
Sementara di rumah besar Sanjaya, Niana yang bosan di dalam kamar ingin berkeliling melihat rumah Dirga. Dia pun turun ke lantai bawah sambil membawa nasi goreng yang dia tumpahkan tadi. Semua pelayan menunduk memberi hormat dan salam kepada Niana. Dengan senyuman ramah Niana pun membalas salam dari mereka.
"Nona Muda, apakah anda ingin sarapan biar saya buatkan, anda ingin makan apa? atau kalau anda butuh sesuatu bilang ke bibi" tanya Bi Mar
"Saya ingin membuat sarapan sendiri Bi, maaf tadi saya tidak sengaja menumpahkan nasi gorengnya"
"Tidak apa-apa nona, nona mau buat sarapan apa?"
"Saya mau buat sandwich saja bi" ucap Niana mau mencuci piring bekas nasi gorengnya
"Nona biar saya cucikan piringnya" ucap pelayan lain yang usianya terlihat lebih muda darinya
"Tidak apa-apa saya cuci sendiri saja. Oh iya kenalkan aku Niana" ucap Niana mengulurkan tangannya
"Saya Rumi nona" ucap Rumi menjabat tangan Niana ragu-ragu karena merasa sungka Nona Muda di rumah itu begitu ramah tidak seperti pacar Tuan Muda kemarin
"Bibi heran kenapa Tuan Dirga juga tidak mau sarapan nasi goreng hari ini, padahal Tuan Muda suka sekali nasi goreng buatan bibi" ucap Bi Mar
"Memang kenapa dia tidak sarapan bi"
"Bibi juga kurang tahu, sudah 2 kali ini dia tidak makan masakan bibi. Yang pertama sebulan yang lalu saat bibi masak nasi goreng kepiting. Dia tidak mau makan, malah menyuruh semua orang di rumah ini untuk tidak memasak semua makanan berbahan kepiting. Bibi juga tidak tahu apa sebabnya padahal tuan juga tidak alergi kepiting. Apakah Nona Niana ada alergi kepiting?"
"Kenapa Dirga sampe menyuruh semua orang untuk tidak makan kepiting selama ada di rumah, sebulan yang lalu bukannya dia menyuruhku memasak kepiting lalu aku sempat alergi. Apa karena aku dia jadi tidak suka kepiting. Ya ampun Niana jangan terlalu percaya diri. Memangnya Dirga segitu pedulikah sama kamu" batin Niana
"Iya bi saya alergi kepiting bahkan saya hampir mati waktu masih kecil karena memakan kepiting. Bukankah nasi goreng ini tidak ada kepitingnya bi. Kenapa dia tidak mau makan"
"Oh jadi Tuan Dirga tidak suka kepiting karena Nona Niana alergi kepiting" batin Bi Mar
"Mungkin karena nona tidak sarapan jadi Tuan Muda juga tidak mau sarapan. Tuan Muda sepertinya sangat menyanyangi nona" ucap Bi Mar
"He he iya mungkin bi" ucap Niana tersenyum seolah tidak percaya
"Rasanya aku ingin muntah mendengar perkataan Bi Mar. Bibi tidak tau saja bagaimana Dirga memperlakukan aku selama ini saat di kantor" batin Niana
"Kok mungkin, bibi tahu betul gimana Tuan Dirga karena dari kecil bibi yang merawat dan mengurus segala kebutuhannya"
"Lalu dari siapa bibi tahu kalau Dirga sangat menyayangiku?" tanya Niana penasaran
"Tahu dari ikat rambut nona ini" ucap Bi Mar sambil menyentuh ikat rambut yang dipakai Niana
"Memangnya apa hubunganya dengan ikat rambut saya bi?"
