Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 60 Melakukannya lagi


Selesai mandi mereka berdua turun bersama dari lantai atas. Niana dan Dirga tampak tersenyum-senyum dan sesekali saling melihat. Pemandangan yang baru pertama kali dilihat oleh para penghuni Rumah Besar Sanjaya. Karena biasanya mereka tidak pernah turun bersama seperti sekarang apalagi Niana dan Dirga terlihat tersenyum-senyum seperti orang yang sedang dimabuk asmara. Mama Sofi dan Renata yang sudah duduk di kursi makan pun juga ikut merasa bahagia melihat mereka.


"Ehemmm udah berapa kali kak Dirga?" goda Renata


"Anak kecil tidak boleh tahu urusan orang dewasa" ucap Dirga sambil menarik kursi untuk Niana


"Kak Niana, gimana apakah Kak Dirga puas?" goda Renata pada Niana. Niana hanya tersipu malu dengan wajah yang merah merona


"Sudah Ren jangan menggoda kakak iparmu terus, jadi kapan cucu mama akan launching?" tanya Mama Sofi yang juga ikut menggoda


"Dih mama sendiri juga ikutan menggoda" protes Renata. Hingga semuanya ikut tertawa melihat kehangatan di ruang makan yang dihiasi canda tawa


Hari ini para pelayan rumah sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk acara doa bersama atas 2 tahun kepergian Tuan Hartawan Sanjaya yang diadakan siang nanti. Nyonya Sofi terlihat sedang sibuk menata bunga-bunga di taman bersama Renata dan Niana. Bunga-bunga mawar yang tumbuh di taman itu dulunya ditanam oleh Tuan Hartawan Sanjaya bersama Mama Sofi. Setiap Hari mama Sofi merawat taman yang dipenuhi bunga mawar itu. Kebetulan hari ini adalah hari 2 tahun meninggalnya Tuan Hartawan Sanjaya, jadi Mama Sofi ingin merapikan taman itu.


Sedangkan Dirga hanya duduk manis sambil ngopi dan membaca koran di kursi taman. Terlihat Mr Ken pun juga ikut membantu menyirami bunga. Dirga tidak mau membantu merapikan bunga-bunga di taman karena tidak mau kotor-kotoran. Mungkin dia sudah pura-pura lupa saat amnesia selalu merapikan bunga-bunga di taman rumah Niana dan menyiraminya setiap hari. Sedangan Mama Sofi dan Renata tidak ingin menyuruh Dirga untuk membantu karena mereka sudah tahu Dirga tidak akan mau.


"Tuan Dirga enak sekali duduk, ngopi, baca koran, ayo bantu merapikan bunga-bunga ini" titah Niana


Dirga pun tak menjawab dan hanya melirik Niana lalu membaca koran lagi. Niana yang diacuhkan pun menjadi gemas sendiri. Kemudian mencubit pipi Dirga dengan tanganya yang kotor habis memasukan tanah dalam pot. Sedangkan tanah yang ditaruhnya dalam pot adalah tanah yang basah karena habis disirami Mr Ken. Pipi Dirga pun jadi kotor kena tanah.


Dirga terlihat kesal lalu beranjak dari duduknya dan menutup koran. Niana pun memutar bola matanya menatap ke segala arah yang penting bisa mengindari tatapan Dirga yang seperti ingin menelannya hidup-hidup. Niana pikir Dirga tidak akan marah dengan mengotori pipinya sedikit. Ternyata kejadian manis yang telah mereka lalu penuh gairah tidak bisa mencairkan sikapnya yang dingin saat berada di depan banyak orang.


"Jadi dia tetap stay cool kalau di depan banyak orang. Kenapa saat berdua denganku dia manis sekali bahkan sikap dinginnya yang seperti es batu tidak terlihat sama sekali. Apakah dia akan memakanku hidup-hidup" ucap Niana berjalan mundur sambil memutar bola matanya menghindari tatapan Dirga yang tengah berjalan mendekatinya


"Jadi kamu mulai berani?" ucap Dirga berdiri sambil berkacak pinggang


Kemudian dengan cepat Dirga memanggul Niana di atas pundak kanannya. Dirga membawa Niana masuk ke dalam rumah. Tubuh Niana digelantungkan di atas pundaknya, sehingga kepalanya ada di belakang punggung Dirga dan tangannya hanya bisa memukul-mukul punggung Dirga.


