Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 98 Salah Sangka


Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Renata terus menatap ke arah kaca mobil dan sesekali terlihat butiran bening menetes di pipinya. Setelah membaca buku diary Aska, Renata akhirnya menyerah untuk mendekati Aska. Cinta pada Aska sudah bertepuk sebelah tangan. Ternyata Aska tidak pernah tertarik padanya, dia merasa yang Aska lakukan kemarin hanya ingin bermain-main dengannya. Karena Aska hanya menyukai wanita yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil dan telah menjadi adik sambungnya, yaitu Niana.


"Kenapa aku naif sekali, tidak mungkin kemarin Kak Aska ingin menciumku. Mungkin benar yang sering dikatakan Kak Aska kalau aku terlalu percaya diri. Ck, tidak mungkin dia menyukaiku, wanita yang dia sukai hanya Kak Niana. Bahkan dia sudah menyukainya dari kecil. Tidak mungkin aku bisa menjadi bagian penting di hatinya. Mulai sekarang aku harus menjauh darinya walaupun Kak Aska juga tidak mungkin bersama Kak Niana. Tetapi aku juga tidak ingin mengejar orang yang belum selesai dengan masa lalunya. Aku juga akan mencabut berkas lamaranku dari kantornya. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi agar aku bisa segera melupakannya" batin Renata sambil mengusap air matanya


Sementara Aska masih duduk di atas kasur terlihat mengacak kasar rambutnya karena tak mampu berkata apa-apa pada Renata. Dia pun merasa masih lemas sehingga dia menghempaskan kembali badannya ke kasur. Dipandanginya langit-langit kamarnya, dia merasa tidak terima ditinggalkan Renata begitu saja disaat hatinya mulai terbuka untuknya. Suasana hatinya tidak nyaman karena wajah Renata selalu terbayang dalam pikirannya. Matanya pun jadi sulit terpejam.


Kemudian Aska pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Selesai mandi Aska mengeringkan rambutnya. Dia duduk di sofa yang ada di samping meja kerjanya. Saat bola matanya mengedar ke meja kerjanya, dia melihat foto yang ada di atas meja kerjanya sedikit tidak pas. Tangannya segera berhenti mengeringkan rambut. Diambilnya pigura foto itu dan dilihatnya bagian belakangnya. Terlihat foto Niana dalam posisi terbalik. Sepertinya Renata telah salah meletakan kembali foto Niana.


"Kenapa foto Niana terbalik? Apakah Renata telah melihatnya" ucap Aska


Aska pun langsung melirik ke arah buku diarynya. Dia melihat pulpennya tepat berada di balik cover buku, seharusnya pulpen itu ada di halaman terakhir dia menulis diarynya. Matanya pun menatap nanar ke arah buku yang dipegangnya karena ada tulisannya yang luntur seperti habis terkena tetesan sesuatu cairan bening yang membuatnya basah. Mungkin waktu Renata membaca buku diari Aska, dia menangis dan air matanya menetes di buku diary Aska. Aska pun curiga Renata telah membaca buku diarynya.


"Sial, Renata pasti telah membaca buku diaryku. Apakah dia membacanya sampai selesai? Bukankan pulpen ini harusnya ada di halaman terakhir aku menulis? Kalau pulpen ini berada di belakang cover artinya Renata telah membaca sampai akhir dan harusnya dia tahu perasaanku padanya kan? Harusnya dia juga tahu aku dulu memang menyukai Niana tapi setelah Renata masuk ke dalam hidupku, aku mulai menyukainya. Lalu kenapa dia malah terlihat seperti ingin menjauh dariku? Apakah dia tidak menyukaiku? Bukankah sikapnya padaku selama ini karena dia menyukaiku? Lalu apa yang membuatnya seperti ingin menjauhiku? Apakah dia hanya ingin mempermainkanku setelah tahu aku mulai menyukainya lalu dia pergi begitu saja?" batin Aska kesal


Aska menjadi salah sangka karena mengira Renata yang telah mengetahui perasaannya yang ditulis dalam buku diarynya malah ingin menjauhinya. Renata sebenarnya belum membaca diary Aska sampai selesai. Pulpen itu pindah posisi dari halaman akhir Aska menulis menjadi tepat di belakang cover karena Renata asal menaruhnya saat pulpen itu terjatuh. Dia langsung berhenti membaca karena sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan membaca kisah cinta Aska pada Niana yang ditulis dalam buku diarynya.


