu tengah terbaring di atas tempat tidur yang hanya muat untuk satu orang. Dan seketika ingin terkekeh saat melihat ekspresi sang bodyguard yang terlonjak kaget begitu melihat dirinyalah yang datang.


"Hihihihi" tawa itu terbawa nyata dalam lamunannya di kamar.


Di sela - sela obrolan mereka, tentu Nona muda tak lupa untuk melirik kanan kiri. Mengamati benda apa saja yang ada di dalam kamar seorang bodyguard baru yang menjadi bodyguard paling tampan dan muda.


Dari sekian banyak barang, ada satu barang yang sangat membuatnya penasaran. Yaitu, sebuah bingkai foto yang di letakkan di meja kamar. Jia tak dapat melihat siapa yang ada di dalam bingkai foto, karena bingkai dalam posisi membelakangi dirinya.


Bahkan saat ia meletakkan jaket, ia tak memiliki kesempatan sedetik pun untuk mengintipnya.


"Apa mungkin itu foto kekasihnya?" gumamnya bertanya - tanya pada diri sendiri.


"Atau foto Ayah dan Ibunya?"


Jia kembali melamun dan berangan. Membayangkan foto dirinyalah yang ada di dalam bingkai foto milik Xiaoli.


"Hahahahaha!" gelak sang Nona muda Xavier yang merasa konyol dengan hasil lamunannya sendiri.


Ia seolah lupa akan hukuman yang ia terima akibat kecerobohannya sendiri. Yang mana membuat dirinya kini tak punya kartu kredit dan ATM. Hanya uang cash yang ia miliki saat ini, dan itu tidaklah berjibun.


Tapi sama sekali tak membuat Jia pusing. Padahal hukuman penyitaan di perpanjang akibat kesalahannya sore tadi. Dari yang hanya dua bulan menjadi tiga bulan lamanya.


Hati yang sedang berbunga - bunga tentulah tak membuatnya ingat akan masalah yang sedang ia alami. Hidup hanya terasa indah dan lempeng - lempeng saja.


Apalagi ia tak pernah merasakan ini sebelumnya.


"Em.. ide - ide brilian sudah terancang di kepala ku!" gumamnya sembari duduk dari baringnya. Senyum di wajah benar - benar memperlihatkan betapa ceria sang Nona muda.


"Kamu memang pintar kalau berurusan dengan hal seperti ini, Jia!" serunya dengan gembira.


***


Setelah urusan Nikki selesai, kini Jio dan Virginia melanjutkan malam Friday Night di atas kap mobil yang di parkir di pinggiran taman kota. Dimana banyak anak muda juga melakukan hal yang sama. Tanpa peduli dengan waktu yang terus berjalan untuk mendekati jam tengah malam.


Hadiah yang ia sediakan telah tertinggal, lantas apa yang harus ia lakukan sekarang, selain hanya mengobrol dan bercerita.


Satu jam sudah keduanya berada di sana, dengan di temani dua cup besar minuman coklat di tangan mereka.


"Kamu tau, Jio..."


"Apa?"


"Aku pernah bermimpi di suatu malam," jawab Nia, "aku melihat kamu terluka parah, hingga kulit punggung mu robek. Tapi kenapa, aku tak pernah melihat mu merasakan sakit, apalagi menangis." tanya Nia menoleh Jio yang duduk disampingnya.


Membuang nafas melalui mulut, sang putra mahkota menatap langit luas yang di penuhi dengan bintang bertaburan. Keindahan yang menghiasi angkasa saat matahari tengah menyinari Bumi bagian lain.


"Aku hanya akan merasa sakit, jika aku tak bisa memiliki apa yang aku inginkan..." jawab Jio menoleh Virgina, dan menatap lekat sepasang mata lentik yang seolah membuat dirinya tertarik untuk masuk ke dalam sana. Ke dalam kehidupan sang gadis yang sudah ia kenal sejak kecil.


Virginia yang di tatap demikian pun ikut seperti tenggelam di dalam lautan ... entahlah. Yang jelas di dalam mata sang pemuda seolah ada tempat paling luas dan paling indah untuk bisa ia tinggali.


"Lalu apa yang akan membuat mu menangis?"


"Jika aku kehilangan orang - orang yang aku cintai." jawab Jio kembali menatap wajah cantik sang Nona muda Brown yang begitu dekat dengan wajahnya. Suaranya yang lembut membuat Nona muda Brown nyaris tersenyum.


