Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 38 Pura-pura hilang ingatan lagi


Setelah Niana menaruh surat pengunduran diri di atas meja kerja Dirga. Dia segera keluar dari gedung berjalan membawa barang-barangnya. Sorot mata Niana seperti tidak fokus saat berjalan karena banyak masalah berkecamuk di dalam pikirannya. Saat Niana keluar dari pintu utama gedung, dia berpapasan dengan Dirga dan Mr Ken di halaman kantor.


"Saya belum menyetujui anda mengundurkan diri" ucap Dirga menghentikan langakhnya


"Saya tidak terikat kontrak dengan Sanjaya Grub jadi saya bisa mengundurkan diri kapan saja"


"Apakah anda tidak membutuhkan pekerjaan? saya sudah tahu berita tentang perusahaan Permana Tech milik ayah anda yang saat ini di ambang kehancuran"


"Itu bukan urusan anda. Lebih baik saya pergi dari kantor ini daripada setiap hari dipermainkan, digosipkan dan sepertinya anda juga senang membenturkan saya dengan tunangan anda. Saya juga ingin hidup tenang jadi tolong biarkan saya pergi" ucap Niana meneteskan butiran bening dari matanya


"Nona Niana sebaiknya pikirkan lagi keputusan anda" ucap Mr Ken


"Keputusan saya sudah bulat, jadi saya tidak perlu memikirkan lagi. Permisi" ucap Niana mulai melangkahkan kakinya


"Tunggu...!" seru Dirga memegang lengan Niana dari belakang


"Lepaskan tangan saya pak. Saya mohon biarkan saya pergi karena anda tidak punya alasan lagi untuk membuat saya harus bertahan" ucap Niana sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Dirga dari lengannya


Niana langsung berlari saat pegangan tangan Dirga di lengannya mulai melemah. Niana berlari diiringi air mata yang membanjiri pipinya. Dirga yang khawatir Niana akan ceroboh di jalan karena pikiranya sedang kalut dihimpit kesedihan,lalu mengejarnya dari belakang diikuti Mr Ken juga. Niana pun mempercepat langkahnya saat menyadari Dirga mengejarnya.


Lampu lalu lintas dari arah kanannya sudah berwarna hijau tetapi Niana malah mau menyebrang. Dirga mempercepat larinya lalu menarik tangan Niana sambil memeluknya dan melindungi kepala Niana dengan tangannya. Mereka jatuh dan berguling guling di trotroar jalan yang berumput cukup tebal. Sayangnya kepala Dirga terbentur batu besar yang ada di tengah trotoar yang dipenuhi rumput itu. Sepertinya kepala Dirga hanya membentur pelan di batu besar itu.


"Pak Dirga, bangun pak" seru Niana memegang kedua pipi Dirga


"Tuan, bangun tuan" ucap Mr Ken yang datang dan memegang tangan Dirga


"Nona tolong tunggu disini saya akan mengambil mobil, kita bawa Tuan Dirga ke RS" ucap Mr Ken


"Baiklah, saya akan menemaninya disini" ucap Niana terlihat cemas


Dirga langsung dilarikan ke RS dengan mobil pribadi yang dibawa Mr Ken. Niana duduk di belakang bersama Dirga yang berbaring tidur dan kepalanya di pangkuan Niana. Tidak ada luka atau darah yang keluar dari kepalanya tetapi Dirga tak sadarkan diri. Sepanjang perjalanan ke RS Niana terlihat sangat cemas.


"Mr Ken kita sudah melewati RS nya, ayo putar balik"


"Tidak nona, Tuan Dirga harus dibawa ke Sanjaya Hospital milik keluarga Sanjaya yang lebih lengkap fasilitasnya" ucap Mr Ken yang mengemudi dengan kecepatan sedang


"Tapi apa dia tidak akan terlambat mendapatkan pertolongan? Lebih cepatlah lagi melajukan mobilnya" ucap Niana kesal dengan sikap santai Mr Ken


"Nona tenang saja, perhatikan saja Tuan Dirga" ucap Mr Ken tersenyum kecil tanpa diketahui Niana


Dirga ternyata hanya berpura-pura pingsan setelah kepalanya terbentur batu. Niana tak menyadari sebenarnya kepala Dirga membentur batu di troroar dengan sangat pelan, bisa dikatakan batu itu cuma menyentuh ujung rambutnya saja. Lalu dia menggerakan sedikit kepalanya sehingga terlihat seperti terbentur batu. Mr Ken yang berada di kejauhan pun paham tuannya seperti sedang bersandiwara. Lalu dia pura-pura ikut panik, memegang tangan tuannya. Tangan Dirga menuliskan sebuah simbol huruf SH di telapak tangan Mr Ken dengan telujuknya. Mr Ken pun langsung paham dengan isyarat yang diberikan tuannya itu. Bahwa Tuan Mudanya meminta membawanya ke SH (Sanjaya Hospital).


