Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 58 Tak tahan diam-diaman terlalu lama


Sore itu Mama Sofi pulang bersama Renata dan Niana. Setelah mengantarkan Mama Sofi ke kamarnya. Niana menaiki tangga menuju kamarnya untuk membersihkan diri setelah berjibaku dengan pekerjaannya yang membuat tubuhnya lengket seperti luluran pakai lem. Bagaimana tidak lengket segala pekerjaan cleaning servis dia kerja sendiri saat di tokonya.


Di dalam kamar Niana mondar mandir memikirkan siasatnya untuk besok. Sebelum hari esok tiba, Niana ingin tahu apakah Dirga benar-benar mencintainya atau hanya pura-pura cinta. Dia pun mengingat ucapan Andrea tadi pagi.


"Apakah trik yang diberikan Andrea akan mampu membantuku menerawang mata Dirga?" batin Niana sambil menggigit kuku dan masih mondar mandir di samping ranjang


Seperti biasa setelah makan malam, Niana langsung masuk ke kamarnya. Dia jarang sekali makan malam bersama Dirga karena Dirga selalu pulang diatas jam 8 malam. Kalau menunggu Dirga pulang untuk makan bersama keburu perutnya melilit dan usus-ususnya lengket. Dirga pun juga tidak pernah melarang Niana makan malam duluan karena dia tidak ingin Niana sakit menahan lapar hanya untuk menunggunya pulang.


Niana terlihat sedang duduk menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil melihat layar leptopnya. Dia tengah asyik menonton sebuah drama sambil memakan camilan buah. Terdengar langkah kaki menaiki anak tangga. Kemudian handle pintu kamar bergerak, Dirga pun masuk dan langsung menuju ruang ganti tanpa menyapa Niana. Bahkan menoleh ke arah Niana pun tidak dilakukannya. Setelah kejadian pertengkaran tadi pagi, sepertinya mereka membisukan diri dalam ego masing-masing.


"Bagaimana mungkin dengan suasana hatinya yang kurang baik seperti sekarang, aku bisa bersikap manis padanya apalagi memperhatikan matanya. Langkah kakinya saja sudah membuatku takut sampai bergidik ngeri" batin Niana


Terdengar suara pintu ruang ganti baju bergeser dan terbuka, Dirga pun keluar dari ruang itu. Sementara Niana pura-pura sudah tertidur dengan posisi membelakangi Dirga yang telah merebahkan diri di sampingnya. Hanya keheningan malam dan suara detikan jarum jam dinding yang mengisi ruang kamar itu. Niana yang sudah terbiasa disentuh, dipeluk dan dicium Dirga mulai merasa merindukan itu semua.


Angin malam berhembus dan semilir dingin menyapa dua insan yang sedang terdiam membisu. Rasa gelisah tak menentu membuat Dirga tak bisa tertidur. Sudah berulang kali Dirga berguling guling tidak jelas dan merubah posisi tidurnya dari miring kanan, miring kiri, telentang dan tengkurap tetap tidak bisa membuatnya nyaman dan terpejam. Meski Dirga masih terlarut dalam kata cerai yang dilontarkan Niana tadi pagi tetapi bukan itu yang membuatnya tidak bisa tidur. Sebenarnya Dirga idak bisa tidur karena tidak bisa bercengkrama dengan Niana. Biasanya sebelum tidur dia selalu memandangi wajah istrinya, lalu memberi kecupan hangat di keningnya.


Niana merasa risih dengan gerakan Dirga yang bergonta-ganti posisi tidur. Suara gesekan tubuhnya di atas sprei kasur benar-benar mengganggu Niana untuk menuju alam mimpi. Sehingga dia ikut merasa tidak bisa tidur dengan nyaman juga. Lalu Niana beranjak dari kasur dan pindah tidur di sofa dengan membawa bantal.


"Hemmm" seru Dirga dengan wajah datar sambil melirik Niana yang tengah menaruh bantal di sofa


Akhirnya suara Dirga yang cumah hem-hem saja telah memecah keheningan malam di kamar itu. Tetapi Niana tak menanggapinya dan melanjutkan tidurnya. Dirga terpaksa mengalahkan egonya sendiri karena tidak bisa menahan untuk diam-diaman dengan Niana terlalu lama. Dirga pun berjalan menghampiri Niana dan ikut berbaring bersamanya di sofa yang sempit itu. Tangannya melingkar di perut Niana, memeluk erat Niana yang tidur miring membelakangi Dirga.


