
"Ken menurutmu aku harus bagaimana?" ucap Dirga yang menyandarkan kepalanya kebelakang kursi kerjanya
"Kalau tuan benar-benar menyukai Nona Niana lebih baik katakan saja padanya" ujar Mr Ken
"Dia saja tidak ingin melihatku dan selalu menjauhiku"
"Karena Nona Niana tidak tahu kalau Tuan Muda sudah putus dengan Nona Tania jadi dia menjauhi tuan" ucap Mr Ken
"Pasti dia menolak perasaanku karena sikapku selama ini padanya. Bagaimana aku harus membuatnya jatuh hati padaku"
ucap Dirga sambil duduk di kursi presedirnya bertopang dagu
"Hemm sungguh rumit. Anda seperti membangun jalan dengan dendam dan kebencian di bawah lautan yang isinya penuh cinta. Sekarang anda sendiri yang jatuh ke lautan cinta itu. Sungguh sudah tidak bisa terselamatkan" batin Mr Ken
"Jangan menyerah tuan, dekatilah terus sampai dia bisa merasakan cinta anda, rayu Nona Niana dengan segala cinta yang anda miliki"
"Hemm, kamu saja masih single Ken. Apa kamu sudah pernah mendekati wanita? Bagaimana kalau dia tetap menolak perasanku"
"Ternyata ada juga wanita yang menolak anda. Anda juga tidak akan menyerah kan walau ditolak" batin Mr Ken
"Tunjukanlah dulu perhatian tuan padanya. Perhatian kecil saja pasti sudah membuat seorang wanita terharu. Urusan ditolak kita bisa memakai cara lain" ucap Mr Ken
"Baiklah, aku pergi dulu" ucap Dirga sambil membawa sebuah map yang ada di atas mejanya
"Tuan, anda mau kemana"
"Menemui masa depan, kau pulanglah sendiri" ucap Dirga
"Apa tuan sudah tahu apa yang harus dilakukan"
"Tenanglah Ken, aku bukanlah lelaki single sepertimu" ucap Dirga meledek Mr Ken
"Baiklah tuan" ucap Mr Ken
"Walau saya single tetapi single high quality" batin Mr Ken
Dengan raut wajah bahagia Dirga melajukan mobilnya ke rumah Niana. Dia mampir ke toko buah, memesan sebuah bingkisan parsel buah. Jantungnya serasa ingin berdegub kencang seolah mau meledak saat sampai di depan pintu gerbang rumah Niana. Dia mengetuk pintu dengan percaya diri walau jantungnya berdetak tak karuan.
"Siapa?" seru Niana membuka pintu gerbang melihat Dirga berdiri membawa parsel buah dan sebuah map
"Apakah saya mengganggu, bolehkah saya masuk?" tanya Dirga
"Silahkan, Pak Dirga ada apa ke rumah saya" tanya Niana sambil menuju ke kursi taman yang ada di halaman rumah
"Bagaimana keadaan anda?"
"Saya sudah cukup baik"
"Baguslah, ini untuk anda dan saya bawakan buah juga"
"Terima kasih pak, seharusnya tidak perlu repot-repot. Apa yang ada di dalam map ini?"
"Jadi Dirga tahu donasi itu dari ku" batin Niana
"Maafkan saya sudah memakai nama Sanjaya Grub, karena itu memang uang dari keluarga Sanjaya. Seharusnya anda juga tidak perlu membuatkan saya piagam penghargaan ini"
"Kenapa anda tidak mau mengambil uang kompensasi dari keluarga Sanjaya?"
"Saya hanya ingin menolong anda saja. Maaf saya telah berbohong pada Pak Dirga selama anda amnesia"
"Rumah ini sangat hangat dan nyaman masih sama seperti dulu. Saya merindukan saat tinggal di sini?" tanya Dirga mengalihkan pembicaraan lalu berdiri memandangi sekeliling rumah
"Apa maksud Pak Dirga?"
"Niana, saya ingin tinggal di sini lagi seperti dulu bersamamu" ucap Dirga sambil meraih kedua tangan Niana
"Anda sedang bercanda atau ingin mengerjai saya lagi. Bukankan ini rumah saya, bukan di kantor. Saya tidak akan patuh dengan perintah anda karena ini rumah saya"
"Baiklah aku yang akan patuh dengan perintahmu. Jadi bolehkah aku tinggal di rumah ini"
"Apakah otak anda rusak lagi"
.
