Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 49 Sisi alimnya membuyarkan angan liarnya


Mentari pagi telah bersinar cerah mengintip Dirga yang masih tertidur di ranjangnya.Walau kamarnya tertutup gorden tetapi sinar-sinar nakalnya masih berusaha menembus kain gorden membuat cahaya terang mengelitik ke arah mata Dirga. Dengan mata masih terpejam tangan kirinya memegangi kain washlap yang menempel di dahinya lalu meletakannya di atas nakas. Tangan kanannya meraba-raba ke samping ranjang mencari keberadaan Niana. Kemudian Dirga membuka matanya dan menoleh ke samping, tidak ada Niana di sampingnya.


"Niana, dimana dia. Kenapa tidak ada di sampingku" batin Dirga khawatir


Terlintas mimpi buruk yang yang semalam datang mengusik tidurnya. Sepertinya mimpi buruk itu sulit untuk dia lupakan walau hanya sebuah bunga tidur yang belum tentu terjadi. Dia pun segera bangun lalu duduk di ranjang ingin mencari Niana. Saat melihat ke arah sofa Niana terlihat tidur meringkuk di atas sofa. Dirga melangkah menuju sofa tempat Niana tidur.


"Kau membuat ku khawatir sekali, aku kira Tania telah mengambilmu dariku. Aku janji akan menjagamu. Tak akan ku biarkan Tania menyakitimu sedikit pun" batin Dirga yang duduk di depan Niana


Kakinya berjongkok, tanganya menyibakan rambut Niana yang menutupi wajah ke belakang telinganya. Dia mencium kening istrinya lalu hidung mancungnya kemudian bibirnya secara lembut. Setelah itu dia menggendong Niana dan akan memindahkannya ke ranjang. Dengan pelan dia membaringkan Niana di ranjang lalu menyelimutinya. Dirga pergi mandi dan bersiap-siap ke kantor karena dia merasa sudah baik dan demamnya sudah mulai reda.


"Kenapa aku bisa tidur di ranjang, apa Dirga yang memindahkanku. Dimana dia?" ucap Niana sambil melemaskan otot tangan dan punggungnya


Niana segera bangun karena Dirga yang sedang sakit tiba-tiba tidak ada di kamar. Dia berlari menuju ruang ganti baju untuk mencari Dirga. Takutnya Dirga pingsan di kamar mandi karena kemarin dia juga hampir pingsan dan demamnya sangat tinggi. Dibukanya pintu ruang ganti baju itu dengan tergesa.


"Tidak.... !! Apa yang kamu lakukan" ucap Niana berteriak menutup kedua matanya dengan kedua tangan, saat mendapati tubuh polos Dirga tidak memakai apa-apa.


Dirga yang kaget pun langsung mengambil bathrobenya yang di gantung di tiang gantungan dan memakainya kembali. Lalu dia melangkah menghampiri Niana. Tangannya memegang kedua tangan Niana berusaha melepas tangan Niana yang sedang menutup mata.


"Lepas tanganmu, buka matamu dan lihat aku" bisik Dirga lirih ke telinga Niana


"Tidak, dasar mesum tidak bermoral, pakailah bajumu. Kenapa telanjang di depanku" ucap Niana masih memejamkan mata dan menutup mata dengan tangannya


"Bukannya kamu yang mesum ingin mengintip tubuhku. Ayo lihatlah bukankah kamu ingin melihatnya" ucap Dirga dengan nada menggoda


"Siapa yang ingin mengintip, kamu yang tidak mengunci pintu"


"Ayo bukalah matamu, daripada kamu penasaran. Atau kamu ingin membayar dengan hal yang sama" ucap Dirga memaksa Niana membuka mata


"Bayar hal yang sama lagi. Kalau dia sudah berkata hal yang sama pasti ingin mengambil kesempatan dalam ketidaksengajaanku" batin Niana


"Apa kau sudah menutup tubuhmu" tanya Niana


"Kalau kau ingin tahu, bukalah matamu"


"Tidak, cepat pakai bajumu. Kamu sudah menodai mata suciku" ucap Niana


"Dasar bodoh kalau kamu masih di sini bagaimana aku mau ganti baju. Apakah kamu ingin aku menodai yang lain selain matamu?" ucap Dirga lalu tersenyum


"Apakah aku harus membuka mata tetapi kalau dia masih telanjang pikiranku akan semakin bergidik ngeri. Kalau aku tidak membuka mata dia akan meminta hal yang sama, tidak...tidak... Aku tidak akan membiarkannya melihat tubuku juga. Lebih baik aku buka mata lalu kabur dari hadapannya" batin Niana


"Tutuplah pintunya dan pakailah bajumu, dasar mesum" titah Niana setelah membuka matanya dan langsung lari secepat kilat walau dia melihat Dirga sudah menutupi tubuhnya dengan bathrobenya


"Baiklah, awas ya jangan mengintip lagi" seru Dirga


"Sedang sakit saja bisa mesum, apa dia mengalami krisis moral" batin Niana setelah pintu ruang ganti baju ditutup Dirga


Niana langsung berlari menuju ranjang kemudian bersembunyi masuk ke dalam selimut. Dia merasa malu sendiri telah melihat Dirga tanpa sehelai benang pun. Padahal harusnya Dirga yang malu dan marah padanya. Tetapi sepertinya Dirga malah senang atas sikap konyol istrinya.


