Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 70 Disuruh segera pulang


Ponsel Niana tiba-tiba berdering. Ada panggilan dari Dirga yang mambuatnya panik. Niana berpikir Dirga tahu kalau dia dan Renata telah berbohong karena tidak jogging di dalam komplek perumahan sanjaya tetapi malah berada di luar komplek. Ponsel yang tengah berbunyi itu hanya digenggamnya saja seolah ingin menunggu si penelepon mematikan panggilanya sendiri. Karena bunyi panggilan itu tidak segera berhenti, Niana akhirnya mematikannya.


"Telepon dari siapa kak, kenapa tidak diangkat?" tanya Renata


"Dari Dirga Ren" jawan Niana bingung saat ponselnya berdering untuk ke tiga kalinya


Mendengar nama Dirga yang sedang melakukan panggilan pada Niana. Aska pun langsung berpikir untuk menjawab panggilan di ponsel Niana agar Dirga merasa kesal. Aska yang berdiri di samping Niana langsung mengambil ponsel itu dari genggaman tangan Niana.


"Kak Aska kembalikan ponselku" seru Niana


"Karena kamu tidak mengangkatnya, aku angkatkan untukmu" ucap Aska


"Kembalikan ponsel Kak Niana" ucap Renata yang langsung memghampiri Aska dan tanganya secepat kilat berusaha merebut ponsel dari gengaman Aska


"Tidak" ucap Aska yang langsung memindahkan ponsel itu ke belakang punggungnya


"Berikan padaku" ucap Renata yang tangannya berusaha mengambilnya dari arah depan tubuh Aska


"Bocah tengil menjauhlah dari ku" seru Aska langsung meninggikan tangannya yang memegang ponsel


"Kakak tampan tolong kembalikan, apakah kamu ingin bermain-main denganku?" ucap Renata yang masih berusaha meraih ponsel dari tangan Aska sambil berjinjit-jinjit


"Kak Aska kembalikan jangan bercanda ini tidak lucu" ucap Niana kesal


"Kalau kakak tampan tidak mau mengembalikan, baiklah aku akan memeluk kakak" ucap Renata


"Lepaskan aku atau aku akan mendorongmu"


"Berikan dulu ponselnya" titah Renata yang telah memeluk Aska


Renata memeluk Aska hingga seperti orang yang tak tahu malu demi mendapatkan ponsel Niana. Walaupun harus seperti wanita tuna asmara yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang kekasih, dalam hatinya merasa senang sekali bisa memeluk Aska. Dia pun juga takut jika Dirga tahu dirinya dan Niana telah berbohong kalau sebenarnya tidak jogging di dalam komplek perumahan Sanjaya. Apalagi kalau sampai Aska yang mengangkat panggilan ponsel itu. Mungkin kartu sakti untuk jajan, shoping dan skin carenya akan di sita oleh Dirga.


Sementara Aska yang tengah berusaha melepaskan pelukan Renata berjalan semakin mundur agar mudah melepaskan pelukannya. Hingga tubuh mereka terjatuh karena kaki Aska yang sedang berjalan mundur terperosok di jalan yang berlubang sehingga tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Tubuh Renata pun ikut jatuh di atas tubuhnya dan bibir mereka saling menempel tanpa sengaja.


"Halo Niana... kamu ada dimana?" suara ponsel yang terjatuh di samping kepala Aska


Suara ponsel yang terdengar samar-samar kurang begitu jelas menganggetkan mereka yang tengah diam terpaku saat bibir mereka saling menempel dan kedua manik bulat mereka terbelalak saling menatap. Sepertinya jari Aska tidak sengaja telah menekan layar ponsel sehingga menerima panggilan yang masuk. Renata segera mengambil ponsel itu saat menyadari Aska masih terbengong karena ciuman pertamanya diambil oleh Renata.


"Kak Niana katakan sesuatu, puji Kak Dirga setinggi-tingginya agar dia tidak marah" bisik Renata ke telinga Niana sambil memberikan ponsel itu


"Halo Dirga sayang, ada apa?"


"Halo Niana, kenapa dari tadi tidak menjawab?"


"Maaf sayang, tadi aku sedang makan cilok jadi aku matikan panggilannmu sebentar karena mulutku penuh dan tidak bisa menjawab"


"Apa itu cilok? Aneh sekali namanya namanya" tanya Dirga


"Cilok itu makanan yang bentuknya bulat-bulat terus dikasih saus pedas dan enak kalau dimakan saat panas makanya aku tadi mematikan ponselmu karena ciloknya pedas dan panas sekali saat aku makan jadi aku tidak bisa menjawab"


"Memangnya kamu dimana?" ucap Dirga curiga karena di dalam komplek perumahannya tidak ada yang menjual makanan aneh yang terdengar asing di telinganya


"Aku di depan swalayan yang ada di samping pintu masuk perumahan Sanjaya. Karena aku haus jadi aku minta tolong Renata membeli minuman di swalayan. Terus aku lihat ada yang jual cilok lewat, karena aku pengen sekali jadi aku membelinya. Ada apa menelepon ku, apakah kamu sudah merindukanku?"


