My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Dikunjungi Sahabat


Semenjak pertengkaran mereka malam itu, Friska dan Ardigo terlihat saling mendiamkan satu sama lain. Mereka hanya sesekali berinteraksi ketika berada di depan Vano, selebihnya mereka lebih banyak diam. Friska yang masih marah dan kesal kepada Ardigo, dan Ardigo yang tidak tau bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada Friska.


Keadaan sekarang sangat berbeda dengan awal pertemuan mereka dulu, dimana Ardigo adalah sosok yang mendominasi dan tidak memperdulikan perasaan Friska. Namun sekarang diamnya Friska seolah masalah yang sangat besar dalam hidupnya.


Beberapa hari sudah terlewati dan belum ada perubahan di dalam hubungan mereka. Selama di rumah, Friska lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan skripsinya secepat mungkin. Sedangkan Ardigo merasa hari-harinya sangat tidak menyenangkan.


Para karyawan di kantor menjadi sasaran kejelekan mood Ardigo. Dia bahkan akan marah bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.


"Pak" panggil Andre sesaat setelah menyerahkan berkas yang tadi diminta oleh sang bos


"Hm"


"Maaf sebelumnya jika saya bertanya. Saya hanya ingin memastikan semua urusan anda berjalan dengan lancar"


"Jangan bertele-tele. Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Apa anda baik-baik saja?"


Pertanyaan Andre sukses menghentikan kegiatannya membolak balik dokumen di tangannya


"Apa maksud kamu?" aura dingin terpancar sangat jelas dari pria tampan itu


"Saya sudah mengenal anda cukup lama pak, anda tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan disaat perusahaan kita dalam masalah besar sekalipun, anda tidak seperti ini"


"Memangnya saya kenapa?"


"Hanya anda yang tau jawabannya, pak. Saya berbicara bukan sebagai sekretaris, tapi sebagai salah satu teman yang dekat dengan anda. Setiap orang pasti punya sedikitnya satu atau dua orang yang paling dekat dengannya sebagai tempat bertukar pikiran dan cerita"


"Kamu tidak akan mengerti masalah saya" ujar Ardigo akhirnya


"Benar, saya tidak mengerti permasalahan anda selama anda hanya diam"


"Sudahlah Ndre, sebaiknya kamu kembali ke ruanganmu"


Andre hanya menghela napas kasar. Dia bisa menebak kalau ini pasti ada hubungannya dengan nona Friska


"Baik pak, saya permisi"


Selepas kepergian Andre, Ardigo melanjutkan pekerjaannya. Dengan menyibukkan diri, setidaknya dia bisa melupakan sedikit masalahnya


****


Di tempat lain


"Kamu benar-benar tidak menyerah dengan Ardigo?" tanya Jerry kepada Felicya


"Aku sudah katakan bukan, Ardigo hanya milikku. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka ****** itu pun tidak berhak bahagia bersamanya" aura kebencian terpancar dengan jelas dari kedua mata Felicya


"Hei lihatlah ****** teriak ******" kekeh Jerry


"Tutup mulutmu"


"Ya baiklah, terserah kau saja. Selama itu mendatangkan hasil yang baik, aku akan mendukungmu, sayang" goda Jerry sambil mencolek dagu Felicya


"Tentu saja, kemenangan akan segera aku dapatkan. Jika aku tidak bisa mengembalikan Ardigo ke dalam pelukanku, setidaknya aku bisa menyingkirkan wanita sialan itu dari hidupnya bahkan dari dunia ini" Felicya tersenyum mengerikan


"Apa yang akan kau lakukan? tidakkah kau merasa bersalah sudah melukai gadis itu?" tanya Jerry mencoba menggunakan sedikit hati dan kewarasannya


"Dia yang lebih dulu mengusik kehidupanku. Jadi aku tidak punya alasan untuk merasa bersalah kepadanya"


"Tapi kau akan berurusan dengan Ardigo Alexander Fabiyan. Dia bisa melakukan apa saja kepadamu"


"Aku tidak perduli! disaat aku berhasil menyingkirkan perempuan sialan itu, tidak akan ada lagi penyesalan dalam hidupku" ujar Felicya