Aliran darah Niana berdesir kencang saat terlintas tubuh polos Dirga. Apalagi saat samar-samar teringat bagian bawah miliknya membuatnya memejamkan mata dan bergidik ngeri. Seumur hidup baru kali itu dia melihat secara langsung milik lelaki yang katanya bisa membawa wanita terbang melayang mereguk kenikmatam surga dunia. Angan liarnya pun menjadi tumbuh dan berkembang membayangkan sesuatu yang indah. Tiba-tiba sisi alimnya membuyarkan angan liarnya itu. Dia pun langsung menepuk-nepuk pipinya sendiri agar tersadar dari lamunan kotornya.


"Tuan Tengil itu benar-benar tidak bermoral, bisa-bisanya ganti baju tanpa mengunci pintu giliran almari yang berisi baju dia kunci rapat-rapat dengan pasword" gerutu Niana di balik selimut


"Heemmmm, apa yang kamu lakukan di dalam selimut? Keluarlah aku mau berangkat ke kantor" ucap Dirga berdiri di samping ranjang


"Apakah kamu sudah sembuh?" tanya Niana yang membuka sedikit selimutnya, mengintip ke arah Dirga untuk memastikan dia sudah berpakaian


"Omong kosong apa yang dia ucapkan. Mau membuatku luluh dengan rayuan manismu. Jangan harap" batin Niana sudah keluar dari balik selimutnya


"Baguslah kalau begitu segeralah pergi ke kantor" ucap Niana


"Aku berangkat dulu" ucap Dirga msnghampiri Niana lalu mengecup kening Niana


"Berangkat saja kenapa harus menciumku segala, menyebalkan" batin Niana


Setelah Dirga pergi Niana mandi dan turun ke bawah untuk sarapan. Niana menuju dapur mencari Bi Mar karena dia tidak mau makan sendirian di meja makan yang besar dan panjang di ruang makan. Bi Mar terlihat sedang mengupas sayuran untuk makan siang nanti.


"Pagi Bi" sapa Niana


"Pagi nona, kenapa nona sarapan di sini. Ini tempatnya pelayan, tidak pantas Nona Muda sarapan di meja pelayan" ucap Bi Mar


"Tidak apa-apa Bi, Niana ingin makan disini sambil ngobrol sama bibi biar ada temanya" ucap Niana


"Tapi kalau Nyonya Besar tahu nanti kita kena marah kalau menantunya makan di meja pelayan" ucap Rumi yang tiba-tiba datang


"Memangnya Nyonya Besar ada di rumah?" tanya Niana


"Nyonya besar ada di ruang tengah nona, sedang menonton TV sambil merajut" ucap Rumi


"Merajut?" ucap Niana


"Iya nona, Nyonya besar suka merajut. Kalau merajut saya disuruh menemaninya membantu memasukan benang" ucap Rumi


"Kenapa Rumi tidak ikut merajut?" ucap Niana menghabiskan makannya


"Rumi tidak bisa merajut gimana mau ikut. Rumi udah pusing lihat benang dililit begini begini begini" ucap Rumi sambil mempraktikan tangan yang sedang merajut


"Ha ha ha kamu lucu juga Rum" ucap Niana


"Rumi.. Rumi... kamu itu bantu Bi Mar masak saja kalau pusing melihat benang" ucap Bi Mar


"Siap Bi" seru Rumi


"Bi, ada stroberry tidak, aku mau buat jus stroberry buat Mama Sofi" ucap Niana


"Pasti ada nona, Tuan Muda sudah menyuruh saya belanja stroberry segar tiap hari karena sepertinya nona suka sekali dengan stroberry" ucap Bi Mar


"Nona Niana saja yang menemani Nyonya Besar, biar Rumi yang buatkan jus stroberrynya. Pasti Nyonya Besar senang ditemani merajut sama menantunya" ucap Rumi


"Baiklah, Niana cuci piring dulu" ucap Niana selesai makan


"Biar Rumi cuciin saja nona, keburu Nyonya Besar memanggil Rumi lagi"


"Tidak apa-apa aku cuci sendiri sambil nunggu kamu buat jus" ucap Niana pada Rumi


"Nona, ini jusnya sudah siap" ucap Rumi


"Oke, terima kasih Rum"