
Di sebuah resto hotel mewah, Renata masih menemani Aska yang sedang melakukan meeting dengan kliennya. Aska meminta Renata menjadi sekretarisnya sementara karena sekretarisnya mengalami kecelakaan saat menuju resto. Karena kecelakaan itu sekretarisnya mengalami cidera di bagian kaki sehingga untuk sementara tidak bisa bekerja. Akhirnya sekretarisnya tidak bisa menemani Aska meeting ke depannya sampai dinyatakan sembuh.
Hari ini Aska melakukan meeting 2 kali dengan klien yang berbeda. Sepertinya Renata telah menjadi dewi fortuna sedang menghampirinya karena semua presentasinya di depan klien langsung diacc semua. Kesuksesanya hari ini serta merta bukan karena usahanya sendiri tetapi karena Renata juga. Renata telah membuatkan file presentasi yang menarik dan mudah dipahami oleh klien sehingga Aska pun juga mudah dalam menyampaikan proposalnya kepada klien. Setelah meeting selesai, Mereka pun langsung pulang menuju ke rumah.
"Hemm, sepertinya belum terdengar ucapan apa gitu" gumam Renata di dalam mobil yang dikemudikan Aska
"Terima kasih sudah membantuku hari ini" ucap Aska singkat
"Terima kasih saja, tidak ada traktiran atau nonton bareng"
"Ck, jadi kamu menolong dengan pamrih" ucap Aska berdecak kesal
"Apa kakak tampan tidak ingat? Dalam kesepakatan kemarin kakak hanya memintaku untuk mengurus kebutuhan kakak sebelum berangkat kerja tapi kakak memintaku mengerjakan tugas yang seharusnya bukan tugasku. Harusnya aku dapat reward atas kesuksesan kakak hari ini" ucap Renata melirik ke arah Aska sambil menaik turunkan alisnya
"Hem, oke aku akan mentraktirmu tapi lain kali karena aku masih sibuk"
"Oke aku akan menunggu kabar baiknya"
"Sepertinya aku akan membutuhkanmu lagi untuk membantuku kalau ada meeting, sampai sekretarisku sembuh dari cideranya" tutur Aska
"Tenang kakak tampan, Renata selalu siap kapan saja, semua bisa diatur asal ada rewardnya"
"Memangnya kamu tidak punya kesibukan sendiri, seperti kuliah?"
"Aku baru saja tinggal lulus kuliah, so I always free now"
"Apa kamu tidak ingin magang atau nyari kerjaan, kenapa tidak memanfaatkan keahlianmu untuk bekerja?"
"Nanti saja, aku belum memikirkanya"
"Oh i see, kamu seorang puteri keluarga Sanjaya, pantas kamu bisa sesantai ini. Tidak perlu memikirkan cari kerja"
"Maksud kakak apa?"
"Kamu tidak perlu mikir cari kerja karena posisi di Sanjaya Group bisa kamu dapatkan dengan mudah"
"Aku malah tidak ingin kerja di sana. Karena tidak ada tantangannya, bagaimana kalau aku melamar kerja di perusahaan kakak tampan?"
"Masukan saja berkas lamaranmu ke HRD Askara Company karena aku tidak akan membantumu, berusahalah sendiri"
"Baiklah siapa takut" tutur Renata sambil melipat kedua tangannya di depan dada
"Besok pagi jangan sampai telat. Awas kalau telat lagi. Aku akan menambah tugasmu lagi dan tidak ada reward apapun" titah Aska
"Oke kakak tampan" ucap Renata menyungggingkan senyumnya dengan manis
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah.
"Turunlah, kita sudah sampai" ucap Aska
"Oh oke"
Tiba-tiba ponsel Renata berbunyi, dia mengangkatnya dengan ragu karena Aska masih berada di sampingnya. Aska pun hanya meliriknya dengan acuh.
"Ha..lo kak" ucap Renata ragu
"Aku main ke rumah teman. Kita sedang nyari-nyari kerjaan kak"
"Kamu ngapain saja? Kakak ingin lihat dimana kamu sekarang"
"A..aaku habis mengunjungi beberapa perusahaan yang kira-kira bisa aku lamar"
"Kenapa seperti orang susah, kamu kan bisa bekerja di Sanjaya groub"
"Aku tidak mau, Sanjaya Group kakak saja yang mengurus. Aku ingin melihat kemampuanku tanpa Sanjaya Group"
"Memangnya kamu punya kemampuan apa,selain menghabiskan uang?"
