My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Reyhan dan Friska


Keesokan harinya Ardigo, Friska, dan Vano telah tiba di rumah utama keluarga Fabiyan. Reyhan juga telah tiba beberapa saat yang lalu. Sekarang adalah adalah hari sabtu, jadi mereka akan menghabiskan akhir pekan ini bersama di rumah utama tersebut


"Bagaimana keadaanmu, Fris?" tanya Reyhan


"Syukurlah aku sudah sehat, mas. Terimakasih sudah mengizinkan mbak Dinda dan Clara menemaniku di rumah sakit" kekeh Friska


"Sama-sama"


Mereka melakukan berbagai hal menyenangkan di rumah besar nan megah itu. Mulai dari makan bersama, bercerita, dan juga tertawa


Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tengah. Friska yang duduk di samping Dinda terus saja mengajak Clara bermain. Bayi itu bahkan mulai menggerakkan tubuhnya ke arah Friska seakan meminta untuk digendong


"Sepertinya Clara ingin digendong olehmu, Fris" ujar Dinda


"Bolehkah mbak?"


"Tentu saja" Dinda lalu memindahkan Clara ke gendongan Friska


Wajah gadis itu tampak berbinar seolah baru saja diberikan piala juara umum


"Haii sudah lama ya tante tidak menggendong Clara" riang Friska


Ardigo tidak dapat menahan senyumnya. Membayangkan Friska sedang menggendong buah hati mereka nanti


"Membayangkan apa?" bisik Reyhan


Seketika senyum Ardigo langsung berubah menjadi datar kembali


"Bukan apa-apa" balasnya


Reyhan hanya terkekeh pelan melihat sikap sang kakak ipar


Clara terlihat tenang dalam gendongan Friska, bahkan saat Dinda ingin mengambilnya kembali bocah itu memeluk leher Friska erat. Sepertinya dia juga merindukan tante Friskanya


"Bagaimana ini mbak? sepertinya Clara sudah mengantuk. Apakah boleh dia tidur siang denganku saja?"


"Tentu saja boleh, Friska. Sepertinya Clara juga merindukanmu"


"Baiklah kalau begitu aku akan membawa Clara ke kamar" pamit Friska lalu berjalan menuju kamar Ardigo bersama Clara dan Vano


Friska tiduran sambil mengelus pelan punggung Clara hingga bayi itu tertidur. Lalu dilanjutkan dengan menepuk pelan punggung Vano hingga bocah itu juga tertidur. Tiba-tiba kantuk Friska datang dan dia juga ikut menyusul ke alam mimpi. Friska tidur dengan memeluk kedua bocah itu


"Kenapa sejak awal aku tidak menyadari kalau kamu begitu cantik?" gumam Ardigo pelan sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah sang istri


Dia tidak bisa berhenti tersenyum ketika melihat pemandangan indah di hadapannya, dimana Friska tidur dengan memeluk kedua anaknya.


"Semakin kesini aku semakin menyadari bahwa aku adalah manusia paling beruntung karena bisa memiliki kamu. Tapi terkadang aku juga takut, takut kalau kamu akan pergi dari sisiku dan memilih kebahagiaan tanpa aku" Ardigo terus mengelus pelan kepala gadisnya dengan penuh sayang


Jujur saja saat ini dia masih terus memikirkan tentang nasib rumah tangganya. Pasalnya mereka belum membahas kembali tentang kelanjutan pernikahan semenjak Friska keluar dari rumah sakit. Ardigo hanya tidak ingin terburu-buru dan membuat Friska memiliki beban pikiran.


Namun jauh di dalam hatinya, rasa takut jika Friska tidak mau melanjutkan pernikahan terus saja bersemayam. Berbagai pikiran buruk terus saja menghantuinya. Dia takut Friska akan benar-benar pergi sesuai kesepakatan mereka dulu, dia takut Friska akan mencari kebahagiaan bersama laki-laki lain dan meninggalkannya, dan berbagai pikiran buruk lainnya.


Saat merasa matanya mulai berat, Ardigo kemudian membaringkan tubuhnya di samping Vano. Sehingga kini Clara dan Vano berada di antara Friska dan Ardigo. Sungguh potret keluarga kecil yang bahagia


Keesokan harinya,


Setelah sarapan dan mengobrol ringan bersama, Dinda pamit untuk membereskan semua barang-barangnya yang akan dibawa pulang ke Bandung


"Vano mau mandi sekarang? mama mandikan, ya?"


"Vano kan sudah besar ma, malu kalau sering-sering dimandikan oleh mama"


Friska tidak bisa menahan senyum gelinya


"Jadi Vano tidak mau lagi mandi dengan mama?"


"Bukan begitu ma, tapi sekarang Vano mau dimandikan oleh papa saja. Nanti sore baru dengan mama"


"Baiklah, mama tunggu disini ya"


"Oke ma"


Ardigo melempar senyum sesaat sebelum beranjak pergi menuju kamarnya


Friska duduk sendirian di sofa dekat jendela yang menghadap langsung ke arah taman di belakang rumah. Gadis itu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju bangku taman. Dia menghirup udara segar dalam-dalam sambil memejamkan mata. Aroma alami bunga dan pepohonan rindang membuat udara disini terasa berkali kali lipat lebih segar. Bibir Friska tersenyum menikmati pemandangan indah disini


"Disini segar ya Fris" suara seseorang mengagetkan Friska. Refleks dia menoleh ke arah datangnya suara itu


"Mas Reyhan!"


Reyhan tersenyum lalu mendekat dan duduk di sebelah Friska. Mereka terdiam cukup lama sambil sibuk dengan pikiran masing-masing.