Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 75 Sudah puas


Tak disangka Dirga malah terlihat mengulum senyumnya sendiri saat melihat wajahnya memang seperti Pinokio. Bahkan dia sendiri tak mampu menahan tawanya, hingga akhirnya dia benar-benar menertawakan dirinya sendiri atas kekonyolan Niana. Renata pun sampai terheran melihat Dirga yang tertawa hari ini, jarang sekali kakaknya yang sedingin es batu itu melebarkan senyumnya apalagi sampai mengeluarkan suara tawanya. Seolah es batu yang begitu keras telah mencair karena siraman kasih sayang dari Niana yang begitu hangat mengisi relung hati Dirga yang terdalam. Sungguh fenomena yang sangat langka terjadi di sepanjang kehidupan kakaknya itu.


"Ha ha ha ternyata lucu juga lukisan Niana, lihat bibirku saat bergerak si pinokio ini juga menirukannya" ucap Dirga di depan cermin sambil membuat gerakan tak jelas di bibirnya


"Pantas Kak Dirga memilih Kak Niana, ternyata dia satu-satunya wanita yang bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa" batin Renata


"Kak...Kak Dirga kendalikan tawamu, jaga image, banyak pelayan rumah yang melihat kakak. Simpanlah tawa kakak dan kembalilah ke kamar silahkan tertawa sepuasnya di kamar. Jika tidak ingin dianggap singa yang garang telah berubah menjadi seperti kucing penurut" bisik Renata menutupi mulutnya yang tengah berbisik ke telinga Dirga


"Aku hanya sedikit tersenyum, menjauhlah ! Mulutmu bau iler" titah Dirga sambil mendorong dahi Renata dengan ujung jari telunjuknya


"Kak Dirga, menyebalkan sekali. Aku sudah mandi dari pagi bahkan aku sudah..." ucap Renata yang langsung membungkam mulutnya sendiri karena hampir saja dia mau menceritakan kalau dia habis keluar rumah


"Kenapa menutup mulut sendiri, sudah sadar kalau mulutmu bau iler?" ejek Dirga


"Tuan Muda ini air minumnya" ucap Bi Mar yang masih tersenyum tipis sambil menyerahkan nampan berisi segelas air putih


"Niana, tunggulah hukumanku. Aku akan memberimu tanda kegemasan tanpa ampun" batin Dirga lalu segera mengambil gelas yang di atas nampan dan langsung bergegas menuju lantai atas


"Lebih baik kak Dirga segera kembali ke kamar dan bersembunyi di lubang semut sebelum semua orang melihat Pinokio berengkarnasi ke dunia manusia" seru Renata balik mengejek Dirga


Saat Dirga membuka pintu, Niana masih pura-pura terbaring malas di atas kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Padahal dari bangun tidur, dia sudah penuh energik membuat maha karya yang membuat semua orang menertawai Dirga. Sekarang dia pura-pura masih mengantuk di balik selimutnya seperti kucing yang meringkuk kedinginan. Kepalanya menyembul di balik selimut saat melihat Dirga mulai mendekatinya dengan membawa segelas air.


"Ck, aktingmu sungguh luar biasa. Sudah berani memcoret-coret wajahku sekarang pura-pura masih mengantuk" batin Dirga sambil berjalan mendekati Niana


"Nianku sayang, aku sudah membawa air minum untukmu. Bangunlah" ucap Dirga yang sudah duduk di bibir kasur


Niana menarik nafas panjang, menggeliat dan menguap sambil menarik ke dua tangannya ke atas seolah sedang meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal. Dia bangun dengan malasnya seperti masih mengantuk sekali. Matanya melirik ke arah bibir Dirga yang bergambar Pinokio. Dia pun menahan tawanya dengan memutar bola matanya ke arah lain asalkan tidak melihat ke arah Dirga sambil meminum di dalam gelas yang dipegangnya.


"Apakah kamu sudah puas?" tanya Dirga sambil tersenyum setelah Niana menghabiskan air minumnya dengan posisi Dirga condong ke arah Niana hingga wajahnya dekat sekali dengan wajah Niana. Kedua telapak tanganya ada di antara tubuh Niana bertumpu di atas kasur.


