Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 66 Gara-gara baju seksi


Ingin rasanya Niana bertanya pada Dirga, kemana arah dan tujuannya cintanya. Bila ingin berpisah dengannya, mengapa harus mempermainkan perasaannya. Dia mencoba menata hati dan pikirannya yang sudah porak poranda agar bisa kuat mendengar jawaban yang menyakitkan jika memang Dirga masih mencintai Tania. Dengan lidahnya yang seolah terasa kelu, Niana memaksa membuka suaranya.


"Kalau kamu masih menginginkan Tania, kamu bisa melepaskanku" ucap Niana duduk meringkuk memeluk kakiknya


Deg.... Dirga pun kaget kenapa Niana bisa tahu kalau dia bertemu Tania semalam. Dirga mengusap kasar rambutnya ke bekakang. Setelah menyadari Niana sudah salah paham padanya karena ketidakjujurannya. Dia pun meraih tubuh Niana yang duduk meringkuk menangis sesenggukan.


"Nianku sayang, maafkan aku sudah berbohong padamu karena aku tidak ingin kamu semakin salah paham. Aku memang bertemu Tania tetapi aku sudah tidak punya perasaan apapun dengannya. Dia ingin bertemu denganku untuk terakhir kalinya sebelum dia terbang ke Jerman" ucap Dirga


Niana hanya diam seribu bahasa. Seolah masih tidak percaya dengan penjelasan Dirga. Apalagi dia melihat bekas lipstik yang menempel di kemejanya Dirga. Dia pun juga melihat Dirga memeluk Tania saat di RS. Kejadian itu selalu membayang dalam pikirannya membuat lara hatinya.


"Hei.. jangan menangis lagi. Percayalah seluruh hatiku hanya milikmu" ucap Dirga lirih sambil mengusap air mata Niana dan memegang pipi Niana agar menatap ke arahnya


"Mengapa kata-kata mu begitu manis, selalu membuat hatiku luluh dengan mudahnya" batin Niana


Niana yang dari tadi terlarut dalam kesedihannya, langsung memeluk Dirga dengan erat untuk melepaskan segala kesedihannya dan Dirga juga membalas pelukan Niana sambil mengelus rambut panjangnya. Di hati Niana yang terdalam sebenarnya tidak ingin kehilangan Dirga. Karena Dirga telah mendapatkan jiwa dan raga Niana seutuhnya, Niana ingin bertahan dalam rumah tangganya walau terasa menyakitkan. Niana yang masih salah paham hanya berharap suatu saat Dirga benar-benar mencintainya dan bisa melupakan Tania.


"Bagaimana dengan kakimu? Kenapa bisa terkena pecahan gelas?" tanya Dirga yang masih dipeluk erat oleh Niana


"Cuma tergores saja, kaki ku tidak terlalu sakit. Aku lebih sakit disini saat kamu bohongi" ucap Niana mempererat pelukannya hingga terasa dada Niana menghimpit ke dadanya seolah ingin menunjukan di dalam dadanya ada luka yang sangat menyakitkan.


"Baikalah aku tidak akan berbohong lagi pada mu. Dimanakah yang sakit, biar aku obati" ucap Dirga yang paham dengan bahasa tubuh Niana


"Sakitnya ada di dalam hatiku. Apakah kamu bisa merasakannya" ucap Niana masih memeluk Dirga


Tiba-tiba Dirga melepas pelukan Niana. Dirga mencium di bagian itu, bagian yang sangatlah peka bila disentuh olehnya. Menciumnya dengan hati-hati tepat di dada Niana yang terbalut baju tidur berleher rendah. Gara-gara baju yang dipakai Niana yang begitu menggoda itu membuatnya menahan sesuatu dari tadi malam.


"Apakah masih sakit?" ucap Dirga mendekap erat ke dadanya dan menyandarkan kepalanya di sana setelah menciumnya


"Kalau begitu katakanlah apa yang kamu lakukan saat bersama Tania di RS. Aku melihatmu memeluknya saat masuk lift di RS kemarin malam" ucap Niana


"Saat itu penyakit maag nya Tania kambuh. Dia hampir pingsan jadi aku membantu memapahnya ke RS karena dia tak kuat berjalan. Ingat memapah bukan memeluk, jangan melebih-lebihkan, aku juga tidak suka di pegang oleh wanita lain selain kamu"


"Sama saja kamu megang-megang dia"


"Apakah kamu cemburu?" tanya Dirga menggoda


"Tidak" ucap Niana melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangi Dirga


"Kalau kamu cemburu, peganglah aku sesukamu karena aku berikan diriku seutuhnya untukmu" bisik Dirga lirih di telinga Niana yang membelakanginya


"Tidak, aku tidak mau karena kamu akan mintah bayaran dengan hal yang sama" ucap Niana tersipu malu yang masih membelakangi Dirga


"Jadi kamu mau memegang yang mana? Yang ini, ini, ini atau yang disini?" tanya Dirga meraih tangan Niana sambil tersenyum sendiri dan mengarahkan tangan itu ke pipinya, lalu ke dadanya, perutnya dan turun ke bagian bawah miliknya yang mulai mengeras


Niana yang tengah malu langsung berdiri mau menuju toilet. Dia tidak menyadari kalau kakinya sedang terluka. Rasa malu karena sikap Dirga telah membuatnya melupakan rasa sakit di kakinya.


