
Dirga menyerahkan ikat rambut itu dan diambil Niana tetapi tangan Dirga tak mau melepaskannya, seperti tidak serius mau mengembalikannya. Sepertinya Dirga tidak ikhlas ingin mengembalikan ikat rambut itu, karena ikat rambut itu seperti mainan baru baginya. Akhirnya malah jadi aksi tarik menarik yang sangat segit diantara mereka. Niana pun semakin kesal dengan tingkah Dirga, akhirnya ikat rambut itu dilepas dari tanganya dan menjebret tangan Dirga.
"Aachh" seru Dirga kesakitan yang tangannya masih memegang ikat rambut
"Terserah Pak Dirga buang saja ikat rambut itu, saya masih punya banyak" ucap Niana lalu berjalan kembali ke kantor meninggalkan Dirga
"Jadi hanya karena sebuah ikat rambut dia menarik-narikku sampai ke sini, seperti orang kesurupan" batin Niana
"Anda mau kemana, masalah kita belum selesai" ucap Dirga mengejar Niana lalu meraih tangannya
"Pak lepaskan tangan saya, Pak Dirga cukup membuang ikat rambut itu maka masalah selesai"
"Saya tidak akan melepaskan, sebelum anda mengatakan ada hubungan apa anda dengan cleaning servis itu"
"Saya ada hubungan apa dengan nya bukan urusan Pak Dirga. Percuma saya mengatakan, Pak Dirga juga tidak akan percaya. Jadi lepaskan tangan saya"
"Lepaskan tangan dia bro" seru laki-laki yang tiba-tiba muncul
"Toni... " seru Niana
(Visual Toni : Zhang Guan Sen)
"Ini bukan urusan mu, ini urusan antara bos dan karyawannya. Jangan ikut campur" ucap Dirga pada Toni
"Tapi Niana teman dekat saya bro, jadi ini urusan saya karena anda menyakitinya. Lepaskan tangan dia" titah Toni
"Teman dekat? bahkan dia tadi juga sedang menggoda seorang cleaning servis kantor. Jadi kamu menyukai wanita seperti dia, yang suka mendekati dan menggoda siapa saja?" ucap Dirga kesal
"Iya aku menyukai Niana karena dia baik dan tulus, atau jangan-jangan anda juga menyukai Niana, Tuan Sanjaya?" ucap Toni
"Baik ambilah, saya tidak pernah menginginkannya" ucap Dirga kesal dan melepaskan tangan Niana dengan kasar
"Oke, terima kasih bro" ucap Toni sambil menepuk-nepuk pundak Dirga yang sedang berkacak pinggang seperti ada penyesalan yang dia tutupi dari wajahnya saat mengatakan pada Toni untuk mengambil Niana
Entah kenapa ucapan Dirga terasa mengiris perih dan menoreh luka di hati Niana. Dulu sewaktu amnesia Dirga memberinya segudang cinta, berjanji tidak akan menyakitinya, tidak akan meninggalkannya, kini dia dibuang seperti barang yang sudah tak berguna. Walaupun Niana menyadari janji manis Dirga dulu karena dia sedang amnesia, tetapi perasaan yang diberikan Dirga dulu sudah merasuki relung hatinya. Dirga sudah terlanjur ada di dalam perasaan Niana yang dia tutupi. Dirga masuk ke dalam hatinya melalui jembatan yang dia bangun sendiri dengan kebohongan yanh terpaksa dilakukannya. Tentunya itu menjadi luka yang menyakitkan bagi Niana. Seperti langit runtuh hancurnya jiwanya saat ini, batinya pun terhimpit kalutnya kepedihan.
"Toni kenapa kamu disini?" ucap Niana lirih sambil mengusap butiran bening di pipinya membelakangi Dirga
"Aku mencarimu, aku cari kamu di toko tidak ada. Jadi aku ke sini dan tidak sengaja bertemu kalian" ucap Toni
"Baik kamu hubungi aku saja nanti, aku masih bekerja sekarang" ucap Niana meninggalkan mereka berdua
Akhirnya drama pertengkaran karena ikat rambut pun berakhir dengan menyisakan luka di hati Niana. Sekarang Niana sudah terlihat sibuk berada di meja kerjanya. Pekerjaanya jadi menumpuk gara-gara waktunya habis hanya untuk menunggu Dirga di ruang kerjanya dan bertengkar tidak jelas di taman tadi.