"Waktu itu tuan Dirga menyimpan ikat rambut milik nona di bawah bantalnya. Saat saya mengganti spreinya ikat rambut itu saya simpan. Malamnya dia panik mencari ikat rambut yang dia simpan di bawah bantal. Katanya dia tidak bisa tidur kalau tidak ada ikat rambut nona" ucap Bi Mar
"Benarkah seperti itu, jangan-jangan Bi Mar juga sudah bersekongkol dengan Dirga untuk membuat aku jatuh cinta dengannya. Di rumah ini siapa yang bisa aku percaya kalau Dirga adalah majikan mereka" batin Niana
"Oh iya bi, biasanya Dirga merayakan ulang tahunnya dimana dan sama siapa? Soalnya saya sama Dirga kenalan belum lama dan langsung nikah. Jadi belum tahu banyak tentang Dirga. Bisakah bibi menceritakannya?"
"Tuan Dirga tidak merayakan ulang tahunnya lagi semenjak hari ulang tahunnya menjadi hari kematian Tuan Besar Hartawan Sanjaya"
"Apa bibi juga tahu tentang Tania?"
"Saya kurang tahu nona, saya hanya melihatnya 2 kali nona Tania berkunjung ke rumah ini. Yang pertama saat Tuan Besar Meninggal dan yang ke dua belum lama ini.
"Tetapi tenang saja nona, tuan Dirga bersikap dingin pada nona Tania dan sepertinya tidak suka Tania datang ke rumah. Entah kenapa bibi juga tidak tahu, mungkin Tuan Dirga sudah putus dengan nona Tania dan mulai menyukai Nona Niana saat itu"
"Putus apanya, dia saja sudah punya rencana mau merayakan ulang tahunya dengan Tania. Jadi Bi Mar tidak tahu banyak tentang Tania, aku harus mencari tahu resto favoritnya Tania dari siapa, padahal pas Dirga makan bersama Tania bisa jadi bukti agar aku bisa segera cerai dengan Dirga. Mr Ken pun pasti juga tidak akan memberi tahu" batin Niana
"Oh iya bi, dimana Nyonya Sofi dan Renata. Kenapa dari tadi tidak kelihatan"
"Nona Rena sudah pergi ke kampus tadi pagi, kalau Nyonya Besar pergi arisan dengan sahabat-sahabatnya"
"Jam berapa Renata pulang kuliah bi"
"Tidak tentu nona, tergantung jadwal kuliahnya"
"Renata kuliah dimana Bi memangnya"
"Di Universitas Jakarta nona"
"Apa aku menemui Renata saja untuk mencari tahu tentang Tania" batin Niana
"Bi boleh minta no ponselnya Renata?"
"Baik nona" ucap Bi Mar mengeluarkan ponsel dari saku celananya
"Oh iya bi bisahkah bibi pinjamkan baju Renata, saya mau keluar karena bosan di rumah sebesar ini sendirian. Saya tidak ada baju, masa saya keluar pakai kemeja Dirga seperti ini"
"Baiklah nona, Rum tolong ambilkan bajunya Nona Renata yang masih bagus untuk Nona Muda" ucap Bi Mar
"Baik Bi" ucap
"Rumi tolong ambilkan baju yang sudah tidak dia pakai saja ya" ucap Niana
"Baik nona" ucap Rumi menuju kamar Renata
"Nona anda mau kemana? Apakah sudah izin sama Tuan Muda?" tanya Bi Mar
"Saya mau pulang sebentar ke rumah bi ambil baju" ucap Niana berbohong
"Ini nona, untung ukuran baju anda hampir sama dengan nona Renata. Baju ini masih bagus. Nona Rena juga sudah tidak memakainya" ucap Rumi
"Oke Rumi, terima kasih" ucap Niana lalu berlari menuju ke lantai atas dan membawa sandwichnya
Niana pun segera berganti baju dan menuju kampus Renata. Sebelumnya dia sudah mengirim chat kepada Renata akan menemuinya di kampus. Walaupun mereka belum akrab tetapi Renata mencoba dekat dengan kakak iparnya. Semakin dia bisa dekat dengan kakak iparnya, tentunya juga bisa membantu dia untuk membujuk Dirga jika ada masalah atau minta tambahan uang saku. Karena wanita yang dinikahi kakaknya pasti dialah satu-satunya penakluk kakaknya.