"Baiklah kalau kamu hanya ingin bermain-main denganku maka aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan permainanmu begitu saja. Lihatlah bagaimana aku juga akan bermain-main sepertimu" ucap Aska bersedekap dada sambil tersenyum menyudut ke salah satu sisi


Akhirnya Renata pun sampai rumah dengan raut wajah yang sedikit sembab dan tidak bersemangat. Renata benar-benar merasa patah hati karena cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Dia pun langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Lalu melempar tasnya ke kasur dan menghempaskan badannya dengan posisis tengkurap di atas kasur.


Karena dari tadi dia hanya bisa membungkam mulutnya saat menangis. Sekarang dia meluapkan kesedihannya dengan menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba terdengar suara ponsel dari dalam tasnya. Dia langsung bangun dan mengambil ponselnya.


"Kak Aska? Ada apa lagi dia meneleponku" ucap Renata langsung mematikan panggilan dari Aska


Ponselnya pun berbunyi lagi untuk kedua kalinya. "Bagaimana kalau penting? Dia kan sedang sakit apakah terjadi sesuatu pada Kak Aska. Sebaiknya aku angkat saja" batin Renata sambil menghapus air matanya


"Halo" ucap Renata lirih saat mengangkat ponselnya


"Kamu belum menyetrika bajuku kenapa sudah pulang. Besok pagi kamu harus datang ke rumah" ucap Aska ketus


"Bukankah besok hari minggu, Kak Aska libur ke kantor kan? Jadi aku tidak perlu menyetrika baju dan tugasku sudah selesai hari ini" protes Renata


"Tapi hari senin aku berangkat ke kantor, jadi kamu harus menyetrika" ucap Aska


"Hari senin itu urusan kakak, tugasku sudah selesai hari sabtu ini" ucap Renata ketus


"Tidak bisa, besok pagi kamu harus ke rumah. Kalau tidak aku yang akan ke rumahmu dan mengatakan pada mamamu kalau puterinya tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya yang telah merugikan orang lain" ucap Aska mengancam


"Aku tidak peduli, datanglah saja. Pintu rumah terbuka lebar untukmu. Bukankah kamu lebih senang kalau datang ke rumah dan bertemu Kak Niana" ucap Renata menyindir Aska


"Apa maksud Renata aku lebih senang bertemu Niana?" batin Aska


"Aku mau bertemu mama mu, bukan Niana.Untuk menyuruh puterinya agar belajar bertanggung jawab" ucap Aska


"Bukankah aku sudah bertanggung jawab. Terserah siapa yang mau kakak temui" ucap Renata langsung mematikan ponselnya


Ponsel Renata pun berdering kembali tetapi Renata tidak mau mengangkatnya. Renata langsung memblokir nomer Aska karena dia tidak ingin berhubungan lagi dengan Aska. Dia ingin segera melupakan Aska dari hidupnya.


Keesokan paginya Aska benar-benar datang ke rumah. Awalnya dia sedikit kesulitan untuk masuk ke perumahaan Sanjaya karena Mr Ken telah memperketat keamanan di pintu gerbang pertama perumahaan Sanjaya. Bagi semua yang ingin masuk ke perumahaan Sanjaya, selain wajib menunjukan kartu identitas juga harus menunjukan bukti bahwa telah membuat janji dengan orang yang ada di dalam perumahaan Sanjaya serta menunjukan bukti bahwa tuan rumah telah menyetujui janji yang mereka buat.


Dengan bantuan Niana akhirnya Aska bisa melewati pintu gerbang pertama. Aska mendapat kabar dari orang tuanya kalau Niana sedang hamil. Dia pun beralasan pada Niana ingin bertemu dengannya karena ingin melihat keadaannya yang sedang hamil.


Akhirnya Aska sampai di gerbang rumah. Dia langsung memarkirkan mobilnya di garasi mobil khusus tamu. Dia keluar dari mobil dengan membawa bingkisan parcel buah. Sesampainya di teras rumah, terlihat Niana berdiri menunggunya di depan pintu. Niana langsung mengajak Aska masuk rumah.


"Kak Aska ayo masuk aku kenalkan sama mama mertuaku" ucap Niana mengajak Aska menuju ruang tengah menemui Mama Sofi yang tengah merajut sambil menonton TV


"Baiklah" ucap Aska