
Sementara Aska telah sampai rumahnya setelah selesai rapat di perusahaannya. Sebelum turun dari mobil dia melepas jaz kerjanya yang membuat gerah. Saat Aska hendak membuka pintu rumah, terlihat Renata yang sedang duduk di kursi teras rumah. Renata sudah tiba di rumah Aska satu jam yang lalu tetapi dia tidak bisa masuk ke rumah karena Aska belum pulang. Sepertinya Renata tengah tertidur karena menunggu Aska pulang dari kantor.
"Ck, bisa-bisanya dia tidur di kursi seperti ini" batin Aska melihat Renata tidur duduk meringkuk dengan menekuk kedua kakinya ke atas kursi dan memakai kedua tanganya sebagai bantal
Aska berjalan mendekatinya dan berdiri di depannya. "Hemmm bangun" seru Aska tetapi Renata sepertinya tidak mendengar. Lalu dia membungkukan badan dan menatap dekat ke wajah Renata yang sedang tertidur. Dengan ragu dan detak jantung berdegub kencang, dia mulai menyibakan rambut lurus Renata yang menutupi sisi wajahnya.
"Dia manis juga kalau tidur. Seperti kucing saja" ucap Aska lirih sambil menyentuh pipinya. Tiba-tiba Renatapun membuka matanya membuat Aska salah tingkah. Aska langsung menegakan badanya dan memutar bola matanya sambil mengusap tengkuknya yang seolah gatal.
"Kak Aska, apa yang sedang kakak lakukan" ucap Renata sambil mengucek matanya yang seperti terasa masih lengket
"Aku mau membangunkanmu, memang aku mau melakukan apalagi" jawab Aska ketus dengan melipat kedua tangannya di depan dada
"Kenapa kakak lama sekali pulangnya? Sampai aku tertidur di kursi yang membuat badanku pegal" ucap Renata menarik kedua tangannya ke atas tinggi-tinggi untuk menghilangan rasa pegal di badannya
"Siapa yang menyuruhmu tidur di situ, apa kau kucing yang bisa tidur dimana saja?" ucap Aska sambil memencet pasword pintu
"Harusnya kakak memberiku pasword untuk membuka pintu rumah. Jadi aku bisa tidur nyaman di dalam" ucap Renata yang berdiri di belakang Aska sambil berkacang pinggang
"Jangan bawel, masuklah dan segera kerjankan tugasmu. Setelah itu cepatlah pulang" ucap Aska berjalan masuk ke dalam rumah saat pintu sudah dibukanya. Renata berada satu langkah di belakangnya dan mengikutinya masuk sambil menirukan perkataan Aska tanpa suara dengan mencebikan bibirnya dan menaikan bola matanya ke atas.
"Satu lagi aku lelah, jangan ganggu aku" ucap Aska yang tiba-tiba langsung berbalik badan hingga Renata yang berada tepat satu langkah di belakangnya hampir terjatuh.
Dengan sigap Aska langsung melingkarkan kedua tangannya di kedua bahu Renata saat akan terjatuh hingga Renata berada dalam pelukannya. Aska pun tak sengaja mencium kening Renata. Jantung mereka terdengar seperti derap langkah kuda yang berlari kencang hingga membuat keduanya salah tingkah lalu saling melepaskan diri.
"Aku mau ke dapur menyiapkan makanan" ucap Renata yang pipinya memerah dan langsung berlari menuju dapur
"Baik silahkah" ucap Aska menyugar rambutnya ke belakang lalu sedikit mengacaknya sambil mengulum senyum saat melihat wajah Renata yang merah merona
Aska masuk ke kamar dan langsung mengunci pintu kamarnya. Dia terlihat memegangi dadanya yang terasa berdebar begitu kencang sambil menyandarkan punggungnya ke belakang pintu kamar.
"Perasaan apa ini, tidak mungkin kan aku menyukai wanita hiperaktif yang over percaya diri itu" batin Aska yang masih memegangi dadanya sambil memejamkan mata
"Ini pasti salah, aku tidak menyukainya. Hatiku tidak mungkin bisa berpaling dari Niana" batin Aska membuka matanya sambil mengangguk-angguk
Saat matanya terbuka terlihat bayangan Renata yang tengah manari-nari centil lalu memberinya ciuman jauh. Bayangan Renata yang seolah-olah berada di atas kepala Aska membuat Aska terganggu dan kesal. Hingga dia mengusir bayangan Renata yang seolah berada di depannya seperti mengusir nyamuk yang bersliweran dengan mengibas-ngibaskan telapak tangannya.
