My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Ada Apa Dengan Mereka?


Rivan masih menemani Vano yang sedang makan kue dan es krimnya. Bocah tersebut sangat menyukai makanan yang manis, dia bahkan terlihat sangat menikmati makanannya. Rivan hanya tersenyum memperhatikan ponakan barunya tersebut. Dia terlihat begitu tampan dengan mewarisi hampir keseluruhan wajah Ardigo.


Melihat pipi Vano sedikit kotor oleh cokelat dari kuenya, membuat Rivan terkekeh pelan. Tangannya bergerak mengambil tisu di atas meja lalu mengarahkannya ke pipi Vano


"Terimakasih uncle" ucap Vano sambil tersenyum dan langsung dibalas senyuman juga oleh Rivan


"Vano mau tambah? Mau yang mana?" tanya Rivan sambil menunjuk etalase kue yang berisi bermacam kue yang terlihat menggiurkan


"Tidak uncle, ini saja. Vano sudah kenyang"


"Benarkah? ingat, apapun yang Vano mau silakan makan saja. Kafe ini milik uncle nya Vano. Jadi Vano bebas disini" ujar Rivan hangat


"Wahhh terimakasih uncle. Vano sangat suka disini! sepertinya Vano akan lebih sering kesini ikut mama kerja"


"Harus itu, karena uncle akan merindukan Vano jika Vano jarang kesini"


Mereka berdua tertawa dan saling bercanda. Rivan sangat senang menghabiskan waktu bersama Vano. Tiba-tiba perasaan aneh muncul di hatinya


Untuk pertama kalinya aku iri dengan seseorang, dan orang itu adalah Ardigo. Andai saja aku menjadi Ardigo, aku tidak menginginkan hal lain lagi. Punya istri seperti Friska dan anak seperti Vano rasanya hidupku sudah sangat cukup dan lengkap. Batin Rivan sendu, namun dia tidak menyurutkan senyumnya untuk Vano


Rivan bangkit dari duduknya ketika melihat Ardigo berjalan menuju kasir untuk membayar pesanannya


"Tidak usah dibayar tuan Ardigo, anggap saja aku yang traktir" ujar Rivan saat sudah berdiri di samping Ardigo. Pria tampan itu pun menatap Rivan sejenak


"Terimakasih tuan Rivan, tapi saya tidak terbiasa dengan makanan gratis" balas Ardigo sambil membuka dompetnya dan mengambil lembaran rupiah dari sana


Rivan hanya menanggapinya dengan santai, membiarkan Ardigo membayar makanan dan minumannya


"Ini, sekalian dengan makanan anak saya" ucap Ardigo kepada kasir perempuan tersebut


"No! Kau boleh membayar makananmu, tapi aku tidak akan menerima bayaran untuk makanan Vano" jawab Rivan tegas


"Bayar saja makananmu sendiri, ponakanku bisa memakan apapun yang dia mau disini tanpa perlu membayarnya. Kafe ini adalah milik pamannya" tambah Rivan membuat Ardigo hanya mendengus pelan


Setelah selesai membayar, Ardigo pun berjalan menuju Vano yang baru saja menyelesaikan makannya


"Vano ikut pulang dengan papa atau tetap disini dengan mama?" tanya Ardigo lembut kepada sang anak


"Vano masih ingin disini, Pa" balas Vano


Melihat pipi anaknya belepotan dengan es krim, Ardigo pun mengambil tisu lalu membersihkannya seperti yang dilakukan Rivan sebelumnya


"Baiklah kalau begitu, papa pulang dulu ya. Baik-baik disini" peringat Ardigo sambil mengelus pelan rambut anaknya


Meskipun sedang sibuk, Friska dapat melihat jika suaminya itu sepertinya akan segera pulang. Dia pun berjalan mendekati Ardigo dan Vano


"Sudah mau pulang, mas?" tanya Friska


Ardigo mengalihkan tatapannya pada Friska. Dia melihat ada bulir-bulir keringat di dahi dan pelipis istrinya itu, seketika perasaan iba dan tidak suka menghampiri hatinya. Dia iba melihat Friska yang sedari tadi sibuk bekerja, sehingga istrinya itu terlihat sedikit kelelehan. Dan dia tidak suka melihat itu, entah mengapa dia merasa tidak suka melihat Friska harus bekerja keras seperti itu.