Setelah sampai di RS Dirga di bawa masuk ke ruang IGD. Seorang dokter laki-laki yang bernama Bara sudah menunggu di ruang IGD. Mr Ken ikut masuk ke dalam ruang IGD. Sedangkan Niana disuruh menunggu di luar ruangan. Niana juga tidak mungkin tega kalau langsung pergi meninggalkan Dirga yang sedang tak sadarkan diri di RS. Karena Dirga pingsa gara-gara menolongnya.


"Ya Tuhan apalagi yang akan terjadi padanya. Kalau saja dia tidak mengikutiku semua tidak akan begini" batin Niana cemas


"Dia kenapa lagi Ken?" tanya Dokter Bara


"Kepalanya terbentur batu Kak, periksa saja" ucap Mr Ken menahan senyum


"Bangun tukang usil, kau sedang main-main di RS" seru dokter Bara sambil memukul perut Dirga dengan stetoskop yang di pakai untuk memeriksanya


"Aduch... sakit, kak Bara kenapa memukulku? Aku ini adalah pasien"


"Kamu bersandiwara apa sampai membuatku panik. Kenapa dari dulu masih suka mengusili kakakmu ini" ucap dokter Bara menjewer telinga Dirga


"Maaf kak, lepaskan telingaku. Aku hanya butuh bantuan kak Bara"


ucap Dirga merintih kesakitan dijewer oleh dokter Bara


"Bantuan apa sampai kau harus membuat kehebohan di Rs" ucap dokter Bara melihat ke arah Ken yang belum tau juga rencana Dirga sampai berpura-pura pingsan di depan Niana


Dirga menceritakan rencananya pada mereka. Dokter Bara diminta untuk berkata kalau Dirga amnesia lagi dan yang dia ingat adalah Dirga yang sudah menjadi suami Niana. Semua terpaksa dilakukan Dirga karena tidak ingin Niana meninggalkan dirinya.


"Jadi kau menyukai gadis yang diluar tadi, lalu bagaimana dengan Tania" tanya dokter Bara penasaran


Dokter Bara pernah menaruh rasa pada Tania saat menjadi kakak seniornya di kampus. Belum sempat dia menyatakan perasaan pada Tania malah Tania melanjutkan S2 di Australi dan bertemu Dirga. Lalu Dirga menjalin hubungan dengannya. Akhirnya dokter Bara memutuskan untuk memendam perasaannya.



(Visual Dokter Bara : Yoo Yoen Seok)


"Aku sudah putus denganya. Walau mungkin dia belum bisa menerima keputusanku" ucap Dirga dengan santai


"Apa kau yakin menyukai gadis itu, bukankah dia jauh dari tipemu" tanya Dirga


"Tapi dia lebih sempurna dari tipeku" ucap Dirga


"Ken apakah tuanmu ini otaknya memang sudah rusak semenjak amnesia"


"Mungkin cinta yang telah merubah Tuan Dirga" ucap Mr Ken


"Tapi Ga.. aku ini seorang dokter, sudah disumpah mana bisa aku membuat kepalsuan tentang keadaan pasien" ucap dokter Bara


"Bukankah ini rumah sakit milik Sanjaya. Semua ada dalam kendaliku. Kakak tenang saja, aku janji tidak akan mempengaruhi karirmu. Oke, terima kasih atas kerja samanya" ucap Dirga percaya diri karena dokter Bara pasti membantunya


"Silahkan kak Bara, Niana sudah menunggu di luar" ucap Mr Ken mengajak dokter Bara keluar ruangan untuk menemui Niana


"Hemmm, sekali saja aku membantumu kalau kamu bukan pemilik Sanjaya Hospital, sudah ku tendang bocah usil sepertimu" ucap dokter Bara sambil menendang angin yang seolah sedang menendang Dirga