
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, itu artinya para karyawan Fabiyan's Corp sudah bisa menghentikan pekerjaan mereka dan pulang ke rumah masing-masing. Sesuai perintah Ardigo, sore ini Friska akan pulang bersamanya. Pria itu bahkan mengiriminya pesan dan menyuruh Friska untuk menunggunya seolah meragukan sang istri
"Kamu berhutang penjelasan kepada kami" ujar Tasya sambil berjalan beriringan dengan Friska dan Naura. Dia masih belum percaya dan kebingungan dengan apa yang terjadi hari ini
"Iya Fris, aku juga sangat penasaran sebenarnya apa yang terjadi" timpal Naura
"Iya iya, besok akan aku jelaskan" jawab Friska
"Kamu pulang dengan siapa?" tanya Tasya
"Dia"
"Suamimu?"
"Iya"
"Tumben"
"Entahlah, dia memintaku untuk menunggunya"
"Yasudah kalau begitu, kami pulang duluan ya" pamit Tasya dan Naura kemudian berlalu dari hadapan Friska
Friska teringat dengan pesan yang tadi dikirimkan oleh Ardigo
Kamu bisa menunggu saya di tempat biasa kamu dijemput pak Danang.
Itu artinya Friska harus berjalan menuju perempatan dan menunggu Ardigo disana
"Untung aku tidak mencintainya, jadi aku tidak merasa sakit hati karena disuruh menunggu disini" gumam Friska pelan sambil berjalan menuju perempatan
"Tenang saja pak Ardigo, bukan cuma anda yang tidak mau mengakui saya sebagai istri, tapi saya juga risih untuk mengakui anda sebagai suami saya" dia terus berbicara sendiri seolah Ardigo bisa mendengarnya. Dari pesan yang dikirim oleh Ardigo, Friska menyimpulkan bahwa pria itu tidak mau orang-orang melihat mereka pulang bersama. Itu artinya Ardigo tidak mau mengakuinya sebagai istri
Setelah menunggu beberapa saat, Friska melihat sebuah mobil mewah mendekatinya, dan tentu saja itu mobil Ardigo. Friska langsung masuk lalu menutup pintu kembali. Setelah beberapa saat Friska tak kunjung merasakan ada pergerakan dari mobil tersebut. Dia lalu menoleh kesamping dan menatap Ardigo kebingungan. Namun pria itu justru balik menatapnya dalam seakan memikirkan sesuatu
Pelan namun pasti Ardigo memajukan badannya dan mengikis jarak diantara mereka. Kini posisi mereka sudah sangat dekat dengan wajah yang hanya bejarak beberapa senti. Tangan Ardigo sudah merayap ke arah pinggang Friska seakan mencari sesuatu sedangkan wajahnya semakin ia dekatkan ke wajah Friska.
Apa yang akan dia lakukan? tapi aku seperti familiar dengan posisi ini. Sayang sekali kau tidak bisa mengerjaiku tuan Ardigo. Friska tersenyum di dalam hati seakan mengerti dengan trik sang suami. Kini wajah mereka sudah sangat dekat, bahkan hidung mereka sudah hampir bersentuhan. Friska tidak terlihat gugup ataupun memejamkan matanya, dia justru menatap kedua bola mata Ardigo secara bergantian. Tak lama kemudian senyuman tipis muncul di bibir merah mudanya
"Kamu pikir kamu bisa mengerjaiku? aku tidak sebodoh itu mas" ucap Friska pelan nyaris seperti sebuah bisikan. Tak lupa senyum geli terpampang nyata di wajah cantiknya. Entah mengapa kali ini suara Friska terdengar sangat seksi
Sepertinya aku sudah gila. Batin Ardigo
"Kamu pikir aku akan gugup lalu menutup mataku karena mengira kamu akan menciumku? sementara kamu hanya ingin memasangkan seatbelt ku, lalu aku akan merasa malu dan setelah itu kamu akan menertawakanku. Sayang sekali aku tidak bisa kamu jahili" Friska terus mengoceh di hadapan Ardigo dengan senyum mengejek. Bulu mata lentik yang bergerak naik turun serta bibir Friska yang terus bergerak di depan matanya mengundang sesuatu di dalam diri Ardigo