Dirga dan Mr Ken belum kembali juga ke ruangnya. Mungkin Dirga masih di taman setelah ditinggalkan Niana sendirian. Sedangkan Mr Ken dan cleaning servis yang bersama dengan Niana tadi hilang seperti ditelan bumi, entah mereka ada dimana.
Dengan wajah yang masih kesal Dirga kembali menuju ke ruangnya tanpa diikuti asisten pribadinya Mr Ken.
Ketika membuka pintu ruanganya ada seseorang berambut lurus sebahu duduk di kursi singgasananya. Karena terkejut dia lupa tidak menutup pintunya dengan rapat. Pikiran Dirga menebak siapa wanita berambut sebahu itu. Dan langsung menghampiri wanita yang duduknya membelakangi meja itu.
"Tania.....!" seru Dirga
"Surprise........ Aku pulang.....!!!! seru Tania melangkah cepat memeluk Tuan Dirga
(Visual Tania : Seo hyun Jin)
Hatinya yang tadi masih kesal terbakar api cemburu, sekarang jadi bingung harus merespon pelukan Tania seperti apa. Dia hanya diam tanpa membalas pelukan Tania. Sepertinya rasa cemburunya pada cleaning servis tadi lebih mendominasi hatinya daripada perasaanya terhadap Tania saat ini.
Sejak Tania memutuskan akan pulang dari Jerman setelah 2 tahun lagi melalui telefon dan Dirga memintanya untuk melupakan dirinya, perasaannya untuk Tania seolah mulai memudar perlahan-lahan. Karena Dirga membutuhkan wanita yang selalu ada di sampingnya, wanita yang bisa dipandanginya untuk menghilangkan lelahnya setelah pulang bekerja dan menemaninya saat susah atau senang. Dirga hanya menginginkan pasangannya menjadi istri yang baik dan selalu ada di sisinya.
"Bukannya kamu akan pulang 2 tahun lagi setelah studimu selesai"
"Aku pulang karena ingin bertemu denganmu" ucap Tania sambil melingkarkan tanganya di leher Dirga dengan manja
"Hanya ingin bertemu?? apakah tidak ada tujuan lain" ucap Dirga curiga dengan kepulangan Tania yang mendadak
"Maaf permisi Pak... " ucap Niana terhenti bersama langkahnya saat melihat Dirga bersama seorang wanita
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu" ucap Dirga yang posisinya membelakangi Niana dan lehernya masih dipeluk erat oleh Tania. Dirga pun membiarkan pelukan tangan Tania dilehernya
"Maaf atas kelancangan saya Pak Dirga. Tadi saya sudah mengetuk pintu karena pintunya sudah terbuka jadi saya langsung masuk" ucap Niana
"Ada apa?" tanya Dirga melirik ke belakang
"Saya mau mengantarkan jus stroberry yang Pak Dirga pesan tadi" ucap Niana yang masih berdiri di depan pintu
"Letakan di atas meja" ucap Dirga menolehkan sedikit pandangannya ke sebelah kanan dimana mejanya berada
Niana yang masih berdiri di depan pintu segera berjalan menuju meja Dirga dan meletakanya di sana. Kepalanya selalu menunduk, seperti tak kuasa melihat kemesraan dua insan di depannya.
"Apakah dia tunangan Dirga" batin Niana
"Bagaimana kalau kita makan siang di restoran favorit kita, aku sangat merindukanmu" ucap Tania sambil melirik ke arah Niana
"Permisi Pak Dirga" ucap Niana segera bergegas pergi dari ruangan yang membuat dadanya sesak
Mata Dirga melirik ke arah Niana ketika dia pergi meninggalkan ruangannya dan menutup pintu.
