
Ardigo lalu mengejar Friska yang sudah berlalu menuju kamar
"Sayang" pria itu mencoba meraih kembali tangan wanitanya
"Lepaskan aku, mas!" bentak Friska
"Sayang tolong jaga emosi kamu, tolong pikirkan anak kita" bujuk Ardigo
"Apa kamu juga memikirkan anak kita ketika bersama perempuan itu? aku rasa kalau kamu selalu memikirkan tentang anak kita, kamu tidak akan melakukan itu kepada ibunya"
Bagai pedang yang menghunus tepat ke jantungnya, perkataan Friska telak menampar Ardigo
"Ayo ikut aku, akan aku jelaskan semuanya" Ardigo bergerak mencari jaket milik sang istri
"Aku tidak mau ikut denganmu" tolak Friska
"Sayang, ayo ikut aku biar semuanya jelas malam ini"
Ardigo memakaikan jaket ke tubuh Friska meskipun sang istri terus melakukan penolakan. Dia tau dia harus lebih sabar menghadapi Friska karena ini juga salahnya
Setelah memastikan pakaian tebal itu melekat sempurna di tubuh istrinya, pria tampan itu lalu merapikan rambut Friska yang sedikit berantakan dan mengusap air mata yang membasahi pipi yang kini terlihat chubbi itu. Setelah dirasa penampilan sang istri sudah lebih rapi baru dia menggenggam jemarin Friska dan menariknya lembut
"Kamu mau membawaku kemana?" Friska masih berusaha melepaskan tangannya
Dengan hati-hati Ardigo menarik sang istri menuruni tangga menuju ke bawah.
"Kami titip Vano sebentar ya, bilang saja kami sedang ada urusan sebentar" ujar Ardigo kepada salah satu pelayan di apartemennya sambil berlalu
"Baik Tuan"
Sepanjang jalan menuju basement, pria itu tak melepaskan genggaman tangannya meski sang wanita di sampingnya terus saja berusaha melepaskan tangannya
Saat di dalam mobil tidak ada pembicaraan diantara keduanya, Friska memalingkan wajahnya ke jendela mobil melihat pemandangan dan orang yang berlalu lalang sepertinya jauh lebih baik daripada melihat wajah sang suami
Kemana sebenarnya dia akan membawaku?
Batin Friska bertanya-tanya
Tak terasa air matanya kembali menetes. Entah mengapa sekarang dia sangat mudah menangis, dan Friska sangat tidak menyukai dirinya yang seperti itu
Dengan sedikit kasar dia menghapus air matanya
"Kenapa sekarang aku jadi sangat cengeng? dulu aku tidak seperti ini" gumam Friska pelan berniat ingin berbicara dengan dirinya sendiri. Namun telinga tajam sang suami dapat mendengar dengan jelas ucapannya barusan
Maafkan aku
batin Ardigo menoleh ke arah wanitanya
Tak terasa perjalanan selama kurang lebih 20 menit membawa mereka ke sebuah perumahan elit dengan nuansa modern
Lalu mobil Ardigo melambat dan berhenti di depan sebuah rumah mewah berlantai 2. Setelah membunyikan klakson lalu pagar tinggi itu pun dibuka oleh seorang petugas security
Friska mencoba menebak-nebak rumah siapa yang saat ini mereka kunjungi
"Ayo turun" ajak Ardigo setelah mematikan mesil mobilnya
"Aku tidak mau masuk ke rumah orang yang tidak aku kenal" ketus Friska masih menatap ke luar jendela
Saat ini yang terbesit di kepalanya rumah ini adalah milik perempuan yang bernama Anggia
"Ayo turun dulu biar kita tau siapa pemilik rumah ini" bujuk Ardigo
"Aku tidak mau bertemu dengan siapa pun malam ini"
Mendengar jawaban sang istri, Ardigo mengerti kemana arah pikiran wanita itu
Pria itu kemudian langsung turun dan memutari mobil lalu membukakan pintu untuk sang istri dan langsung menarik lembut tangan ibu dari calon anaknya tersebut
Dengan terpaksa Friska ikut turun dan memperhatikan rumah mewah berlantai 2 tersebut. Warna krem mendominasi rumah yang bernuansa modern itu. Terlihat sangat bersih dan rapi, seperti baru
Saat pintu terbuka tampaklah keadaan di dalam. Beberapa orang yang sedang berlalu lalang seperti sedang mempersiapkan sebuah acara. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Friska, sejak masuk wanita itu hanya terfokus pada beberapa foto dengan ukuran besar yang terpajang di dinding rumah ini. Foto itu adalah foto pernikahannya dengan Ardigo. Lalu ada foto ketika mereka di pantai bersama Vano dan beberapa foto lain yang bahkan dia tidak sadar kapan foto itu diambil
Saat beberapa orang di dalam rumah itu menyadari kehadiran Friska dan Ardigo mereka pun langsung terkejut namun tetap memberi hormat
"Selamat datang Tuan dan Nyonya" sapa mereka semua
Ardigo hanya membalas dengan anggukan dan senyuman tipis
"Mas sebenarnya ini rumah siapa?" kali ini Friska tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya
"Ayo duduk dulu" Ardigo membawa sang istri duduk di sofa ruang tamu
"Sebelumnya aku minta maaf sudah membuatmu menangis dan merasa dikhianati. Tapi aku bersumpah yang kamu tuduhkan itu tidak benar. Karena itulah aku membawamu kesini sekarang. Ini adalah rumah kita. Aku, kamu, Vano, dan anak-anak kita nanti akan tinggal disini" Friska terkejut mendengar ucapan Ardigo
