Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 102 Ciuman Dadakan


Dalam perjalanan pulang menuju ke rumah, Aska dan Renata saling diam membisu. Mereka canggung untuk memulai bicara. Aska enggan membuka mulut untuk bicara karena masih merasa kesal dan cemburu dengan laki-laki yang berkenalan dengan Renata saat di cafe. Sedangkan Renata ikut membungkam mulutnya karena masih kesal dengan Aska yang masih saja mengikutinya, padahal dia sedang berusaha menghindari Aska agar bisa segera melupakannya. Karena saling diam-diaman, Renata pun jadi mengantuk dan tertidur.


Sepanjang perjalanan Aska berulang kali menelan salivanya karena rok mini Renata menampakan pahanya yang putih mulus dan bajunya yang seksi memperlihatkan lekukan yang membukit indah. Dia berusaha membenarkan posisi duduknya yang terasa tidak nyaman karena ada yang tengah menengang di bawah sana. Aska pun bersusah payah untuk tidak melihat ke arah Renata karena semakin sering melihatnya dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya.


Akhirnya Aska mengantarkan Renata sampai ke rumahnya. Dia memarkirkan mobilnya di depan teras. Kemudian dia melepas seat beltnya sendiri. Melihat Renata yang masih tertidur, dia tidak tega membangunkannya. Dengan detak jantung yang berdebar-debar, dia pelan-pelan melepaskan seat belt yang melingkar di tubuh Renata sambil memandangi wajah Renata yang terlihat sangat dekat di depan wajahnya. Rasanya dia sudah tidak bisa mengendalikan diri dan ingin mencium Renata yang masih tertidur itu. Rasa cemburu pada Toni pun membuatnya semakin tidak ingin kehilangannya. Tiba-tiba Renata pun terbangun dari tidurnya dan terjengit kaget melihat Aska yang seolah mau memeluk dan menciumnya.


"Kak Aska mau apa?" tanya Renata dengan mata mengerjap-ngerjap lalu menundukan wajahnya karena takut menatap wajah Aska yang berada tepat di depan wajahnya


"Memangnya kamu berharap aku mau apa?" lirih Aska dengan pandangan mata yang menukik ke bawah menatap dalam wajah Renata sambil melepaskan seat belt yang dipakai Renata


"Sudah sampai rumahmu, ayo kita turun" imbuh Aska dengan cepat mencium pipi Renata saat seat belt terlepas dan langsung kembali ke tempat duduknya


"Kak Aska kenapa menciumku?" ucap Renata


"Bukankah kamu sudah tahu semua perasaanku, jangan bilang kamu tidak pernah membaca buku diaryku. Jadi aku harap kamu jangan menemui laki-laki tadi" titah Aska


"Maaf kak, aku sudah lancang membacanya. Aku tahu Kak Aska menyukai Kak Niana tapi.." ucap Renata terhenti karena Aska mendadak mencium bibirnya dengan mata terpejam dan Renata langsung terkesiap dengan mata terbelalak


"Ayo kita turun, jangan katakan itu lagi" ucap Aska setelah melepas ciumannya dan Renata langsung memegang bibirnya


"Kenapa dia menciumku lagi. Bukankah satu-satunya wanita yang dia sukai hanya Kak Niana. Apakah dia menyukaiku?" batin Renata yang merasa bahagia karena ciuman dadakan yang diberikan Aska


"Heemm kenapa masih diam saja, ayo turun" titah Aska yang tengah membuka pintu mobil


"Sebaiknya kakak langsung pulang saja? Bukankah aku sudah sampai rumah" ucap Renata


"Jadi kamu mengusirku setelah ku antarkan pulang sampai rumah dengan selamat" tutur Aska kesal


"Bukan begitu, apa kakak masih punya kepentingan lain lagi selain mengantarku pulang?" ucap Renata


"Aku masih merindukan Niana jadi aku mau menemuinya lagi dan aku juga mau menyampaikan pada mamamu kalau aku sudah mengantarkan puterinya sampai rumah dengan selamat" tutur Aska


"Oh masih merindukan Kak Niana. Baik temuilah!" ucap Renata kesal karena cemburu dan segera keluar dari mobil lalu menutup pintu mobil dengan penuh amarah


"Dia kenapa lagi" ucap Aska mengelengkan kepalanya melihat sikap Renata yang tiba-tiba marah


"Bukankah barusan dia menciumku lalu kenapa dia terang-terangan mengatakan masih merindukan Kak Niana di depanku. Apakah dia sengaja mempermainkanku?" batin Renata yang sedang melangkah masuk rumah


"Renata kamu sudah pulang, dimana Aska?" tanya Niana yang duduk di ruang tengah bersama Mama Sofi


"Dia masih di depan kak" jawab Renata berlalu begitu saja dan langsung masuk kamar sambil mengusap sesuatu yang membasah di pipinya


"Ada apa dengan Renata? Kenapa dia seperti sedang menangis" batin Niana


Renata merasa sikap Aska padanya akhir-akhir ini seperti sedang menyukainya dan seolah memberinya harapan indah. Bahkan Aska sudah menciumnya tetapi saat Aska mengatakan masih merindukan Niana membuat Renata merasa hanya dipermainkan olehnya saja. Harapan indahnya pun langsung pupus dan membuatnya ingin menjauh darinya lagi.


"Baru saja dia membuat jantungku merasa berdebar-debar karena sikapnya, ternyata dia masih memikirkan dan merindukan Kak Niana. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Kenapa mempermainkanku seperti ini? Hatiku kenapa sesakit ini sih" batin Renata setelah menghempaskan tubuhnya tengkurap di atas kasur sambil menangis


Setelah Aska masuk menemui Niana dan Mama Sofi, Aska pun berpamitan pulang karena sudah mengantarkan Renata pulang dengan selamat. Niana pun mengantar Aska ke depan pintu.


