
Niana pun memasuki mall dan menuju ke toko pakaian diikuti Mr Ken. Mr Ken menunjukan sebuah toko untuk Niana. Niana melihat koleksi baju-baju di mall yang harganya membuatnya syok karena harga sebuah baju melebihi gajinya di Sanjaya Grub selama sebulan.
"Apa kita bisa ganti toko"
"Disini toko yang paling bagus dan merknya dijamin keasliannya. Silahkan dipilih secepatnya" titah Mr Ken
"Benar-benar tidak bisa diajak kompromi, baju di sini mahal-mahal ini namanya pemborosan" gumam Niana
"Silahkan dipilih nona, lebih cepat lebih baik karena Tuan Dirga sudah menunggu. Kalau anda bingung beli saja semuanya" ucap Mr Ken
"Baiklah aku akan pilih yang nyaman untukku saja tanpa melihat harganya daripada aku pusing melihat harganya" batin Niana
"Apakah sudah semua nona"
"Sudah, ayo kita pulang"
"Baiklah, kita sebaiknya ke proyek sekalian menjemput Tuan Dirga. Saya khawatir Tuan Dirga kehujanan di sana"
"Apa dia masih di proyek hujan-hujan begini"
"Iya Nona, Tuan menyuruh saya mengantar anda pulang dulu baru menjemputnya untuk kembali ke kantor"
"Jadi masih mau balik ke kantor lagi?"
"Sepertinya saya batalkan saja untuk ke kantor lagi. Yang terpenting kita jemput Tuan Dirga dulu"
Sesampainya di proyek, Niana melihat tempat proyek masih banyak lahan kosong yang bangunannya belum sempurna dan area berteduhnya masih minim. Dia pun jadi khawatir dengan Dirga, dimana dia berteduh. Apalagi kata Mr Ken dari pagi Dirga belum makan karena belum mendengar kabar kalau Niana sudah makan.
"Nona anda tunggulah di dalam mobil, saya akan mencari Tuan Dirga" ucap Mr Ken setelah memarkirkan mobil
"Baiklah"
Mr Ken menemukan Dirga sedang berteduh di tenda bersama para pekerja bangunan. Tenda itu pun tidak tertutup semua. Jadi angin masih bisa membawa hujan membasahi semua yang ada di bawah tenda. Udara yang dingin sampai terasa menusuk sampai ke tulang.
"Tuan apakah anda baik-baik saja" tanya Mr Ken
"Saya baik, dimana Niana. Apakah dia sudah ada di rumah?"
"Nona Niana menunggu anda di dalam mobil. Maaf tuan, kita memutuskan untuk menjemput anda dulu karena hujan sangat deras, saya khawatir dengan anda"
"Baiklah kita batalkan saja ke kantornya, sekarang kita pulang saja" ucap Dirga memegang kepalanya yang terasa pusing
"Wajah anda pucat tuan, apakah anda sakit? Atau kita ke RS dulu?"
"Tidak perlu Ken, aku tidak apa-apa. Niana pasti sudah menungguku. Ayo kita segera ke mobil"
"Baiklah tuan" ucap Mr Ken berjalan memayungi Dirga menuju ke mobil
Saat sampai di mobil, Mr. Ken segera membukakan pintu untuk Dirga. Dirga pun masuk dan duduk di belakang di samping Niana. Dia memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya yang terasa pusing. Wajahnya terlihat pucat sekali.
"Dirga kamu sakit? Badanmu panas sekali" ucap Niana tampak khawatir sambil menyentuh dahi Dirga
"Apa kamu sudah makan?" tanya Dirga
"Kenapa malah menanyakan aku, apa kamu tidak sadar kondisimu sudah seperti ini masih peduli keadaan orang lain. Mr Ken kita ke RS sekarang" ucap Niana memegang tangan Dirga yang terasa dingin
"Tidak Ken, kita pulang ke rumah. Aku hanya butuh istirahat"
"Baik tuan"
"Kenapa kamu keras kepala" ucap Niana
"Aku tidak apa-apa, hanya merasa dingin sekali saja" ucap Dirga
Saat sampai di rumah Mr Ken membantu Dirga menuju kamarnya. Dirga terbaring lemas di atas kasur. Mr Ken turun membuka almari yang berisi obat dan mencari paracetamol untuk Dirga. Bi Mar pun datang membawakan sup hangat untuk Dirga.