"Cih kenapa dia selalu muncul di pikirannku. Menjauhlah bocah tengil" ucap Aska berdecak kesal mengusir bayangan Renata yang muncul di pikirannya
Selesai menyiapkan makanan yang telah dibawa dari rumah, Renata mulai menyapu lalu menyetrika baju kerja Aska yang akan dipakainya besok pagi. Sekarang dia sedang mengepel lantai di ruang tengah setelah selesai mengepel dari ruang tamu. Aska yang sedari tadi di kamar, tiba-tiba keluar menuju ke dapur.
"Apa yang kamu masak, maksudnya kamu membawa makan apa dari rumah" tanya Aska pada Renata tanpa melihat ke arahnya
"Aku bawakan sup iga untuk kakak, sudah aku panaskan. Kakak tinggal memakannya" ucap Renata sambil mengepel dan Aska cuma mengangguk-angguk saja. Kemudian dia terlihat memanaskan susu di atas kompor.
Cuaca hari ini terlihat masih cerah sekali walau hari sudah sore. Mentari terlihat masih betah bersinar dengan terangnya sehingga cuaca terasa masih panas. Tetapi entah kenapa Aska malah membuat susu hangat di saat cuaca sedang panas-panasnya. Bahkan dia terlihat memakai sweater tebal seperti sedang kedinginan. Sepertinya badannya sedang kurang sehat. Beda dengan Renata yang sedari tadi terus beraktifitas, badannya pun terasa gerah. Peluhnya mulai membuat kulitnya lembab dan lengket.
"Kenapa AC di ruang ini tidak terasa, bisakah kakak menurunkan suhunya supaya lebih dingin" pinta Renata sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke arah wajahnya karena merasa gerah
"Apa kamu tidak bisa memencet sendiri remotnya?" tanya Aska yang sedang mengaduk susu panasnya di atas meja makan sambil melirik ke arah Renata yang sedang menggulung rambut panjangnya yang sedari tadi dikuncir. Aska memandang Renata yang terlihat seksi saat menggelung rambutnya hingga maniknya tidak berkedip.
"Dimana kakak menaruh remotnya?" tanya Renata memandang ke arah Aska
"Carilah di atas sofa depan tv" titah Aska segera memutar bola matanya ke susu panas yang diaduknya
Renata pun segera mencari remot itu ke sofa. Dia membolak balik bantal yang ada di sofa tetapi tidak ketemu juga. Gara-gara mencari remot AC yang tak kunjung ketemu, Renata malah semakin gerah. Hingga dia membuka satu kancing kemeja putihnya yang paling atas lalu menarik bagian lengannya kanan kiri sehingga bagian atas dadanya sedikit terbuka. Lalu mengibas-ngibaskan kerah kemejanya untuk menghilangkan rasa gerahnya. Tangannya pun dikibaskan ke arah leher yang terasa lengket lalu menyekanya dengan punggung tangannnya. Aska pun memandanginya dengan sorot mata yang tajam dan sayu karena sikap Renata terlihat seksi dan panas. Renata pun tidak menyadari sikapnya malah membuat Aska yang tadinya merasa kedinginan kini menjadi merasa ikut gerah dan ada sesuatu yang bergejolak di bawah sana.
"Dimana kak remotnya" seru Renata merasa gerah sekali sambil mengibas-ngibaskan tanganya lagi ke arah lehernya tetapi Aska malah terbengong sehingga tidak mendengar pertanyaan Renata
"Kak? Kak Aska?" seru Renata membuat Aska berkedip dan salah tingkah hingga susu panas yang dari tadi hanya dia aduk-aduk itu, tumpah ke meja dan hampir mengenai tangan dan kakinya.
Renata pun segera berlari menghampiri Aska yang sedang menghindari dari tumpahan susu panas itu. Raut wajah Renata nampak khawatir. Dia mendekati Aska dan mau mencoba melihat keadaan tangannya.
"Aku tidak apa-apa" ucap Aska berjalan mundur menjauhi Renata
"Coba Rena lihat dulu" titah Renata terus mendekat dan ingin melihat tangan Aska
"Tidak, aku bilang berhenti, sebelum..." ucap Aska tak melanjutkan perkataannya
"Sebelum apa memangnya?" tanya Renata dan Askapun langsung meraih pinggang Renata mendekat ke tubuhnya karena sudah tak mampu menahan rasa yang bergejolak hingga melumpuhkan akal sehatnya
"Sebelum aku kehilangan kendali dan menginginkanmu" bisik Aska dengan suara parau hingga Renata hanya bisa memutar bola matanya menghindari tatapan Aska karena bingung harus merespon apa. Jantung meraka langsung berdag dig dug tak karuan.
"Kamu terlihat seksi di mataku" ucap Aska hampir mencium bibir Renata tetapi deringan ponsel terdengar memekak telinga mengacaukan susana panas yang sedang mendera mereka.
