
"Saya minta maaf / Aku minta maaf"
ucap Ardigo dan Rivan bersamaan
Friska hampir saja bersorak dan bertepuk tangan saat melihat keduanya saling berbicara. Dia memang sudah menantikan itu sejak tadi. Meskipun tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, namun melihat gerakan bibir keduanya sudah cukup membuatnya senang
"Jadi ini rencanamu?" tanya Tasya yang berdiri di samping Friska
"Iya, aku tidak ingin mereka terus bermusuhan. Karena bagaimanapun keduanya sangat berarti untukku" balas Friska
Tasya memang menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit saat Rivan menghajar Ardigo serta adu mulut diantara keduanya. Jadi Friska ingin memperbaiki hubungan mereka
"Saya / aku......" mereka kembali kompak
"Kau saja duluan" ujar Ardigo
"Kau saja" tolak Rivan
"Tidak, sebaiknya kau duluan"
Tak ingin berdebat lebih lama, Rivan kemudian berdehem sebelum berbicara
"Aku minta maaf sudah memukulmu waktu itu. Aku hanya terlalu emosi dan marah karena Friska terluka bahkan hampir meregang nyawa. Namun setelah kupikir-pikir tidak seharusnya aku melakukannya. Kau adalah suaminya, dan aku tidak berhak menyalahkan mu" ujar Rivan
Ardigo hanya diam mendengarkan permintaan maaf Rivan
"Kau mau memaafkanku?" tanya Rivan karena Ardigo hanya diam tanpa mengucapkan apapun
"Kamu tau kenapa saya tidak membalas pukulanmu waktu itu?" bukannya menjawab, Ardigo justru memberikan pertanyaan
"Kenapa?"
"Karena saya sudah menganggap kamu sebagai kakak dari istri saya. Semenjak saya menyadari perasaan saya kepada Friska, saya mulai menurunkan ego dan mengikis rasa tidak suka terhadap kamu. Karena saya tau, jika saya mencintai Friska maka saya juga harus menerima orang-orang yang dicintainya. Dan kamu adalah orang yang berharga untuknya. Karena itulah saya menerima pukulan kamu waktu itu tanpa perlawanan, saya menganggap bahwa itu adalah bentuk kemarahan seorang kakak kepada pria yang tidak bisa menjaga adiknya"
"Melihat semua yang telah kamu lakukan untuknya membuat saya sadar dan paham tentang alasan mengapa Friska sangat menyayangimu. Dan saya rasa saya memang pantas mendapatkan pukulan itu. Jadi tidak ada yang perlu dimaafkan, kau melakukan hal yang benar. Karena saya juga akan melakukan hal yang sama jika adik saya berada di posisi Friska waktu itu"
Ardigo diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya
"Saya juga ingin minta maaf karena pernah gagal menjaga Friska. Tapi saya janji mulai saat ini saya akan menjaganya dengan baik seperti yang dulu kau lakukan. Mungkin kau sudah tau bagaimana awal pernikahan kami dulu, tapi sekarang saya benar-benar sangat mencintainya"
Ardigo mengakhiri kalimatnya dengan menyesap cappucino yang sudah mulai mendingin
Rivan terdiam beberapa saat mencerna penjelasan Ardigo yang panjang lebar
"Jadi kau menganggapku sebagai kakaknya Friska?" tanya Rivan memastikan
"Iya, karena hanya kamu satu-satunya saudara yang dia punya"
"Lalu bagaimana jika aku katakan kalau perasaanku kepada Friska masih sama seperti dulu? aku tidak menganggapnya sebagai adik"
"Itu urusanmu. Aku hanya mengikuti sudut pandang istriku yang menganggapmu sebagai kakaknya. Jika kau ingin melanjutkan perasaanmu dan membuatnya kecewa suatu hari nanti, itu pilihanmu" balas Ardigo santai
Rivan mengembangkan senyum manisnya
"Baiklah, ternyata sekarang kau sudah mempercayai istrimu. Aku bisa melepasnya dengan tenang" ujar Rivan mempertahankan senyumnya
"Kau tenang saja, masalah perasaanku biarlah itu menjadi urusanku" sambungnya
Ardigo hanya mengangguk sebagai jawaban
"Kau tidak merasa aneh dengan ini semua?" tanya Rivan setelah terdiam cukup lama
"Sepertinya Friska sengaja merencanakan ini semua dan meninggalkan kita berdua"
Ardigo tersenyum miring
"Aku sudah menduganya dari awal"
Lihat saja, aku akan menghukum mu nyonya Fabiyan
batin Ardigo lalu tersenyum dengan rencana liciknya
"Dasar" Rivan terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya
"Hei mereka sudah langsung sedekat itu? bahkan sudah tertawa bersama" heboh Tasya yang masih setia menemani Friska memantau kedua lelaki itu
"Ini diluar ekspektasiku" seru Friska tak habis pikir
"Kau tidak penasaran dengan apa yang mereka bicarakan?"
