
Matahari telah manampakan cahaya cerahnya mengiringi langkah Niana menuju kantor. Sinarnya yang menghangatkan seolah menjadi suntikan semangat untuknya. Seperti biasa dia terlihat menggemaskan dengan rambut kepangnya. Karena dia lebih bebas beraktifitas dengan gaya rambut seperti itu.
"Aku akan berusaha menghindari dari Dirga, biar dia tidak melihatku. Karena kalau melihat rambutku dikepang matanya akan sakit, seperti itu kan katanya yang tidak masuk akal. Apalagi kejadian tadi malam benar-benar membuatku takut. Kira-kira jari-jarinya patah tidak ya setelah menghantam tembok" batin Niana
Hari itu Niana berangkat lebih pagi agar tidak terlihat Dirga. Biasanya Dirga datang agak siangan jadi dia masih bebas berjalan di area kantor tanpa perlu sembunyi-sembunyi. Walaupun dia saat itu sudah menutup rambutnya dengan kain yang dikerudungkan di atas kepalanya.
Ketika dia menunggu lift terbuka, tiba-tiba Dirga berjalan menuju lift juga. Niana yang kaget langsung berbalik membelakangi Dirga dan memutuskan untuk naik tangga saja.
"Huh capek sekali, kenapa Tuan Tengil itu datang pagi-pagi sekali" ucap Niana terenggah-enggah menaiki tangga yang baru sampai di lantai 5
Dia pun memutuskan untuk beristirahat sebentar setelah di lantai 8. Niana duduk di tangga dan membuka kain dikepalanya yang membuat gerah, dia akan naik lift karena lututnya sudah terasa pegal. Mungkin Dirga sudah berada di ruangannya lantai 20 jadi dia bisa naik lift dengan tenang.
"Maaf permisi nona, saya mau mengepel tangganya" ucap seorang cleaning servis yang mengagetkan Niana yang sedang duduk di tangga.
"Oh, iya. Maaf mas, boleh saya minta tolong"
"Minta tolong apa nona?"
"Tolong lihatin liftnya udah kosong belum, saya masih capek sekali habis naik tangga dari lantai 1"
"Oh baiklah"
"Terima kasih"
"Sudah kosong nona, silahkan anda bisa naik lift saja"
"Oh iya, siapa nama mas? siapa tau besok saya butuh bantuan lagi. Sepertinya saya akan sering naik tangga"
"Nama saya Fatir, nona"
"Oke Fatir, panggil aku Niana saja. Sekarang kita berteman oke" ucap Niana mengulurkan tangannya
"Baiklah Niana" cleaning servis itu terlihat tersenyum manis walau wajahnya agak tertutup topi
Dirga terlihat sibuk membolak balik laporan di atas mejanya. Walau terlihat sibuk tetapi dia masih memikirkan pembicaraanya dengan Tania kemarin malam. Entah laporan yang dibacanya ada yang salah atau pikirannya yang bermasalah. Laporan itu dibaca bolak balik sampai kertasnya kusut seperti pikirannya saat ini.
"Ken tolong fotokopikan laporan ini lagi" ucap Dirga
"Baik tuan"
"Sekalian tolong carikan ponsel baru sekarang. Taruh saja laporannya disana, biar pegawai fotokopinya yang mengirimnya ke sini nanti"
"Tuan Dirga sepertinya sedang frustasi, pasti karena Nona Tania, semoga tuan bisa mengendalikan emosinya" batin Ken yang tidak berani menanyakan kegalauan Tuan ;Mudanya
"Baik tuan, saya akan membelikannya"
Ponsel Dirga yang rusak berdering di atas meja, mengalihkan pikirannya yang sedang kalut. Ternyata ada panggilan dari Tania, walau layar ponselnya retak tetapi masih bisa untuk menerima panggilan.
"Halo Dirga"
"Ada apa Tania"
"Kenapa tidak membalas pesanku?"
"Maaf saya tidak ada waktu untuk membaca pesanmu, seperti kamu yang juga tidak ada waktu untuku"
"Kamu kenapa Ga? Ayolah jangan kekanak-kanakan"
"Apakah ada yang ingin kau katakan lagi? Kalau tidak silahkan tutup telefonnya karena saya sedang sibuk"
"Aku minta waktu lagi untuk menyelesaikan studiku di sini?"
"Bukannya kamu dulu sudah berjanji mau segera menikah denganku setelah dari asutrali, bahkan aku sudah memberi mu waktu sampai 5 bulan untuk berpikir menerima lamarannku. Faktanya diam-diam kamu malah pergi ke Jerman"
"Maafkan aku, karena studiku sangat penting. Aku janji akan pulang menemuimu kalau ada waktu"
"Terserah kamu mau pulang atau tidak. Aku tidak berarti bagimu. Silahkan mengejar karirmu dan lupakanlah aku"
"Dirga, aku tidak mau......"