"Lain kali jangan jajan sembarang seperti anak kecil. Aku hanya ingin kalian segera pulang jangan terlalu lama di luar"


"Memangnya kenapa, aku kan sudah memakai topi, kacamata dan masker sesuai perintahmu" protes Niana


"Iya aku akan pulang sekarang. Kamu cepat pulang juga, aku sudah sangat merindukan suamiku yang tampan" ucap Niana segera mengakhiri obrolannya dengan pujian agar Dirga tidak marah. Pujian yang diucapkannya membuat perutnya mual sendiri


"Selain wajah tampanku, kamu merindukan apalagi?" tanya Dirga


"Aku rindu semua, he he he iya semua. Kita lanjutkan setelah kamu pulang. Aku akan menunggumu di rumah Dirga sayang. Dah" ucap Niana segera mengakhiri panggilannya karena Aska terlihat mulai berjalan mendekatinya


"Kak Aska, aku dan Renata mau pulang dulu. Lain kali aku akan main ke rumahmu" ucap Niana


"Baiklah ini alamat rumahku, aku sementara menyewa rumah di sekitar sini karena paling dekat dengan lokasi proyek ku" ucap Aska menyerahkan sebuah kartu yang berisi alamat rumahnya


"Oke. Berapa lama Kak Aska tinggal di sini?" tanya Niana


"Kalau proyek ku selesai aku akan balik lagi ke apartemen" ucap Aska


"Kalau bisa tinggallah selamanya di sini, biar kita bisa bertemu terus" ucap Renata


"Jangan bermimpi terlalu tinggi nona" ucap Aska menoyor pelan kepala Renata


"Bukankah semua berawal dari mimpi yang akan jadi kenyataan" gumam Renata


"Memuakan sekali bicara denganmu" ucap Aska yang sudah lelah meladeni ucapan Renata


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik kakak pulang dulu" ucap Aska pada Niana sambil mengacak-acak rambutnya


"Baik kak" jawab Niana singkat


"Dan untuk kamu entah kamu itu wanita jenis apa yang tidak tahu malu, ingat mulai besok jam 6 pagi tepat kamu sudah harus ada dirumahku jangan sampai terlambat" ucap Aska pada Renata sambil menudingkan jari telunjuknya


"Siap kakak tampan" ucap Renata


Saat pulang menuju rumah Sanjaya, Renata terlihat tersenyum-senyum sendiri. Niana pun menduga Renata menyukai Aska. Tanpa disangka ternyata banyak yang menyukai Aska. Seandainya dia tidak menganggap kakaknya dari kecil mungkin Niana juga akan menyukainya. Selain tampan Aska juga baik, perhatian dan pekerja keras.


"Ren, kenapa kamu dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Niana


"Renata sedang jatuh cinta sama kakak tampan tadi" ucap Renata sambil mengemudikan mobilnya


"Kak Aska?"


"Iya kakak ipar, memang siapa lagi? Oh iya Kak Aska sudah punya pacar belum?" tanya Renata penasaran


"Sepertinya belum sih, belum ada wanita yang mampu menaklukannya" ucap Niana


"Aku jadi merasa tertantang ingin menaklukan hati Kak Aska, kakak ipar kira-kira tipenya Kak Aska itu seperti apa?"


"Aku juga tidak tahu karena dia tidak pernah menceritakan tentang seorang wanita. Berjuanglah tapi aku tidak bisa membantumu"


"Kenapa kakak tidak bisa membantuku? Kakak kan adiknya seharusnya aku lebih mudah mendapatkannya dengan bantuanmu. Kenapa kakak tidak mau membantuku?" gerutu Niana dengan wajah cemberut


"Maafin kakak Ren, karena sahabat kakak juga menyukai Kak Aska. Jadi aku tidak bisa membantu kalian semua. Berjuanglah sendiri dan bersainglah secara fair, oke" ucap Niana menyunggingkan senyuman manisnya


"Yah, pendekatan belum dimulai sudah punya saingan. Tapi jangan panggil aku Renata kalau tidak bisa menaklukan Kak Aska" ucap Renata dengan percaya diri


"Baiklah, semangat adik iparku" ucap Niana


Niana hanya bisa memberi dukungan untuk Renata walau sepertinya adik iparnya itu akan sulit mendapatkan hati kakaknya. Dia memikirkan apa yang akan dilakukan Renata esok hari, apakah Renata bisa melakukan segala yang diperintahkan Aska. Mengingat Renata adalah puteri keluarga Sanjaya, menyentuh dapur saja tidak pernah dia lakukan bagaimana dia akan mempersiapkan sarapan untuk Aska. Tetapi melihat kepercayaan diri dari wajah Renata mungkin dia sudah memikirkan segalanya untuk besok.