"Dasar kakak tidak perhatian, menyebalkan. Lihat saja aku bisa sukses tanpa bantuan kakak" ucap Renata kesal
"Baiklah tunjukanlah kemampuanmu. Lalu kamu sekarang dimana?" tanya Dirga lagi
"Aku masih di rumah teman kak"
"Jadi dari pagi kamu belum pulang juga? Keterlaluan sekali, dari pagi sekali sudah pergi tanpa pamit sekarang hampir sore belum pulang juga. Lalu kamu sedang apa? Aku ingin lihat temanmu laki-laki atau wanita?"
"Ee... temaku wanita kak tapi temanku pemalu jd ia tidak ingin dividio atau difoto. Dia juga mudah terbawa perasaan. Gimana kalau temanku mengira kakak menyukainya?" ucap Renata beralasan panjang lebar sambil nyengir kuda ke arah Aska
"Benarkah?" ucap Dirga tak percaya
"Dasar bocah tengil, jadi aku dibilang wanita yang mudah terbawa perasaan" batin Aska kesal
"Hemmm" Aska yang kesal karena dikatai wanita langsung berdehem karena tidak terima dibilang seorang wanita lalu Renata meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya untuk menyuruh Aska diam
"Itu suara siapa seperti suara laki-laki, kamu mau membohongi ku?"
"Kakak salah dengar, temanku memang suaranya sedikit ngebas jadi terdengar seperti suara laki-laki" ucap Renata melirik ke arah Aska. Nampak Aska tengah memutar bola matanya dengan jengah lalu keluar dari mobilnya karena mendengar bualan Renata
"Awas kalau kamu membohongiku, seluruh kartumu akan kakak bekukan"
"Rena tidak bohong. Lagian kakak ngapain mau lihat-lihat temanku, aku aduin kakak ipar kalau kakak mau genit sama temanku" ucap Renata mengancam
"Kalau begitu cepatlah pulang. Kalau dalam waktu 1 jam kamu belum sampai rumah, semua kartumu kakak sita" titah Dirga
"Iya ini Rena juga mau pulang. Menyebalkan sekali" ucap Renata menutup teleponnya
Renata pun segera turun dari mobil Aska dan berlari masuk ke mobilnya yang terparkir di depan rumah Aska. "Kak Aska aku pulang dulu" teriak Renata sambil berlari tergopoh membawa sebuah tas. Dengan kecepat kilat dia melajukan mobilnya agar bisa sampai di rumah dalam waktu kurang dari 1 jam. Seolah ingin mengalahkan kecepatan cahaya, dia langsung tancap gas dengan kecepetann tinggi. Aska pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Renata dari garasi mobilnya.
"Tas leptopku" ucap Aska saat membuka kunci pintu rumah
Aska langsung kembali ke mobilnya yang telah terparkir di garasi. Matanya mengedar ke segala arah setelah pintu mobil dibukanya. Namun, bukanya leptop yang ia temukan melainkan tas berisi kotak bekal yang biasa di bawa Renata tiap pagi.
"Gadis bodoh itu, ceroboh lagi" ucap Aska mulai panik dan mencari ke belakang di kursi penumpang walau ia tahu tidak mungkin leptop itu ada di kursi belakang karena sejak masuk mobil mereka tidak menyentuh kursi belakang sama sekali.
"Sial, gadis tengil itu benar-benar telah membawa leptopku. Bisa-bisanya di tidak bisa membedakan mana tas leptop dan mana tas bekalnya" gerutu Aska sambil menendang ban mobilnya dengan kesal
Alarm mobilnya langsung meraung-raung membuat tetangga komplekmya berhamburan keluar rumah mencoba mencari sumber suara itu. Aska pun segera mematikannya dengan remot di dalam sakunya. Merasa sudah tak ada harapan untuk menemukan leptopnya, Aska pun kembali menuju pintu rumah.
Sudah kesekian kali Aska dibuat kesal oleh kelakuan Renata. Kali ini leptop pentingnya yang berisi yang file-file yang akan dipakainya untuk bekerja malah terbawa oleh Renata. Seoalah dewi fortuna hari ini telah berubah menjadi dewi kemalangan baginya.