
Kini Ardigo dan Friska sedang berada di dapur memasak untuk makan malam mereka, karena Bu Siti akan masuk besok pagi
"Sudahlah mas, biar aku saja yang memasak" ini sudah kesekian kalinya Friska mengatakan hal itu. Dia tidak terbiasa dibantu oleh Ardigo ketika memasak, jadi terasa sedikit aneh
"Biarkan aku membantumu. Lagipula aku tidak akan merepotkanmu"
Kedua pasutri itu terus saja berdebat
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ardigo mendekat
Friska tidak lagi melarang pria itu. Karena keras kepala Ardigo sangat susah untuk dilawan
"Kamu cuci dulu sayuran ini lalu potong kecil-kecil. Bisa kan?"
"Aku coba dulu"
Ardigo terlihat serius membilas sayur-sayuran tersebut lalu mulai mengambil pisau dan memotongnya sesuai arahan Friska
"Bukan begitu cara memotongnya, mas!"
"Itu masih terlalu besar"
"Yang ini terlalu kecil"
"Bagian ini dibuang, jangan ikut dimasukkan"
Begitulah omelan Friska sepanjang Ardigo melakukan tugasnya
"Kenapa kau terus menyalahkanku? aku kan hanya ingin membantumu. Lagipula aku ingin belajar memasak, wajar kalau aku masih banyak kekurangan" ujar Ardigo lesu
Melihat itu Friska jadi merasa bersalah karena telah memberikan banyak komentar
"Maaf, bukan begitu maksudku. Sini biar ajarkan"
Friska mendekat dan meraih kedua tangan Ardigo. Lalu dia mulai mempraktekkan cara yang benar
"Kalau memotong ini posisi tanganmu harus begini. Kalau posisinya seperti tadi tanganmu bisa terluka. Nah ukurannya cukup sebesar ini saja, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Bisa?" Friska menjelaskan dengan pelan dan juga lembut agar sang suami bisa paham
"Bisa. Terimakasih sayang" ujar Ardigo bersemangat lalu mengecup pipi Friska
"Dasar" gumam Friska lalu kembali melanjutkan pekerjaannya
"Ini semua salahmu. Kau terlalu memanjakanku, bahkan untuk memegang pisau pun aku tidak tau lagi bagaimana caranya"
"Iya, seharusnya aku menyuruhmu memasak sejak awal pernikahan kita" balas Friska asal membuat Ardigo tertawa
"Hati-hati tangannya jangan sampai terluka" ujar Friska memperingati
"Iya, mama" Friska diam-diam tersenyum mendengar jawaban Ardigo
Selesai sudah acara memasak kedua pasutri itu. Makanan juga sudah terhidang di atas meja
"Sayang, bisa tolong ambilkan ponselku di kamar?"
"Kamu menaruhnya dimana, mas?"
"Di atas nakas"
"Baiklah tunggu sebentar" Friska lalu berjalan menaiki tangga meninggalkan Ardigo tersenyum penuh arti
Saat melihat Friska sudah keluar dari area dapur, Ardigo lalu bergegas mencari sesuatu untuk melancarkan rencananya
"Apakah malam-malam begini ingin memeriksa pekerjaan juga? dasar workaholic" gumam Friska saat mengambil ponsel sang suami
Dia langsung keluar dari kamar dan kembali menuju dapur. Saat akan memasuki dapur dia dikejutkan oleh keadaan dapur yang gelap gulita
"Mas! kamu dimana?"
Tak lama kemudian lilin lilin di atas meja dihidupkan oleh seseorang yang sedang dicarinya
"Aku disini" ujar Ardigo sambil tersenyum setelah menghidupkan semua lilin
Friska kebingungan dengan apa yang terjadi
"Ada apa ini mas?"