"Siapa?" tanya Virginia dengan dada bergemuruh. Ingin rasanya dialah yang di sebut oleh Jio sebagai orang yang di cintai.


"Menurut kamu?"


"Emm..." Virginia tampak berfikir, tak mungkin pula ia akan menyebutkan namanya, bukan? "Mommy kamu?" tebaknya kemudian.


"Salah satunya..." jawab Jio masih betah menatap Virginia yang mulai terlihat malu - malu.


"Jangan menatap ku seperti itu." ucap Virginia menyenggol pelan lengan Jio sambil membuang muka ke arah lain. Menutupi rasa malu yang membuat pipinya merah merona.


"Kamu tidak suka aku menatapmu seperti itu?" tanya Jio.


Tidak menjawab, Nona muda Brown hanya kembali tersenyum.


"Kamu cantik..." lirih Jio membuat Virginia semakin tertarik ke dalam angan yang semakin jauh.


***


Di atas kap mobil sport mewah ada dua pemuda yang sama - sama sulit menyatakan cinta.


Sedangkan di dalam sebuah bilik kamar yang sempit ada seorang pemuda yang sedang melamun di bawah cahaya lampu temaram yang masuk ke dalam kamarnya. Hanya cahaya dari lampu di luar kamar yang masuk melalui celah - celah jendela yang kini menerangi kamar pribadinya.


Pemuda itu duduk di kursi yang menghadap meja, dengan sebuah kaca cukup besar yang menempel di dindingnya, dengan keadaan ruangan yang setengah gelap. Di tangan sang pemuda ada jaket kulit hitam pemberian sang Nona muda. Tangan kanan meraba betapa halus dan terlihat mahal jaket kulit itu.


Sedangkan angannya terbawa oleh lamunan yang mengingat betapa cantik Nona muda Xavier saat pertama kali mereka bertemu. Tapi ia tau siapa dirinya, sehingga mana mungkin ia berani menatap Nona muda lebih dari 10 detik.


Yang ada ia hanya bisa menunduk dalam. Karena takut dengan Glock Tuan besar tentu saja. Ia masih ingin hidup. Ia masih ingin menjajal untuk bertarung bersama klan Black Hold sampai usia pensiun. Seperti yang di lakukan oleh sang Ayah.


Xiaoli berdiri, ia kenakan jaket kulit yang terasa begitu nyaman dan hangat. Selesai memakai, barulah ia nyalakan lampu utama kamarnya. Berharap semua ini nyata dan benar adanya. Jika ia memiliki sebuah benda pemberian sang Nona Muda.


Bibir tersenyum tipis, menatap diri dari pantulan cermin. Dimana ia terlihat dua kali lebih tampan dengan jaket kulit itu.


"Percaya diri sekali!" gumamnya mengatai diri sendiri dengan tersenyum lucu.


Puas mencoba, ia lepas kembali. Ia terlalu rendah untuk bisa menerima jaket itu. Kemudian ia gantung jaket kulit hitam itu di dalam almari. Ia tak mau di bilang memanfaatkan Nona muda untuk mendapatkan barang bagus.


"Terima kasih, Nona..." lirih Xiaoli sebelum menutup pintu almari gantung miliknya.


Kini Xiaoli membaringkan tubuhnya kembali. Bersiap menyambut hari esok, dimana ia harus kembali bertugas sebagai... Bodyguard.


Posisi yang di larang keras untuk bermimpi memiliki seorang anak pemimpin klan.


Memejamkan matanya dalam, Xiaoli ingin melepaskan diri dari ingatannya tentang kecantikan Nona muda Xavier. Gadis yang membuatnya harus menjalani operasi di kepala. Namun sama sekali tak membuat dirinya terbebani. Asal ia masih bisa hidup itu sudah bagus.


Ada orang tua di daratan China yang selalu menanti kabar darinya. Ada Kakak perempuan yang kini berstatus single parent.


Tentu ia tak ingin di pecat paksa atau bahkan di bunuh. Sejak kecil ia sudah mendengar sepak terjang Klan Black Hold dari sang Ayah dalam dunia hitam Mafia.


***


Cinta... Satu kata yang sangat simple untuk di ucap, tapi sangat rumit untuk di jalani.


Berbagai rintangan sudah menjadi hal biasa bagi pelaku cinta.


Dan strata adalah salah satu rintangan terbesar dalam alur pencapaian cinta.


...🪴 Happy Reading 🪴...