"Tidak, otak ku dalam keadaan sangat baik. Mungkin disini yang sedang tidak baik" ucap Dirga yang mengarahkan tangan Niana yang dari tadi dipegangnya ke dadanya.
"Pak Dirga mau melakukan sandiwara apalagi untuk membuat saya seolah yang menggoda anda. Lalu menyebarkan gosip itu di kantor, apa anda ingin membunuh mental saya pelan-pelan karena dendam?"
"Niana kamu salah paham"
"Cukup, saya tidak ingin melihat anda lagi, silahkan pergi dari sini. Mulai besok pagi saya akan mengundurkan diri dari Sanjaya Grub" ucap Niana pergi meninggalkan Dirga dan menutup pintu rumahnya
"Niana aku bisa menjelaskan semuanya, bukalah pintunya" seru Dirga sambil mengetuk-ngetuk pintu
Teriakan Dirga tak dihiraukan Niana. Dia langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya dan mematikan semua lampu. Kini Niana seperti sudah menyerah untuk bekerja lagi di Sanjaya Grub setelah bertahan sekuat hati menghadapi gosip dan perlakuan Dirga yang seenaknya sendiri. Dia terbaring menangis menatap cahaya lampu tidur yang mungil di kamarnya. Tangisnya terhenti saat melihat panggilan ponsel dari ayahnya.
Niana mendapat kabar kalau perusahaan ayahnya tadi pagi mengalami kebakaran. Ada beberapa korban meninggal dan luka-luka. Beberapa aset yang dimiliki ayahnya sudah dijual untuk menganti kerugian perusahaan dan memberi santunan kepada para korban. Perusahaan ayahnya kini di ambang kebangkrutan karena semua investor tidak mau ikut rugi dan banyak yang menarik sahamnya. Harta ayahnya yang terisa mungkin tidak cukup untuk memulihkan perusahaannya yang terancam bangkrut. Sedangkan mama Arini masih butuh biaya untuk terapi kakinya pasca kecelakaan dan belum bisa berjalan. Liana adiknya juga masih butuh biaya untuk pendidikannya.
Niana mencoba kuat menghadapi masalahnya, dia berjanji pada ayahnya akan membantu biaya terapi mama Arini karena mama Arini tidak bisa berjalan gara-gara menolongnya. Niana juga akan membantu biaya pendidikan adiknya.
Sudah jatuh lalu tertimpa tangga, mungkin itu seperti yang sedang dialami Niana. Aska pun juga tidak bisa membantu banyak karena perusahaannya kini sedang dilanda masalah, ada karyawan yang menggelapkan uang perusahaanya. Sekarang Aska juga sedang berada di luar negeri untuk mencari investor. Mungkin beberapa minggu baru bisa kembali ke Indonesia.
Di rumah besar Sanjaya terlihat Dirga duduk bersandar di atas kasur empuknya. Dia memikirkan bagaimana menjelaskan kepada Niana yang sudah tidak ingin melihatnya lagi. Bahkan Niana besok ingin mengundurkan diri. Dirga mulai membuka ponselnya mencari cara menghadapi wanita yang sedang marah. Saat menuju halaman penelusuran, dia melihat berita yang melintas tentang perusahaan Permana Tech yang mengalami kebakaran hebat hingga di ambang kebangkrutan.
"Bukankah ini perusahaan milik ayahnya Niana. Pasti dia sangat sedih mendengar berita ini. Aku ingin disisimu dan menemanimu saat ini, maafkan aku Niana"
ucap Dirga ijut merasakan seperti apa sedihnya Niana saat ini
Pagi-pagi sekali Niana sudah siap ke kantor bukan untuk bekerja tetapi ingin menyerahkan surat pengunduran diri. Dia ingin segera keluar dari kantor itu untuk menepis gosip buruk tentangnya. Lebih cepat keluar dari kantor itu lebih baik menurutnya, agar dia juga bisa fokus mengurus tokonya saja untuk ke depannya.