"Iya aku sudah tidak merasa haus lagi. Terima kasih" ucap Niana menunduk dan mengatupkan bibirnya sambil menghindari tatapan Dirga yang tajam ke arahnya. Apalagi mulut Dirga saat bergerak seolah kartun Pinokio yang terlukis di bibirnya juga ikut bicara membuat Niana harus terus bertahan untuk tidak tersenyum.


"Sepertinya kamu puas sekali" ucap Dirga dengan mata tajamnya lalu meraih pinggang Niana dan menariknya ke mendekat ke dalam pelukannya


Dirga langsung mengangkat tubuh Niana dari atas kasur dan memanggulnya di pundak kanannya. Tubuh Niana yang bergelantung di atas pundak Dirga, memberontak dan minta Dirga menurunkannya. Seolah tidak mempedulikan permintaan Niana, Dirga mempererat tangannya yang tengah merangkul kedua paha Niana yang putih mulus karena dressnya yang pendek tersibak tak mampu menutupi pahanya dengan sempurna. Dirga berjalan menuju toilet lalu menurunkan Niana di atas meja wastafel.


Sekarang Niana duduk di atas meja wastafel yang terbuat dari marmer dan berukuran luas dan panjang. Di belakangnya ada sebuah cermin besar yang menempel di dinding. Telapak tangan Dirga berada di antara tubuh Niana dan bersandar di atas meja wastafel.


"Kamu mau apa?" tanya Niana masih pura-pura polos dan tidak merasa melakukan apa-apa. Wajahnya menunduk menghindari tatapan Dirga yang sedikit kesal


"Ck, lihat ke cermin" ucap Dirga berdecak kesal karena dikerjai Niana


Nianapun menoleh ke arah cermin besar di belakangnya. Dia pun melihat wajah Dirga dari pantulan cermin sampai tidak bisa lagi menahan senyumnya. Akhirnya suara tawanya keluar juga setelah menahannya dari tadi. Dirga hanya menatapnya dengan wajah datar.


"Ha ha ha.... " Niana tertawa puas sekali sambil menutupi mulut dengan tangannya


"Kamu sudah puas?" tanya Dirga dan Niana hanya menganggukan kepala


"Sekarang bersihkan atau aku akan memaksa bibirmu membersihkan" titah Dirga mengulum senyumnya dengan tetap memasang wajah serius


"Baik aku akan membersihkannya" ucap Niana mengambil handuk kecil dan botol sabun muka yang ada di atas meja wastafel. Dia mulai menyemprotkan botol itu ke wajah Dirga yang berada sangat dekat di depan wajahnya. Niana memencet botol itu dengan perlahan sampai busa putih keluar mengelilingi sekitar bibir Dirga. Sepertinya Niana malah bermain-main dengan membuat wajah Dirga seperti berjenggot memakai busa putih itu.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Dirga melirik tajam ke mata Niana


"Wajahmu seperti orang tua yang dipenuhi jenggot putih" ucap Niana sambil tersenyum lagi. Lalu mengelapnya perlahan dengan handuk


"Bermain-mainlah sepuasmu, setelah ini gilirkanku yang bermain-main" ucap Dirga membuat Niana menelan salivanya dan menghentikan tangannya yang sedang membersihkan bibir Dirga


"Tuan Tengil ini mau main apa lagi, bukankah ini sudah sangat siang" batin Niana


"Sepertinya wajahmu sudah bersih. Sekarang mandilah ini sudah sangat siang, kamu harus segera ke kantor kan" ucap Niana menahan pundak Dirga karena wajah Dirga semakin mendekat ke wajahnya.


Punggung Niana sampai condong ke belakang dan kedua telapak tangannya yang bersandar di atas meja wastafel terlihat sedikit ditekuk hingga kepalanya hampir menempel ke cermin yang ada di belakangnya. Dengan cepat tangan Dirga meraih pinggang Niana dan menariknya mendekat ke tubuhnya. Dirga langsung mencium bibir Niana dengan sangat dalam. Dia menghisap bibir mungil Niana dan memainkan lidahnya di dalam mulut Niana dengab penuh gairah. Niana seperti ikan yang gelagapan di atas daratan karena menahan nafasnya saat diserang ciuman mematikan dari Dirga.


"Ambil nafas, apa kamu mau mati" ucap Dirga lirih menghentikan sejenak ciumannya