My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Mantan Mertua


Dua hari kemudian,


"Sayang" panggil Ardigo kepada sang istri yang tengah sibuk dengan laptop nya


"Iya mas" balas Friska sambil menoleh sekilas


"Besok kamu ada kegiatan apa? sibuk tidak?"


Friska terkekeh sebentar


"Memangnya sejak kapan aku sibuk mas? aku kan sudah tidak bekerja kalau kamu lupa. Disini juga aku tidak diizinkan untuk melakukan pekerjaan apapun, kan?"


"Oh iya juga" balas Ardigo ikut terkekeh


Friska seperti melihat ada kegugupan di raut wajah sang suami


"Ada apa mas? sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu" kini Friska sudah memfokuskan pandangannya ke wajah Ardigo


Ardigo berdehem sejenak sebelum berucap


"Jadi begini, tadi kakek dan nenek nya Vano menghubungiku. Mereka adalah orangtua Sarah, ibu kandung Vano. Mereka saat ini sedang berada di Indonesia. Jadi mereka memintaku untuk membawa Vano berkunjung besok karena sudah sangat merindukan Vano"


Friska mengangguk paham kemana arah pembicaraan Ardigo


"Jadi apa kau bisa ikut besok?" tanya Ardigo hati-hati. Jujur saja dia merasa sedikit tidak enak kepada Friska. Pria tampan itu juga mengkhawatirkan ketidaknyamanan Friska ketika harus bertemu dengan mantan mertuanya


Apalagi sampai saat ini dia belum menceritakan apapun tentang Sarah kepada Friska.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Friska


"Tentu saja. Mereka sudah tahu tentang dirimu, jadi tidak perlu sungkan" balas Ardigo


"Mereka orang yang baik, percayalah kepadaku" Ardigo menggenggam lembut tangan sang istri seakan meyakinkannya


"Baiklah, aku ikut" ucap Friska tersenyum


Ardigo membalas senyuman itu tak kalah lebar


"Sudah waktunya makan malam, ayo kita makan. Anakku pasti sudah kelaparan" ujar Ardigo sambil mengelus lembut perut Friska


Mereka lalu makan malam bersama sekaligus Ardigo memberitahu kabar ini kepada Vano. Dan benar saja bocah itu sangat senang karena akan bertemu dengan kakek dan neneknya.


Keesokan harinya,


Mobil Ardigo sudah memasuki pekarangan rumah mewah berlantai tiga itu. Mereka lalu turun dan berjalan beriringan memasuki bangunan tersebut. Saat masuk mereka langsung disambut oleh sepasang suami istri yang terlihat tampan dan cantik di usia senja mereka.


"Nenek!! kakek!! " sorak Vano sambil menghambur ke pelukan mereka


"Cucuku! kami sangat merindukanmu" ujar sang nenek sambil menciumi wajah cucunya itu


Mereka bertiga terhanyut dalam pelukan guna melepas kerinduan masing-masing. Sementara itu Ardigo dan Friska hanya berdiri mematung menyaksikan momen haru itu.


"Astaga kami sampai melupakan kalian, maaf ya. Kami terlalu merindukan Vano" ujar pak Alzi, kakek Vano


"tidak apa-apa, Pa. Kami maklum" balas Ardigo tersenyum


Kedua pasangan paruh baya itu lalu memeluk Ardigo dan Friska bergantian sebagai bentuk penyambutan


"Ayo masuk dulu" ajak buk Ayu, nenek Vano. Dia langsung menggandeng tangan Friska membuat wanita itu sedikit terkejut


Kini mereka tengah berkumpul di ruang tengah


"Iya tante, saya Friska" balas Friska tersenyum sopan


"Jangan tegang begitu, nak. Kami ini juga keluargamu" bu Ayu berucap ramah


Friska lalu ternyum manis mendengar ucapan bu Ayu. Setidaknya mereka tidak semenakutkan yang dia pikir


Mereka menikmati kebersamaan itu dengan riang, terutama Vano dan kakek neneknya


"Sebentar, mama buatkan minuman dulu" ujar bu Ayu. Saat ini mereka sedang bersantai di halaman belakang


"Biar aku bantu, tante" Friska langsung bangkit dan mengikuti langkah bu Ayu


"Tidak perlu repot, sayang. Mama bisa melakukannya sendiri" ucap bu Ayu saat mereka sudah berjalan berdampingan


"Tidak apa-apa tante"


Saat melewati ruang tengah mata Friska tidak sengaja melihat foto yang terpajang di dinding. Padahal dia sudah duduk di ruangan itu sebelumnya, namun baru sekarang dia menyadari akan keberadaan foto dengan ukuran yang lumayan besar itu


"Mau melihatnya?" tanya Ayu


"Eh" Friska tidak menyadari jika Ayu mengikuti arah pandangnya


sambil mengulas senyum, Ayu pun membawa Friska mendekati foto tersebut


"Ini adalah foto pernikahan Ardigo dan Sarah, mama nya Vano"


Friska menatap dengan serius wajah kedua mempelai yang ada di dalam foto tersebut. Wajah sang suami yang terlihat tampan sejak dulu serta seorang wanita yang sangat cantik tengah berada dalam pelukannya. Wajah keduanya terlihat sangat serasi


Pantas saja Vano sangat tampan, ibunya saja se-cantik ini.


batin Friska


"Mba Sarah cantik sekali ya" ujar Friska tulus


Meskipun ada perasaan aneh di hatinya, tapi tak bisa dipungkiri bahwa Sarah dan Ardigo terlihat sangat cocok.


Aku tidak boleh cemburu. Ini pasti karena hormon kehamilanku. Ayolah Friska, kamu bukan orang yang seperti itu.


Bu Ayu hanya tersenyum mendengar pujian Friska


"Iya, dia begitu cantik. Tapi entah kenapa tuhan begitu cepat mengambilnya kembali" gurat kesedihan terlihat jelas di wajah bu Ayu


Friska tidak tau harus berkata apa. Karena jika saja saat ini Sarah masih hidup, maka tidak mungkin dia bisa bersama Ardigo


Perasaan bersalah tiba-tiba saja muncul di hatinya


"Friska, jangan panggil tante. Panggil saja mama, seperti Sarah"


Friska terlihat bingung dengan maksud perkataan bu Ayu


"Sarah adalah satu-satunya anak yang kami punya. Ketika dia sudah menikah kami juga sudah menganggap Ardigo seperti anak kandung kami sendiri. Kami sangat menyayanginya, karena kami merasa dia pun sangat menyayangi kami"


"Meskipun Sarah sudah tidak ada, diantara kami dan Ardigo tidak ada yang berubah. Bagi kami kebahagiaan Ardigo tetap menjadi prioritas kami. Mama dan Papa bahkan sudah sering memintanya untuk menikah kembali sejak Vano masih kecil, tapi dia selalu menolak. Saat mendapat kabar bahwa dia sudah menikah, kami tentu saja sangat senang. Dia bercerita banyak tentang kamu kepada kami"


"Sebenarnya sudah lama kami ingin terbang dari Jerman kesini untuk bertemu langsung dengan sosok perempuan yang sudah berhasil merebut hati Ardigo dan cucu kami. Mama dan papa sangat ingin bertemu denganmu, tapi baru sekarang kami bisa datang kesini. Mama ingin berterimakasih karena kau sudah merawat Ardigo dan Vano dengan sangat baik. Sekarang mereka terlihat jauh lebih bahagia" air mata tanpa terasa sudah mengaliri pipi bu Ayu.


Dia menggenggam kedua tangan Friska dengan erat.


To be continued.