"Kau memang mengerikan Felicya. Tapi sebaiknya aku tidak perlu mencemaskan nasib gadis itu, karena itu bukan urusanku"


"Memang harusnya seperti itu"


****


"Apa masalahnya separah itu?" gumam pria tampan itu sambil berjalan memasuki gedung kokoh itu


Sepanjang perjalanan banyak karyawan yang menyapa dan hormat kepadanya, seperti biasa dia membalasnya dengan senyuman manis. Sangat berbeda dengan pemilik kantor ini


Setelah sampai di depan ruangan CEO, dia langsung masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu


"Bisakah mengetuk pintu terlebih dahulu?" kesal Ardigo


"Wow santai, brother. Bukankah kau sudah terbiasa denganku yang seperti itu?" balas Heri tanpa rasa takut sedikitpun


Dia langsung duduk di sofa ruangan itu sambil memakan cemilan yang berada di atas meja


"Ada apa kau kemari? aku sedang sibuk"


Ternyata Andre benar, si arogan ini sedang tidak baik-baik saja. Batin Heri


Dia memang dihubungi oleh Andre, dan pria yang sangat setia kepada Ardigo itu memintanya untuk datang


"Teruskan saja pekerjaanmu, aku hanya bersantai disini" jawab Heri enteng


"Tuan Herindra Sebastian, aku tau kau bukan seorang pengangguran yang hanya menonton temanmu bekerja. Kau bukanlah orang yang punya banyak waktu untuk bersantai di kantor orang lain. Jadi apa tujuanmu kesini?" tanya Ardigo. Dan memang benar, Heri harus menunda rapat pentingnya demi menemui sang sahabat


"Aku memang pria dengan banyak kesibukan, tapi aku tidak akan mau diperbudak oleh pekerjaan-pekerjaan itu. Aku akan bekerja saat aku ingin, dan aku juga akan bermain di saat aku ingin bermain. Aku adalah orang yang memegang teguh prinsip dunia bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga persahabatan, percintaan, dan hal-hal lain yang membuatku senang. Aku..-"


"Hentikan! apa kau kesini hanya untuk menjelaskan tentang dirimu? aku tidak tertarik, terimakasih" balas Ardigo


Heri hanya terkekeh mendengar kekesalan sang sahabat


"Hei, kemarilah. Sudah lama kita tidak mengobrol" panggil Heri


"Aku tidak punya waktu untuk mengobrol"


"Ayolah, atau aku akan kesana dan mematikan komputermu" ancam Heri


Dengan rasa kesal Ardigo bangkit lalu menuju sofa dekat Heri. Melihat itu Heri tersenyum lebar


"Aku melihat mood mu sepertinya tidak baik. Apa ada masalah?"


"Bukankah Andre sudah memberitahumu?" Ardigo sudah mencurigai dari awal bahwa kedatangan Heri ada hubungannya dengan Andre


Heri hanya tertawa pelan, menyangkal juga tidak ada gunanya. Ardigo bukan sosok yang mudah untuk dikelabui


"Hei dia sangat mengkhawatirkanmu, makanya dia menyuruhku kesini"


"Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita. Tapi aku tidak akan pergi dan menunggu disini sampai kau buka suara" celetuk Heri


Ardigo hanya diam tanpa membuka suara


"Bagaimana kabar Friska?" tanya Heri membuka pertanyaan


"Sepertinya baik"


"Sepertinya? jawaban macam apa itu?"


"Yang aku lihat dia baik-baik saja. Dia tidak berbicara kepadaku selama beberapa hari ini"


"Bagaimana bisa? apa yang kau lakukan kepadanya?"


"Banyak" balas Ardigo tertunduk lesu


"Just tell me" Heri sudah memasang mode serius


"Ini berawal dari pernikahan kami" Ardigo lalu memulai ceritanya tanpa ada yang ditutupi. Sejak awal pertemuan hingga mereka bisa menikah lalu keadaan rumah tangganya di awal pernikahan yang diawali dengan perjanjian 1 tahun pernikahan.


Ardigo menceritakan semuanya hingga pertengkaran mereka yang berujung aksi saling mendiamkan satu sama lain. Heri mendengarkan dengan serius tanpa memotong sedikitpun.


To be continued.