
Sementara Paman Yan masih bersembunyi di balik pilar samping rumah terlihat sangat serius sekali menerima panggilan telepon.
"Siapa anda? Darimana mendapatkan nomer ponsel saya?" ucap Paman Yan
"Siapa saya dan darimana saya mendapatkan nomer anda itu tidak penting. Bagaimana Tuan, apakah anda mau bekerjasama dengan saya. Saya akan membantu anda membalaskan dendam anda dan berikan uang cash 10M" ucap seorang wanita yang tidak diketahui dengan jelas identitasnya oleh Paman Yan
"Apa? 10M anda mau memeras saya?" ucap Paman Yan dengan nada marah
*Flash back*
Beberapa hari yang lalu Dirga mengatakan pada Paman Yan kalau dia pulang terlambat karena menjenguk Tania yang sedang sakit.Dirga pulang terlambat waktu itu hingga membuat Niana menunggu dan kakinya kena pecahan gelas. Mendengar Tania sakit, Paman Yan yang begitu khawatir pada keadaan Tania waktu itu sampai menawarkan diri menggantikan Dirga untuk menjenguk Tania tiap hari agar Niana tidak curiga karena mengira Dirga masih memiliki perasaan pada Tania. Padahal Paman Yan memiliki niat tersendiri agar bisa melihat keadaan puterinya tiap hari tanpa ada orang lain yang akan curiga kalau Paman Yan memiliki hubungan darah dengan Tania.
Karena Dirga menolak tawaran Paman Yan, akhirnya besok paginya Paman Yan diam-diam pergi ke Hospital Sanjaya untuk menemui Tania pagi-pagi sekali. Paman Yan pun hampir kepergok Renata yang waktu itu terburu-buru ke rumah Aska. Raut wajah Paman Yan waktu itu terlihat seperti ketakutan karena khawatir Renata menanyakan tentang kepergiannya pagi itu. Tetapi Renata yang sedang terburu-buru tidak terlalu memikirkan Paman Yan yang pagi-pagi sudah keluar entah dari mana. Padahal dia sebagai kepala pelayan rumah seharusnya sedang bekerja mengawasi para pelayan rumah bukan berpergian entah kemana.
Saat menemui Tania di RS Paman Yan mengaku pada Tania kalau Dirgalah yang menyuruh menjenguknya karena Dirga masih sibuk dengan pekerjaannya. Paman Yan berbohong pada Tania untuk membuat hati Tania senang seolah Dirga masih peduli dengannya. Tak ada keberanian yang dimiliki Paman Yan untuk mengatakan kalau dia adalah ayah kandung Tania. Padahal dia ingin sekali memeluk Tania dan mengatakan bahwa dia ayah kandungnya. Paman Yan tidak ingin pikiran Tania semakin stres dan memperparah sakitnya walaupun dia tahu keadaan Tania sudah kronis dan parah sekali. Apalagi kalau sampai Tania tahu kalau ayah kandungnya hanyalah seorang kepala pelayan di keluarga Sanjaya, pasti akan membuat Tania malu. Perasaan Paman Yan saat itu benar-benar kalut seperti sedang berperang melawan hatinya sendiri. Karena air matanya tak kuasa ia bendung, dia pun berpamitan pulang meninggalkan Tania. Saat Paman Yan keluar dari ruangan Tania dengan wajah putus asa, Dokter Bara melihatnya. Ketika Dokter Bara mau memanggil dan menghampiri Paman Yan yang sudah mau belok ke salah satu sisi lorong RS tiba-tiba ada seorang perawat yang memanggilnya, akhirnya Dokter Bara mengurungkan niatnya.
"Tania anak ku maafkan ayah, ayah tidak bisa menjaga dan merawatmu. Selama ini aku hanya bisa mempercayakan mu pada ibumu Fenita agar kamu bisa hidup dengan baik di keluarga Ferdinan. Ternyata Ferdinan seperti tidak menyanyangimu. Maafkan ayah Tania, ayah tidak berguna untukmu. Ayah juga tidak bisa membawamu setelah kamu lahir karena Fenita tidak mengizinkan ayah merawatmu. Ibumu tidak ingin semua orang tahu kalau ayahnya adalah kepala pelayan di keluarga Sanjaya. Ayah hanya bisa mengawasimu dari kejauhan selama ini. Kamulah satu-satunya anak kandung ayah, cepatlah sembuh Tania" ucap Paman Yan sambil menyandarkan punggungnya ke dinding seolah kakinya tak kuasa menahan tubuhnya. Dia menumpahkan seluruh air matanya di lorong RS yang suasananya sepi.