Tut...tut..tut... Dirga langsung memblokir Tania lalu membanting ponselnya. Cashingnya dan batrenya berserakan di lantai. Kemudian dia memukulkan vas bunga ke mejanya hingga pecah berkeping-keping dan mengenai telapak tanggannya. Dengan menyeret langkah kakinya dia duduk terdiam di sofa. Gelagar pecahnya vas bunga harusnya terdengar para karyawan yang ada di luar ruangan Dirga. Tetapi tak seorang pun berani untuk memenemuinya.
"Ternyata studimu sangat penting daripada aku. Baiklah kalau itu maumu maka akan ku hapus semua tentangmu" batin Dirga yang sudah menyerah karena Tania tidak peduli dengannya
Di sebuah ruang fotokopi, Niana mengambil fotokopi laporan yang diminta ibu Niken. Sepertinya ruang fotokopi tidak antri seperti biasanya. Hanya ada pegawai fotokopi yang sepertinya tergesa-gesa menata berkas-berkas kertas diatas mesin fotokopi.
"Pak Mail saya mau ambil fotokopi laporan dari devisi 2" ucap Niana pada pegawai fotokopi
"Ini nona, oh iya nona tolong antar fotokopi laporan ke ruang Pak Dirga sekalian ya. Soalnya saya sedang buru-buru mau pulang, istri saya mau nelahirkan"
"Terima kasih nona Niana" ucap Pak Mail yang berlari terburu-buru
"Harus bertemu Pak Dirga lagi, tidak.. Aku minta Riska saja yang mengantar ke ruangannya. Pasti dia mau" gumam Niana
Niana langsung menuju lantai 20 setelah mengantarkan laporan kepada Bu Niken. Sebenarnya Niana berharap Bu Niken tidak mengizinkannya mengantarkan fotokopi laporan ke ruang Dirga atau meminta orang lain mengantarkannya. Tetapi Bu Niken malah titip berkas laporan juga untuk diserahkan kepada Dirga. Dan meminta Niana sendiri yang langsung mengantarkannya karena berkas itu sangat penting. Akhirnya Niana malah tidak bisa meminta bantuan Riska.
Sampai di lantai 20, Niana pergi ke toilet untuk memakai kain kerudungnya lagi, berkas laporan yang sudah terbungkus map plastik itu dia letakan di meja keramik toilet, lalu dia masuk ke toilet. Karena takut bertemu dengan Dirga membuatnya ingin buang air kecil terus. Apalagi mengingat kemarin malam Dirga hampir memukulnya. Sebelum memasuki ruangan Dirga, Niana menemui Riska. Dia ingin menanyakan apakah Dirga ada di ruangannya. Riska mengatakan Dirga ada di ruangannya tetapi Mr Ken sedang keluar dan Dirga sepertinya sedang marah karena terdengar suara sebuah benda yang pecah. Entah apa itu, Riska juga tidak tahu. Tidak ada satupun yang berani masuk ke ruangannya.
"Kalau dia sedang kesurupan begini, apakah aku punya nyali untuk masuk ruangannya? Tetapi aku harus segera menyerahkan laporan ini, takut ya Bu Niken yang super disiplin itu akan marah kalau aku belum mengantarkannya. Aku seperti mau masuk kandang buaya tetapi keluarpun masuk kandang singa" batin Niana
Tok.. tok...tok... Niana mengetuk pintu dengan lemah lembut dan pelan.
"Masuk" ucap Dirga yang masih duduk bersandar di sofa
Niana pun masuk dengan langkah ragu dan menuduk. Ruangan Dirga terlihat seperti habis terkena bom. Banyak barang berhamburan di atas lantai. Dirga duduk di sofa, jaznya berserakan di lantai sepertinya habis dilempar, tangan kanannya memijit kepalanya dan tangan kiri diletakan di pinggir sofa. Terlihat darah mengalir di telapak tangan kirinya. Niana menghentikan langkahnya yang berjarak 3 meter dari Dirga.
"Selamat siang Pak Dirga, maaf ini fotokopi laporan bapak dan ini laporan dari devisi 2" ucap Niana sambil melirik ke arah Dirga lalu segera menundukan pandangannya
"Letakan di atas meja" ucap Dirga yang masih dipenuh rasa kesal sambil mengarahkan tatapan matanya ke meja yang ada di depannya
"Baik pak" Niana segera meletakannya di atas meja kerja Dirga
"Cih keberanianmu cukup besar, masuk ke ruanganku saat saya sedang marah, karyawan lain bahkan Pak Hendra tidak berani sepertimu" batin Dirga
"Apa anda tidak bisa mendengar dan melihat, saya bilang di atas meja ini" teriak Dirga
"Maaf Pak" ucap Niana yang tangannya Gemetar karena takut
Karena Niana dari tadi hanya menunduk jadi tidak melihat saat Dirga berbicara matanya memberi isyarat mengarah ke meja di depannya artinya disuruh meletakanya di sana. Niana pun terburu-buru menuju meja di depan Dirga sampai tidak tahu di depan kakinya ada cashing ponsel dan terinjak. Tubuhnya hampir jatuh di bawah serpihan kaca vas bunga, Dirga yang meliriknya segera menangkap tubuh Niana yang hampir jatuh.