Bukannya menjawab, Ardigo langsung mendekat dan berdiri di hadapan Friska
Suasana dapur yang temaram hanya diterangi lilin-lilin di atas meja
"Mas" Friska mulai salah tingkah saat Ardigo hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun
"Fris, aku ingin mengatakan banyak hal. Apakah kamu mau mendengarkannya?" Ardigo mulai membuka suara
"Aku... ingin meminta maaf untuk semua kesalahanku kepada kamu. Terutama semua hal buruk sejak awal pernikahan kita. Aku minta maaf untuk ancaman yang aku berikan dan mungkin sempat membuatmu takut waktu itu. Aku minta maaf untuk kesepakatan pernikahan yang aku buat sehingga membuatmu merasa seperti gadis yang tidak diinginkan. Aku minta maaf untuk semua sikap dingin dan aroganku. Aku minta maaf karena sudah mengabaikanmu dan juga berpikiran negatif terhadap kamu. Aku-"
"Mas, sudah-" Ardigo menggeleng kuat. Dia ingin melanjutkan kalimatnya sampai akhir
"Aku minta maaf sudah menghina dan mengabaikan masakan yang sudah susah payah kau buatkan. Aku minta maaf karena aku, kau hampir saja meregang nyawa. Aku minta maaf jika bersamaku kau sering terluka. Aku benar-benar menyesali itu semua. Tapi aku tidak akan pernah meminta maaf karena sudah menikahimu, karena aku tidak pernah menyesalinya. Jika waktu bisa diulang, maka yang ingin aku rubah adalah caraku menikahimu. Kalau boleh jujur, sejak awal aku tidak pernah berniat memainkan sebuah pernikahan. Itulah sebabnya aku tidak membuat kesepakatan dan semua aturan secara tertulis. Karena ku pikir jika suatu hari hatiku berubah, maka aku bisa membatalkannya dengan mudah. Sekali lagi aku hanya memikirkan tentang diriku, tanpa memikirkan perasaanmu. Aku benar-benar minta maaf untuk itu semua"
Friska bisa melihat dengan jelas air mata yang mengaliri pipi mulus Ardigo. Pria ini terlihat sangat tulus dengan perkataannya
Friska mengusap air mata Ardigo dengan kedua ibu jarinya
"Aku sudah memaafkan itu semua, mas. Setiap orang pernah berbuat salah, yang membedakannya adalah siapa yang berani meminta maaf dan siapa yang tidak. Bagaimanapun kau adalah suamiku, aku tidak benar-benar bisa membencimu. Lagipula semua yang sudah kau lakukan kurasa sudah cukup untuk menebus semua kesalahanmu" kini Friska juga ikut berderai air mata
"Kesalahanku tidak akan bisa ditebus dengan apapun, Fris. Aku hanya bisa mengharapkan maaf darimu"
Friska lalu memeluk tubuh tegap Ardigo
"Aku sudah memaafkanmu, mas"
Ardigo membalas pelukan Friska dengan erat
"Tolong maafkan perkataanku waktu itu saat ingin memutus kesepakatan pernikahan kita secara sepihak. Sungguh bukan begitu maksudku, aku memang berniat untuk membahasnya denganmu, tapi aku belum menemukan waktu yang pas. Hingga malam itu aku tidak sempat menyusun kata-kata yang tepat sampai melukai perasaanmu" jelas Ardigo setelah mengurai pelukannya
"Lalu bagaimana maksudmu sebenarnya?" tanya Friska
"Singkatnya, aku mencintaimu. Aku sudah jatuh cinta kepadamu, Fris. Aku minta maaf untuk semua kebodohanku dulu. Tapi aku benar-benar tidak bisa tanpa kamu. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku terlalu takut jika kau benar-benar akan pergi dan meminta berpisah dariku setelah setahun pernikahan kita. Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu Friska Hallin Amanda"
"Apakah kau mau menjadi istriku lagi? untuk selamanya" Ardigo kemudian berlutut di hadapan Friska sambil membuka kotak kecil yang berisi cincin berlian dengan harga fantastis
Friska terkejut dan tidak mampu berkata kata
"Mas"
"Aku belum pernah benar-benar melamarmu, jadi aku rasa aku harus melakukannya. Mau kah kau menjadi istriku untuk selamanya? menua bersamaku seperti janji kita saat pemberkatan dulu?"
Friska terdiam sejenak. Dia masih syok dengan perlakuan Ardigo
"Ta-tapi..."
"Kau tidak ingin tetap bersamaku?" Ardigo mulai terlihat panik
"Bukan itu. Tapi aku sudah punya cincin" Friska lalu menunjukkan jarinya yang sudah terdapat cincin
"Kau mau menerimaku sebagai suamimu?"
"Kau memang suamiku"
"Aku anggap kau menerimaku" Ardigo lalu melepaskan cincin yang melingkar di jari Friska, lalu memakaikan cincin yang baru
"Ini adalah cincin pernikahan kita. Itu cincin milik Felicya, dan ini baru cincin milikmu. Maaf baru bisa menggantinya sekarang"
mata Friska berkaca-kaca melihat cincin indah yang melingkari jarinya. Bukan karena harganya, namun karena kali ini cincin itu benar-benar untuknya
"Aku minta maaf karena kecelakaanku waktu itu rencanamu harus berantakan" ucap Friska terkekeh
"Kau mengetahuinya?"
"Tentu saja. Aku ini cukup dekat dengan kak Andre" canda Friska
"Jangan terlalu dekat, nanti aku bisa cemburu"
"Aku tau batasanku"
"Terimakasih sayang, sudah mau menerimaku untuk selamanya"
"Siapa bilang? kalau kau kembali menyakitiku, aku tidak akan menunggu hari esok untuk pergi meninggalkanmu" balas Friska
"Itu tidak akan terjadi" Ardigo langsung meraih tubuh mungil sang istri ke dalam dekapannya
"Aku mencintaimu, istriku"
"Aku akan berusaha mencintaimu dengan seluruh hatiku, suamiku" Friska sudah memutuskan untuk melanjutkan pernikahannya bersama Ardigo. Karena tidak bisa dia pungkiri bahwa Ardigo sudah memiliki tempat di hatinya
Ardigo tersenyum bahagia
"Sudah puas memelukku, pak Ardigo? bisa lepaskan aku? Karena istri yang kau cintai ini sudah lapar" canda Friska
"Maaf aku hampir lupa. Kenapa kau sangat menggemaskan? aku ingin memakanmu saja" Ardigo melepaskan pelukannya walau tidak rela
Mereka kemudian memakan makanan yang sudah mulai dingin.
To be continued.