"Tentu saja aku penasaran" balas Friska cepat
"Yasudah sebaiknya sekarang kau kesana" usir Tasya
"Baiklah" Friska berjalan kembali ke tempat duduknya
Wanita itu sedikit salah tingkah dengan tatapan penuh arti dari kedua pria itu
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Friska gugup
"Sudah puas menonton kami dari jauh?" tanya Ardigo sambil tersenyum
"Siapa juga yang menonton" elak Friska mengalihkan pandangannya ke arah lain
"Kamu tidak penasaran dengan apa yang kami bicarakan? aku yakin kamu tidak bisa mendengarnya dari jauh" kini giliran Rivan yang menggoda Friska
"Memangnya apa?" tanpa sadar Friska bertanya dengan antusias karena memang dia sangat penasaran mengapa mereka bisa langsung akrab
Tak lama kemudian dia tiba-tiba menutup mulutnya saat kesadarannya kembali. Hal itu sontak saja mengundang tawa kedua pria tampan di depannya
"Sepertinya rencanamu bagus juga. Kami bisa membicarakan banyak hal menarik. Bukan begitu pak Ardigo?" ujar Rivan tersenyum yang dibalas anggukan oleh Ardigo
Ardigo memilih untuk berdamai dan menciptakan hubungan yang baik dengan Rivan dan tidak lagi menganggap pria itu sebagai musuh atau saingannya. Untuk urusan perasaannya terhadap Friska biarlah itu menjadi urusannya seperti yang tadi dia ucapkan
"Hehe aku hanya ingin mas Ardigo dan kak Rivan bisa berdamai kembali. Aku sudah mendengar cerita dari Tasya tentang kejadian di rumah sakit waktu itu. Aku tidak mau kakakku dan suamiku saling membenci karena aku" ucap Friska jujur
"Kamu tenang saja, karena yang kamu takutkan itu tidak akan terjadi" ujar Ardigo mengelus rambut sang istri
Tanpa mereka sadari Rivan hanya tersenyum kecut melihat itu semua.
Dia senang Friska sudah sangat dicintai oleh Ardigo, dan dari pancaran mata wanita itu juga tergambar jelas cinta untuk sang suami. Itu berarti kehidupan rumah tangga mereka sudah sempurna dengan adanya cinta dari keduanya. Rivan memang ikhlas dengan kebahagian sepasang suami istri itu, namun yang selalu dia pertanyakan adalah bagaimana dengan hidupnya? cintanya? bagaimana mungkin Rivan menemukan seseorang yang bisa dia cintai layaknya dia mencintai Friska
Namun dia mencoba mengubur semua pikiran itu saat ini dan memberikan senyuman terbaiknya di hadapan Friska.
To be continued.
Haiii lama tidak menyapa readers semua. Semoga dalam keadaan baik dan bahagia yaa hehe
Hmm aku minta maaf kalau frekuensi update ku gak teratur karena kadang aku ngestuck dan gatau harus nulis apa. Aku pikir daripada dipaksain nanti malah gak jelas dan malah ngerusak kualitas novelku, jadi aku nulis ketika punya inspirasi aja. Tetap bantu support aku dan novel ini yaa, terimakasih 💖
Oh iya aku juga mau minta pendapat readers semua, rencananya setelah My Perfect Stranger tamat, aku mau buat novelnya Rivan. Kira2 kalian setuju gak? mau baca gak nanti? Tolong komen dibawah yaa, see you.