"Kak Aska, apa yang kakak lakukan pada Renata? Kenapa dia sepertinya menangis" tanya Niana


"Dia menangis? Memangnya apa yang aku lakukan?" ucap Aska


"Tidak ada, sepanjang perjalanan, dia hanya diam dan tertidur. Bangun-bangun dia mengusirku untuk segera pulang tapi aku bilang masih merindukanmu jadi ingin menemuimu dan mamanya dulu" tutur Aska


"Benar hanya itu? Lalu kenapa dia menangis" tanya Niana


"Kakak juga tidak tahu, wanita memang sulit dimengerti. Tanya saja padanya" ucap Aska mengangkat kedua bahunya bersamaan


"Baiklah nanti aku tanya saja padanya" ucap Niana


"Kalau begitu kakak pulang dulu" ucap Aska segera masuk ke mobilnya


Setelah Aska melajukan mobilnya, Niana langsung masuk rumah dan menuju kamar Renata. Dia mengetuk pintu kamar Renata beberapa kali tetapi tidak ada jawaban. Karena pintunya tidak dikunci, akhirnya Niana masuk saja. Dia melihat Renata menangis dia atas kasurnya.


"Menyebalkan sekali, teganya Kak Aska mempermainkan perasaanku hiks hiks" lirih Renata duduk di atas kasur dan mendekap sebuah bantal


"Renata ada apa? Kenapa menangis?" tanya Niana yang tiba-tiba masuk ke kamarnya


"Kakak ipar, aku hanya sedih teringat drama korea yang kemarin aku tonton" ucap Renata mengusap air matanya


"Hemm jangan bohong, kamu tidak bisa membohongi kakak ipar mu ini. Katakan apa yang Kak Aska lakukan padamu sampai membuatmu menangis seperti ini" titah Renata ikut naik ke atas kasur dan duduk di samping Renata sambil memeluknya


"Kak Aska menciumku tapi dia masih menyukai wanita lain yang sudah menjadi istri orang, bukankah itu namanya mempermainkanku hiks.... " ucap Renata menangis lagi


"Kak Aska menciummu?" ucap Niana ternganga dan Renata hanya menganggukan kepalanya


"Lalu dari mana kamu tahu dia menyukai wanita lain yang sudah bersuami dan siapa wanita yang disukainya? Kenapa dia tidak pernah cerita kalau menyukai seseorang" ucap Niana


"Tidak mungkin aku bilang ke Kak Niana kalau Kak Aska selama ini menyukainya. Kak Aska sudah menyimpan perasaannya selama ini agar Kak Niana tidak mengetahuinya dan tidak menjauhinya. Aku tidak ingin membuat hubungan baik Kak Aska dan Kak Niana rusak gara-gara mulutku" batin Renata


"Rena baca buku diarynya kemarin tapi tidak tahu siapa wanita yang dia sukai karena Kak Aska selalu menyebut wanita itu my missing piece" ucap Renata


"Apa kamu membacanya buku diarynya sampai selesai? Mungkin saja dia menuliskan nama wanita yang dia sukai itu di diary selanjutnya" ucap Niana


"Bagaimana aku mau baca sampai selesai? Rena baru baca sampai pertengahan saja hati Rena sudah hancur karena cinta Rena hanya bertepuk sebelah tangan hiks..... " ucap Rena kembali menangis


"Wanita itu adalah kakak karena di balik foto Kak Niana tertulis kalimat you are my missing piece" batin Renata


"Sabar Rena sudah jangan sedih lagi. Kalau Kak Aska memang jodohmu dia akan bersamamu. Kamu masih punya kesempatan. Bukankah wanita yang dia sukai sudah bersuami. Tidak mungkin Kak Aska merusak hubungan orang lain" ucap Niana mengelus rambut Renata


"Gimana Rena tidak sedih, dia mencium Rena tapi dia sangat menyukai kakak ipar" batin Renata memeluk Niana


Malam semakin larut semakin sepi dan dingin, Dirga yang berada jauh di sana merasa sangat merindukan Niana. Hari ini adalah malam kedua dia harus tidur sendiri tanpa istrinya. Rasa rindu kian menggebu menelusup kalbu. Apalagi sudah lama dia tidak bercinta dengan Niana. Dia pun terlihat sulit memejamkan matanya. Diambilnya ponselnya yang ada di atas nakas dan mulai memanggil Niana. Dia memanggil beberapa kali tetapi Niana belum juga mengangkatnya hingga membuat hatinya semakin resah manahan kerinduan yang tengah melanda.


Denting jam di ruang tengah menunjukan pukul 7 malam. Niana yang sudah selesai makan setengah jam yang lalu mulai merasa mengantuk dan masuk ke kamarnya. Ponsel yang digenggamnya pun berdering saat dia mulai merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Dia mengangkat panggilan vidio dari Dirga.


"Sayang kamu belum tidur, bukankah disana sudah jam 11 malam" ucap Niana duduk di atas kasur sambil melihat ke arah ponsel memandangi wajah Dirga


"Aku tidak bisa tidur, kamu sedang apa? Malam ini aku sangat merindukanmu" ucap Dirga mengulum senyumnya


"Merindukanku? bukankah baru setengah jam yang lalu kita habis vidio call" ucap Niana memicingkan matanya mulai memikirkan ucapan Dirga yang penuh makna tersembunyi itu