Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 54 Tak bisa tidur tanpa Niana


Setelah Toni mengatakan tidak akan meminta bantuan Niana lagi untuk jadi pacarnya, Dirga tetap belum melepaskan tangan Toni. Sudah lama Dirga tidak bermain-main mengeluarkan kemampuan bela dirinya. Mumpung ada target yang yang tepat Dirga pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang menyenangkan menurutnya. Walaupun kemampuan yang dikeluarkan belum seberapa tetapi membuat tangan Toni beringsut ke kanan ke kiri seolah mencari cara agar bisa terlepas dari cengkeraman tangan Dirga.


"Aku sudah berjanji tidak akan meminta Niana jadi pacar pura-puraku lagi, sekarang tepatilah janjimu juga. Lepaskan tanganku" ucap Toni


"Tidak, sebelum kamu mengatakan tujuanmu kemarin menemui Niana" ucap Dirga yang masih memegang tangan Toni dengan santai tetapi membuat Toni kesakitan


"Baik akan ku katakan tapi lepaskan tanganku dulu karena ceritanya panjang, tanganku bisa patah kalau kau tetap mencengkeram tanganku seperti ini" ucap Toni


"Baiklah cepat katakan" ucap Dirga setelah melepaskan tangan Toni lalu menghempaskannya dengan kasar


"Aachh, tenagamu cukup kuat juga. Bolehkah aku belajar darimu?" tanya Toni sambil mengibas-ngibaskan tanganya yang sakit


"Apa tujuanmu menemui Niana tidak usah mengatakan omong kosong"


"Sebenarnya kemarin aku ingin memberikan cincin pada Niana tapi.. " ucap Toni terhenti


"Apa tanganmu benar-benar ingin kupatahkan" sahut Dirga memotong perkataan Toni dan membekuk telapak tangannya hingga Toni blingsatan kalau tulang jari-jari tangannya patah


"Aacchh jurus apalagi yang kau pakai ini, bisakah kamu lepaskan. Tahan emosimu, aku bisa jelaskan"


"Baiklah, kalau kamu mengatakan perkataan yang tidak ku inginkan. Kedua jari-jari tanganmu bisa aku patahkan sekalikus" ucap Dirga melepaskan jemari tangan Toni


"Sabarlah bro, dengarkan aku dulu. Awalnya aku menemukan cincin itu di dekat Niana saat dia kecelakaan bersamamu waktu di Surabaya. Dua hari yang lalu aku baru ingat, karena cincin itu aku simpan di dalam saku celanaku yang jarang aku pakai. Kebetulan saat di Hospital Sanjaya cincin itu menggelinding karena aku menjatuhkannya saat mencari kunci mobilku dalam saku celana. Jadi aku baru teringat kalau menyimpan cicin itu" ucap Toni


"Apa kamu yakin itu cincin Niana"


"Entah milik Niana atau bukan kalau milikmu jelas bukan karena ini cincin wanita" ucap Toni sambil menunjukan kotak perhiasan berwarna biru


"Mungkin itu cincin tunangan yang ku berikan pada Niana, serahkan padaku" ucap Dirga yang tangannya mau meraih kotak perhiasan di tangan Toni tetapi Toni menarik tangannya untuk menghindar


"Tidak bisa, belum tentu cincin ini cincin yang kau berikan pada Niana karena di Hospital Sanjaya ada seorang dokter wanita yang menemukan cincin ini saat aku tidak sengaja menjatuhkannya. Dokter itu mengatakan kalau cincin ini seperti cincin tunangan yang ditunjukan ke kasihnya tetapi dia belum sempat memakainya" ucap Toni


Mr Ken yang dari tadi berdiri mematung di samping Dirga tiba-tiba sudah ada di belakang Toni. Diam-diam dengan gerakan senyap Mr Ken sudah mengambil kotak perhiasan di tangan Toni. Entah jurus apa yang dipakainya. Seperti hantu gentayangan bisa muncul sesuk hati.


"Maaf Tuan Toni, kami akan memberikannya sendiri pada Nona Niana. Jika cincin ini bukan miliknya, kami akan mengembalikannya lagi pada anda" ucap Mr Ken yang langsung melemparkan kotak perihasan itu ke arah Dirga dan langsung di tangkap Dirga dengan sigap.


"Kembalikan" titah Toni


"Sorry Ton, nikmati air lemonmu sendirian" ucap Dirga melangkah pergi meninggalkan Toni


Mr Ken segera melajukan mobil menuju Rumah Besar Sanjaya meninggalkan Cafe I-Like. Di dalam mobil Dirga mulai membuka kotak perihasan mungil itu. Sesuai dugaannya itu memang cincin tunangannya yang dipakai Niana. Akhirnya cincin yang dia cari itu pun jadi ketemu.