Aska yang tengah merasa gerah dan bergejolak karena keseksian Renata hampir kehilangan akal sehatnya. Renata pun langsung melepaskan pelukan Aska dan berlari mengambil ponselnya yang berbunyi di atas sofa ruang tengah. Dia pun mengangkat panggilan ponsel dari mamaya. Mama Sofi menyuruhnya untuk segera pulang sebelum Dirga menanyakan keberadaannya karena sebentar lagi Paman Yan akan pulang melaporkan posisi Renata kepada Dirga.
"Kak Aska, aku pulang dulu, mama menyuruhku segera pulang. Semua tugasku sudah selesai" ucap Renata segera membereskan alat pel yang masih tergeletak di ruang tengah dan langsung pulang meninggalkan Aska begitu saja.
"Ck, apa yang barusan aku lakukan? Aku hampir tak bisa mengendalikan diri" batin Aska menyugar rambutnya lalu mengeleng-gelengkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya yang hampir saja mau mencium Renata
"Astaga Kak Aska tadi hampir menciumku, apakah dia mulai menyukaiku" batin Renata mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahanan untuk menormalkan detak jantungnya
Renata pun keluar dari rumah Aska menuju mobilnya dan memejamkan matanya sambil tersenyum tipis karena malu. Dia merasa Aska mulai tertarik padanya karena Aska hampir saja menciumnya. Hatinya pun terasa berbunga-bunga walaupun Aska belum sempat menciumnya.
Sedangkan sekarang Niana terlihat berjalan tergesa menuju ke lobi rumah sakit setelah menemukan sapu tangan merah di di dekat tong sampah. Dia takut Paman Yan sudah menunggunya karena dia lumayan lama saat berada di toilet tadi. Entah sapu tangan milik siapa, dia pun penasaran dan menyimpannya ke dalam tas. Pasalnya suara orang misterius yang bersembunyi di samping tong sampah itu seperti tak asing di telinganya. Bahkan sapu tangan merah yang ia temukan tertulis nama Tania yang membuatnya semakin penasaran.
Saat sampai di lobi rumah sakit, Paman Yan terlihat sedang duduk sendirian di sofa ruang tunggu. Niana pun segera menghampirinya sambil memegangi perutnya yang terasa kram karena berkali-kali memuntahkan isi perutnya.
"Paman, maaf membuat paman menunggu tadi Niana ke toilet sebentar" ucap Niana
"Sejak kapan nona di toilet?"
"Sekitar 15 menit yang lalu Niana ke toiletnya paman, ada apa memangnya?"
"Niana ada di toilet 15 menit yang lalu? Semoga dia tidak mendengar pembicaraanku dengan bandit itu" batin Paman Yan
"Saya sudah menunggu nona selama 20 menit tapi tidak melihat nona masuk ke lobi" ucap Paman Yan berbohong
"Sebenarnya Niana sampai rumah sakit 40 menit yang lalu, terus Niana memesan makanan ke foodcourt. Habis itu ke toilet"
"Kenapa nona lama sekali di toiletnya?" tanya Paman Yan penuh selidik
"Niana tadi mual saat makan steak, lalu muntah berkali-kali di toilet jadi lumayan lama. Ini perut Niana juga masih kram karena dipakai muntah terus. Maaf ya paman membuat paman menunggu lama" ucap Niana sambil memegangi perutnya
"Tidak apa-apa nona, bagaimana keadaan nona sekarang? Apa sebaiknya nona periksa saja sekalian" tanya Paman Yan
"Periksa?? Hah bisa-bisa aku ketahuan kalau tidak hamil. Tidak tidak, aku tidak akan periksa" batin Niana
"Tidak perlu paman, lebih baik kita segera pulang. Niana sudah lumayan mendingan. Paman pasti juga lelah kan?" tolak Niana
"Baiklah nona, mari kita pulang. Biar paman yang menyetir mobilnya" ucap Paman Yan
"Tidak paman, biar Niana saja. Niana masih kuat kok. Lagian paman habis cuci darah, lebih baik Niana saja yang nyetir" ucap Niana yang masih memegangi perutnya
"Apakah nona yakin" tanya Paman Yan sekali lagi
"Niana yakin paman, ayo kita masuk ke mobil" ajak Niana
"Nona kenapa anda memaksakan diri demi saya" batin Paman Yan
Niana akhirnya yang menyetir mobil sampai ke rumah. Mobil Renata pun berada di belakangnya. Mereka terlihat beriringan memasuki gerbang rumah. Untungnya Renata pulang tepat waktu bersamaan dengan Paman Yan dan Niana.