"Maaf Tania, aku barusan makan siang" ucap Dirga bohong sambil melepas tangan Tania yang dari tadi dibiarkannya melingkar di lehernya selama Niana ada di ruangannya
"Apakah kamu masih marah padaku?"
"Tidak juga"
"Bukankah sikapmu ini menunjukan kamu marah padaku" batin Tania
"Permisi Tuan Dirga..." ucap Mr Ken yang masuk ke ruangan Tuan Dirga dan menghentikan perkataannya karena melihat ada Tania di ruang itu
"Ada apa Ken?" ucap Tuan Dirga
"Selamat siang nona Tania, kapan nona pulang" sapa Mr Ken pura-pura tidak tahu padahal dia ingin memberi tahu tuannya tujuan Tania pulang mendadak ke Indonesia
"Siang Ken, tadi pagi" jawab Tania
"Ken... Apakah ada yang hal penting yang ingin kau katakan" ucap Dirga
Mr Ken melirik ke arah Tania. Dirga pun memahami apa yang diisyaratkan asisten pribadinya itu. Mr Ken ingin menyampaikan sesuatu yang penting tetapi Tania ada di dalam ruangan.
"Katakan saja Ken, saya tidak akan mengganggu kalian bekerja" ucap Tania
"Tania maaf ini masalah perusahaan tidak boleh diketahui orang lain, jadi mengertilah. Saya juga sedang sibuk sekarang" ucap Dirga seperti mengusirnya secara halus
"Apakah aku sudah jadi orang lain sekarang? mungkin dia sedang marah. Sabar Tania kalau kemarahannya sudah berkurang kamu bisa mengambil hatinya lagi. Semoga kepulanganku ke Indonesia tidak sia-sia, selain meredakan kemarahan Dirga, yang terpenting adalah untuk urusan studiku sendiri juga. Aku harus secepatnya mendapatkan izin dari Dirga untuk melakukan penelitian di Sanjaya Hospital. Setahuku RS milik Sanjaya itu tidak mengizinkan peneliti/orang magang yang tidak ada hubungan dengan keluarga Sanjaya" batin Tania
"Mari saya antar Nona Tania" ucap Mr Ken seperti mengusir secara halus
"Tidak perlu Ken, terima kasih" ucap Tania sedikit kesal dan meninggalkan ruangan
Sementara di luar ruangan presdir, Niana seperti tidak fokus dengan pekerjaannya. Jari-jarinya terlihat mengetik di atas keyboard leptopnya tetapi pikirannya masih terbayang-bayang kemesraan antara Dirga dan wanita cantik yang memiliki rambut sebahu itu.
"Tunangannya Pak Dirga cantik ya? Hidup Pak Dirga sempurna banget harta melimpah 7 turunan, tampan, tunanganya cantik dokter pula. Seandainya aku jadi wanita itu" ucap Riska menyenggol siku Niana, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua pipinya sambil melamun
"Kerja jangan ngehalu terus..." ucap Niana sambil mengusap wajah Riska yang sedang membanyangkan sesuatu
"Apaain sih, pikiranmu aja dari tadi juga trveling entah kemana sampai ngetik tidak jelas seperti itu. Apa itu yang kau ketik DIRGA I LOVE YOU" ucap Riska menunjuk ke arah leptop Niana sambil memicingkan matanya untuk membaca ketikan Niana di layar leptopnya. Niana pun kaget mendengar kalimat yang dibaca Riska.
"Hei... ketikanku memang tidak jelas dan tidak bermakna, tapi tidak usah kamu tambah-tambahin kalimat Dirga I Love You" seru Niana sambil mencubit gemas kedua pipi Riska
"Aachh sakit pipiku" ucap Riska mengelus-elus pipinya
"Tunangannya Dirga sudah kembali, kedepannya aku harus benar-benar menjauhi Dirga. Aku juga harus lebih tau diri lagi, Dirga juga tidak pernah menginginkanku" batin Niana yang rasanya ingin menangis