
"Let's go ma!" ujar Vano bersemangat
Setelah menjemput Vano sekolah mereka kembali pulang dan Friska mengganti baju sang anak dengan pakaian kasual. Dia juga tidak lupa memakaikan topi berwarna hitam di atas kepala Vano
Friska sendiri memakai pakaian santai dengan mencepol sedikit rambutnya ke atas dan membiarkan sisanya tergerai, membuatnya terlihat seperti gadis remaja yang sedang membawa adiknya jalan-jalan
"Ayooo" Friska juga tak kalah bersemangat untuk menghabiskan waktu bersama bocah tampan itu
Kini mereka sudah berada di dalam mobil
"Mbak Friska dan tuan muda mau kemana ini?" tanya pak Danang
"Ke mall XX pak" balas Friska
"Baik mbak"
Selama perjalanan mereka terus berbincang dengan seru. Friska sudah seperti teman yang bisa mengimbangi obrolan Vano. Pak Danang hanya tersenyum melihat interaksi kedua majikannya itu
Setelah sampai mereka langsung turun dari mobil, tak lupa Friska membawa ransel kecil yang berisi keperluan Vano.
"Maaf mbak, saya ditugaskan oleh tuan Ardigo untuk mengikuti mbak Friska dan tuan Vano. Jadi saya akan mengikuti dari belakang" izin pak Danang saat ikut turun dari mobil. Dia memang ditugaskan oleh Ardigo untuk mengikuti Vano dan Friska untuk membawakan barang-barang yang mungkin dibeli oleh Friska
"Yasudah pak, nanti sekalian kita makan siang bertiga" ucap Friska
Kini mereka sedang menikmati makan siang bersama pak Danang. Awalnya pria itu paruh baya itu menolak ajakan Friska karena merasa tidak enak. Namun Friska terus saja memaksanya. Gadis itu benar-benar menghormatinya layaknya seperti orangtua, bukan seperti sopirnya
Sementara itu dari kejauhan tampak seorang wanita yang sedang tersenyum di balik masker hitamnya.
"Aku menemukanmu gadis sialan!" gumamnya sambil memasang senyum mengerikan yang tentu saja tidak terlihat karena dia menutupinya dengan masker
Setelah selesai makan, Friska dan Vano melanjutkan langkah mereka ke game center. Vano terlihat antusias memainkan satu persatu permainan yang ada disana. Mulai dari motor balap, memukul boneka kelinci, melempar bola, dan kali ini dia mengajak Friska untuk bermain musik sambil menginjak lantai yang sudah disediakan. Mereka bermain dengan kompak dan penuh canda tawa
Ckrekkk
Setelah mengambil gambar Friska dan Vano yang sedang bermain, pak Danang lalu mengirimkannya kepada Ardigo, sesuai perintah pria tersebut.
"Vano mau minum ma" ujar Vano saat sudah selesai bermain
Friska mengulurkan air mineral lalu menyeka keringat di wajah dan leher anaknya
"Vano capek?"
"Iya, tapi Vano senang"
Friska ikut tersenyum melihat senyum cerah Vano
"Mama juga senang melihat Vano senang"
"Makasih ma sudah membawa Vano jalan-jalan" ucap Vano terlihat tulus
"Sama-sama sayang. Mama dan papa sangat menyayangi Vano dan akan melakukan semua yang terbaik untuk Vano" ujar Friska lembut
"Vano masih mau bermain atau kita lanjut jalan-jalan?"
"Ayo jalan-jalan ma, Vano sudah puas bermain"
"Baiklah, ayo"
Mereka lalu meninggalkan game center dan mulai mengelilingi mall
Friska membawa Vano ke sebuah photo box lalu mereka berfoto bersama dengan berbagai ekspresi. Mulai dari senyum, tertawa, ekspresi konyol dan lucu dan lainnya. Mereka kembali tertawa setelah melihat hasil fotonya
Friska dan Vano melanjutkan langkah mereka ke penjuru mall. Mereka memasuki beberapa toko dan membeli barang yang diinginkan Vano
"Ma, itu ada apa? kenapa disana ada begitu banyak orang?" tanya Vano sambil menunjuk kerumunan orang di salah satu sudut mall
"Sepertinya sedang ada perlombaan disana"
"Ayo kita kesana, ma"
"Boleh, ayo"
Mereka pun berjalan menuju kerumunan orang itu. Ternyata disana ada sebuah brand yang sedang melakukan promosi dengan mengadakan perlombaan yang seru. Karena padatnya orang yang bergerombol membuat mereka berdesakan masuk untuk melihat
Friska dan Vano menonton perlombaan itu dengan seksama. Tiba-tiba Friska tersentak ketika merasakan ada sesuatu yang menggores kulitnya
"Arghhh" teriak Friska spontan
"Mama kenapa?" tanya Vano sedikit berteriak karena ributnya orang di sekitar mereka
"Sayang ayo kita keluar" Friska menuntun Vano keluar dari gerombolan itu
"Punggung mama berdarah!" kaget Vano ketika melihat cairan berwarna merah mengotori baju Friska yang berwarna krem
"Benarkah?"