Seorang wanita bertopi dan memakai masker hitam mengikuti Paman Yan dari belakang dan menguping semua ucapan Paman Yan yang tengah berbicara sendiri menyebut Tania adalah anak kandungnya. Wanita itu juga telah mengawasi Paman Yan sejak masuk ke ruangan Tania. Bahkan dia sudah mengawasi Tania dan Dirga saat mereka makan malam di Wonderly Resto. Dia adalah Risti, mantan karyawan Sanjaya Group yang telah dipecat beberapa bulan yang lalu secara tidak hormat bahkan kuasa hukum Sanjaya Group telah menjebloskannya ke dalam sel tahanan karena telah menukar proposal perusahaan dan mencemarkan nama baik Niana waktu itu. Sayangnya dia berhasil melarikan diri dari sel tahanan setelah menjalani hukumannya selama sebulan. Dendamnya pada Niana dan Dirga semakin besar setelah mengetahui Dirga dan Niana telah menikah dan hidup bahagia setelah memasukannya ke dalam penjara dan membuat hidupnya seperti gelandangan.
Hidup dan karir Risti sekarang hancur bahkan sekarang dia menjadi buronan polisi karena telah melarikan diri dari penjara. Agar semua orang tidak mengenalinya, dia pun telah memangkas rambut panjangnya hingga pendek seperti laki-laki. Dia sekarang hidup sebatang kara di sebuah rumah kosong tak bertuan dan jauh dari keramaian. Kesehariannya dihabiskan dg mencuri dan mengemis karena ia tidak memiliki uang sepersen pun. Pacarnya telah menguras habis semua tabungannya saat dia ada di dalam penjara. Sekarang pacarnya pun masuk jeruji besi juga karena ketahuan menggelapkan uang di perusahaannya Aska, Asakara Company.
Saat mendengar ucapan Paman Yan yang berbicara sendirian, Risti mendapatkan ide untuk menghancurkan hidup Dirga dan Niana lewat Paman Yan. Sebelumnya dia telah mengawasi kehidupan Dirga dan orang-orang yang ada di sekitarnya tetapi belum menemukan cara yang tepat untuk menghancurkan hidup Dirga. Risti berjalan sambil melemparkan sebuah kertas kepada Paman Yan yang tengah menangis dan masih bersandar di tembok. Paman Yan penasaran dan mengambil kertas yang dilempar ke arahnya, lalu mulai membukanya dengan ragu dan membacanya.
Tangan Paman Yan terlihat gemetar, matanya terbelalak berkaca keca seperti menahan luka dan dadanya terasa sesak setelah membaca isi pesan dari seseorang yang tidak diketahui dengan jelas identitasnya. Risti sepertinya berhasil mencuci otak Paman Yan dan menanamkan kebencian pada tuannya. Pikiran dan hati paman Yan yang sangat kalut mudah sekali dipengaruhi oleh sebuah surat kaleng yang tidak jelas. Dia menelan mentah-mentah apa yang telah dibacanya.
*Flashback selesai*
"Terserah anda tuan, apakah anda tidak ingat betapa menderitannya puteri anda satu-satunya. Dan yang telah membuat puteri anda menderita sudah hidup bahagia dan hidup anda terlihat menyedihkan sekali"
"Saya tidak punya uang sebanyak itu, saya bisa membalaskan dendam saya sendiri" ucap Paman Yan pada wanita yang tengah meneleponnya
"Ck, apakah anda yakin bisa melakukannya sendiri tanpa jejak? Jika saya membantu anda maka saya jamin anda tidak akan terlibat sama sekali" ucap wanita itu meyakinkan
"Beri saya waktu"
"Sebaiknya jangan terlalu lama berpikir, kalau tidak andalah yang akan jadi tersangka jika terjadi sesuatu pada Tuan Muda atau Nona Muda Sanjaya"
"Apa maksud anda? Anda mengancam saya?" ucap Paman Yan kesal sambil mengepalkan tangannya
"Pikirkanlah dengan baik dan cepat Pak Tua"
ucap seorang wanita dengan santai lalu mematikan ponselnya