Sial! kenapa dia bisa membaca pikiranku? batin Ardigo. Dia memang hanya ingin mengerjai Friska. Saat melihat gadis itu belum memakai seatbelt nya tiba-tiba saja ide gila itu muncul di kepalanya. Dia ingin mengerjai Friska dengan berpura-pura menciumnya. Tapi ternyata rencananya gagal, gadis itu terlalu pintar untuk dia bodohi
"Siapa bilang? kamu salah membaca fikiran saya nona Friska" bisik Ardigo sambil tersenyum miring. Lalu dengan gerakan tiba-tiba dia kembali memajukan wajahnya kali ini dengan sedikit memiringkannya. Bibir Ardigo mendarat dengan sempurna di atas bibir Friska. Gadis itu bahkan membelalakkan matanya karena terkejut dengan perbuatan Ardigo. Seketika otaknya blank karena pria itu benar-benar menciumnya. Awalnya Ardigo hanya menempelkan, namun kemudian Friska mulai merasakan ada pergerakan pada bibirnya. Friska merasakan bibirnya seperti dihisap dan dilumat dengan lembut. Mata Ardigo yang awalnya masih terbuka kini sudah tertutup seakan menikmati ciuman itu
Tidak! ini salah. Ini tidak boleh terjadi. Kesadaran Friska seakan sudah kembali
Dia ingin mendorong dada Ardigo, namun justru tangan Ardigo lebih dulu menangkap kedua tangannya dan menggenggamnya dengan lembut. Ardigo yang awalnya hanya ingin mengecup justru kebablasan dan malah mencium Friska dengan penuh hasrat.
Friska yang belum pernah berciuman mulai panik karena Ardigo semakin menekan ciumannya dan menghimpit tubuhnya. Sangat terasa bahwa pria itu seakan menyalurkan semua hasrat yang sudah terpendam selama menduda.
Ibuuu Friska takut!! batin Friska
Friska terus bergerak-gerak dalam dekapan Ardigo apalagi saat nafasnya mulai habis. Seakan mengerti, Ardigo pun melepas tautan bibir mereka lalu menyeka saliva yang terdapat di sekitar bibir Friska dengan ibu jarinya.
Ardigo memasangkan seatbelt Friska sebelum menarik tubuhnya dan bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa, lalu mulai menjalankan mobilnya. Sangat berbeda dengan Friska yang sudah memasang wajah garangnya. Wajahnya sudah merah padam karena emosi, kesal, dan malu yang bercampur aduk.
"Kamu kurang ajar!! ini pelecehan namanya!" teriak Friska kesal
"Dimana letak pelecehannya?" tanya Ardigo santai
"Kamu sudah mengambil ciuman pertamaku! kamu menciumku seenaknya, dasar kurang ajar!"
"Mana ada suami yang kurang ajar karena mencium istrinya? dasar aneh. Lagipula siapa yang lebih berhak mendapatkan ciuman pertamamu selain saya?" balas Ardigo
"Tapi aku bukan istri sungguhanmu. Kenapa kau menciumku?!"
"Apa kamu melihat saya menikahi wanita selain dirimu? lalu siapa istri saya yang sesungguhnya selain kamu?" pungkas Ardigo
Friska terdiam karena ucapan Ardigo yang sialnya justru benar. Tapi bukankah dia memang istri pengganti? namun Friska justru tidak punya kata-kata untuk membalas ucapan Ardigo
"Aku hanya istri penggantimu!"
"Apa saya pernah menyebutmu begitu?"
"Kita hanya menikah selama satu tahun, jadi kamu tidak boleh kurang ajar kepadaku!"
"Setidaknya selama setahun ini kamu istri saya"
Friska hanya mendengus mendengar jawaban Ardigo. Dia lalu memalingkan wajahnya menghadap ke jendela sambil melipat kedua tangannya di dada, persis seperti bocah yang sedang kesal. Ardigo tersenyum tipis melihat sang istri. Dia juga mendengar gumaman-gumaman pelan yang keluar dari mulut Friska. Ardigo kembali mencuri pandang untuk menatap Friska dengan berbagai pikiran yang ada di dalam benaknya.
Aku tidak akan meminta maaf, karena itu bukanlah kesalahan. Dan aku tidak menyesalinya. Batin Ardigo
To be continued.