Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 36 Niana sedang dismenhorea


Sakit perut membuat Niana malas untuk pergi ke kantor, apalagi kepalanya juga pusing. Hal yang biasa terjadi pada wanita tiap bulan, seperti tamu tak diundang yang membuat aktifitas menjadi terhambat. Tetapi dia harus berangkat karena dia sekarang ada di devisi 1 berhadapan langsung dengan bos pemilik perusahaan.Dia tidak ingin mengambil cuti karena dia ingin mengumpulkan cutinya untuk pulang ke Surabaya menemui keluarganya. Dia juga berencana akan segera mengundurkan diri dari Sanjaya Grub. Tenaga, hati dan pikirannya sudah lelah untuk memghadapi Dirga dan segala gosip miring tentang dirinya.


Wajah Niana terlihat sedikit pucat, kepalanya pusing dan tidak bersemangat mengingat gosip tentang dirinya mungkin akan semakin besar apalagi kemarin dia berhadapan langsung dengan tunangan Dirga. Entah gosip apalagi yang akan menerpanya hari ini, sepertinya dia harus lebih kuat menutup kedua telinganya dari hari-hari biasanya. Badannya lemas menahan perutnya yang sakit sehingga dia tak akan mampu kalau menaiki tangga darurat seperti biasa. Sehingga dia memutuskan ingin naik lift saja, harapanya dia tidak akan bertemu dengan Dirga dalam satu lift. Saat pintu lift mau tertutup dia segera berlari menuju lift tetapi ternyata ruang lift sudah banyak orang, ada Dirga dan Mr Ken juga di dalam lift yang sudah mau penuh itu. Dia pun mempersilahkan semua orang yang ada di lift untuk segera menutup pintu dan naik lift dulu karena dia tidak ingin satu lift dengan Dirga. Pintu lift pun tertutup, dia berdiri di depan lift menunggu lift selanjutnya kosong.


Baru 30 detik pintu lift yang tadinya sudah tertutup sekarang tiba-tiba terbuka. Semua karyawan yang ada di dalam lift termasuk Mr Ken keluar berhamburan menyisakan Dirga seorang. Niana terlihat bingung di depan pintu lift melihat semua karyawan keluar dari dalam lift, lalu dia ingin pergi juga.


"Masuk...!" seru Dirga pada Niana yang baru selangkah berjalan


"Apakah Dirga menyuruhku masuk?"


batin Niana yang langkahnya terhenti


"Apa anda tidak mendengar?"


Akhirnya Niana pun masuk ke dalam lift. Dia hanya bersama Dirga di dalam lift itu. Lalu dia berdiri di depan tombol lift memencet tombol naik lantai 20. Dirga berdiri di pojok ruang lift melirik ke arah Niana yang masih berdiri di depan tombol lift dan menundukan kepalanya.


"Saya ingin bicara kemarilah" ucap Dirga


"Bukankah dari sini juga terdengar suaranya" batin Niana menggeser kakinya satu langkah ke samping Dirga


"Ada apa Pak" tanya Niana menundukan wajah selain karena ingin menjauhi Dirga juga karena menahan sakit perutnya


"Mendekatlah lagi" ucap Dirga dengan nada pelan


Niana bergeser dan berdiri di pojok lift bagian kanan lalu menyandarkan punggungnya. Jarak yang masih jauh dari harapan Dirga yang berada di pojok kiri ruang lift. Dirga meliriknya dengan tatapan bersalah atas sikapnya selama ini pada Niana.


"Kenapa kamu selalu membuatku merasa bersalah" ucap Dirga menatap lurus ke arah pintu lift


"Apa maksud anda Pak?" ucap Niana melirik sebentar ke arah Dirga lalu menyandarkan kepalanya yang terasa pusing ke dinding lift bagian kanan


"Apa kau tau betapa gelisahnya perasaanku setiap ada sesuatu yang terjadi padamu" ucap Dirga menoleh ke arah Niana. Niana hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu tidak mau menatapku, bisakah kamu merasakan aku sakit saat kamu menjauh dari ku?" ucap Dirga menatap lurus ke depan lehernya terlihat menelan ludah seperti merasakan sakit.


Niana menoleh ke arahnya, meliriknya lalu memalingkan wajahnya ke bagian kanan lift. Sebenarnya dia tidak terlalu fokus pada perkataan Dirga karena menahan sakit dan pusing di kepalanya bahkan badannya seperti lemas serasa mau pingsan. Lalu Dirga mendekat meraih tangan Niana dan meletakan tangan Niana di dadanya.