"Apa yang kamu lakukan, pergilah ke kasurmu sendiri" ucap Niana berusaha melepaskan pelukan tangan Dirga


"Aku akan tidur dimana istriku tidur" ucap Dirga semakin mempererat pelukannya


"Tapi sofa ini sempit, aku tidak bisa tidur kalau kamu tidur di sini juga" protes Niana


"Baiklah, kalau begitu ayo pindah" ucap Dirga langsung mengendong Niana kembali ke kasur


"Turunkan aku, aku mau tidur di sofa" ucap Niana


"Kalau kamu tidak patuh, aku akan memberimu tanda kegemasan seperti ini" ucap Dirga langsung mendaratkan gigitan gemas di leher Niana sambil menggendongnya


"Baik, hentikan. Aku tidur di kasur tapi jangan berubah-ubah posisi terus karena sangat menggangguku" titah Niana


"Siapa juga yang mau memelukmu" batin Niana


"Aku tidak mau memelukmu" ucap Niana


"Kalau begitu aku yang akan memelukmu" ucap Dirga mendaratkan ciuman di pipi Niana


Dirga langsung meraih tubuh Niana dan meletakan kepala Niana di atas lengan kanannya. Tangan kirinya melingkar di atas dada Niana lalu memejamkan matanya. Akhirnya Dirga bisa merasakan kenyamanan dalam tidurnya. Irama jantung Niana menjadi tak beraturan dipeluk Dirga seperti itu. Matanya masih terbuka lebar melirik ke wajah Dirga yang sudah terpejam. Entah sudah tidur atau hanya pura-pura tidur karena jantungnya sendiri juga berdegub kencang.


"Dirgaaa......?" ucap Niana lirih dengan nada manja mendayu-dayu sambil menarik ujung lengan piyama yang dikenakan Dirga


Dirga yang tadinya terpejam langsung terbelalak matanya. Jantungnya langsung berdetak lebih kencang dari yang tadi. Hatinya bahagia sampai bunga-bunga bermekaran di sana. Dia masih tidak percaya suara apa yang barusan Niana katakan. Suara manja Niana dan pertama kalinya dia dengar.


"Coba panggil aku lagi seperti tadi" titah Dirga


"Dirgaaa... " ucap Nianaa seperti tadi dengan nada lirih dan manja sambil menarik ujung lengan piyama Dirga


"Kamu manis sekali, ada apa Nianku sayang?"


"Emmpp... apakah kamu mencintaiku?" tanya Niana


"Bukankan aku sudah sering berkata padamu" ucap Dirga


"Aku ingin kamu mengatakannya lagi" pinta Niana


"Aku mencintaimu, apakah kamu mencintaiku juga?" ucap Dirga dengan nada cepat


Niana tak menanggapi perkataan Dirga lalu diam membisu. Niana langsung merubah posisi tubuhnya membelakangi Dirga, butiran bening menetes di pipinya Karena perkataan Dirga tidak seperti yang dia harapakan. Dia mengartikan Dirga tidak mencintainya karena matanya tidak menatap dalam padanya dan secepat kilat mengatakannya. Niana berharap Dirga mengatakannya dengan penuh perasaan tetapi gayung tidak bersambut sesuai harapannya.


Tiba-tiba Dirga merubah posisinya di atas tubuh Niana. Niana yang tadinya tidur memiringkan tubuh kini tubuhnya berbaring telentang di bawah Dirga. Dirga terdiam sejenak dan menatapnya dengan tatapan dalam ke arahnya.


"Aku sangat mencintaimu Niana Zatunissa" ucap Dirga lirih sambil mengusap air mata yang menetes di pipi Niana


Mendengar pernyataan dari Dirga, Niana pun langsung mengecup ringan bibir Dirga dengan secepat kilat seperti elang menyambar mangsanya. Dirga pun membalasnya dengan lembut dan penuh cinta. Dirga mulai menyusuri leher Niana hingga memberikan tanda kegemasan di beberapa titik.