Dirga menatap wajah Niana yang berada di bawahnya yang posisinya mau jatuh tetapi ditahan kedua tangan Dirga. Kedua mata Dirga tak berkedip memandangi wajah Niana yang matanya terpejam. Niana berpikir dirinya sudah jatuh terpeleset sehingga matanya masih terpejam karena takut terkena pecahan vas bunga yang berserakan di atas lantai.
"Wajah ini kenapa menenangkan tiap aku melihatnya. Padahal tadi aku ingin memakinya karena kecorobohannya tidak menggunakan matanya dengan benar" batin Dirga
"Terima kasih pak" ucap Niana segera berdiri sambil melepaskan tangan Dirga dari bahunya setelah merasa ada yang menahan tubuhnya lalu membuka mata dan berdiri di depan Dirga
"Apa yang anda pakai ini? norak sekali" ucap Dirga menyentuh kain kerudung di atas kepala Niana. Padahal Dirga hanya salah tingkah dengan basa basi menanyakan kain yang dipakai Niana. Jarang sekali Dirga berbasa basi pada orang lain, apalagi untuk hal yang tidak penting seperti kain yang sedang dipakai Niana di atas kepalanya.
Niana melihat telapak tangan Dirga berlumuran darah. Dia pun segera meletakan laporan yang masih di tangannya. Kemudian membuka kain kerudungnya dan melipat-lipatnya memanjang, lalu menggulungkan kain itu ke telapak tangan Dirga. Dirga pun hanya diam saja melihat apa yang sedang dilakukan Niana. Bahkan dia tidak melarang Niana yang telah berani memengang tangannya. Lalu Niana melepas kedua ikat rambut yang telah dipakainya untuk mengepang rambutnya. Kedua ikat rambutnya dipakai untuk mengikat kain kerudung yang sudah tergulung di telapak tangannya Dirga.
"Tangan Pak Dirga, mengeluarkan banyak darah, kalau tidak segera dihentikan, Pak Dirga bisa pingsan" ucap Niana yang hampir selesai mengikat kain itu dengan ikat rambutnya
"Bukan urusan anda" ucap Dirga segera menarik tangannya dari Niana
"Sumpah ini orang menyebalkan sekali, sudah ditolong tidak tahu terima kasih" batin Niana
"Baiklah permisi Pak Dirga, mohon maaf atas kelancangan saya telah membantu Pak Dirga. Kalau Pak Dirga tidak berkenan, saya bisa membantu melepasnya lagi" ucap Niana
"Tidak dibutuhkan" ucap Dirga dengan sikap dingin tanpa melihat Niana sama sekali.
"Baiklah permisi"
Ketika Niana sudah pergi dari ruangannya, Dirga memandangi kain kerudung yang melilit di telapak tangannya yang diikat dengan ikat rambut warna hitam dan ada hiasan gantungan berbentuk huruf N berwarna emas. Tanpa sadar Dirga tersenyum sendiri. Dan rasa kesalnya yang tadinya memuncak tiba-tiba berganti dengan senyuman.
"Cih apa ini norak sekali, harusnya aku memakinya atau memecatnya sekalian karena sudah berani masuk ruanganku saat suasana hatiku buruk, dan beraninya dia memegang tanganku tanpa takut sedikitpun. Selama ini tidak pernah ku biarkan wanita manapun menyentuhku walau ujung jariku sekalipun, kecuali wanita yang aku sayangi. Tetapi kenapa aku membiarkanya, saat menatap wajahnya hatiku yang dipenuhi amarah kenapa jadi tenang bahkan aku sampai tidak tega memakinya" batin Dirga yan masih memandangi kain di tangannya
"Tuan Muda, ini ponsel baru anda" ucap Mr Ken sambil melirik ke area sekitar ruangan
"Terima kasih Ken" ucap Dirga
"Apakah Tuan Muda ingin mengganti kain itu dengan perban?
"Tidak dibutuhkan" ucap Dirga sambil menandatangani berkas laporan yang baru saja di serahkan Niana dari Bu Niken
"Tuan apakah itu berkas laporan dari Bu Niken. Apakah tuan sudah memeriksanya kembali"
"Serahkan pada Pak Hendra, untuk presentasi besok" ucap Dirga tersenyum pada kain di tangannya dan tidak fokus pada perkataan Mr Ken
"Baiklah Tuan Dirga"
"Kain siapa yang ada ditelapak tangannya sampai membuat Tuan Muda tersenyum konyol seperti itu" batin Mr Ken
"Ken tolong suruh cleaning servis untuk membersihkan ini semua"
"Baik tuan"
Dari kantor menuju ke rumah mata Dirga selalu memandangi kain yang masih melilit di telapak tangannya. Sesekali dia tersenyum sendiri, entah apa yang dipikiran. Dirga pun melepas kain itu dan bersiap mandi. Dia berendam air hangat dengan aroma sabun di bath up sambil memandangi ikat rambut Niana yang digengamnya.