
Siang hari di kantin kantor Fabiyan's Corp
Friska, Naura, dan Tasya sedang menikmati makan siang di kantin. Friska sudah kembali dari menjemput dan mengantar Vano ke rumah sang mertua
"Hei aku baru melihat CEO kita tadi pagi. Sumpah dia sangat tampan!" celetuk Naura membuka suara. Tentu saja mengundang perhatian kedua sahabatnya
"Iya Nau! dari kejauhan saja aroma uangnya sudah tercium" timpal Tasya sambil tertawa. Sedangkan Friska hanya ikut terkekeh mendengar candaan mereka yang sedang membicarakan suaminya
"Eh tapi jangan sampai suka kepadanya, kabarnya pak Ardigo itu sudah menikah dan punya anak juga" ujar Naura lalu meneguk jus alpukatnya
"Iya aku juga tau. Tapi kan tidak ada salahnya hanya menyukai hehe siapa tahu nanti bisa dapat yang seperti pak Ardigo, atau yang sedikit di bawah levelnya juga boleh" ucap Tasya sambil terkekeh
"Benar juga Sya" Tasya dan Naura semakin semangat membahas Ardigo, sedangkan Friska memilih sibuk dengan makanannya
"Tapi ini hanya berlaku untuk kami ya Fris, tidak denganmu. Karena kamu sudah menikah" ujar Naura menggoda Friska
"Iya, silahkan saja ambil pak CEO itu, aku bahkan tidak tertarik dengannya" balas Friska
"Bagus, itu baru namanya istri yang baik" puji Tasya sambil mengacungkan jempol, tak lupa dengan senyum menggodanya
Tak terasa waktu istirahat sudah habis dan mereka kembali bergelut dengan pekerjaan masing-masing
"Permisi, kamu anak magang kan? buatkan kopi dan antar ke ruangan rapat HRD sekarang" ucap seorang karyawan tepat di depan meja Friska
Friska mengangkat kepalanya dan melihat seorang karyawan wanita dengan baju yang cukup ketat dan make up tebal
Dia memakai bedak berapa lapis, ya? batin Friska
"Kamu tidak mendengar saya?" suara wanita itu sedikit meninggi karena Friska hanya diam menatap ke arahnya
"Eh iya buk, maaf. Berapa gelas kopinya?"
"Kamu itu harus belajar attitude yang benar lagi. Kalau ada orang yang berbicara kepadamu jangan hanya melamun. Apalagi orang itu atasanmu! kalau begini jangan harap ada perusahaan yang akan menerima kamu nantinya, apalagi berharap akan direkrut oleh Fabiyan's Corp" celoteh wanita itu dengan wajah tak bersahabat
Hei! asal kau tau saja aku adalah istri dari pemilik perusahaan ini. Kantor ini milik suamiku! ingin Friska mengucapkan kalimat itu dengan nada yang tinggi dan penuh percaya diri, namun tentu saja tidak dia lakukan karena sadar dengan pernikahan yang sedang dijalaninya. Dia memang mengakui pemilik perusahaan ini sebagai suaminya, namun belum tentu Ardigo mau mengakuinya sebagai istri. Jadi diam adalah solusi terbaik untuk saat ini
"Sekali lagi saya minta maaf buk, tadi saya hanya sedang tidak fokus" ucap Friska seadanya
"Tidak fokus kamu bilang? bagaimana nantinya kamu akan bekerja di perusahaan lain? jangan membuat malu Fabiyan's Corp!"
"Buk kopinya jadi saya buatkan? kalau tidak saya akan lanjutkan pekerjaan saya" balas Friska mulai kesal
"Tentu saja kamu yang buatkan!"
"Berapa gelas buk?"
"10"
"Baiklah. Nanti akan saya antar'
"Tidak perlu, saya akan tunggu disini. Biar saya yang mengantarnya ke dalam" ujar wanita itu ketus
Friska langsung bangkit dan berlalu begitu saja
"Dasar sombong! aku yakin bahkan jabatannya disini tidak seberapa. Apa tadi katanya? attitude? aku rasa dialah yang harusnya belajar attitude. Bukannya meminta tolong malah seenaknya menyuruhku. Aku yakin ini pasti tugasnya, pantas saja dia tidak mau aku yang mengantar kopinya ke dalam" Friska terus bersungut-sungut sambil berjalan menuju pantry
Setelah selesai membuat kopi, Friska lalu membawanya dan ingin menyerahkan kepada wanita yang ber name tag Vania itu
"Ini buk kopinya"
"Bawakan sampai ke depan pintu ruangan, nanti biar saya yang mengantarnya ke dalam" balas wanita itu tanpa mengalihkan tatapan dari ponselnya. Friska hanya menelan kekesalannya lalu mengikuti langkah Vania menuju ruangan rapat HRD
Setelah sampai di depan pintu, wanita itu langsung mengambil nampan kopi dan masuk begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih kepada Friska
"Dasar tidak tau terimakasih" gumam Friska pelan
Dia kembali menuju ruangannya. Saat berjalan di lorong kantor, dia melihat sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka. Dia melihat ke dalam ruangan tersebut saat melewatinya. Lalu langkahnya terhenti ketika melihat ruangan yang sekilas terlihat kosong. Namun kemudian Friska melihat seorang office girl yang sedang mengangkat tangga menuju ke jendela besar
Friska hanya berdiri di depan pintu sambil memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh OG itu
Sepertinya mau membersihkan kaca. Batin Friska
Melihat OG itu yang sedikit kesulitan membuat Friska tidak bisa berdiam diri, office girl itu memiliki ukuran tubuh yang mungil dan terbilang pendek sehingga sedikit kesulitan membersihkan kaca
"Butuh bantuan, mbak?" sapa Friska
"Eh tidak perlu buk, lanjutkan saja pekerjaan ibuk" balasnya sungkan
"Saya anak magang disini mbak, tenang saja. Mbak tidak perlu sungkan"
"Benarkah?"