"Niana... hati-hati" seru Dirga


"Aacchh sakit" teriak Niana yang tidak menyadari kakinya masih terluka dan langsung kembali duduk di bibir ranjang


Dirga segera turun dari kasur menghampiri Niana. Dia berjongkok di depan Niana. Dengan wajah khawatir memeriksa kaki Niana.


"Apakah kamu sudah pikun, kakimu sedang terluka kenapa mau jalan" ucap Dirga


"Aku lupa kalau kakiku terluka" ucap Niana sambil memegangi kakinya


"Kamu mau kemana biar aku bantu" ucap Dirga


"Aku mau mandi"


"Apa dia mau melakukannya saat mandi, bagaimana caranya kakiku kan sedang sakit" batin Niana khawatir


"Tapi...kakiku sedang sakit" ucap Niana


"Karena kakimu sakit jadi aku harus memandikanmu" ucap Dirga tepat di wajah Niana yang mulai memerah


"Aku bisa mandi sendiri"


"Jangan berpikiran kotor, aku tidak akan melakukannya di kamar mandi" ucap Dirga menjentikan jarinya dengan pelan ke dahi Niana


"Aacchh kenapa menjentik dahiku" ucap Niana sambil mengelus-elus dahinya yang tidak sakit


"Kalau aku bisa melakukan di ranjang yang empuk ini, kenapa harus di kamar mandi" ucap Dirga mendekati Niana hingga tubuhnya jatuh terbaring di kasur


Kini Dirga ada di atas tubuh Nian dan bertumpu dengan kedua siku tanganya. Dirga mengelus pipi Niana lalu mencium bibir mungil menggemaskan yang membuatnya candu. Niana mendorong dada Dirga untuk melepas ciumannya.


"Bukankah kita mau mandi" ucap Niana mengalihkan pembicaraan


"Iya kita mau mandi tapi nanti setelah aku melakukannya di sini" ucap Dirga lirih ke telinga Niana lalu memberikan gigitan nakalnya di leher Niana


Gigitan Dirga telah menyebar dimana-mana hingga membekas menjadi tanda kegemasan. Dirga semakin merasa panas lalu melepas dasi dan kemejanya. Dia pun juga membuka baju tidur Niana yang berbahan satin tipis, licin, tanpa lengan dan berlerher rendah menampakan bagian rahasia yang melekuk indah di sana. Baju tidur Niana yang terlihat menggoda itu meruntuhkan iman dan akal sehat hasrat Dirga sejak semalam. Tetapi karena Niana sedang sakit dan posisinya sudah tertidur pulas, Dirga tak tega melakukannya walau hasratnya sudah bergejolak. Hingga akhirnya dia hanya mampu memeluknya sampai tertidur.


Setelah baju atas keduanya terlepas semua dan menyisakan satu-satunya kain yang menutup bagian bawah masing-masing. Dirga membentangkan selimut menutupi tubuhnya yang menghimpit tubuh Niana. Kini Niana berada dalam kungkungannya.


"Bajumu terlalu seksi sekali, aku sudah menahannya sejak semalam" ucap Dirga menatap Niana dengan mata sayu sambil menelan salivanya


"Aku tidak bermaksud menggodamu" ucap Niana memalingkan wajahnya karena malu


"Apa kau tahu saat makan malam kemarin, kamu selalu berlari-lari dalam pikiranku membuatku gelisah memikirkanmu" ucap Dirga


"Aku juga me..... " ucap Niana terhenti karena Dirga langsung ******* bibirnya


"Aku sangat merindukanmu Niana" ucap Dirga sambil melepas kain satu-satunya yang menutup tubuh mereka


Akhirnya Dirga langsung memasukan miliknya karena sudah tidak sabar ingin merasakan milik Niana yang sangat dirindukannya itu. Milik Niana terasa mencengkram kuat dan membuatnya segera bergerak naik turun. Tangan Dirga mulai menjamah dan mencengkram bulatan yang terasa pas di telepak tangannya sambil sesekali memberi gigitan gemas di sana. Dengan gairah yang memanas dan bermandikan peluh, mereka saling menyelami milik mereka semakin dalam hingga mencapai titik terdalam yang akhirnya membuat keduanya melenguh dan mengerang melupakan akal sehatnya.


"Emmmhh Dirga aa..aku tak tahan" ucap Niana dengan suara tersengal-sengal karena gerakan Dirga yang sangat cepat


"Aaachhhh Niana" seru Dirga menghentakan sekuat-kuatnya ke dalam milik Niana hingga memejamkan mata meresapi pikirannya yang terasa melayang


"Aku mencintaimu" ucap Dirga terangah-engah sambil menempelkan dahinya di kening Niana dan menunggu miliknya terlepas sendiri dari lubang candunya


Niana langsung mengecup ringan bibir Dirga dan tersenyum bahagia. Dirga membalas senyumnya dan langsung ambruk di atas tubuh Niana.


"Bukankah kita harus mandi" ucap Niana


"Baiklah aku akan menggendongmu ke kamar mandi" ucap Dirga yang mulai beranjak bangun


"Dimana kursi rodaku kemarin" tanya Niana


"Selama ada di kamar aku akan menjadi kursi roda untukmu. Kalau di luar kamar pakailah kursi roda asli"


"Baiklah, kamu sendiri yang bilang. Kedepannya mungkin aku akan merepotkanmu terus"


"Tidak masalah" ucap Dirga singkat