"Dirga turunkan aku" titah Niana tetapi Dirga tak menanggapi ucapan Niana dan terus melangkah menuju kamarnya


"Ma sepertinya Kak Dirga ingin olahraga lagi di atas kasur" ucap Renata


Semua para pelayan rumah melihat Tuan Mudanya sedang menggendong Nona Muda menuju kamar dengan wajah datar. Para pelayan rumah pun hanya menunduk memberi hormat. Dirga tak mempedulikan semua orang yang menatapnya, dia terus mengendong Niana hingga sampe di wastafel kamar mandinya. Didudukannya Niana di atas washstand, Niana kini berada di antara kedua telapak tangan Dirga yang diletakan di atas washstand.


"Cepat bersihkan" titah Dirga memberikan pipinya yang kotor karena dicubit tangan Niana yang kotor


Nianapun membersihkan pipi Dirga dengan tisu basah yang ada di atas washstand.


"Jadi dia jauh-jauh menggendongku dari taman ke kamar hanya untuk membersihkan sedikit noda di pipinya. Bukannya di taman ada kran air, dia bisa membasuh mukanya sendiri di sana. Kenapa harus capek-capek menggendongku ke kamar" batin Niana yang tangannya mulai mengusap pipi Dirga dengan tisu


Dirga lalu memegang kedua tangan Niana dan meletakan di pundaknya. Dahinya ditempelkan ke kening Niana. Dirga memejamkan matanya lalu mencium Niana. Tangan Niana yang tadinya di atas pundak Dirga kini merangkul lehernya. Sedangkan tangan Dirga memegangi paha Niana lalu dilingkarkan ke pinggangnya.


Niana yang masih duduk di washstand melepas ciuman Dirga untuk mengatur nafasnya. Nafas Dirga pun juga ikut memburu dan ingin mencium Niana lagi.


"Dirga... " ucap Niana lirih merasakan milik Dirga tengah mengeras


"Don't talk" ucap Dirga lalu menggendong Niana dan memegangi paha Niana sambil berciuman menuju ke ranjang. Niana pun melingkarkan kakinya di pinggang Dirga dengan erat.


Setelah sampai di ranjang, Dirga duduk di pinggir kasur dan Niana duduk di pangkuannya. Mereka pun berciuman lagi dengan penuh gairah. Tangan Dirga meraih resleting dress Niana yang ada di belakang punggungnya. Niana membusungkan dadanya ke depan wajah Dirga agar Dirga mudah membuka resleting itu.


Dres Niana pun langsung mlorot jatuh menyisakan dalaman saja. Niana pun membantu Dirga melepas kancing kemeja Dirga. Setelah kemejanya terlepas Dirga segera melepas semua celananya. Dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Tangan Dirga menggosok lembut ke area bawah milik Niana yang masih terbungkus kain segitiga. Sedangkan bibirnya aktif melahap dan menyedot bulatan kecil merah mudah di tengah bukit indah Niana yang sudah terlepas dari kain penopangnya. Nianapun dibuatnya mengelinjang dan mendesah sampai bagian bawahnya basah hingga tak bisa berkata-kata. Milik Dirga pun terasa ingin segera bersarang dalam gua. Dengan cepat Dirga melesakan miliknya membelah hutan belantara menuju jalan ke surga dunia. Dengan hentakan kuat berulang-ulang seolah ingin mencapai bagian yang terdalam membuat tubuh Niana mengejang dan menengang.


"Dirga aku mau keluar" ceracau Niana


"Sebentar sayang, tunggu aku" ucap Dirga mempercepat gerakannya


"Ah ah Dirga...." Niana mengerang menyebut nama suaminya


"Aaaarrrgghhh" ucap Dirga melepas semua benih-benih buah hatinya ke dalam rongga terhangat ciptaaan Tuhan yang akan melindunginya selama 9 bulan lebih