"Iya, biar saya bantu mbak"
"Tapi saya tidak mau merepotkan mbak" ucap gadis itu masih sungkan kepada Friska
"Tidak apa-apa. Sepertinya mbak kesulitan, biar saya saja yang naik. Mbak bersihkan bagian yang bawah saja. Lagipula jendela ini kan tidak terlalu kotor" ucap Friska
"Berikan alatnya mbak"
Friska dan gadis itu mulai membersihkan kaca bersama sambil berbincang
Sementara itu,
Ardigo dan Andre berjalan beriringan di lobi kantor, mereka baru saja selesai makan siang bersama clien di salah satu restoran bintang lima.
"Apa kamu sudah menyelediki pria itu?" tanya Ardigo kepada sang asisten
"Sudah pak, nanti akan saya serahkan datanya. Apa dia salah satu clien bisnis kita?"
"Bukan"
Andre hanya mengangguk pelan mendengar jawaban Ardigo.
Kalau bukan masalah pekerjaan, apa mungkin masalah pribadi? batin Andre
Seketika senyum simpul tampak di wajah tampannya.
Sepertinya ada yang sudah mulai cemburu. Batin Andre sambil membuang mukanya ke arah lain agar tak dilihat oleh Ardigo
Kini mereka melewati lorong kantor, saat melihat pintu ruangan yang terbuka Andre iseng melihat ke dalam. Langkahnya langsung terhenti ketika menyadari seseorang di dalam ruangan itu
Astaga nyonya Friska! batin Andre tidak habis pikir
Melihat Andre yang berhenti sambil sedikit menganga membuat Ardigo bingung lalu ikut mendekat
"Kenapa kau berhenti?" tanya Ardigo
"I-itu pak" tunjuk Andre. Ardigo pun melongokkan kepalanya ke dalam ruangan itu. Dia juga sama terkejutnya dengan Andre
Andre pun mulai tertawa cekikikan. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Friska
"Astaga! sepertinya hanya nyonya Friska satu-satunya istri CEO yang pernah membersihkan jendela kantor suaminya pak" kekeh Andre
"Dia memang gadis yang aneh" ujar Ardigo
"Sepertinya nyonya Friska itu wanita yang mandiri dan kuat" celetuk Andre sambil menatap kagum ke arah Friska
"Jangan menyukai wanita sepertinya! cari yang model lain saja" seloroh Ardigo
"Tapi saya menyukai tipe yang seperti nyonya Friska pak"
"Kamu menyukai istri saya?!"
"Eh ti-tidak pak. Maksud saya yang seperti nyonya Friska, bukan nyonya Friska"
"Cari model lain saja, karena yang seperti dia itu langka" ujar Ardigo
Seperti sedang belanja baju saja. Batin Andre
"Iya pak" balas Andre seadanya, dia tidak ingin memancing kemarahan seorang suami yang gengsi mengakui kecemburuan terhadap istrinya. Karena ruangan itu cukup besar, jadi Friska dan office girl itu tidak mendengar suara Ardigo dan Andre yang berdiri di dekat pintu
"Apa saya perlu memarahi office girl itu pak? pasti dia meminta tolong kepada nyonya Friska" tanya Andre kepada Ardigo
"Tidak perlu! biarkan saja. Saya yakin bukan office girl itu yang meminta tolong kepadanya, pasti Friska yang menawarkan diri untuk menolongnya" balas Ardigo
"Anda tau dari mana pak?"
"Kamu lupa kalau saya suaminya? tentu saja saya tau bagaimana dia" ucap Digo dengan percaya diri
Kena kau pak! batin Andre hampir saja bersorak
"Ternyata anda begitu mengenal nyonya Friska ya pak" ujar Andre sambil tersenyum
"Saya hanya tau itu. Lagipula saya tidak punya waktu untuk lebih mengenalnya, kamu tau sendiri kan bagaimana pernikahan saya?"
"Iya pak, tapi sepertinya tidak sulit untuk memahami nyonya Friska"
"Sudahlah! kenapa kau terus membahas istri saya?"
"Maaf pak"
"Hei untuk apa kita terus memperhatikannya disini? membuang waktu saja!"
Kan dari tadi anda juga betah disini, pak. ucap Andre di dalam hati
"Panggilkan OB untuk menggantikan mereka" perintah Ardigo sambil berlalu
"Bilang saja anda khawatir kepada nyonya Friska pak" gumam Andre yang sepertinya tidak terdengar oleh Ardigo.
Hai readers ku tercinta, tolong dukung karyaku ini ya dengan cara like dan comment, dan juga memberikan vote. Semoga cerita ini bisa membuat kalian enjoy dan juga jatuh cinta hehe. Terimakasih 💜