"Aku sakit di sini saat kau menjauh" ucap Dirga


"Aku lebih sakit saat anda mendekat, lepaskan tangan saya pak" ucap Niana tak kuasa menahan tubuhnya, matanya berkunang-kunang


"Niana... Ada apa denganmu? Buka matamu, apa kamu bisa mendengarku. Niana..." ucap Dirga dengan cemas dan berjongkok menahan tubuh Niana yang sudah lemas tak berdaya dalam kondisi setengah sadar


Dirga lalu memencet tombol lift untuk turun ke lantai bawah. Dia segera keluar dari lift berlari membopong Niana menuju klinik kantor yang ada di lantai bawah. Dengan raut wajah yang sangat khawatir dia membopong Niana sendirian tanpa mempedulikan semua orang. Semua arah mata karyawan tertuju padanya dengan pandangan terheran-heran.


"Dokter Rani tolong periksa keadaannya" titah Dirga yang langsung masuk ke ruang pemeriksaan dan membaringkan Niana yang matanya terlihat sayu


"Apa yang terjadi padanya?" tanya dokter Rani


"Saya tidak tau dok, dia tiba-tiba lemas dan mau pingsan"


"Baiklah anda tunggulah di luar, saya akan memeriksanya" ucap dokter Rani dan Dirga pun menutup pintu ruang pemeriksaan


"Niana, apa anda bisa mendegar saya. Apakah perut anda nyeri?" tanya dokter Rani sambil menempelkan stetoskop di bagian dada atas Niana lalu di perutnya. Niana pun hanya mengangguk pelan


"Tekanan darah anda rendah" ucap dokter Rani melihat angka sistol diastol yang menunjukan angka 90/60mmHg sambil memeriksa mata Niana


"Kapan Haid terakhir anda?"


"Anda mengalami dismenhorea yaitu nyeri saat haid. Dan tekanan darah anda juga rendah. Saya akan memberikan obat pereda nyeri untuk anda"


"Terima kasih dok" ucap Niana masih terbaring lemah


"Baiklah istirahatlah dulu. Saya siapkan resep obatnya" ucap dokter Rani lalu keluar ruangan menemui Dirga setelah memberi minuman elektrolit kepada Niana dan memberikan resep obat


Dirga tampak mondar mandir di depan pintu dengan hati penuh gelisah. Dia takut Niana alergi lagi. Kepalanya sudah berpikiran yang aneh-aneh takut Niana kenapa-kenapa.


"Bagaimana keadaannya dok" tanya Dirga


"Niana mengalami dismenhorea pak dan tekanan darahnya rendah sehingga tubuhnya lemas"


"Apa itu dismenhorea? Apa itu sejenis alergi juga dok?"


"Bukan pak, dismenhorea itu nyeri yang dirasakan oleh wanita saat menstruasi bisa menyebabkan pingsan juga jika nyerinya sangat hebat" ucap dokter Rani menahan senyum karena pertanyaan Dirga


"Lalu bagaimana keadaannya dok"


"Dia masih lemas tetapi saya sudah memberikan cairan elektrolit agar dia tidak lemas dan memberi resep obat untuknya"


"Apakah saya bisa menemuinya dok?"


"Silahkan pak. Kalau tubuhnya sudah kuat dia bisa pulang"


Niana terlihat terbaring di bed dia masih meminum cairan elektrolit yang diberikan oleh dokter Rani. Kedatangan Dirga membuatnya sedikit malu karena dia tadi hampir pingsan dan dibopong Dirga ke klinik. Dia juga sempat melihat beberapa karyawan yang memperhatikannya saat dibopong Dirga, Niana takut gosip tentangnya semakin membuatnya dalam kesulitan. Dirga berjalan dan duduk di kursi di samping bed Niana.


"Bagaimana keadaan anda?" tanya Dirga


"Saya sudah mendingan, pak"


"Baguslah, lain kali kalau kamu tidak enak badan lebih baik tidak usah masuk kantor"


"Terima kasih sudah menolong saya. Maaf sudah merepotkan Pak Dirga"


"Baiklah, saya akan antar kamu pulang kalau kondisimu sudah cukup kuat"


"Terima kasih, saya sudah menghubungi teman saya untuk menjemput. Dia sudah di jalan"


"Baiklah saya akan menunggu sampe teman anda datang" ucap Dirga penasaran siapa teman Niana laki-laki atau perempuan


"Pak Dirga tidak perlu menunggu teman saya datang, tolong tinggalkan saya sendiri" ucap Niana dengan raut wajah yang sedih karena dia takut ada gosip yang semakin menyulitkan dirinya untuk bisa bertahan bekerja di Sanjaya Grub


"Saya takut kalau anda pingsan lagi"


"Di sini ada perawat dan dokter juga, Pak Dirga tidak perlu khawatir. Jadi Pak Dirga bisa kembali ke kantor"


"Sepertinya Niana tidak suka saya menemaninya" batin Dirga sedikit kecewa


"Baiklah saya akan pergi, kalau anda butuh sesuatu bisa menghubungi saya atau Ken" ucap Dirga


"Terima kasih" ucap Niana singkat


Dengan perasaan kecewa Dirga meninggalkan Niana sendiri. Sikap Niana yang dingin padanya membuat hatinya terluka. Dia sudah menunggunya dengan penuh gelisah tetapi ternyata Niana tidak ingin dia menemaninya.