"Cih aku pernah menuduh Niana yang mengambil cincin ini. Ternyata semua tuduhanku padanya salah" batin Dirga


"Tuan apakah anda juga berpikir dokter yang diceritakan Toni itu" tanya Mr Ken


"Iya dia memang Tania. Menurutmu apakah Tania akan berubah pikiran untuk kembali padaku kalau tahu aku sudah menikah dengan Niana" sahut Dirga


"Aku berharap bisa berpisah dengan Tania dengan damai tanpa mencampuri hidup masing-masing" ucap Dirga memandang ke arah kaca mobil seperti sedang memikirkan apa yang harus dilakukan jika Tania tidak bisa menerima kenyataan kalau dia sudah menikah. Apalagi mimpi buruknya selalu saja menghantui pikirannya.


"Semoga saja tuan"


Pukul 9 malam Dirga sampai di rumah. Mr Ken lalu pulang ke kediamanya setelah mengantar tuannya pulang. Dirga pun masuk ke kamarnya. Niana seharusnya sudah tidur di atas ranjang tetapi kasurnya masih rapi dan Niana tidak ada di kamar. Dirga yang mau mandi akhirnya membatalkan niatnya setelah tidak menemukan Niana dimana pun. Hatinya sudah gundah gulana, dia tidak akan bisa tidur tanpa ada Niana di sampingngnya.


"Halo ada apa?" tanya Niana saat Dirga melakukan panggilan seluler


"Kamu dimana sekarang?" tanya Dirga


"Aku di RS menemani Renata menjaga mama"


"Jangan kemana-mana aku akan menjemputmu sekarang" titah Dirga


"Tidak usah aku tidur di RS saja bersama Renata" ucap Niana


"Aku tidak mengizinkan, kamu tunggu di sana, aku akan segera datang" ucap Dirga mematikan ponselnya lalu bergegas ke RS


"Mama sepertinya aku tidak bisa menemani Renata menjaga mama karena Dirga mau menjemputku" ucap Niana pada Mama Sofi


"Tidak apa-apa Niana, sering-seringlah bersama Dirga karena kalian kan juga masih pengantin baru biar mama juga cepat punya cucu iya kan Ren" ucap Mama Sofi


"All right ma, biar rumah kita jadi ramai juga"


"Mama jadi bayangin kalau punya cucu kembar rumah kita semakin ramai" ucap Mama Sofi


"Wah gemes banget kalau aku punya keponakan kembar pasti lucu sekali" ucap Renata


Obrolan ibu dan anak itu seolah membuat mual perut Niana. Harapan mereka untuk mendapat cucu atau keponakan dari Niana mungkin hanya jadi agan-angan belaka.Niana pun hanya bisa tersenyum haha hihi saja menanggapi obrolan mereka. Sedangkan dirinya yang masih terbelenggu dalam kesalahpahaman, tidak pernah memikirkan punya anak sama Dirga. Karena wanita yang dicintai Dirga bukanlah dirinya. Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana secepatnya bercerai untuk mengakhiri sandiwara Dirga.


Pukul 10 malam Dirga sampai RS sendirian tanpa diantar Mr Ken. Sesampainya di kamar Mama Sofi, dilihatnya Niana sudah tidur di sofa dan mamanya juga sudah tertidur karena pengaruh obat yang mereka konsumsi. Di ruang itu hanya menyisakan Renata sendirian yang matanya masih terang benerang bermain ponsel.


"Kak Dirga benar-benar ingin menjemput kak Niana pulang, tapi kak Niana sudah tidur setengah jam yang lalu" ucap Renata saat Dirga datang


"Ssstt.... Jangan berisik. Kakak tidak bisa tidur kalau kakak ipar mu tidak disamping kakak" ucap Dirga memelankan suaranya


"Oke Rena paham kalian pengantin baru, silahkan bawa pulang kakak ipar. Rena request buatin keponakan yang lucu dan menggemaskan" ucap Renata


"Sstttt... diamlah bawel" kata Dirga mendaratkan telapak tangannya ke wajah Renata lalu menghampiri Niana yang tertidur meringkuk di sofa


"Kak jangan lupa keponakannku dibuat secepatnya" bisik Renata


"Jaga mama baik-baik, kakak pulang dulu" ucap Dirga yang sudah menggendong Niana


Dirga melangkah pulang melewati lorong-lorong RS menuju mobilnya dengan menggendong Niana tanpa mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang di RS melihatnya. Dia malah merasa bangga seperti pangeran yang gagah seolah sedang menjaga dan melindungi tuan puterinya. Sesekali dipandangi wajah Niana sambil tersenyum kecil. Wajah Niana yang menggemaskan itu seperti candu yang ingin selalu dilihatnya sebelum tidur.