"Nona ini sup untuk Tuan Muda"
"Bangunlah makan sup nya dulu, aku akan menyuapimu" ucap Niana
"Nona ini obat penurun panas untuk Tuan Muda. Tolong rawat Tuan Muda dengan baik"
"Terima kasih Mr Ken"
"Permisi nona" ucap Mr Ken keluar dari kamar dan menutup pintu
Setelah Dirga selesai makan sup, Niana membantu Dirga minum obat. Lalu dia mengelap tubuhnya Dirga dengan washlap dan air hangat. Kondisi Dirga setengah sadar dan matanya hanya terpejam. Setelah itu Niana memakaikan piyama untuknya dan mengompres Dirga dengan kain yang diletakan di atas dahinya.
Sudah berkali-kali Niana menganti kompres tetapi panas tubuh Dirga belum juga turun. Dia sangat khawatir melihat kondisi Dirga dan merasa bersalah karena Dirga jadi sakit gara-gara dirinya. Dia terlihat duduk di karpet di samping Dirga yang terbaring di atas kasur
"Dingin sekali" ucap Dirga lirih
"Baiklah aku akan mengambilkan selimut lagi untukmu" ucap Niana beranjak dari duduknya
"Jangan pergi, temani aku" ucap Dirga yang matanya masih terpejam
"Aku di sini tidak akan kemana-mana"
"Dingin sekali" ucap Dirga dan terlihat badanya menggigil
Niana langsung memeluk erat Dirga dan tidur disampingnya dalam satu selimut. Tangannya selalu menggengam tangan Dirga. Niana mendekap Dirga yang kedinginan dalam pelukannya. Sepanjang malam Dirga sering mengigau tidak jelas. Dirga bermimpi berada di atas gedung yang tinggi bersama Tania dan Niana. Niana duduk di sebuah kursi yang posisinya berada di pinggir bibir gedung, tangan dan kakinya diikat sedangkan mulutnya ditutup lakban.
"Dirga aku memcintaimu, tinggalkan Niana dan menikahlah denganku sekarang"
ucap Tania dalam mimpi Dirga
"Maaf Tania aku mencintai Niana, bebaskan Niana"
"Aku akan mendorongnya dari gedung ini jika aku tidak bisa memilikimu" Ucap Tania yang berdiri
"Lepaskan dia, Tania" titah Dirga
"Kalau begitu kita menikah sekarang"
"Tapi aku sudah tidak mencintaimu Tania"
"Kalau begitu aku akan mendorongnya" ucap Tania mulai memegang kursi yang di duduki Niana dan akan melepaskannya
"Jangan Tania...." seru Dirga saat tangan Tania mulia melepas kursi yang di duduki Niana agar jatuh dari gedung
"Tania Tania... " teriak Dirga hingga membangunkan Niana yang tertidur di sampingnya
"Dirga ini aku Niana bukan Tania, kamu kenapa. Kamu mengigau?" ucap Niana memegangi kedua pipi Dirga
"Tidak Tania... Tania.. " Dirga masih menginggau lalu sedikit membuka mata
"Aku mecintaimu" ucap Dirga lirih lalu terpejam lagi setelah matanya sempat terbuka sedikit dan samar-samar melihat wajah Niana
Air mata tiba-tiba menetes di pelupuk mata Niana. Niana mengira Dirga mengatakan cinta pada Tania karena saat Dirga mengigau yang dipanggil-panggil nama Tania. Mimpi Dirga membuat Niana salah paham lagi dengannya. Sebenarnya Dirga mengatakan cinta pada Niana.
"Kenapa hatiku sakit, mendengar Dirga mengatakan dia mencintai Tania? bahkan dia sampai mengigau memanggil-manggil nama Tania. Bukankah ini sudah cukup jelas, Dirga memang hanya mencintai Tania dan aku hanya mainan yang akan dibuangnya" batin Niana
Kemudian Niana bangun dari ranjang dengan membawa bantal ke sofa. Dia tidak ingin tidur satu ranjang dengan orang yang mencintai wanita lain. Niana pun sadar diri, kalau dia bukan tipe wanita yang disukai Dirga. Saat teringat foto-foto Dirga dengan Tania, Niana merasa tidak pantas untuk Dirga. Tania cantik, pintar, berpendidikan tinggi dan seorang dokter. Sedangkan dirinya hanya wanita polos sederhana dan hanya karyawan biasa. Sangat jauh dari tipe wanita yang disukai Dirga.