"Kamu ingat dulu aku pernah bertanya tentang bagaimana rumah impianmu? dari ciri-ciri yang kamu sebutkan aku berusaha mewujudkannya semirip mungkin namun dipadukan dengan versi modern. Aku ingin mewujudkan rumah impian kamu sebagai tempat tinggal kita selamanya. Rumah ini sudah lama aku beli untuk keluarga kecilku, namun setelah mendengar tentang rumah impianmu aku memutuskan untuk melakukan renovasi pada hampir seluruh bagian rumah ini dan membuatnya semirip mungkin dengan ciri-ciri yang kau sebutkan waktu itu"
"Untuk mendesain dan membangun rumah ini aku dibantu oleh kedua temanku. Mereka adalah Javier dan istrinya, Anggia"
Friska semakin melebarkan matanya. Seketika dia bingung dengan apa yang terjadi, terlalu banyak informasi baru yang didapatnya malam ini. Melihat keterkejutan Friska mendengar nama Anggia, membuat Ardigo menjelaskan lebih detail tentang perempuan bernama Anggia tersebut
"Iya, benar. Anggia yang tadi siang kamu lihat bersamaku. Dia adalah salah satu sahabatku yang membantu mewujudkan rumah ini. Dia sudah memiliki suami bernama Javier yang juga merupakan sahabatku. Mereka berdua berprofesi sebagai arsitek dan memiliki perusahaan konsultan. Kami memang lumayan sering berkumpul untuk meeting membahas tentang rumah ini, tapi aku bersumpah aku tidak pernah meeting hanya berdua dengan Anggia termasuk hari ini. Kami selalu meeting bertiga dengan Javier juga. Tapi tadi sepertinya kamu melihat kami saat Javier sedang ke kamar mandi"
"Dan aku juga tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Anggia begitupun sebaliknya. Anggia sangat mencintai Javier bahkan dulu mengancam kedua orangtuanya dia tidak akan menikah jika tidak dengan Javier, sehingga akhirnya mereka direstui. Begitu juga aku, mungkin perempuan cantik di luar sana banyak, tapi yang mampu menarik perhatian dan duniaku hanya kamu. Jadi tolong jangan menganggap dirimu rendah dibanding perempuan manapun. Karena bagiku selamanya kamu tetap nomor satu"
"Maafkan aku jika selama sebulan ini aku terlalu sering meninggalkanmu, karena aku ingin terjun sendiri dalam mewujudkan rumah impian istriku dan memastikan ini selesai sebelum kamu melahirkan anak kita. Jadi saat selesai dari kantor aku langsung kesini memeriksa progress yang berjalan setiap harinya. Aku juga tersiksa karena terus merindukanmu, tapi ingin memberikan yang terbaik untuk kita. Harusnya besok aku membawamu dan Vano kesini dan memberikan surprise, tapi ternyata aku harus membawamu malam ini. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada aku melihatmu tersiksa malam ini"
Setelah penjelasan panjang lebar dari Ardigo, Friska tidak mampu berkata apa-apa, hanya air mata yang terus membanjiri wajahnya. Perasaan terharu dan merasa bersalah kentara di wajah cantiknya yang kini tampak sembab karena terus menangis
Ardigo mendekat dan memeluk erat sang istri. Tangannya bergerak mengelus lembut rambut wanita yang sangat dicintainya itu
"Maafkan aku ya, aku tidak tahu kalau kejutan yang aku rencanakan justru membuatmu salah paham dan menjadi sedih seperti ini. Tolong jangan pernah lagi berpikir aku membagi cintaku kepada perempuan lain, cintaku sudah habis sepenuhnya untuk kamu nyonya Fabiyan"
Friska semakin terisak di dalam pelukan Ardigo. Ternyata suaminya mencintainya lebih dari yang dia tahu bahkan pria itu mewujudkan sesuatu yang dulunya dia anggap mustahil
"Aku tidak masalah kita tinggal di apartemen, bagiku selama itu bersamamu dimanapun itu akan menjadi rumah impianku" ujar Friska pelan
"Aku tidak ingin kita tinggal di apartemen selamanya. Anak-anak kita butuh halaman rumah untuk bermain dan rumah adalah pilihan yang tepat"
"Mas, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal telah menuduhkan hal yang tidak benar kepadamu. Aku hanya terlalu kalut dan takut jika semua itu benar terjadi"
"It's oke, tidak apa-apa sayang"
"Terimakasih sudah melakukan hal sebesar ini untukku. Aku bahkan sudah lupa tentang rumah impian itu, tapi kamu justru masih mengingat bahkan mewujudkannya"
"Tidak perlu berterimakasih, itu sudah menjadi tugasku" balas Ardigo tersenyum
"Lihatlah mukamu ini, sudah seperti banjir. Basah dimana-mana" canda Ardigo sambil membersihkan wajah Friska dari air mata dan juga ingusnya dengan menggunakan tisu
"Mau melihat-lihat ke dalam?" tawar Ardigo
"Tidak, besok saja. Aku sudah menggagalkan setengah dari kejutanmu. Jadi biarlah itu menjadi kejutan untuk besok. Supaya surprise dari suamiku tidak sepenuhnya berantakan"
Ardigo tertawa pelan mendengar ucapan istrinya
"Baiklah, setidaknya masih ada kejutan untuk besok. Jadi sekarang kita sudah baikan ya?"
"Sudah, ayo pulang. Aku ingin segera mengompres mataku. Pasti sudah sangat bengkak. Aku tidak ingin terlihat jelek besok"
Ardigo hanya terkekeh mendengarnya
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang.
To be continued.
Haii, apa kabar readers? ini sudah di detik-detik menuju end. Huhu sedih banget bakal pisah sama kalian 😠tapi jangan cuma parkir di novelku yang ini aja ya, kalau nanti aku launching novel baru tolong diramaikan juga ya? ya? ya? see you