"Iya, ma" mata Vano terlihat berkaca-kaca
"Mbak Friska! ada apa?" pak Danang yang sejak tadi berada di belakang kerumunan itu langsung menghampiri Friska dan Vano apalagi ketika melihat wajah Friska yang kesakitan
"Punggung mama berdarah, kek" jawab Vano
"Astaga! apa yang terjadi mbak? kenapa bisa begini?" pak Danang tampak sangat panik
"Saya tidak tau pak, tadi tiba-tiba seperti ada yang melukai saya dari belakang"
Siapa yang melakukan ini? apa jangan-jangan perempuan yang tadi? batin Pak Danang mengingat sosok perempuan yang tadi keluar dari kerumunan itu dengan tergesa-gesa, tapi dia tidak bisa mengenalnya karena wanita itu memakai masker
"Yasudah mbak, ayo kita pulang"
"Iya pak, ayo sayang kita pulang sekarang ya" ajak Friska kepada Vano
"Ayo ma"
Setelah tiba di rumah Friska langsung membuka bajunya dan melihat dari pantulan cermin ada berkas goresan yang cukup dalam namun tidak terlalu panjang. Friska meringis ketika membasuh bekas lukanya dengan air
Siapa yang melakukan ini kepadaku? aku yakin ini pasti kesengajaan
Dia lalu mengoleskan obat merah dan menutupnya dengan perban. Friska sedikit kesulitan melakukannya namun dia tetap melakukannya sendiri
Saat keluar dari kamar dia langsung mendapati Vano yang sedang menunggunya
"Mama tidak apa-apa? ayo kita ke rumah sakit" ajak Vano masih dengan ekspresi sedihnya
"Mama tidak apa-apa sayang, tadi sudah mama obati. Jadi tidak lama lagi lukanya juga akan sembuh" balas Friska sambil tersenyum mencoba menenangkan sang anak
"Benarkah?"
"Iya, mama kan kuat" canda Friska membuat Vano sedikit lega
"Sebaiknya mama istirahat. Ayo Vano temani"
"Baiklah, ayo"
Mereka lalu tidur dengan posisi Friska yang menyamping akibat luka di punggung bagian atasnya
Sementara itu di tempat lain,
"APA?!! Bagaimana bisa?" ujar Ardigo meninggi
Pak Danang hanya berdiri sambil menunduk di depan meja Ardigo, ditemani oleh Andre
"Apa yang bapak lakukan? bukankah saya sudah memerintahkan bapak untuk menemani dan mengawasi istri dan anak saya? kenapa bisa seperti ini?" ujar Ardigo kesal namun tidak lagi membentak pak Danang. Melihat pak Danang hanya menunduk membuatnya merasa sedikit iba
"Maaf tuan, ini karena keteledoran saya. Saya benar-benar minta maaf"
Ardigo tidak lagi membalas ucapan pak Danang, melainkan membereskan barang-barangnya dan berniat segera pulang
"Tuan, tapi tadi saya sempat melihat seorang perempuan yang berlari dengan tergesa tepat sebelum mbak Friska terluka. Saya curiga orang itu yang melakukannya" ucap pak Danang
"Bapak ingat orangnya? seperti apa dia?" tanya Andre cepat
"Saya tidak melihat wajahnya tuan, karena dia memakai masker dan topi. Tapi dari tubuhnya saya yakin kalau dia perempuan"
"Sudahlah nanti saja dipikirkan, sekarang saya mau pulang dulu untuk melihat keadaan Friska" ujar Ardigo
"Saya antar, pak?" tawar Andre
"Tidak usah, kamu disini saja. Berhubung si koruptor itu sudah ditemukan, sisanya saya serahkan sama kamu" ujar Ardigo
"Baik pak"
Ardigo langsung keluar dan menancap gas menuju apartemennya. Dia sangat mencemaskan keadaan Friska dan bersumpah akan menemukan siapa orang yang sudah melukai istrinya.
To be continued.