Tangannya kembali meraih tisu di atas meja. Lalu mengelap keringat Friska dengan pelan tanpa menjawab pertanyaan Friska sebelumnya. Friska merasakan sedikit getaran aneh di hatinya ketika tangan Ardigo menghapus keringatnya dengan lembut


Ada apa dengannya? batin Friska merasa aneh


"Namanya juga kerja, mas." kekeh Friska menghilangkan kegugupannya. Pasalnya kini sudah banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Tidak terkecuali Rivan, dia merasa ada sesuatu yang menghimpit hatinya ketika melihat pemandangan itu. Dia pun mengalihkan pandangannya dan mencoba menetralkan perasaan yang sudah tidak menentu


Baru begini saja sudah sakit, apalagi nanti jika mereka sudah saling mencintai. Batin Rivan, meskipun dia sangat berharap untuk kebahagiaan pernikahan Friska, namun nyatanya rasa sakit itu tetap ada.


"Nanti kalian pulang jam berapa?" tanya Ardigo saat sudah memastikan tidak ada lagi keringat yang mengalir di dahi istrinya


"Sore, mas. Nanti aku akan menghubungi pak Danang"


"Hubungi saya saja. Biar saya yang menjemput kalian"


"Baiklah" balas Friska singkat


"Saya pulang dulu, titip Vano ya" ucap Ardigo kepada Friska lalu diangguki gadis itu. Lalu tatapannya beralih ke Rivan


"Saya pamit dulu tuan Rivan, saya titip istri dan anak saya disini" ujar Ardigo


Rivan tersenyum simpul sebelum menjawab


"Baik tuan Ardigo, terimakasih sudah mau berkunjung kesini. Saya akan menjaga anak dan istri anda dengan baik. Sampai jumpa lagi" ujar pria tampan itu dengan tersenyum miring. Entahlah sepertinya menggoda Ardigo adalah hobi barunya


Ardigo hanya memberikan tatapan tajamnya kepada Rivan. Saat akan berbalik, dia kembali menatap Rivan sebentar


"Terimakasih" ucap Ardigo pelan lalu mengalihkan tatapannya. Bagaimanapun dia tetap berterimakasih karena Rivan sudah menjaga Vano dan baik kepada anaknya itu. Kemudian barulah Ardigo melangkah menuju pintu kafe


Rivan hanya tersenyum mendengar ucapan terimakasih Ardigo yang terkesan lucu untuknya


Dia bisa mengucapkan terimakasih juga. Batin Rivan tergelitik


Friska dan Vano mengantarkan Ardigo hingga ke depan pintu kafe. Saat mobil Ardigo sudah meninggalkan halaman kafe, mereka pun kembali masuk ke dalam


"Suamimu sangat lucu Fris" kekeh Rivan yang mengundang kerutan di dahi Friska


"Lucu? lucu dari mananya kak?" tanya Friska bingung. Namun Rivan hanya terkekeh tanpa menjawab dan kembali membawa Vano ke ruangannya


"Kenapa mereka berdua terlihat aneh" gumam Friska menyadari tingkah Ardigo dan Rivan pagi ini. Namun dia tidak ambil pusing dan kembali ke dapur


"Pak suami so sweet sekali ya Fris?" celetuk Dewi sengaja menggoda Friska. Mereka memang sudah tau soal pernikahan Friska, tadi pagi mereka sangat terkejut melihat seorang bocah yang dibawa oleh Friska. Akhirnya Friska menceritakan soal pernikahannya, namun dia tidak menjelaskan secara rinci alasan pernikahannya.


"Ihh mbak Dewi kenapa senyumnya seperti itu?" Friska terlihat malu. Dewi hanya terkekeh melihat ekspresi malu gadis itu


"Hei kamu itu sudah menjadi nyonya besar masih saja mau kerja. Aku yakin pasti kamu membujuk suamimu supaya bisa tetap bekerja, kan?" tanya Dewi. Dia yakin suami Friska pasti akan menyuruhnya berhenti bekerja, namun Friskalah yang membujuk suaminya itu supaya mengizinkannya tetap bekerja. Pikir Dewi


"Mbak Dewi tau saja hehe" Friska hanya terkekeh menyetujui ucapan Dewi


Mbak Dewi tidak tau saja pernikahan seperti apa yang aku jalani. Mana mungkin dia menyuruhku berhenti bekerja, bahkan dia tidak peduli denganku. Batin Friska


"Aku senang kamu masih menjadi Friska yang aku kenal walaupun sekarang sudah jadi istri orang kaya"


"Ya ampun mbak, sampai kapanpun aku akan tetap menjadi Friska seperti yang mbak kenal. Lagipula yang kaya itu mas Digo, bukan aku. Kenapa aku harus berubah" canda Friska yang mengundang tawa keduanya. Mereka kembali sibuk bekerja karena hari sudah semakin siang dan pengunjung kafe semakin ramai apalagi di hari weekend ini.


Hai readers ku tercinta, tolong dukung karyaku ini ya dengan cara like dan comment, dan juga memberikan vote. Semoga cerita ini bisa membuat kalian enjoy dan juga jatuh cinta hehe. Terimakasih 💜